Pasrah

1123 Kata
"Itu siapa, Mas? Geng motor, kah?" Yasmin ikut panik saat melihat 4 sampai 5 motor mepet pada mobil yang sedang ditumpanginya. Je terlihat kesal, tapi tak panik sedikit pun. Mungkin mereka memang bukan musuh, melainkan kawannya karena ada atribut berupa simbol kobar api di jaket mereka. Simbol Kobar api adalah simbol resmi kelompok The Flamous, kelompok yang dipimpin oleh Je. "Nunduk!" Perintah Je membuat Yasmin agak kebingungan. "Nunduk?" "Iya nunduk! Jangan sampai teman-temanku lihat keberadaan kamu!" Yasmin menurut saja. Tapi setidaknya Yasmin merasa lega karena ternyata gerombolan berandalan bermotor itu adalah kawan, bukan lawan. "Cepet! Aku gak mau ya teman-temanku sampai lihat cewek kucel ada di seat belakang mobilku!" desak Je dan sebutan 'cewek kucel' kembali ia lontarkan untuk Yasmin. Yasmin segera mencari posisi yang pas. Yasmin menurunkan badannya sampai berjongkok di belakang jok yang diduduki Je. Yasmin sangat berusaha agar supaya tubuhnya tak sampai terlihat oleh kawan-kawan Je. 'Apa mungkin dia menerima permintaan kakeknya untuk menikahi aku? Si cewek kucel?? Huh ... dia sepertinya lebih judes dari pada Mas Alvin! Apa mungkin aku akan mengalami pernikahan yang sulit lagi setelah ini?' batin Yasmin dalam persembunyiannya. "Bos! Mau kemana, bos?" sapa salah satu kawannya itu. "Gak perlu tahu! Pulang ke rumah masing-masing!" kata Je dengan sikap acuh tak acuhnya. "Perlu kawalan gak, Bos?" "Gak!" jawab Je masih dengan sikap abainya. "Oke deh! Duluan ya, Bos!" "Oke!" Gerombolan motor itu meluncur meninggalkan Je dan Je lega. Ternyata ketakutannya berlalu. Je sangat takut kalau para rekannya itu melihat sosok Yasmin di dalam mobilnya. Itu pasti akan menimbulkan tanya dan isu liar yang memalukan. Setelah itu Yasmin merasa pegal dan saat ia perhatikan ke sisi kanan kiri jalanan, itu sudah hampir sampai di depan gang kecil menuju rumah bibinya. "Sudah sampai, Mas! Aku berhenti di sini saja!" seru Yasmin menyetop laju mobil Je. Je menepikan mobil sedan hitam mengkilapnya di depan sebuah gang sempit yang Yasmin tunjuk. Lantas Yasmin turun dari mobil Je. "Terima kasih banyak, Mas." "Ya," jawab Je sesimple itu tanpa melirik sedikit pun pada Yasmin. "Ya sudah, hati-hati di jalan ya, Mas." "Rumahmu jauh dari sini?" tanya Je tapi dia tetap tak mau menoleh pada Yasmin yang berdiri di sisi kiri mobilnya. "Dekat kok, cuma di ujung gang!" "Ya sudah, sana masuk! Aku akan menunggu sampai kamu sampai di ujung gang itu!" "Baik, Mas. Terima kasih banyak sekali lagi." "Heum." Yasmin rasa sudah cukup basa-basinya. Dia pun memutar langkah dan mulai berjalan menyusuri gang yang cukup gelap nan sepi itu. Beruntung Je mau menunggu kalau-kalau tiba-tiba ada bahaya yang menjegal Yasmin di gang kumuh itu. Setelah hampir sampai ke depan rumah petak milik bibinya, Yasmin segera mempercepat langkah dan sangat lega karena sampai dengan selamat. Yasmin pulang membawa luka di tangan dan membuat Atik yang menunggu sedari tadi merasa kaget plus panik. "Ya ampuun, ada apa dengan kamu, Yas?! Ayo ayo masuk! Ya ampuun!" Atik segera merangkul Yasmin dan membawanya masuk ke dalam rumah. "Tangan kamu kenapa, Yas? Bibi nungguin kamu, bibi kira kamu lembur lhoo!" "Bibi tenang aja! Aku baik-baik aja kok! Bolehkan kalau aku langsung ke kamar, Bi? Aku lelah, ngantuk banget rasanya." "Sebenarnya bibi penasaran dan pengen nanya-nanya sama kamu! Tapi ya sudah, sana ke kamar, istirahat lah!" persilakan Atik. Walau dia sangat penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi, tapi Atik melihat betapa Yasmin kelelahan. "Terima kasih, Bi. Besok aku ceritain apa yang terjadi sebenarnya yaa!" "Baiklah." Yasmin lega karena sang bibi tak memaksa untuk Yamsin menceritakan apa yang terjadi detik itu juga. Yasmin segera menepikan tubuhnya yang lelah di atas kasur usang di kamar sempitnya itu. 'Aku hanya ingin hidup yang normal-normal saja! Punya pasangan yang baik, yang pengertian, yang menerima apa adanya dan menyayangi aku sepenuh hati ... hanya itu saja, Tuhan ....' harap Yasmin sebelum matanya terlelap dan menjelajah ke alam mimpi. *** Selepas mengantar Yasmin, Je juga langsung pulang ke rumah istananya. Je kira dia akan lolos begitu saja dan pergi ke kamarnya tanpa pertanyaan ini itu atau acara kongres dadakan dengan sang kakek. Tapi .... "Kita perlu membicarakan ini secepatnya! Kakek tak mau tahu, kakek benar-benar ingin menjodohkanmu dengan Yasmin!" ujar tuan Gentala yang telah menunggu di ruang utama rumah. Mau tak mau, Je harus duduk di sana juga untuk menjaga etikanya di hadapan sang kakek. "Coba Kakek pikirkan sekali lagi!" "Kakek sudah memikirkannya berulang kali sepanjang malam ini! Kakek sudah bulat! Kakek sangat yakin! Dia itu berlian yang tersembunyi, Je! Coba kamu angkat dia menjadi perempuan bergaya seperti teman-teman nongkrongmu atau perempuan-perempuan yang kamu kencani selama ini! Yasmin memiliki aura itu! Coba lah!" usul tuan Gentala. Je ingin protes tapi semuanya menjadi percuma karena sang Kakek sudah terlanjur percaya dan yakin pada sosok Yasmin. "Besok, kita akan mendatangi rumah tempat tinggalnya pagi-pagi. Kamu masih mengingat gang rumahnya tadi kan? Pokoknya jangan membantah! Besok kita akan pergi ke sana! Setelah mendapat persetujuan dari keluarganya, kamu akan membawa Yasmin pergi ke Mall, bawalah dia untuk berbelanja barang-barang yang bagus dan pantas!" Tuan Gentala sudah mengatur jadwal. Je diam saja dan pasrah .... "Bagaimana, Je?" tanya tuan Gentala. "Ya mau gimana lagi? Kalau kakek sudah bilang begitu yaa aku bisa apa?! Jatah protesku kan memang sudah habis! Kalau aku menolak, Kakek akan mengusirku dan mencabut semua fasilitas yang aku miliki selama ini! Aku tahu itu akan jadi senjata dan skenario Kakek biar aku nggak membantah keputusan itu!" jawab Je panjang lebar. Dia belum memberikan jawaban konkrit tapi sepertinya Je pasrah saja dan tak mampu menolak. "Bagus lah kalau kau sadar akan hal itu." "Nggak ada opsi lain 'kan? Take it or leave it! If i prefer to Leave it, aku akan kehilangan segalanya!" dengus Je benar-benar kesal. Tapi tuan Gentala tak peduli. Yang penting Je mau dan bersedia maka ia yakin kalau ini akan jadi awal yang sempurna untuk Je memulai hidup barunya. Dari seorang badboy menjadi seorang pria dewasa yang gentle. "Baiklah, Je! Persiapkan dirimu untuk hari esok!" *** Sesuai rencana, tuan Gentala dan Je pergi ke kediaman Yasmin pagi-pagi saat para anak sekolah baru pergi ke sekolah-sekolah mereka. Bi Atik yang kala itu sedang membersihkan kaca rumah petaknya sampai dibuat terheran dengan kedatangan seorang lelaki tua dengan tongkat kayu di tangan, datang dengan sesosok pria muda yang sejak awal memajang wajah tak suka di hadapan Atik. "Ini benar rumahnya Yasmin?" tanya tuan Gentala, Atik agar berpikir lama dan mengingat-ingat apakah ada nama 'Yasmin' lain selain keponakannya di gang sempit itu. "Heum, Yasmin yang kerja di warung tenda di jalan kenanga sana yaa?" tanya Atik agak kebingungan. "Ya! Mungkin dia yang kami maksud." "Heum, memangnya ada apa ya, Tuan? Apakah Yasmin memiliki masalah dengan Anda?" tanya Atik dan hatinya malah merasa tidak enak. "Bukan kok, dia tak memiliki masalah dengan kami!" "Oh, lantas?" "Kami datang untuk meminang Yasmin!" Atik freeze. Atik tak mengerti apa maksudnya ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN