Imbalan Tak Terduga

1117 Kata
Walau pukulan yang Yasmin ayunkan tidak terlalu keras, tapi itu cukup berhasil membuat begal itu terjatuh. "Sialan! Siapa lo?!" gerutu begal itu lalu menyodorkan pisaunya ke arah Yasmin. Yasmin mati langkah dan hatinya gemetar hebat. Ini adalah kali pertama ia menghadapi pria marah bersenjata seperti ini. Tapi hatinya tergerak begitu saja untuk melakukan penyerangan itu. "Pergi lah! Pergi sebelum warga datang menghakimi kamu!" ucap Yasmin dan dia pun mengangkat kembali balok kayu itu sebagai pertahanan diri. "Berani-beraninya, Lo!" Tapi begal itu tak menyerah, dia bangkit lalu menyerang Yasmin sehingga pisau itu berhasil melukai tangan kanan Yasmin, Srrttt! "Aaaahhhh!" pekik Yasmin kesakitan dan ketakutan. Tuan Gentala dan sopirnya yang ada di dalam mobil juga benar-benar merasa tegang dan tak tahu harus apa. "Hey kamu, Bowo! Bantu gadis itu!" perintah tuan Gentala sembari mengelus-elus dadanya saking tegangnya. "Ba-baik, tuan!" Sopir itu akhirnya bergerak dan hendak menolong Yasmin yang kadung terluka. "Wooy! Wooy! Begaal! Begaal lo!!!" Sebelum si begal itu menyerang lagi, ada sekelompok masa datang berlarian ke arah TKP dan Yasmin sangat lega karena dengan begitu si begal pasti akan jera dan takut. "Aah, sialaaan!" begal itu lari terbirit-b***t ketakutan melihat belasan massa yang beringas. Kalau tidak cepat-cepat lari, kemungkinannya dia bisa habis dihajar massa. Yasmin juga lega dan berharap begal itu berhasil melarikan diri karena kalau tidak ia pun tak akan tega melihat begal itu dihakimi. Sebaiknya pembegalan ini gagal dan si pelaku pergi. Hukum jalanan itu lebih kejam dari pada hukum di penjara. "Woy, sini lo begal!" Beberapa tetap berusaha mengejar begal itu tapi sebagian lagi langsung memberi pertolongan untuk Yasmin yang mengalami luka sayat di tangannya sampai mengeluarkan darah yang cukup banyak. "Ada korban luka nih!" "Di bawa ke klinik terdekat saja!" "Tenang ya, Neng! Jangan panik, luka kamu pasti cepat ditangani!" Orang-orang sigap menolong Yasmin. Dan tuan Gentala lekas keluar dari mobilnya walau cukup susah payah karena harus ditopang oleh tongkat kayunya. "Masuklah! Saya akan membawa kamu ke klinik, Nak! Masuk lah!" kata tuan Gentala lalu melebarkan pintu mobilnya untuk Yasmin. Tuan Gentala amat sangat terkesan dengan keberanian dan pengorbanan Yasmin. "Iya iya ayo, masuk aja! Tuan ini akan membawa kamu ke klinik buat ngobati luka kamu!" Beberapa warga membantu Yasmin untuk masuk. "Ta-tapi gak perlu ke klinik, gak apa-apa, ini bisa dibalut pake kain kassa aja!" Tapi Yasmin malah menolak karena dia pikir lebih baik dia segera pulang ke rumah saja. "Harus cepat-cepat ditangani, neng! Takutnya nanti infeksi lho! Gimana kalau pisau si begal itu karatan, apa kamu gak takut kena tetanus?" Aah iya, Yasmin jadi takut mendengarnya. "Ayo masuk, Nak! Masuk lah!" kata tuan Gentala dengan lembut pada Yasmin. "Ba-baiklah!" Akhirnya Yasmin mau dibawa ke klinik dengan menumpang di mobil tuan Gentala. Dan sopir tuan Gentala sebelumnya membantu Yasmin untuk membalut luka itu dengan handuk kecil miliknya agar supaya darahnya tak terus keluar. Para warga lega karena masalah pembegalan itu tak menimbulkan akibat yang lebih parah walau Yasmin menjadi korban, beruntungnya tuan Gentala sigap membawanya ke klinik terdekat. *** Luka Yasmin sudah ditangani. Dia keluar dari ruang tindakan dengan tangan yang sudah dijahit dan dibalut kain kassa yang lebih rapi. Tuan Gentala menyambut, ternyata tuan Gentala menunggu pengobatan Yasmin sampai selesai. "Sudah selesai?" tanya tuan Gentala. "Su-sudah, Tuan!" jawab Yasmin sembari menundukkan pandangannya karena malu dan segan. "Entahlah! Entah bagaimana nasib saya tadi kalau kamu tidak datang, Nak!" "Anda harus lebih berhati-hati, tuan! Area itu sangat sepi, beberapa orang mencari kesempatan di sana, menunggu siapa pun orang yang baru keluar dari bilik ATM!" kata Yasmin. "Ya, tadi saya kepepet dan akhirnya ambil uang di sana!" "Oh begitu ya, Tuan." "Oh iya, siapa nama kamu?" "Sa-saya Yasmin." "Baiklah, Yasmin! Bagaimana kalau kamu gak usah panggil saya dengan sebutan 'tuan, panggil saja Kakek! Jangan sungkan! Saya benar-benar sangat berhutang pada kamu, Yasmin!" Mendengar kata-kata lembut dari tuan Gentala, jadi mengingatkan Yasmin pada mendiang kakeknya yang sudah tiada. 'Kakek ....' lirih Yasmin di dalam hati. "Kek!" Dari ujung koridor klinik, ada suara memanggil dengan panik. Sosoknya setengah berlari menghampiri dan itu memang lah Je. Je terlihat sangat panik dan marah. "Begalnya udah ketangkep, kan? Biar aku hajar dengan tanganku sendiri! Dibawa ke polsek mana dia?!" Begitu datang, Je langsung marah-marah pada begal yang sebenarnya telah berhasil melarikan diri itu. Je diberi tahu oleh sopir pribadi kakeknya tentang peristiwa pembegalan tadi. Dan dirinya yang sedang nongkrong dengan teman-temannya langsung datang setelah mendengar kabar berita itu. Walau Je terkesan cuek, tapi sebenarnya dia adalah cucu yang sangat menyayangi kakeknya. "Sudah lah! Gak usah diurusi lagi! Begal itu gak sempat merampas apa pun dari kakek!" kata tuan Gentala yang berangsur tenang. "Yaa tapi tetap aja kurang ajar banget tuh begal! Gak tahu apa kalau cucunya itu adalah pentolan the Flamous?! Minta dicincang kayaknya tuh begal sialan!" Je masih menunjukkan sikap bar-barnya. Dan diam-diam, Yasmin memperhatikan Je karena sungguh si bad boy tampan itu memiliki pesona yang menarik mata dan hati siapa pun, termasuk gadis lugu sepertinya. 'Cakep banget cucu kakek ini, Care pula sama Kakeknya. Sweet banget deh ....' batin Yasmin tanpa sadar telah memperhatikan sosok Je tanpa jeda. "Kakek gak terluka sedikit pun. Kalau Yasmin gak datang dan menjegal begal itu, sudah pasti kakek lah yang akan terluka! Tapi lihatlah, Je! Yasmin bahkan mengorbankan tangannya sampai terluka begini," kata tuan Gentala lalu menunjukkan Yasmin beserta dengan luka di tangannya pada Je. Je melirik ke arah Yasmin dan tak ada kesan apa pun selain kesan sebagai hero bagi kakeknya. Penampilan Yasmin yang amat sangat sederhana dengan rok lipit midi sebetis dan kaos oblong berwarna dusty pink belel dan wajah berminyak karena seharian berkutat di warung tenda pecel lele, penampilan Yasmin sama sekali tidak mengesankan Je. "Thank's ya!" ucap Je pada Yasmin. Tak kala bola mata hazel milik pemuda 26 tahun itu menatap wajahnya, seketika hati Yasmin berdebar hebat tak karuan. "I-iya, Mas. Sa-sama-sama ...." Sampai kata-katanya pun terbata saking deg-degannya. "Ya udah, kita pulang sekarang Kek! Udah malam ini, kakek juga harusnya udah minum obat dan istirahat," ajak Je setelah itu tak mempedulikan lagi sosok Yasmin yang telah berjasa untuk keselamatan kakeknya. "Sebentar, Je!" tahan tuan Gentala. "Kenapa, Kek? Kakek pulang sama Je saja! Gadis itu biar diantar pulang sama Bowo!" kata Je sedikit membuat Yasmin kecewa. Yasmin kira, Je lah yang akan mengantarnya sebagai ucapan terima kasih, tapi .... "Je! Kakek rasa, kakek sudah menemukan calon istri untukmu!l," ucap tuan Gentala menimbulkan tanya di benak Je karena bahasan tuan Gentala sangat melenceng dari situasi yang terjadi saat ini. Seakan detak jantung Yasmin berhenti sepersekian detik. Apa yang diucapkan oleh tuan Gentala benar-benar di luar prediksinya. "Ha? Maksdunya gimana?" Tuan Gentala melirik ke arah Yasmin, dan Yasmin juga tak mengerti apa maksud dari tuan Gentala bicara seperti itu pada cucunya yang super keren itu .... "Yasmin akan menjadi istrimu!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN