TUJUH

2117 Kata
Bia melangkah dengan malas-malasan di tepi jalan yang cukup ramai dengan kendaraan yang berlalu lalang itu. Rasa nya untuk masuk sekolah itu, adalah hal terberat untuk nya. Sekolah? Ck, Bia bahkan membenci tempat itu. Bia mengerang perlahan, lalu menendang batu kecil yang ada di hadapan nya. Sebagai bentuk ketidaksukaan nya. Sekolah itu, membuat tidur nya terganggu dan menyita banyak waktu. Jika tidak mengingat siapa kini yang tengah berdiam diri di rumah, mungkin Bia akan betah di rumah senin ini. Pasal nya, dia benar-benar butuh istirahat, semalam dia hanya tidur 3 jam. Bia mendesah untuk kesekian kali nya, saat tidak ada kendaraan umum yang akan membawa nya ke sekolah. Ya, Bia tidak pernah membawa kendaraan ke sekolah. Bukan tidak ada, tapi dia hanya malas menggunakan barang yang di belikan oleh orang yang berstatus sebagai ibu nya itu. Bia melirik jam tangan nya. "10 menit lagi gak ada kendaraan. Gue bolos, masa bodoh sama dewi kematian." Gumam nya. Langkah Bia terhenti saat sebuah mobil sport hitam menghalangi langkah nya. Dia seketika mendesah, dan menampilkan wajah dingin saat orang di balik kemudi itu keluar dan berjalan ke arah nya. "Eh Bi!" Tangan Bia langsung saja di cekal oleh orang berbadan kekar itu. Bia dengan kasar menepis tangan tersebut, tanpa melirik sedikitpun pada si pemilik tangan. "Berangkat bareng aku yuk! Ntar kamu telat lagi. Udah jam segini." Orang tersebut bersuara lembut, dengan pandangan tak lepas dari wajah gadis cantik di depan nya. Gadis bad girl, namun mempunyai kulit putih bersih tanpa tato sedikit pun. Sangat berbeda dnegan gadis bad girl kebanyakan. "Sorry! Gue gak punya uang receh buat bayar lo." Balas Bia datar. Cowok itu terkekeh pelan. "Aku gak minta uang kamu sayang. Aku cuman minta hati kamu aja kok." Tangan cowok itu terangkat dan membelai wajah Bia. Bia menggeram dan menepis kasar tangan orang tersebut. Dia lalu menatap tajam ke arah cowok berseragam putih abu-abu sama seperti nya, namun dengan lambang sekolah yang berbeda. "Jangan kurang ajar lo anjing!!" Desis Bia. Cowok bername tag Gerry Orlandio itu tersenyum. "Jaga ucapan kamu sayang! Aku gak suka---" "Bisa diam gak lo?! Enak banget mulut biadab lo manggil-manggil gue sayang! Lo pikir lo siapa?!" Suara Bia meninggi. Wajah Gerry berubah dingin menatap Bia. Ada emosi yang bergejolak di d**a nya, yang sudah sampai ke ubun-ubun. Namun, dia harus menahan emosi nya, mengingat siapa yang kini berhadapan dengan nya. Bia, gadis yang sampai sekarang masih begitu di cintai nya. Dia tidak mungkin memukul Bia, walau dia sangat geram dengan gadis di depan nya ini. Bia baru saja akan melangkah pergi, saat Gerry kembali mencekal tangan nya. Kali ini lebih kuat. "Aku masih punya stock kesabaran sayang! Jadi sebelum kesabaran ini habis! Kamu masuk mobil sekarang!" Desis Gerry sengit, mata nya mengintimidasi mata Bia. Bia berusaha melepaskan tangan Gerry yang begitu kuat mencengkram pergelangan tangan nya. Dia juga dapat melihat rahang cowok itu yang mengeras. Bia telah membangunkan singa tidur, Gerry bukan tipikel cowok lembut dia adalah cowok tempramental yang bisa melakukan apa saja. "Lo gak berubah ya!" Bia berucap dingin sedingin tatapan nya. "Lo masih kasar tau gak!" "Kamu tau kalau aku kayak gini! Tapi kamu masih membantah." balas Gerry dingin. Bia menghempas kuat tangan nya hingga terlepas dari Gerry. Dia menatap tajam ke arah cowok itu. "Lo keras! Trus lo pikir cewek di depan lo ini lemah! Gue bukan cewek yang bisa lo atur! Gue juga bukan cewek yang takut sama lo!" Suara nya terdengar menantang tanpa rasa takut. Tatapan dingin mereka bertemu. "Harus nya kesabaran gue yang habis! Lo tau, gue udah muak lihat muka lo! Lebih baik gue lihat muka anjing ketimbang muka sok suci lo!" Tangan Gerry terkepal erat mendengar penuturan Bia. Bia menyeringai. "Lo pikir setelah lo ngehancurin hidup gue! Lo ngerusak hidup gue! Gue bakal mau sama lo lagi? Dalam mimpi lo mas bro!" Dia bersuara rendah. "Gue juga gak akan pernah lupa. Siapa lo sebenarnya! Gue gak akan pernah lupa, kalau gue harus membalas dendam atas apa yang lo lakuin empat tahun yang lalu!" Bia melangkah mendekat ke arah Gerry, dia mendongakkan kepala nya karna postur tubuh cowok itu yang lebih tinggi dari nya. "Siapa yang udah ngerusak hidup gue, hingga gue gak punya masa depan lagi. Gue gak akan pernah lupa." Gerry membeku di tempat nya, dia tidak lagi mencekal dan menahan pergerakan Bia. Melainkan menatap jauh ke depan sana, bayangan kejadian itu berputar hebat di kepala nya. Sementara itu, Bia menoleh ke belakang dengan langkah yang terhenti sejenak. Dia menatap punggung Gerry yang masih berdiri di tempat nya, tidak beranjak seinci pun. Nafas nya bergemuruh, tangan nya terkepal. Kobaran kebencian itu kembali terbit, membuat nya ingin melepaskan bom atom yang mematikan. "Gue akan balas kalian semua!" Gumam Bia pada diri nya sendiri. Mata nya memancarkan sorotan penuh dendam. ❄❄❄❄❄❄❄ Rian memasuki kelas XI IPA 2, kelas paling keramat oleh sebagian guru di sekolah ini. Seperti biasa, kelas itu ribut sekali. Rian memukul meja sebanyak dua kali, membuat kelas tersebut langsung hening. Siswa siswi yang tadi nya berkeliaran kesana kemari, mulai kembali duduk di tempat masing-masing. Rian seperti biasa dengan tatapan dingin nya menatap sekeliling kelas. Lagi-lagi dua bangku di paling belakang kosong, siapa lagi pemilik bangku itu kalau bukan dua siswi terbandel di SMA Rising. "Yuna sama Bia kemana?" Tanya Rian. Tidak ada yang menjawab, sampai akhir nya bunyi pintu di buka menyadarkan semua pasang mata di kelas itu. Mereka langsung saja menoleh ke arah pintu, tepat di sana berdiri siswi berambut ungu sebagian. "Kamu tau kan kalau di sekolah ini masuk jam berapa?" Rian bertanya seraya melipat tangan nya di d**a, dengan menyandarkan b****g nya di sudut meja, menatap Yuna. Yuna mendesah, dan terus mengunyah permen karet nya. Lalu mengacak pelan rambut nya. "Inti nya bapak ngebolehin sama masuk apa enggak?! Masih untung sama masih inget alamat ke sini." Balas nya santai. Rian menghela nafas mya. "Ya udah masuk!" "Gitu kek daritadi! Ketiban ngomong kayak gitu doang lama." Dumel Yuna, lalu melangkah memasuki kelas dan duduk di samping Milka. "Bia kemana?" Rian menatap Yuna. "Mana saya tau! Emang saya emak nya yang ngekorin dia terus!" Jawaban ketus Yuna mengundang tawa satu kelas. "Diam!" Bentak Rian. "Ya elah pak! Bia di tanyain, orang kayak Bia gak usah di tanyain kemana nya. Bia kan alergi sama sekolahan." Vicky yang duduk di sudut kelas menyahut. "Pak Bia tu udah punya masa depan yang cemerlang. Jadi dia gak sekolah pun udah jadi direktur." Tambah cowok berkacamata namun dandanan persis seperti preman. "Perhatian banget sama Bia. Suka ya?" Rena ikut berkomentar, gadis bermata sayu bak panda itu menyorot ke arah Pak Rian. Dia meneliti guru matematika nya itu dari ujung rambut sampai ujung kaki. "Cocok! Pepet aja terus!" lanjutnya, lalu kembali merebahkan kepala nya di meja. Rian menarik nafas nya, berusaha agar menyabarkan hati nya. Menghadapi anak-anak seperti di kelas XI IPA 2 ini tidak bisa menggunakan kekerasan. Dia tidak habis pikir, kenapa Buk Kirana begitu betah menjadi wali kelas di kelas ini. Rian baru saja akan melanjutkan proses belajar mengajar, saat mata nya tak sengaja menyorot keluar jendela yang menghubungkan dengan tembok belakang sekolah. Dia seketika menghela nafas berat. "Saya keluar dulu! Kalian kerjakan saja buku cetak halaman 200, dan di kumpul." Setelah mengucapkan itu, Rian berlalu keluar kelas. Pasti nya menuju ke arah belakang sekolah. Rian melipat tangan nya di d**a, seraya menggelengkan kepala nya. "Terlambat lagi Bia!" Gadis berambut sebahu itu membalikkan tubuh nya. Bukan nya kaget atau takut. Dia justru menghela nafas nya. "Ck, ya elah ni orang hobi banget ngagetin gue. Lo lama-lama udah kayak jailangkung tau gak, datang tak di undang, pulang gak di anter lo." Ujar Bia, saat mata nya bertemu dengan mata dingin milik guru nya itu. "ikut saya!" titah Rian seeaya membalikkan tubuh nya. "Ngapain gue ngikut lo! Idih males banget." Tolak Bia, dan beejalan berlawanan arah dengan Pak Rian. Rian, langsung saja menarik tangan gadis itu. Membuat tubuh Bia memutar ke arah nya. "Mau saya yang proses kamu! Atau Mis Dewi!" Bia menggeram, selalu mengancam dengan nama itu. Dia menarik tangan nya. "Gue bukan kambing yang lo tarik-tarik!" desis nya, lalu berjalan mendahului Rian. Rian menghela nafas nya, lalu menyusul Bia. ❄❄❄❄❄❄❄ Bia menatap Rian dengan pandangan datar nya, lalu beralih pada kertas yang di sodorkan oleh pria itu. Dengan malas-malasan dia membuka kertas tersebut. Namun, detik berikutnya dia membulatkan mata nya melihat isi di dalam sana. "WHAT?!! Lo gila!" Hardik Bia menatap tajam ke arah Rian. Rian hanya menampilkan wajah tenang nya seperti biasa. "Ya seperti yang kamu lihat di dalam kertas itu! Kalau mulai sekarang, kamu terjerat kontrak les privat matematika sama saya, sampai kamu naik ke kelas 12." ujar nya santai. "What The f**k!" Umpat Bia. "Lo pikir lo siapa? Seenaknya ngatur hidup gue kayak gini?!!" Suara Bia meninggi, namun Rian masih menampilkan wajah tenang nya. "Gue gak bakal mau nurut sama lo! Seratus kali lo guru privat gue pun!" Bia bangkit dari duduk nya, menatap tajam ke arah Rian. "Jadi jangan harap gue akan mau nyetujuin ini!" Rian mendongak menatap Bia, dia lalu ikut bangkit berdiri dan memasukkan kedua tangan nya di saku celana bahan nya. "Gak masalah! Yang jelas saya dapat amanat dari mama kamu untuk jadi guru privat kamu satu tahun ke depan. Jadi suka gak suka, kamu harus nurut dengan semua peraturan yang saya terapkan!" Tangan Bia terkepal. "Lo yang begok! Lo mau aja di suruh-suruh sama wanita sialan itu!!" "Wanita yang kamu bilang sialan itu adalah ibu kamu Bia!" Desi Rian sengit. "Trus gue harus peduli! Eh-lo denger ya, mau dia sekalipun yang nyuruh, gue makin gak peduli. Karna, gue gak punya ibu!" Tekan Bia tajam, lalu membalik tubuh nya berlalu keluar ruangan. "Saya mau lihat kamu di kelas nanti! Kalau tidak! Saya akan proses kamu ke Mis Dewi!" geram Rian, membuat langkah Bia terhenti sejenak, bertepatan dengan masuknya Buk Kirana. Tatapan Bia dan Buk Kirana sempat bertemu, sebelum akhir nya berlalu keluar ruangan. Buk Kirana menatap kepergian Bia, dia dapat melihat emosi di tatapan gadis itu tadi. "Bia kenapa lagi pak?" Dia menoleh pada Pak Rian. Rian menghela nafasnya. "Seperti biasa buk." Mereka baru saja menghela nafas berat, bertepatan saat mendengar suara siswa siswi yang berlarian di koridor. "Ada apa itu Buk?" Tanya Pak Rian pada Buk kirana. Buk Kirana menggeleng, dan berlari keluar ruangan di susul oleh Pak Rian. Mereka langsung saja di suguhkan dengan kondisi keributan siswa siswi yang berlarian di koridor, menciptakan kebisingan. "Eh ada apa ini?!" Tanya Buk Kirana pada salah satu siswa yang ikut berlari. "Itu Buk---" PRANGGG... Bunyi pecahan kaca membuat Buk Kirana dan Pak Rian terhenyak kaget. "Jangan bilang---" "Iya Buk anak SMA Atlanta nyerang SMA Rising, sekarang Bia sama pasukan nya lagi di luar menghadapi mereka." Ujar siswa itu. Buk Kirana dan Pak Rian langsung saja saling pandang. Tanpa buang waktu mereka ikut berlari ke arah pintu masuk sekolah, benar saja di sana pasukan yang di pimpin oleh Bia tampak tengah tawuran dengan SMA Atlanta di luar pagar sekolah. Bunyi teriakan, lemparan batu, dan benda-benda tumpul lain nya mhlai terdengar dan melayang di udara. "Pak Gimana ini pak?" Tanya buk Kirana khawatir ke arah Pak Rian. Suasana benar-benar kacau, pasal nya siswa siswi yang lain ikut bergidik ketakutan. Sebagian anak buah Bia, mengarahkan siswa siswi untuk meninggalkan pekarangan sekolah, agar tidak terkena lemparan batu atau benda tumpul lain nya. "Ok Buk. Ibuk arahkan semua siswa siswi untuk menjauh dari lokasi. Saya akan cari cara untuk menghentikan aksi ini." Buk kirana langsung saja mengangguk. Setelah kepergian Buk Kirana, Rian langsung saja berlari ke arah lokasi tawuran yang sudah semakin memanas. Bughh... "ANJINGG!!" "BANGSATT!!" Bugh.. Pranggg... "WOI!! b*****t LO YA!!" Teriakan itu terdengar di tengah lokasi tawuran tersebut. Mata Rian menatap liar ke arah kerumunan itu, mencari sosok seseorang yang menjadi pemimpin dari jalannya tawuran. Bugh.. "BIAAA!!" Teriakan itu membuat Rian menoleh dan membalikkan rubuh nya. Dia seketika membulatkan mata nya saat melihat Bia terjatuh di aspal jalanan dengan dahi yang mengeluarkan darah segar. Rian berlari ke arah tubuh Bia, bertepatan dengan pihak SMA Rising yang menghajar pihak SMA Atlanta dengan membabi buta. "Pak tolong Bia!" Rena yang juga berada di tengah tawuran itu berucap khawatir. Gadis itu memangku kepala Bia, gadis itu telah jatuh pingsan. Rian langsung ambil tindakan, menggendong tubuh Bia meninggalkan lokasi tawuran itu. Namun sebelum itu. "Hentikan Tawuran ini Rena!" Perintah Rian. Rena menggeleng. "Gak bisa! Sebelum salah satu dari mereka juga tumbang!" geram Rena lalu berlari ke tengah keributan itu. Rian yang khawatir dengan kondisi Bia, langsung saja berlari meninggalkan lokasi. Membawa tubuh gadis itu ke dalam sekolah, bertepatan dengan Mis Dewi dan beberapa orang guru keluar. Tatapan tajam Mis Dewi menusuk ke arah Bia yang pingsan di gendongan Rian. ❄❄❄❄❄❄❄
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN