Its Just Too Good to be True

1078 Kata
"Yasmin akan menjadi istrimu!" Yasmin dan Je kompak terlonjak kaget dengan pernyataan tuan Gentala. Yasmin bahkan merasa detak jantungnya berhenti berdetak saat mendengar itu. "Istri? Siapa? Dia?" Je langsung bereaksi dan dia langsung menunjukkan reaksi keberatan lalu menunjuk pada Yasmin yang menunduk kuyu karena malu dan gugup. "Iya, dia ... Yasmin! Kakek sangat berhutang padanya! Kita bisa membalas kebaikan Yasmin dengan mengangkat harkat derajatnya! Kakek melihat sesuatu yang terang jika kamu berjodoh dengan Yasmin." Beberapa kali Je melempar senyum kecut dan hanya geleng-geleng kepala tak percaya dengan apa yang ia dengar dari keputusan absurd Kakeknya itu. Berulang kali Je mencoba melemaskan tulang rahangnya yang mengeras karena kesal dan tak terima dengan keputusan sang Kakek. Jangankan menikahi, menatap Yasmin lebih dari 5 detik saja Je tampak begitu keberatan. Penampilan Yasmin tak ada menarik-menariknya. Je adalah ketua geng motor yang keren dan karismatik, sementara Yasmin? "Terima lah keputusan ini, Je! Kakek tahu apa dan siapa yang terbaik untukmu! Sudah cukup kakek selalu menuruti keinginanmu selama ini! Sekarang giliran kamu yang menurut pada Kakek." "Tapi kan, Kek ...." "Tak ada pinta lain dari Kakekmu ini selain ini, Je! Menikahlah dengan Yasmin dan segera duduki kursi pimpinan tertinggi di perusahaan," sambar tuan Gentala seolah tak memberi kesempatan untuk Je membantah. Je sekali lagi melirik ke arah perempuan yang tidak menggairahkan sama sekali itu. Je bahkan menatapnya dengan tatapan jijik, tapi kemudian dia berjanji pada tuan Gentala kalau dia akan mulai mengurangi membuat tuan Gentala kecewa. Apakah pada akhirnya Je akan menerima Yasmin sebagai istrinya? Itu tampak mustahil! Apa lagi jika ia tahu kalau Yasmin adalah seorang janda, walaupun janda yang masih perawan. Tapi titel janda itu sudah pasti akan membuat Je semakin illfeel. "Yasmin, besok Je akan mengantarmu membeli pakaian yang bagus-bagus! Sementara aku akan menemui orang tuamu untuk membicarakan soal rencana pernikahan ini!" kata tuan Gentala membuyarkan lamunan Yasmin. "Tapi, Tuan ...." "Tuan?" Protes tuan Gentala. "Oh iya, maksud saya, Kek ...." "Kek? Sejak kapan dia panggil Kakek dengan ucapan 'kek' juga?! Dia itu orang asing lho, Kek! Kok kakek bisa langsung percaya begini sama orang itu?!" Gantian Je yang melancarkan protes. "Jatah protesmu sudah habis, Je! Hanya kali ini saja, penuhi lah permintaanku!" kata tuan Gentala membuat Je semakin muak, tapi satu hal yang paling tak bisa ia lakukan adalah membentak dan mengutuk Kakeknya itu. 'Anjim banget dah! Masak iya gue harus kawinin cewek kucel macam itu?! Yang benar saja?! Aah, damn s**t!' Je hanya menggerutu di dalam hatinya. Sementara Yasmin sendiri masih merasa kakinya tak menapak di lantai koridor sepi rumah sakit itu. Apa ini nyata? Mimpi? Atau cuma prank? Baru saja Yasmin diam-diam mengagumi sosok Je pada pandangan pertama, beberapa saat kemudian harapan naifnya untuk menjadi kekasih Je malah langsung bersambut baik dan diwujudkan oleh tuan Gentala. Hidup memang penuh dengan kejutan. Tapi saat Yasmin melihat reaksi dan ekspresi Je saat ini, Yasmin kembali ke pada kenyataan kalau Je terlalu sempurna untuknya. That just too good to be true. 'Jangan mimpi deh! Aku ini cuma janda, janda yang dibuang! Nggak tahu diri banget kalo aku berharap jadi istrinya orang itu,' batin Yasmin pasrah lalu dia kembali menundukan kepalanya. "Karena ini sudah sangat malam, pulanglah ke rumahmu, Je akan mengantarkan kamu, sampaikan salam Kakek pada orang tuamu! Besok kami akan menemui mereka," kata tuan Gentala. "Tapi, Anda harus tahu kalau saya ini hanya ...." Yasmin ingin mengaku tapi dia ragu. Dia malu. "Kenapa? Katakan saja jangan ragu," kata tuan Gentala. "Saya ini janda, Kek. Sedang menunggu Akta cerai dari mantan suami saya." Akhirnya Yasmin mengaku. Yasmin tak ingin mengulur kebohongan. Lagipula memang mustahil sekali jika benar ia berjodoh dengan Je. Mendengar pengakuan Yasmin, tuan Gentala merasa kaget, begitu pun dengan Je. Lengkap sudah rasa illfeel Je pada sosok Yasmin. "Naah! Dengar itu kek! Dia itu orang asing! Gak menarik dan janda! Coba kakek bayangin! Siksaan dan ujian ini terlalu berat buatku!" Sejenak tuan Gentala diam, dan masih memperhatikan Yasmin yang berdiri di samping kanannya sementara Je berdiri di sisi kirinya. "Kakek gak usah merasa berhutang sama saya, saya gak mengharapkan balasan apapun dari Anda. Sungguh, sudah dibawa kesini untuk diobati juga, saya sudah bersyukur sekali, terima kasih banyak. Semua orang akan melakukan hal yang sama seperti tadi jika ada di posisi saya, kek!" ucap Yasmin dengan lembut. Dan setiap kata serta gestur yang Yasmin tunjukkan malah menjadi nilai lebih di mata tuan Gentala. Entah kenapa tuan Gentala merasa sangat yakin pada Yasmin. Tuan Gentala merasa sangat yakin kalau Yasmin akan mampu mengendalikan kenakalan Je. Yasmin akan mampu membimbing Je menjadi lebih dewasa. "Udah ya, Kek. Gak usah bahas yang tadi lagi! Ingore it! Yuk, Kakek pulang sama Je, terus biarin Bowo yang antarkan dia pulang!" ajak Je lalu merangkul tuan Gentala. "Sebentar dulu, Je ...." "Yaaah, apa lagi siiih?" Je benar-benar gusar dengan situasi ini. Tapi sekali lagi, Je paling tak bisa marah-marah pada Kakeknya. "Yasmin ...." "Iya, Kek?" "Kamu sudah memiliki anak?" "Belum. Dulu saya dijodohkan di usia balita dengan mantan suami saya oleh kakek kami masing-masing, semacam kawin gantung gitu, Kek. Dan kami sangat tidak cocok ... kami hanya menikah 6 bulan, begitu ...." jawab Yasmin dengan jujur lagi. Yasmin benar-benar tak ingin menyembunyikan apa pun. "6 bulan, heh?" cibir Je lalu beberapa kali melempar senyum sinis pada Yasmin. "Diam Je!" tegur tuan Gentala. Je pun diam. "Saya sudah tidak punya orang tua. Jadi kakek gak perlu merasa cemas, kita lupakan saja peristiwa pembegalan ini, ke depannya Kakek harus lebih hati-hati lagi," imbuh Yasmin. Tapi itu malah membuat tuan Gentala tambah tertarik. Manis, sopan, heroik dan anak yatim piatu. Itu semua malah semakin menguatkan niat tuan Gentala untuk mengangkat harkat derajat Yasmin. "Udah ya kek, clear! Ayo pulang!" ajak Je yang sudah semakin tak sabar ingin segera perundingan gila ini berakhir. "Tidak, Je! Antarkan lah dia!" Tapi rupanya tuan Gentala tetap kekeh dan tak bisa dikonfrontasi. *** Dan karena sudah tak bisa dibantah lagi, dengan sangat terpaksa Je menuruti titah sang kakek dengan mengantar Yasmin pulang. Yasmin duduk di jok belakang dan hatinya kembali berdebar. Diantar pulang oleh cowok super keren, naik mobil bagus pula. Walaupun sikap Je sangat buruk, tapi itu belum mempengaruhi rasa kagum Yasmin. 'Andai saja keinginan tuan Gentala terwujud, sudah pasti aku akan jadi perempuan paling beruntung! Aku akan menunjukkan pada keluarga Hutama kalau aku tak seremeh yang mereka kira! Tapi ... memangnya aku ini siapa?' pikir Yasmin. Tiba-tiba di tengah perjalanan ada segerombol anak muda bermotor menghadang laju mobil Je. "Assshhh! Sialan!" gerutu Je kesal. Siapakah gerombolan bermotor itu? Apakah musuh Je?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN