Wonder Women Dadakan

1003 Kata
"Serius, Yasmin? Alvin sudah menalak kamu? Talak 3 langsung? Kesalahan apa yang membuatmu dihinakan seperti ini, Yasmin? Kamu selingkuh? Iya? Benar begitu?" Sesampainya di rumah, Yasmin langsung diberondong dengan sederet pertanyaan oleh Atik, bibinya. "Mana mungkin aku selingkuh, Bi? Aku nggak sebodoh itu! Aku masih punya moral!" sangkal Yasmin yang masih terduduk lesu di kursi rotan tua di rumah petak milik bibinya itu. "Terus apa? Apa alasan Alvin menalak kamu?" "Satu-satunya kesalahanku adalah karena aku nggak bisa jadi seperti yang dia inginkan! Aku terlalu kampungan untuk Mas Alvin! Aku nggak bisa menyesuaikan diriku dengan keluarga Hutama, Bi!" "Ya ampuun ...." Atik ikut terduduk lemas. Malang nian nasib Yasmin. Sudah menjadi yatim piatu sejak kecil, lalu dijodohkan dengan keluarga kaya atas wasiat sang kakek. Tadinya Atik mau pun Yasmin sendiri berharap kalau Alvin akan mengayomi dan menjadi imam yang baik untuk Yasmin. Tapi sebaliknya, Alvin dan seluruh keluarga Hutama malah menjadikan Yasmin sebagai babu bahkan menyingkirkan Yasmin dengan cara terhina seperti ini. "Ya sudah, biarkan saja! Mungkin dia memang bukan jodohmu, Yas. Sabar ya," kata Atik lalu mengelus pundak Yasmin. "Iya, Bi." "Semoga setelah ini ada lelaki baik yang akan menjadikanmu istri yang sebenarnya." "Aamiin, Bi." "Ya sudah sana masuk ke kamar! Bereskan barang-barangmu! Setelah ini bibi harus ke rumah juragan Hadi buat beres-beres! Kunci saja pintunya, bibi akan pulang agak larut malam," Kata Atik dan dia bersiap untuk pergi bekerja. Atik hanyalah seorang asisten rumah tangga panggilan. Dan Yasmin berjanji akan segera mencari pekerjaan agar ia bisa membiayai hidupnya sendiri dan hidup Atik. Untuk saat ini, tak ada yang Yasmin miliki selain Atik saja. Ayah ibunya telah tiada, begitu pun dengan sang Kakek. *** Di tempat lain, tepatnya di kediaman keluarga Gentala yang kaya raya. Keluarga Gentala adalah pemilik Gentala Grup dimana Alvin bekerja. Tuan Gentala hanya tinggal bersama dengan cucunya yang bernama Jean Saga Gentala. Je, begitu lah ia biasa dipanggil, adalah pemuda berusia 26 Tahun yang lebih suka menikmati masa mudanya dengan berbuat onar di jalanan. Padahal, tuan Gentala sangat membutuhkan dirinya untuk meneruskan tahtanya di perusahaan. "Menikahlah, Je! Umur kakek ini sudah tak akan lama lagi! Berikan kakek kesempatan untuk melihatmu menikah! Lagipula, siapa lagi yang akan kakek banggakan, pada siapa kakek akan mewariskan semua ini, Je? Tentu saja hanya kepadamu dan keturunanmu! Oleh sebab itu, mulailah untuk bersikap dewasa! Tinggalkan dunia geng motormu dan mulailah untuk menjadi pria dewasa!" Tuan Gentala menasehati cucunya itu panjang lebar. Tapi Je tampak tak peduli, dia tetap sibuk menatap lalu mengusap-usap layar handphonenya sembari menikmati sebatang rokok yang ia selipkan di antara dua jari di tangan kanannya. "Je! Apa kamu mendengar kata-kata Kakek?" Tuan Gentala mulai jengah. "Silakan ngomong aja, Kek! Kupingku masih berfungsi dengan baik kok!" jawabnya nyeleneh. Tuan Gentala hanya bisa geleng-geleng kepala dengan sikap cucu semata wayangnya itu. Bagaimana bisa Je dipercaya untuk memimpin perusahaan sebesar Gentala Grup?! Bisa bangkrut dalam waktu sebulan kalau kelak Je menduduki kursi CEO di perusahaan itu. "Jadi gimana? Kapan kamu akan membawa calon istrimu ke rumah ini?" "Semua perempuan yang aku kencani tak ada satu pun yang siap berkomitmen! Mungkin saja mereka masih mempertimbangkan masa depan mereka kalau harus menikah dengan berandalan sepertiku." "Ya sudah, tunjukkan lah jati dirimu yang sebenarnya pada mereka, Je! Katakan kalau kau ini sebenarnya adalah pewaris tunggal dari Gentala Grup!" "Mana ada yang percaya?! Dan aku pun belum siap untuk menjalani beban berat itu, Kek! Aku butuh waktu untuk melepaskan tanggung jawabku sebagai pimpinan tertinggi dari The Flamous , Kek. Sebelum aku meninggalkan mereka, aku harus memastikan kalau penggantiku adalah yang terbaik. Ya aku gak mau lah kalau The Flamous jadi ancur sepeninggalku nantinya!" Dalih Je tak ada habis-habisnya. "Kalau begitu, biar Kakek saja yang mencarikan calon istri untukmu!" putuskan tuan Gentala. "Ya udah, terserah kakek saja lah. Yang pasti dia harus cantik, seksi, pintar. Dah, itu aja kriteria utama yang aku inginkan!" "Pokoknya, siapa pun yang kakek pilihkan untukmu nanti, kau harus menerimanya! Titik!" tegas tuan Gentala lalu dia beranjak dari ruang utama rumah besar itu dengan tongkat kayu untuk menopang langkahnya yang semakin tertatih. *** Setelah beberapa hari menjadi jandanya Alvin, Yasmin tak hanya tinggal diam berpangku tangan. Dia segera mencari pekerjaan yang tak menuntut CV atau syarat akademis lainnya. Yasmin yang bahkan tak lulus SMA selalu kesulitan untuk mencari pekerjaan yang layak. Alhasil, sudah 2 hari ini Yasmin bekerja di sebuah warung tenda di salah satu sudut kota Jakarta. Dia mendapat upah beberapa puluh ribu dan harus bekerja sampai cukup larut. Yasmin sama sekali tak merasa lelah dan menjalani pekerjaan itu dengan penuh semangat. Yasmin berkaca dan sadar kalau Alvin memang berhak membuang dirinya. Karena nyatanya dirinya memang hanya gadis kampungan yang tak sepadan dengan Alvin yang merupakan pria berpendidikan. "Hati-hati di jalan, Neng!" seru pemilik warung pada Yasmin yang sudah menyelesaikan tugasnya dan bersiap untuk pulang. "Baik, Pak, Bu! Mariii." Pamit Yasmin dan dia akan pulang dengan berjalan kaki. Yasmin berjalan memacu langkah menuju gang sempit yang ada di sudut lain kota. Sekitar 1 KM jarak yang Yasmin tempuh dan harus melewati jalan-jalan sepi jauh dari keramaian. Tiba-tiba, di sebuah jalan yang sepi tepatnya di depan sebuah pusat ATM ada kejadian yang tak terduga. Yasmin melihat ada seorang pria dengan pisau di tangan tengah mengancam sebuah mobil yang kebetulan terparkir di sana. "Duit duit, mana duit! Serahin semua!" Ancam pria yang memakai bap sehingga separuh mukanya tertutup. Dan secara kebetulan, orang yang saat ini menjadi korban pembegalan itu adalah tuan Gentala. Tuan Gentala bersama dengan sopirnya sangat ketakutan tak tahu harus bagaimana. "Baik baik, tapi tenang dulu ...." kata tuan Gentala yang ketakutan. "Buruan, k*****t! Keburu ada yang lewat nih! Lama banget deh dasar tua bangka!" Desak begal itu dengan gerutuan yang membuat tuan Gentala semakin gentar. Tiba-tiba Yasmin datang bagai angin, tahu-tahu Yasmin sudah ada di belakang sang begal dengan sebuah balok kayu yang ia temukan di pojok ruko di dekat sana dan ... BAM! Dengan telak, Yasmin memukul pundak begal itu sampai si begal ambruk! Tuan Gentala kaget, dia melihat Yasmin bagai seorang wonder women yang menyelamatkan hidupnya di momen yang sangat tepat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN