SEMBILAN

2973 Kata
Seperti dugaan nya kemarin, hari ini semua siswa siswi yang terlibat tawuran di kumpulkan di ruangan Mis Dewi. Buk Kirana sejak tadi tidak henti nya menampilkan wajah gelisah, sesekali dia menghela nafas nya dengan kasar. Semua siswa siswi yang terlibat telah berkumpul, termasuk Rena, Yuna dan Raya. Tapi, Bia, ketua dari tim SMA Rising belum juga datang sejak tadi. "Pak? Bia kemana?" Buk Kirana berbisik kepada Pak Rian yang ada di sebelah nya. Rian mebghela nafas nya sesaat. Pertemuan terkahir nya dengan gadis nakal itu ya tadi malam. Pagi nya, Rian tidak melihat Bia sama sekali. "Saya juga gak tau buk. Apa dia---" Brukk... Ucapan Rian terhenti saat pintu ruangan Mis Dewi tiba-tiba terbuka, menciptakan bunyi yang cukup keras. Semua pandangan kini tertuju pada gadis dengan wajah lebam dan plester di dahi itu. Gadis itu tanpa permisi berjalan bergabung ke arah lebih kurang 20 siswa siswi tawuran kemarin. Hanya mata Mis Dewi lah yang menatap tajam ke arah Bia. Emosi nya sudah naik hingga ubun-ubun sejak kemarin, jika saja gadis itu tidak pingsan kemarin. Sudah dia pasti kan, kemarin Bia dan yang lain mendapatkan hukuman. "Berhubung orang yang di tunggu sejak tadi sudah datang! Saya ingin kalian semua meminta maaf kepada pihak SMA Atlanta yang telah kalian rugikan?!!" suara tegas Mis Dewi terdengar di ruangan tersebut memecah keheningan. Yuna yang terlihat santai seraya mengunyah permen karet nya. "Apa? Minta maaf? Mis gak salah nyuruh kita minta maaf?" kekeh nya sinis. "come on! Yang di rugikan di sini itu kita! Bukan mereka!" "Gak lihat tuh! Kaca kelas kita pecah gara-gara mereka! Mereka yang nyerang kenapa kita yang mintak maaf! Aneh banget ni orang tua!" Rena menambah tak kalah sengit. BRAAKK.. Ucapan Yuna dan Rena itu menambah tingkat emosi Mis Dewi. Gebrakan meja itu membuat Buk Kirana dan Pak Rian terhenyak kaget, sementara mereka yang tengah di introgasi hanya berdiri dengan santai. Terlebih Bia dan teman-teman nya. "Apa kalian bilang?! Sadar tidak kalau tawuran ini terjadi karna ulah kalian?!!" Suara Mis Dewi semakin meninggi, mata nya mengisyaratkan amarah yang sangat besar. "SADAR TIDAK?!!" "Ck, sayang nya gue gak sadar." Respon gadis dengan tindikan di bibir itu. Mata nya menyorot dingin ke arah wanita paruh baya itu. "Kamu?!!" Mis Dewi menggeram, tangan nya bergetar karna emosi saat menunjuk tepat di depan wajah Raya. "Berani-berani nya kamu berbicara seperti itu sama saya! Kamu pkir saya tidak tahu jika tawuran ini terjadi karna ulah kamu?!! Kamu yang sudah menyebabkan salah satu siswi di SMA Atlanta masuk rumah sakit hingga mengalami patah kaki?!!" Pandangan Buk Kirana dan Pak Rian menyorot ke arah Raya kali ini. Sementara gadis yang di tatap hanya diam memasang wajah tanpa dosa nya. "Harus nya kamu sadar?! Kamu yang sudah membuat semua keributan ini!! Kam---" Bia menurunkan tangan kepala sekolah nya itu yang sejak tadi menunjuk Raya. Dengan wajah tenang dan dingin nya dia menyorot ke arah Mis Dewi. "Apa yang terjadi dengan anak SMA Atlanta, itu gak ada hubungan nya dengan SMA Rising. Dan kalau pun ada, itu urusan gue, bukan urusan lo! Atau urusan sekolah ini!" Bia yang sejak tadi diam, angkat suara. Mata tajam Mis Dewi bertemu dengan mata tenang Bia. "Dan lo minta gue dan yang lain untuk minta maaf?" Dia menyeringai. "Kalau lo mau ngejatuhin harga diri, jatuhin harga diri lo aja! Tapi jangan ajak gue!" Ujar nya sakartis. "Karna sampai kapan pun gue pribadi gak akan pernah minta maaf sama Atlanta." Suara Bia berubah serius. "Bahkan sampai gue mati sekalipun! Atlanta akan tetap jadi musuh terbesar gue! Minta maaf? Hanya akan terjadi dalam mimpi lo!" Ucapan Bia benar-benar membuat ruangan itu hening. Berbeda dengan Rian, pria itu langsung menarik tangan Bia keluar ruangan tersebut. Bia menepis kasar tangan Rian yang menarik nya. "Kamu tau tidak kalau apa yang kamu ucapin tadi itu, keterlaluan!!" Rian menggeram tertahan menahan emosi dalam diri nya. Mata nya menatap tajam ke arah Bia. Bia masih memasang wajah datar nya. "Apa yang gue lakuin emang selalu keterlaluan. Dan lo udah tau itu!" Balas nya dingin, sedingin tatapan nya kepada Rian. Bia melangkah mendekat ke arah Rian. "Satu lagi! Lo terlalu banyak ikut campur selama ini! Lo harus nya sadar posisi, lo bukan siapa-siapa dalam hidup gue, yang berhak untuk ngatur langkah gue! "Hidup gue punya gue! Bagaimana pun masa depan gue nanti! Itu gak ada sangkut paut nya sama lo! Ngerti!" Desis Bia tajam, dia lalu berlalu pergi. Rian menatap punggung Bia yang menjaub. "Temui saya nanti saat jam istirahat!" Ucap nya tegas, langkah Bia terhenti. "Kalau kamu gak datang! Saya akan pastikan kamu harus meminta maaf kepada SMA Atlanta!" Peringatan Rian itu membuat Bia berbalik, menatap tajam penuh kebencian pada pria tersebut. "Kamu tidak ingin itu terjadi bukan?" ujar Rian dengan suara tenang nya. Setelah itu Rian berlalu meninggalkan koridor yang sepi itu. Meninggalkan Bia yang tangan nya terkepal erat. Rahang Bia mengeras, tangan nya semakin terkepal erat. Kebencian itu semakin membara di d**a Bia. BUGHH... Dengan sekali layangan tangan dia menonjok kuat dinding koridor itu, membuat darah segar bercucuran di tangan mungil nya itu. Nafas Bia terengah, dengan d**a yang naik turun. Tangan Bia masih terkepal di dinding yang baru saja dia tonjok. Dia menunduk, cairan bening tak di undang ifu mengalir di wajah nya. "b******k!" Bia menghapus kasar air mata tersebut. Dia benci air mata. ❄❄❄❄❄❄❄ Milka menatap khawatir ke arah Bia. Sejak tadi pagi, sahabat nya itu tidak seperti biasa nya. Hari ini, dia lebih terlihat pendiam dan tidak banyak bicara. Selain itu, tatapan gadis itu juga terlihat kosong ke depan. Bahkan Bia hanya diam saat Rena mengobati luka di punggung tangan nya. Rena dan Yuna melihat sendiri tadi, bagaimana Bia menonjok dinding begitu kuat. Hingga menyebabkan tangan gadis itu cidera, namun untung tidak mengalami patah tulang. "Lo kenapa sih Bi? Lo lagi ada masalah? Cerita lah!" Yuna membuka suara nya, memecah keheningan yang terjadi di taman belakang sekolah itu. Setelah Rena selesai mengobati luka di tangan Bia. Bia tidak merespon, gadis itu masih menatap lurus ke depan. Milka menghela nafas nya. "Apa gara-gara Mis Dewi nyuruh sekolah kita buat minta maaf ke Atlanta?" tanya nya hati-hati. "Gue gak akan pernah ngelakuin itu." Untuk pertama kali nya Bia bersuara. Milka, Yuna dan Rena saling pandang satu sama lain. "Ya kita tau. Lo gak akan ngelakuin itu." Rena bersuara, mata sayu gadis itu menatap ke arah Bia. "Gue, Yuna sama yang lain nya dapet hukuman ngebersihin toilet selama satu minggu." Lanjut nya, seraya melirik Yuna. Hening. Tidak ada lagi yang membuka suara, Bia lalu bangkit berdiri setelah mendengar bunyi bel tanda istirahat. "Untuk sekarang! Jangan ada yang macem-macem sama Atlanta!" Ujar Bia dingin, sebelum akhir nya melangkah pergi. Namun suara Milka menghentikan langkah nya. "Lo kangen sama dia?" "Mil---" Yuna menatap kaget ke arah Milka, bisa-bisa nya Milka menanyakan hal tersebut, yang bisa berefek besar untuk Bia. Milka tidak peduli, mata nya terus menatap ke arah punggung Bia. Tangan gadis itu tampak terkepal kuat, bahkan tangan yang baru saja di perban tadi. Tanpa mengatakan apa pun, Bia melangkah pergi. Meninggalkan Milka, Rena dan Yuna dengan seribu kebingungan mereka. "Lo ngapain sih pake acara nanya kayak gitu?" Yuna menatap tajam ke arah Milka. "Tauk, kalau dia ngamuk lagi gimana? Tawuran kemarin aja masih panas tau gak, lo mau Bia ngamuk hah?" Rena ikut angkat suara. Milka mendesah. "Iya sorry, gue kebablasan. Gue greget aja gitu. Gak biasa banget Bia kayak gitu." "Tapi kalau gue lihat dari mata Bia sih. Dia kayak nya emang pikiran nya terpusat ke kejadian itu lagi deh. Tapi yang gue heran, apa yang memancing dia kembali inget kejadian itu?" Ucapan Yuna di benarkan oleh Milka dan Rena. "Udah lah gak usah di pikirin dulu, yang gue pikirin tu sekarang gimana cara nya gue bisa lepas dari hukuman bersihin toilet, mana satu minggu lagi." Rena mengeluh. "Ck, mending kan, daripada di drop out atau di skors." Ujar Milka. "Ya elah Mil, ya mending di skors lah. Enak! Gak sekolah, ya gak Ren." Rena mengangguk dan menyambut tos-san tangan Yuna. Sementara Milka hanya mendengus melihat kelakukan teman-teman nya itu. Sementara itu... Bia tanpa permisi langsung saja memasuki ruangan guru matematika nya itu. Tatapan dingin nya langsung saja bertemu dengan tatapan Rian. Rian tersenyum tipis. "Ternyata kamu takut sama peringatan saya." "Gak usah bacot! Gue gak ada waktu ngedengerin bacot lo!" Desis Bia dingin, sedingin tatapam nya kepada Rian. Rian menghela nafas nya. Lalu mempersilahkan Bia untuk duduk. Dia memperhatikan gadis itu dengan mata tenang milik nya. "Kamu ingat kan kalau mama kamu minta saya untuk menjadi guru privat kamu?" Rian memulai topik, sementara Bia tidak merespon. "Jadi, untuk satu tahun ke depan, kamu akan menjadi murid privat saya." Mata Bia langsung saja menyorot ke arah Rian. "Tidak ada bantahan Bia! Karna apa? Karna ini juga sebagai pengganti hukuman untuk kamu, karna ulah tawuran kamu." Lamjut Rian, sebelum Bia menyela. Bia mendekatkan sajah nya pada Rian. "Apa untung nya buat gue les privat sama lo?" "Kamu bisa memperbaiki diri, dan masa depan kamu." Bia menyeringai. "Lo paranormal? Cenayang? Yang bisa tau gimana masa depan gue? Oh, karna gue hidup amburadul, trus lo bilang masa depan gue suram?" Rian mendesah pelan. "Kurang lebih begitu." Wajah Bia berubah serius. "Trus? Lo pikir gue peduli? Masa depan? Gak guna buat gue." Ujar nya skakmat, lalu bangkit dari duduk nya. Rian dengan sigap menahan tangan gadis itu. "Saya emang gak tau masa depan kamu seperti apa? Dan saya juga gak bisa merubah masa depan kamu, tapi kamu! Kamu bisa merubah masa depan itu menjadi lebih baik." Bia melirik Rian. "Saya tau, ada kekecewaan yang teramat besar dalam diri kamu. Tapi---" "Berhenti! Berhenti jadi orang sotoy!" Geram Bia, seraya menepis kasar tangan kekar pria itu. "Lo gak tau apa-apa tentang hidup gue! Jadi jangan pernah sekali-sekali lo ikut campur!" Mata Rian kali ini terkunci pada tangan kanan gadis itu yang di baluti perban. Apa yang baru saja gadis ini lakukan? Rian menghela nafas nya, mengusap rambut nya gusar. Harus bagaimana lagi dia berbicara dengan Bia? ❄❄❄❄❄❄❄ Bia menghela nafas nya, entah untuk keberapa kali dalam hari ini. Kepala nya rasa nya benar-benar ingin meledak sekarang. Di sekolah dia sudah menghadapi dua orang guru menyebalkan, sekarang saat dia ingin mencari ketenangan di luar sekolah, dia malah di pertemukan dengan orang yang bahkan tidak ingin dia temui lagi. Bia baru saja akan melangkah menghindari mobil tersebut, sebelum seseorang menahan tangan nya. Membuat tubuh nya berputar, hingga menabrak d**a bidang cowok tersebut. "Bia! Sayang, kamu gak papa kan? Ya ampun, aku khawatir banget sama kamu." Bia hanya mematung di dalam pelukan yang erat itu, tangan nya bahkan tidak berniat hanya sekedar mendorong tubuh kekar itu. Sampai akhir nya Gerry sendiri lah yang melepaskan pelukan erat itu. Bia menatap datar ke arah cowok itu. Wajah yang sangat muak untuk di lihat nya lagi. "Sayang! Kamu gak papa kan? Kita ke rumah sakit ya? Ini luka di dahi sama lebam di wajah kamu harus di obatin, trus tangan kamu ini kenapa?" Suara khawatir Gerry begitu sarat terdengar oleh Bia. Bukan nya terharu, Bia justru merasa jijik dengan suara cowok itu. Dengan kasar dia menepis tangan cowok itu yang memegang kedua pundak nya. "Gak usah drama lo!" desis nya dingin. Gerry menatap ke manik mata Bia. Dia tidak berbohong saat mengatakan bahwa dia begitu khawatir dengan gadisnya itu. "Bi aku khawatir sama kamu. Kamu gak tau gimana stress nya aku saat ngedenger kabar kalau kamu pingsan, karna---" "Gerry-Gerry! Lo sadar gak sekarang lo lagi dimana? Ini bukan kandang lo! Lo bisa kapan aja habis di sini! Jadi kalau lo masih sayang nyawa, cabut sekarang!" Bia masih bersuara dingin. Yap, mereka kini tepat berada di depan pagar SMA Rising, awal nya Bia berniat untuk membolos melalui gerbang tersebut, karna tidak ada nya satpam yang menjaga. Bukan nya lolos dia malah bertemu dengan orang yang bahkan lebih membosankan daripada Mis Dewi. "Aku gak peduli! Yang aku peduliin itu cuman kamu Bi. Aku khawatir sama kamu sayang!" Bia menepis tangan Gerry ysng hendak menangkup wajah nya. Dia menatap tajam ke arah cowok itu. "Cabut lo sekarang! Gue muak liat muka lo! Satu lagi, buang rasa khawatir palsu lo itu, gue gak butuh. Lo pikir siapa yang bikin gue jadi kayak gini? Pasukan Atlanta? Enggak! Elo gang bikin gue kayak gjni, dan sekarang lo mengkhawatirkan musuh lo sendiri? Lucu lo!" Gerry menatap mata Bia yang kini di selimuti rasa benci yang mendalam. "Kenapa kamu selalu nyalahin aku? Kenapa kamu---" "KARNA EMANG LO YANG SALAH!" bentak Bia. "Lo masih nanya anjing?! Lo masih nanya kenapa gue nyalahin elo?! Mikir lo pake otak!" Bia membalikkan tubuh nya, berniat akan pergi. Saat Gerry mencengkram tangan nya dengan kuat. "Aku udah habis kesabaran sama kamu! Kamu pikir kamu bisa pergi dari aku?! Enggak semudah itu Bia!!" Geram Gerry, lalu menyeret Bia masuk ke dalam mobil nya. Bia meronta dan berusaba melepaskan cengkraman itu, namun tenaga nya yang sudah habis sejak tadi pagi membuat nya kalah dengan tenaga besar milik Gerry. "Lepas anjing!! Gerry!!" Bia menggeram, berusaha mempertahan kan diri nya. "Ger---" Suara Bia terhenti saat tiba-tiba seseorang menarik tangan nya yang lain, membuat cengkraman tangan Gerry terlepas. Bia menatap tidak percaya ke arah Pak Rian yang entah datang darimana. Lalu melirik Gerry yang menatap pria 25 tahun itu dengan tajam, dan rahang yang mengeras. "Jangan kasar kamu sama cewek!" ujar Rian dengan nada dingin. Gerry emnggeram, dia menarik krah baju Rian membuat Bia seketika tersentak. "Lo siapa?!! Lo siapa hah?!! Berani-berani nya lo ikut campur dengan urusan gue dan cewek gue?!" hardik Gerry dengan gigi yang bergemelatuk. Rian mendorong Gerry sekuat tenaga nya. "Saya guru di sekolah ini! Saya bisa saja mengadukan kamu ke sekolah kamu, dan itu bisa menyebabkan kamu menerima sanksi." Tangan Gerry terkepal, mata nya menyorot tajam tangan Rian yang memegang tangan Bia. Dia tidak suka, Bia-nya di sentuh leh pria lain. Gerry baru saja akan melayangkan pukulan nya ke arah Rian, saat Bia menahan tangan cowok itu. Mengundang tatapan Rian begitu pun dengan Gerry. "Bi---" "Cabut! Atau gue bisa panggilin anak-anak Rising buat ngabisin elo!" Geram Bia tertahan. "Bi---kamu---" Bia mengangkat tangan nya. "Oke! Lo gak mau cabut! Gue yang cabut!" Bia kembali masuk ke dalam gerbang sekolah, meninggalkan Gerry bersama Rian yang masih saling menatap satu sama lain. Sebelum akhir nya, Rian menyusul Bia ke dalam. Lalu menarik tangan gadis itu. "Ikut saya!" ❄❄❄❄❄❄❄ Bia terdiam di tempat nya berdiri sekarang. Tepat di depan nya, dia di suguhi pemandangan berupa tebing yang cukup curam, namun semilir angin yang di rasakan nya dari atas sini jujur, membuat hati nya tentram. "Biasanya kalau saya lagi punya masalah, saya ke sini. Karna di sini, saya ngerasain yang nama nya ketenangan." Rian bersuara, lalu berdiri tepat di samping Bia. Tatapan nya juga lurus ke depan, merasakan semilir angin yang begitu menyejukkan. "Saya milih tempat ini, karna tempat ini cocok buat nenangin diri, karna di sini sepi, dan bisa membuat kita lebih berpikir rasional." dia menoleh pada Bia, yang masih menatap lurus ke depan. "Tapi jangan sampai kamu loncat ya dari sini," Lanjut nya. Bia masih tidak merespon, mata nya bahkan tidak melirik ke arah lawan bicara nya sedikit pun. Bukan dia tidak mendengarkan, tapi dia hanya tidak mengerti kenapa pria di samping nya ini membawa nya kemari. "Dalam rangka apa lo bawa gue ke sini? Mau ruqiah gue, supaya gue sadar?" Bia akhir nya bersuara dingin. Rian tersenyum tipis, dia lalu menghela nafas nya. "Emang ruqiah mempan buat kamu?" Bia mendesah samar, dia lalu membalikkan tubuh nya berniat meninggalkan tempat itu. "Kenapa kamu gak mau saya jadi guru privat kamu?" Suara dan pertanyaan Rian membuat langkah Bia terhenti. Rian membalikkan tubuh nya, menatap punggung gadis itu. "Kenapa kamu menolak?" Bia memutar tubuh nya menghadap Rian. "Sekarang pertanyaaan nya gue balik. Kenapa lo mau jadi guru privat gue?" "Kar---" "Jangan jawab karna lo di suruh sama wanita itu." potong Bia, saat Rian baru saja akan menjawab. Rian terdiam sejenak, dia sendiri bahkan tidak tau kenapa dia menerima begitu saja permintaan ibu dari gadis yang kini ada di depan nya ini. "Karna saya percaya, kamu bisa menjadi gadis yang lebih baik ke depan nya. Saya juga tau, kamu adalah murid yang pintar. Dan saya ingin membuktikan itu, saya ingin membuktikan bahwa kamu tidak seburuk apa yang mereka lihat." Rian akhir nya bersuara, mata nya tidak lepas dari mata dingin Bia. Bia untuk sesaat hanya menatap dingin ke arah pria itu. "Apa hubungan nya dengan pandangan orang lain terhadap gue, dengan lo? Ada?" Rian tertegun. Membuat Bia menyeringai. "Lo hanya buang-buang waktu. Mau lo berusaha kayak apa pun, gak akan ada yang berubah. Gue akan tetap menjadi gue, gak akan pernah bisa menjadi orang yang seperti lo inginkan!" tekan Bia. "Kalau gitu bukti kan! Bukti kan kalau saya emang gak bisa merubah kamu." Langkah Bia kembali terhenti, dia kembali menoleh. Tatapan Rian kali ini terlihat lebih serius. "Kamu bilang saya buang waktu kan? Ok, kalau gitu buktikan, kalau saya memang hanya membuang waktu. Saya ingin, kamu tetap menjadi siswi privat saya selama satu tahun ini, kalau saya gagal dalam waktu 6 bulan merubah kamu." Rian mengangkat tangan nya. "Saya akan mundur." "Tapi kalau saya berhasil, maka kamu tertekan kontrak dengan saya selama satu tahun." Lanjut Rian. "Tapi di sini, saya ingin kamu juga mengeluarkan kesungguhan hati kamu! Karna saya tau, ada sesuatu yang terselip di sudut hati kamu. Tapi gak bisa kamu ungkapkan!" Bia termangu di tempat nya berdiri. Enam bulan, apa dia harus memberikan waktu itu kepada pria di depan nya ini?  Jika dia mengiyakan maka selama itu juga hidup nya tidak akan bisa sebebas sekarang. "Gue gak berminat!" Ujar Bia dingin, lalu berlalu meninggalkan tempat itu. Rian menghela nafas nya berat, mengusap gusar rambut nya. Kenapa hati gadis itu begitu keras? Rian tidak tau lagi harus melakukan apa agar Bia mau menerima nya menjadi guru privat. ❄❄❄❄❄❄❄
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN