ENAM

2665 Kata
Bia mengernyitkan dahi nya, seraya mengerjapkan mata nya. Berusaha  menyesuaikan penglihatan nya dengan pengcahayaan sekarang. "Erghh---" Bia sedikit melenguh saat merasakan tubuh nya pegal-pegal, seperti akan remuk. Bia menajamkan penglihatan nya saat mata nya terbuka sempurna. "Udah bangun kamu Bia?" Bia mengedarkan pandangan nya ke sumber suara. Tepat di samping nya seorang wanita dewasa tengah duduk menyetir, fokus pada jalanan. Dia mengenal sosok wanita itu. Bia menegakkan tubuh nya dari posisi setengah berbaring. Dia menatap datar ke jalanan depan. "Tadi kamu ketiduran di gudang, pas ngejalanin hukuman Pak Rian. Jadi saya suruh pak Rian buat gendong kamu ke mobil, buat saya antar pulang."  Kirana bersuara, dia melirik murid nya itu sebentar, sebelum kembali fokus pada jalanan yang tidak begitu ramai. Bia tidak meresopon, dia hanya diam dengan pandangan terus lurus ke depan. "Besok jangan coba-coba bolos lagi ya." Kirana mengusap puncak kepala Bia, seraya melemparkan senyum tulus kepada gadis itu. Bia melirik dingin ke arah Buk Kirana. "Lo guru gue? Atau bodyguard gue? Ikut campur mulu sama urusan gue." Desah nya sengit. Kirana tersenyum mendengar ucapan Bia. "Guru itu kan fungsi nya selain memgajar, juga mengayomi. Jadi---" "Berhenti di depan!" Titah Bia, memotong ucapan Buk Kirana. Kirana menoleh pada Bia. "Saya akan antar kamu sampai---" "Lo ngerti bahasa manusia kan? Berhenti di depan!" Desis Bia sengit menatap tajam ke arah guru Kimia nya itu. Kirana menghela nafas nya, lebih baik dia mengalah daripada harus bertengkar dengan murid nya sendiri. Detik berikut nya, dia menghentikan mobil nya tepat di pinggir jalan yang cukup sepi itu. Bia tanpa pamit langsung keluar dari mobil Toyota Alphard itu. "Bia!" Panggil Kirana, menyusul Bia yang langsung keluar dari mobil nya. Langkah Bia terhenti, dia tidak membalikkan tubuh nya sama sekali. Serta membiarkan semilir angin menyapu rambut nya, hingga menutupi sebagian wajah nya. "Saya bukan nya mau ikut campur dengan hidup kamu. Saya hanya ingin kamu lebih bisa mengontrol diri kamu Bia. Dunia luar begitu berbahaya untuk gadis labil seperti kamu. Jadi---" "Lo gak tau apa-apa tentang hidup gue!" Desis Bia sengit, seraya membalik tubuh nya. "Tau apa lo tentang hidup gue? Yang lo tau gue cuman murid paling nakal kan di sekolah? Banyak murid nakal, tapi kenapa cuman gue yang selalu lo ikut campurin!" Kirana tertegun, mata nya terus menatap ke mata dingin Bia. "Lo denger ya! Percuma lo terus ngebela gue! Lo terus mgelindungin gue! Gak bakal ada guna nya buat gue, juga buat lo! Berhenti! Berhenti buang waktu lo untuk sok peduli sama gue!" Tekan Bia, lalu berlalu meninggalkan Buk Kirana yang terpaku di tempat nya. Kirana menatap nanar punggung Bia yang menjauh. "Saya tau semua yang terjadi dengan hidup kamu Bia." Kirana bergumam pelan. ❄❄❄❄❄❄❄ Brakk.... Gebrakan meja itu membuat hampir semua orang yang ada di sana kaget. Terlebih seorang gadis yang duduk di meja yang barusan di gebrak begitu keras oleh seseoeang. Clara mendongakkan kepala nya, dia mendesah, perkiraan nya sebelum nya benar. Siapa lagi yang berani berbuat seperti ini kepada nya jika bukan Gerry. "Maksud lo apaan?" Gerry mulai bersuara, terdengar nada geram di sana. "Apa nya?" Clara menanggapi santai, tanpa menatap ke arah Gerry. Braakk... "MAKSUD LO APAAN NGELAKUIN INI?" Untuk kedua kali nya Gerry menggebrak meja, kali ini di iringi dengan bentakan yang begitu keras. Clara menatap tajam ke arah cowok tinggi berbadan atletis itu, cowok populer sekaligus paling di gandrungi di SMA Atlanta. "Eh-ini tempat umum. Punya malu dong lo!" desis nya. "Gak usah bacot! Gue cuman butuh penjelasan lo tentang foto ini!" Tanya Gerry penuh penekanan. Clara bangkit berdiri. "Penjelasan apa? Gue yang tawuran sama mantan lo itu? Iya gue tawuran sama dia 4 hari yang lalu. Kenapa? Lo gak terima? Lo tenang aja Ger, dia belum mati. Tapi, coming soon buat mati!" Rahang Gerry mengeras, mata nya berkilat tajam menembus ke manik mata Clara. Namun, Clara justru menanggapi dengan santai. Clara tersentak saat Gerry dengan tiba-riba mencengkram kuat lengan nya. "Lo denger ya! Jangan coba-coba lo nyakitin Bia! Kalau sampai Bia kenapa-kenapa gue orang pertama yang akan hancurin lo!" Geram Gerry. Clara berusaha melepaskan cekalan Gerry Yang begitu kuat meremas lengan nya. "Jangan main-main sama gue Clara! Kartu dan rahasia lo ada di tangan gue! Kalau gue bongkar semua nya, lo bisa membusuk di penjara." Lanjut Gerry menatap tajam pada Clara. "Gak usah bangga lo Ger! Lo lupa kalau lo juga terlibat hah? Jadi kalau gue di penjara, lo juga akan masuk penjara!" Balas Clara di tengah ringisan nya. Gerry menyeringai. "Terlalu percaya diri lo Clara sayang. Gue emang terlibat, tapi dengan tangan lo lah semua di mulai." Emosi Clara membuncah, dia menatap geram ke arah cowok itu. "Harus nya lo hati-hati di sini! Karna Bia, gak akan biarin lo hidup dengan tenang." Gerry menghempaskan tangan Clara lalu berlalu meninggalkan cafe tersebut. Clara menggeram, dan menendang meja cafe yang di duduki nya tadi. Dua teman nya yang lain tersentak karna hal tersebut. "Jadi gimana? Kita serang lagi anak Rising?" Cewek berambut pendek dengan tindikan di bibir itu membuka suara. Paula, teman satu genk Clara. "Iya Cla, lagian mereka juga udah berani cari masalah sama kita. Qory masuk rumah sakit gara-gara salah satu dari mereka nyerang dari belakang." Tambah gadis berambut panjang sebahu dengan tato bergambar daun di salah satu sudut pelipis nya. Tasya anggota genk Clara yang lain nya. "Jangan dulu! Jangan kita yang nyerang kali ini, kita pancing mereka yang nyerang kita duluan!" Ujar Clara dingin, lalu beelalu meninggalkan cafe tersebut. Tasya dan Paula saling melirik, lalu ikut menyusul Clara dari belakang. Sementara itu.... ❄❄❄❄❄❄❄ Yuna, Rena dan Milka saling pandang satu sama lain. Lalu sama-sama menatap tiga punggung cewek yang menjauh itu. Rena mendesah. "Gue heran sama tu manusia-manusia, perasaan mereka yang mulai peperangan, tapi kok mereka yang panas sendiri sih." Gumam nya, lalu duduk di salah satu bangku cafe yang kosong. Yuna dan Milka ikut duduk, kini posisi mereka. Rena duduk di antara Yuna dan Milka. "Kalau di pikir-pikir ya, kapan sih habis nya sekolah kita berantem sama sekolah mereka? Capek juga gue lama-lama ngelihat nya." Milka bersuara heran. "Sampai salah satu dari mereka mati lah. Tujuan awal sekolah kita emang kayak gitu kan?" Yuna ikut bersuara santai, sembari mengunyah permen karet yang ada di mulut nya. "Trus kalau salah satu dari mereka mati. Mereka bakal diam aja? Enggak, mereka pasti bakal cari cara supaya ngerenggut nyawa lagi di pihak Rising, trus Rising dendam, ambil nyawa lagi dari pihak Atlanta. Kayak gitu aja terus ampe lebaran monyet." Cerocos Milka sedikit kesal. "Mereka lagi cari cara supaya SMA Rising nyerang mereka duluan. Berarti kita harus waspada, jangan sampe mereka ngusik amarah Bia. Kalau Bia marah, duh berabe deh semua nya." Rena berargumen sendiri dengan pandangan lurus ke depan. Milka dan Yuna saling pandang dengan heran. Mereka sama-sama menatap Rena dengan bingung. Rena yang sadar di tatap, melirik kedua teman nya itu bergantian. "Kenapa lo berdua?" Tanya Rena dengan sebelah alis terangkat. "Lo gila ya? Ngomong sendiri?" ujar Yuna menatap aneh ke seah Rena. "Tauk. Kita ngomong nya apa, lo ngelantur nya entah kemana." desah Milka. "Lah emang gue salah! Kan emang gitu hipotesa nya. Kalau Bia ngamuk, pasti dong dia nyerang Atlanta trus emosi nya gak ke kontrol, bisa aja satu nyawa melayang." Respon Rena. Milka dan Yuna membenarkan. "Trus kita harus gimana?" Tanya Yuna. Rena mendesah panjang. "Ah elah, lo preman nya SMA Rising, masak kayak gini aja lo nanya pendapat gue." "Ya udah sih, lo tinggal ngasih tau doang apa susah nya sih keluarin pendapat lo sekali-sekali. Bukan tidur doang bisa nya." Rena bergumam, seakan memikirkan sesuatu. "Gue aja juga gak tau. Salah nanya orang lo." Yuna menggeram, jika bukan teman nya sendiri, dia pasti sudah mencekek Rena sekarang juga. Tak lama setelah itu, seseorang tiba-tiba saja duduk di samping Milka. Membuat pandangan mereka teealihkan. "Darimana aja lo Bi? Baru nyusul sekarang." Rena bersuara malas, seraya menguap pelan. "Tauk Bia. Padahal kita daritadi udah keliling mall, nonton bioskop, main time zone, makan, habis itu keliling lagi, nonton lagi, main time zone lagi, makan lagi. Trus---" "Trus lo diam bisa?" Bia memotong dingin, menatap Milka yang terus bersuara tanpa henti. Milka menampilkan cengiran nya, lalu memperbaiki posisi kacamata nya. "Gue habis di hukum." Bia menjawab pertanyaan Rena tadi. "Di suruh ngapain?" Kali ini Milka yang beetanya. "Bersihin gudanh." Yuna seketika tergelak. "Ya elah Bia. Gudang pake acara di bersihin segala, nama nya aja udah gudang mana bisa bersih. Mending bersihin kamar." Bia menatap Yuna dengan mata berbinar. "Nah tadi gue juga ngomomg persis kayak gitu." Dia lalu bertos ria dengan Yuna. "Tapi tetap aja, tu orang bikin gue kesel setengah mati." Yuna, Rena, dan Milka terkekeh mendengar gerutuan Bia. "Bi---tadi kita ngelihat---" "Iya, gue juga lihat." Bia memotong ucapan Yuna. Dia melirik Yuna. "Clara kan?" Ketiga teman nya saling pandang. "Tau darimana lo? Udah kayak cenayang aja lo." Rena mengangkat kepala nya yang tadi tertumpu di meja. "Ya tau lah, gue udah daritadi di sini." "Berarti lo tadi denger dong apa yang mereka bicarain?" Bia mengangguk. "Udah gak sabar gue." "Gak sabar ngapain?" Milka bertanya seraya mengerutkan dahi nya ke arah Bia. "Bunuh dia." Jawaban santai Bia lantas membuat Milka yang tengah meneguk minuman nya yang baru saja di antar waiters tersembur keluar. "Gila lo?" pekik Milka heboh. "Hampir." Balas Bia santai, seraya mengeluarkan permen karet lalu memasukkan nya ke dalam mulut. "Dendam memang mengubah segala nya. Kayak dengan dendam semua membaik aja." gerutu Milka, dia benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran teman-teman nya itu. Bia terdiam mendengar ucapan Milka. Kadang dia berpikiran hal yang sama dengan Milka. Namun, saat kebencian itu kembali bergejolak rasa nya dia tidak ingin memberikan ampun untuk siapa pun yang telah ambil andil akan kejadian itu. "Lo tenang aja Bi. Kita, gue pribadi lah, bakal bantu lo untuk balesin semua nya." Yuna bersuara serius. Bia menatap Yuna dengan mata datar nya. Semoga ❄❄❄❄❄❄❄ Hari ini adalah hari minggu, seperti yang telah di katakan Ranti kepada anak dan suami nya. Bahwasa nya mereka akan berkunjung ke rumah tetangga baru mereka, yang tepat berada di depan rumah mereka. Ranti, Jaya, dan Rian baru saja sampai di depan pagar rumah yang tinggi itu. Mereka langsung saja di sambut oleh seorang satpam dan 3 bodyguard berbadan besar, yang langsung mempersilahkan mereka untuk masuk. "Eh-hai Ranti! Ya ampun udah lama banget kita gak ketemua ya." Seorang wanita seumuran dengan Ranti menyambut kedatangan mereka. Langsung saja dua ibu-ibu itu saling berpelukan dan cipika-cipiki. "Iya ya. Terakhir kali waktu opening perusahaan kamu di Belanda." balas Ranti dengan mata yang berbinar. "Ya udah ayok masuk! Jaya! Ini---" "Oh ini Rian, anak aku." Ranti memperkenalkan, setelah Bella bersalaman dengan Jaya--suami Ranti sekaligus teman satu sekolah nya dulu, lebih tepat nya kakak kelas nya dulu. "Hai tante. Aku Rian." Rian menyalami tangan wanita paruh baya itu. Bella tersenyum. "Udah gede ya anak kalian. Ayok silahkan duduk!" Bella mempersilahkan teman lama nya itu untuk duduk. Lalu memerintahkan ketua pelayan di rumah nya untuk mempersiapkan minuman. "Gimana kabar kalian? Udah jarang loh aku gak ketemu sama kalian." Bella memulai percakapan nya. "Baik Bel. Kamu sendiri gimana?" Jaya membalas di iringi dengan sentuman istri nya. "Ck, ya gini lah single parent." Jaya dan Ranti tekekeh mendengar jawaban Bella. "Anak kamu mana Bel?" Tanya Ranti kali imi, seraya memperhatikan sekeliling rumah yang besar nya dua kali lipat dari rumah nya. Bella terdiam sejenak. Dia berdehem pelan. "Paling juga main sama temen-temen nya." Balas nya berusaha sebiasa mungkin. Bagaimana tidak, Bia belum pulang sejak semalam, tanpa memberikan kabar sedikit pun. "O gitu. Ya maklumin aja lah nama nya juga ABG. Oya Rian, tante Bella ini punya anak perempuan loh, dan dia sekolah di SMA tempat kamu ngajar." Ranti menatap putra nya yanh sejak tadi diam. Rian mengerutkan dahi nya. "Serius tan?"  Bella tersenyum tipis seraya mengangguk. "Kelas XI jurusan IPA." Rian mengangguk, dia menatap ke arah Bella. Mendadak dia penasaran dengan anak dari teman orang tua nya itu. "Nama nya siapa tan? Mana tau aku ada ngajar di kelas anak tante." "Nama nya---" Ucapan Bella terhenti saat mata nya menyorot seseorang yang baru saja masuk. Seorang gadis berseragam SMA yang tampak acak-acakan, dengan menenteng tas nya masuk ke dalam rumah tanpa salam tanpa permisi. Seperti biasa nya. Bella yang mendadak diam, membuat Ranti, Jaya, bahkan Rian ikut menatap ke arah sorot mata wanita itu. Rian seketika terkejut saat melihat siapa gadis yang kini berjalan melewati nya. Tak kalah terkejut dengan Rian. Ranti dan Jaya juga di buat kaget dengan kehadiran gadis belia itu, bukan karna apa pun tapi karna penampilan nya yang terlihat berantakan. Apa itu anak Bella? Ranti dan Jaya saling pandang satu sama lain. "Bel itu---" Bella melirik Ranti yang bersuara, dia mengangguk samar. Sebelum akhir nya mencekal tangam Bia yang berjalan melewati nya. "Darimana kamu?" Suara Bella berubah dingin, tidak seramah tadi. Mata nya bahkan menatap datar ke arah putri nya itu. Ketiga pasang mata yang lain juga ikut menatap ke arah Bia. Bia mendesah panjang lalu menepis tangan Bella. "Lo gak lihat gue pakai seragam sekolah? Pake nanya lagi." Balas Bia seraya menatap malas ke arah wanita yang berstatus ibu nya itu. Jawaban Bia lantas membuat Ranti dan Jaya terkejut. Mereka saling pandang satu sama lain, baru saja anak yang di panggil Bia itu memanggil Bella dengan sebutan lo, bukan mama atau sejenis nya. Rian juga tak kalah kaget dengan intonasi dan kata-kata yang keluar dari mulut murid nya itu. Ternyata gadis ini bukan hanya di sekolah saja tidak sopan, dengan orang tua nya sendiri pun masih bisa bersikap kurang ajar. "Jaga intonasi bicara kamu! Di sini lagi ada tamu!" Bella menggeram tajam. Bia mendengus malas, dia melirik tiga orang asing yang ada di rumah nya. Eh, bukan tiga tapi dua, karna satu nya dia sudah tau siapa orang itu. Setelah itu, dia berniat melangkah menaiki tangga, saat Bella kembali menahan tangan nya. "Kamu belum jawab pertanyaan mama! Darimana kamu semalaman gak pulang?" Suara Bella meninggi, kesabaran nya benar-benar di uji oleh Bia. Dia tidak lagi memerdulikan kehadiran Jaya dan Ranti, toh mereka juga sebelum nya juga sudah tau kondisi keluarga nya semenjak bercerai dengan mantan suami nya. "Lo b***k! Gue udah jawab tadi!" Balas Bia sengit. "Dari sekolah? Bagus, kamu kemping di sekolah? Maka nya gak pulang iya?" "Ck, mending juga gue tidur di sekolah, daripada gue harus tidur satu atap sama lo." Desis Bia, menatap Bella tanpa takut. "Bia dia ibu kamu!" Rian akhir nya bersuara tajam, saat tidak tahan lagi dengan gadis yang berstatus murid nya itu. Bia melirik ke arah Rian. "Lo ngapain di sini? Ngikutin gue? Udah lah, lo cukup di sekolah doang ngurusin gue, kalau di luar sekolah lo gak usah ikut campur!" Bella mencekal erat lengan Bia. "Kurang ajar kamu ya! Kamu---" "Apa? Lo mau nampar gue? Bukan nya lo duluan yang mancing gue daritadi. Gue tadi udah mau cabut, lo malah nahan gue. Sok-sok an nanya gue darimana! Gak usah perhatian lo. Gue gak butuh." Bia menepis kuat tangan Bella yang menahan nya. Intonasi dan tatapan nya berubah tajam, dia benar-benar muak dengan wanita di depan nya ini. Suasana ruangan tamu itu berubah hening, saat Bia telah berlalu menaiki tangga. Meninggalkan Bella yang terpaku di tempat nya. Sementara Rian menatap kepergian Bia, lalu melirik pada ibu gadis itu. Sebenarnya ada masalah apa antara Bia dan ibu nya? Kenapa Bia terlihat begitu membenci Bella? "Bel---" Ranti menyentuh pundak sahabat nya itu. "Kamu yang sabar ya. Aku yakin pasti ada jalan nya." lanjut nya, seakan menguatkan sahabat nya itu. Bella menghela nafas nya. "Dia selalu menganggap aku yang salah." gumam nya pelan. "Kenapa gak kamu ceritain yang sebenarnya ke Bia. Kalau---" Bella menggeleng, dia menatap Jaya dan Ranti beegantian. "Percuma, itu gak akan mengubah cara pandang dia." Jaya dan Ranti tertegun dalam diam. Sebelum keheningan itu tercepahkan oleh suara Bella. "Rian!" Rian mendongak menatap Bella. "Ya." "Boleh tante minta tolong?" Rian mengerutkan dahi nya heran, sebelum akhir nya mengangguk setelah saling lirik dengan kedua orang tua nya. "Tolong jadi guru privat Bia." ❄❄❄❄❄❄❄
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN