SEPULUH

2035 Kata
Bia melangkah kan kaki nya memasuki rumah besar bak istana itu. Mau sebesar dan semewah apa pun rumah itu, tidak akan merubah kemungkinan bahwa dia tidak pernah merasakan kebahagiaan di dalam sana. Semenjak kejadian kemarin malam, dia tidak pernah lagi berkomunikasi dengan wanita yang melahirkan nya itu. Bahkan tak saling menatap lagi, lebih tepat nya Bia tidak ingin ambil pusing dengan kehadiran Bella. "Non Bia! Maaf, nyonya menunggu non di ruangan kerja nya." Mata dingin Bia menyorot wanita yang berusia sekitar 30 tahun itu, wanita yang sudah bekerja cukup lama dengan keluarga nya. Lilis, yang merupakan juga ketua pelayan di runah nya. Tanpa mengucap apa pun, Bia melangkah kan kaki nya menaiki tangga. Namun, suara Lilis kembali menghentikan langkah nya. Tapi, kali ini dia tidak berbalik. "Maaf non. Mbak mohon, tolong temui nyonya. Dia menunggu non." Sampai Lilis sekali lagi. Bia kembali melanjutkan langkah nya. Mata nya menyorot pintu berwarna putih tersebut. Dia menghela nafas nya, sebelum akhir nya melangkah menuju ruangan tersebut. Tanpa mengetuk dan permisi, dia langsung saja masuk. Bella mengalihkan pandangan nya dari dokumen kerja, kepada Bia yang baru saja masuk. Dia menatap gadis itu dari ujung rambut sampai ujung kaki, selalu berantakan. Tapi untuk hari ini, dia tidak mendengar ada aduan dari pihak sekolah lagi. "Papa mu ingin bertemu dengan mu besok sore. Sehabis pulang sekolah." Bella langsung saja membuka pembicaraan, tanpa berbasa basi terlebih dahulu. Bia menatap dingin ke mata Bella yang juga menatap nya tak kalah dingin. "Temui dia! Dia ingin berbicara dengan mu." Lanjut Bella. "Gue gak ada waktu." Balas Bia dingin, berniat membalikkan tubuh nya. "Itu urusan kamu dengan papa kamu. Tapi mama gak mau nanti ada omongan yang mengatakan mama melarang kamu untuk bertemu dengan papa kamu." Bella kembali bersuara. Bia menoleh kembali pada Bella. "Apa untung nya untuk gue bertemu dengan dia? Dia cuman mau ngenalin calon istrinya, ngasih undangan, dan bilang bahwa dia akan menikah lagi. Apa semua itu penting untuk gue?" dia bersuara sinis. Bella terdiam sejenak. Mata nya masih terus bersitatap dengan Bia. "Ini jalan keluarga kita. Dan kamu harus menerima itu." Bia menyeringai. "Jalan? Jalan yang kalian pilih sendiri. Bukan jalan yang gue mau." "Bia coba lah untuk mengerti!" Suara Bella naik satu oktaf. "Dibagian mana nya yang gue harus ngerti lagi? Di bagian elo yang cerai sama dia? Di bagian dia mau nikah lagi? Semua nya, semua nya gue ngerti." Bia membalikkan tubuh nya berhadapan dengan Bella. "Dan gue juga amat ngerti. Dimana posisi gue sekarang." Ucapan Bia membuat Bella termangu sejenak. "Gak semua nya kamu mengerti Bia. Ada sesuatu yang---" Bia mengangkat telapak tangan nya. "Berhenti mengeluarkan kebohongan dari mulut lo! Lo cuman nambah dosa doang, karna apa? Karna apa pun yang luar dari mulut lo atau dia! Gak akan pernah merubah keadaan, gak akan merubah kondisi bahwa gue membenci kalian seumur hidup gue!" Bia berbicara penuh penekanan, rahang nya mengeras dan gigi yang saling bergemelatuk. Bella menghela nafas berat nya, dia lalu membalikkan tubuh nya, dan mengibaskan tangan nya ke arah Bia. "Terserah! Kamu mau menemui papa kamu atau tidak! Tapi kamu cuman ada dua pilihan!" mata nya menyorot tajam ke mata Bia. "Pertama, temui papa kamu paling kurang 4 kali dalam seminggu. Atau kedua, les privat dengan Rian 4 kali dalam seminggu!" Mata Bia seketika menajam. "Penawaran macam apa yang lo kaish ke gue?!!" suara nya meninggi. Habis sudah kesabaran nya. "Bia! Kamu sendiri yang mengatakan bahwa hidup adalah pilihan. Kamu juga yang mengatakan jalan keluarga kita yang seperti sekarang adalah pilihan mama dan papa kamu. Trus kenapa enggak, kamu juga harus memilih salah satu diantara dua penawaran itu. Sulit?" Bugh... Dengan sekali layangan tangan Bia memukul tembok ruangan tersebut. Tangan nya yang di perban tadi kembali mengeluarkan darah. Sementara itu, Bella tertegun melihat darah segar mengalir di tangan kanan gadis itu yang di perban. Dia baru sadar, jika tangan Bia sejak tadi berperban. Tanpa mengatakan apa pun, Bia keluar dengan membanting pintu tersebut. Meninggalkan Bella yany lagi-lagi terdiam di dalam ruangan sunyi itu. ❄❄❄❄❄❄❄❄ Bia membuka pintu kamar nya dengan emosi yang membuncah. Dengan sekali hentakan dia membanting pintu tersebut. Bantingan pintu itu membuat beberapa pelayan yang ada di lantai bawah tersentak kaget. "Apa lagi ini." Gumam Lilis dengan mata sendu menatap pintu kamar gadis berusia 16 tahun itu. Semnetara itu... "ARRGHHHH!!!" PRANG... BRAKK... BUGH.... Bia dengan emosi yang tidak terkontrol lagi membanting dan melempar semua yang ada di dalam kamar nya. Melampiaskan semua rasa kesal, marah dan kebencian yang ada dalam diri nya. "ARGHHH!!!BRENGSEEEK!!" Prang... Bruk... Bia menyapu bersih semua barang yang ada di atas meja. Berulang kali dia memukul dan melemparkan barang keras ke arah cermin, hingga membuat cermin tersebut pecah dan berserakan di lantai. BUGH... Nafas Bia terengah dengan tangan yang masih tertempel di dinding setelah meninju tembok kamar nya. Dia menunduk, dengan d**a yang naik turun. Pundak nya seketika bergetar, saat emosional dalam diri nya semakin memuncak. Sesak di d**a nya, seakan semakin di rasakan nya saat cairan bening itu mengalir begitu saja. Tubuh Bia terhuyung hingga terbentur ke tembok yang menjadi korban pukulan nya tadi. Dia merosot ke lantai, dengan posisi wajah sedikit menempel ke tembok. Pundak gadis itu kian bergetar dan mulai terdengar rauangan-rauangan kecil lalu berubah menjadi isakan yang begitu luar biasa. "Aaarrghhhh---" Bia menangis sejadi-jadi nya, melimpahkan segala sesak di d**a nya yang selama ini begitu menyiksa diri nya. Tangan nya mencengkram kuat tembok tersebut, tidak memerdulikan tangan nya yang sudsh di penuhi dengan darah segar. "Kenapa?! Kenapa hidup gue kayak gini?! Kenapa?!!" Suara gadis itu terdengar di tengah isak tangis nya. Dia mencengkram kuat kepala nya, dan menumpu tangan nya dengan siku kaki yang di tegakkan nya. "Kenapa semua ini harus terjadi dalam hidup gue?!! Kenapa?!!" Bia memukuli tubuh nya sendiri secara bertubi-tubi. Tangis gadis itu semakin tidak terbendung, isakan dan raungan menyayat hati terdengar memenuhi kamar yang sudah tidak berbentuk itu. Bia meringkuk di lantai yang dingin itu, menangis dsn memeluk tubuh nya sendiri. Rasa nya apa yang di terima nya selama ini, sudsh cukup penuh hingga dia tidak bisa lagi menahan gejolak tersebut. Bertahun-tahun dia mencoba untuk tidak pernah menangis, tapi apa yang di lakukan orang-orang terdekat nya sungguh melukai hati nya hingga sekarang. "Kenapa?! Kenapa kalian semua jahat sama gue?! Kenapa kalian tega ngancurin gue sejauh ini?! Kenapa?!" Bia meratapi nasib nya, kondisi nya yang meringkuk di lantai sungguh bagi siapa pun yang melihat sangat memprihatinkan. Perlahan isakan Bia meredup, mata sendu gadis itu menyorot jauh ke depan sana. Walaupun isakan dan rauangan itu berakhir, tapi air mata nya terus megalir membasahi wajah nya. Bia tidak sanggup lagi. Bia tidak kuat lagi. Bia ingin semua nya berakhir. Bia ingin semua nya berakhir. Bia sangat ingin mengakhiri semua nya, semua rasa sakit, kecewa dan luka yang di goreskan begitu banyak oleh orang-orang terdekat nya. Bia ingin berhenti sampai di sini... Bia ingin berhenti di sini. Tangan Bia perlagan terangkat, posisi nya masih meringkuk di lantai dingin itu. Perlahan dia meraih serpihan kaca yang ada di sana. Saat kaca itu teraih, di genggam nya kaca tersebut di tangan kanan nya, membuat tajam nya kaca tersebut melukai telapak tangan nya. Sakit akibat kaca itu tidak di rasakan Bia. Sakit itu terkalahkan oleh rasa sakit di d**a nya. Dengan satu gerakan cepat, gadis itu berhasil menggores pergelangan tangan kiri nya dengan kaca tersebut. Hingga perlahan kegelapan mulai merenggut kesadaran nya. "BIAAA!!" Teriakan itu lah yang di dengar Bia, sebelum akhir nya mata nya tertutup sempurna. ❄❄❄❄❄❄❄❄ "Kamu yang tenang ya. Bia pasti baik-baik aja." Ranti sejak tadi tidak melepas rangkulan nya pada tubuh Bella yang terguncang. Dia mengusap lengan sahabatnya itu, guna menenangkan Bella yang sejak tadi tampak begitu khawatir. "Ini salah aku Ran." Lirih Bella dengan air mata yang tidak terbendung lagi. Ranti menghela nafas nya perlahan, menatap sendu ke arah Bella yang terus saja menyalahkan diri nya sendiri. "Harus nya aku mengerti bahwa Bia gak bisa di paksa. Harus nya aku bisa lebih mengerti Bia." suara Bella terdengar parau karna air mata nya. "Iya aku tau. Tapi kamu tenang, Bia akan baik-baik saja." Ranti berusaha menenangkan. "Yang penting kita berdo'a saja semoga Bia bisa lekas sadar. Dan luka nya tidak terlalu parah." Jaya ikut bersuara. Sementara itu, Rian mengusap gusar wajah nya. Mata nya menatap pintu ruangan ugd tersebut, niat awal nya tadi ke rumah Bia ingin menanyakan bagaimana kelanjutan dari les privat Bia. Namun, dia di kejutkan dengan bunyi bantingan barang dan pukulan-pukulan yang berasal dari kamar gadis itu. Terlebih saat melihat wajah khawatir para pekerja rumah nya. Rian yang penasaran sekaligus khawatir, memilih mendobrak pintu tersebut. Setelah tidak ada sahutan dari si empu kamar setiap dia mengetok. Dan dia langsung saja di kejutkan dengan kondisi Bia yang begitu memprihatinkan tergeletak di lantai kamar dengan kondisi pergelangan tangan kiri yang terdapat luka goresan. Gadis itu baru saja melakukan percobaan bunuh diri, terlihat dari kaca yang di genggam nya di tangan kanan. Entah apa yang merasuki diri nya saat itu. Rian begitu amat khawatir dengan kondisi gadis itu yang mengeluarkan banyak darah. Suara langkah kaki mendekat membuat perhatian Rian, Jaya, Ranti dan Bella teralihkan. Klik... Suara pintu terbuka, membuat semua orang yang ada di sana seketika berdiri dan menghampiri pria berjas putih itu. "Bagaimana kondisi Bia dok?" Bella langsung bertanya cepat. Dokter tersebut menghela nafas nya sejenak. Dokter yang di ketahui bernama Dokter Firman itu bersuara. "Bia masih di berikan keselamatan oleh Tuhan Bella. Dua kali dia percobaan bunuh diri, dua kali juga dia selamat." Mata nya menyorot datar kepada Bella yang merupakan sahabat lama nya itu. Bella tertegun, bahkan Jaya, Ranti dan Rian pun ikut terdism. "Untung nya goresan itu tidak mengenai nadi nya, jadi Bia hanya kehabisan darah yang cukup banyak. Tapi tenang, dia sudah mendapatkan donor darah." Dokter Firman diam sejenak. "Tapi kalau kejadian ini terjadi untuk ketiga kali nya---" ucapan nya terhenti sejenak. "---Saya gak yakin dia akan kembali selamat." Nafas Bella tertahan, tubuh nya jatuh di bangku tunggu. Dia lalu mengusap rambut nya, dan menundukkan kepala nya. Air mata kembali mengalir di wajah nya. "Bia itu keras Bel. Kalau kamu balas dengan keras juga, gak akan pernah selesai. Cerita nya akan terus seperti ini. Bia marah, emosi yang tidak terkontrol, dan pada akhir nya frustasi, depresi, dan mencoba membunuh diri nya. Gak akan pernah ada ending nya, kecuali kematian." Ucapan Dokter Firman begitu menghantam Bella.  "Ya sudah saya permisi dulu. Keadaan Bia sudah stabil. Jadi kalian tidak usah khawatir." Pamit Dokter Firman, dan berlalu pergi. "Tante---" Bella mengangguk. "Iya Rian, kamu boleh masuk! Saya yakin dia tidak akan ingin melihat saya sekarang. Kalau saya masuk, hanya akan memperburuk suasana." Rian mengangguk, dia lalu melangkah memasuki ruangan ugd tersebut. Hal pertama yang di lihat nya adalah, seoeang gadis dengan wajah lebam, telapak tangan kanan yang di perban, dan pergelangan tangan kiri yang di baluti perban kecil. Tampak tengah terbaring tak berdaya di sana. Pergelangan tangan itu lah, yang tadi di sayat oleh Bia. Rian perlahan mulai mendekat. Wajah Bia semakin jelas di lihat nya. Gadis itu masih tidak sadarkan diri. Saat tertidur, Bia selalu terlihat lebih tenang. "Dua kali dia percobaan bunuh diri, dua kali juga dia selamat." Ucapan Dokter Firman tadi terngiang di telinga Rian. Dua kali? Berarti bukan pertama ini saja, Bia melakukan percobaan bunuh diri. Mendadak pikiran Rian melayang saat Bia tertidur di UKS waktu itu, saat itu dia melihat luka goresan di pergelangan tangan gadis itu. Berarti benar, luka goresan yang di lihat nya waktu itu adalah bekas percobaan bunuh diri gadis itu. Tangan Rian terangkat menyentuh tangan kanan gadis tersebut, lalu menyingkirkan gelang-gelang yang menutupi pergelangan tangan gadis itu. Dia seketika tersentak melihat bekas goresan menyerupai gelang tersebut. Mata nya lalu melirik ke arah Bia yang masih belum sadar. Jadi selama ini, Aksesoris berlebihan yang di pakai Bia adalah cara gadis itu untuk menutupi bekas luka percobaan bunuh diri nya. "Apa segitu beratnya beban hidup kamu? Sampai kamu ingin mengakhiri hidup kamu dua kali?" Rian bersuara di tengah kesunyian ruangan itu. Tangan Rian naik ke atas kepala gadis itu, mengusap nya dengan ritme lembut. Menatap lekat ke wajah damai gadis itu. "Saya ingin kamu berubah Bia. Saya ingin kamu menikmati masa remaja kamu." Lirih nya. ❄❄❄❄❄❄❄❄
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN