SEBELAS

2033 Kata
Bia mengerjapkan mata nya perlahan, rasa pusing langsung mendominasi nya saat mata nya terbuka sempurna. Hal pertama yang di lihat nya adalah langit-langit ruangan berwarna coklat. Bia meringis ketika merasa ngilu saat dia menggerakkan kedua tangan nya. Terutama tangan bagian kiri nya. Bia terdiam sejenak, mata nya menatap kosong ke atas, dengan pikiran yang melayang sebelum dia terbaring di sini. Dia seketika mendesah, saat kejadian tadi berputar sempurna di kepala nya. Padahal dia berharap, saat dia membuka mata nanti dia tidak lagi berada di dunia, melainkan akhirat. Bia mengangkat sedikit kepala nya, telapak tangan kanan nya di perban. Dan pergelangan tangan kiri nya juga di perban. "Sial! Kenapa masih hidup sih." Gumam nya seorang diri. Tak lama pintu ruangan tersebut terbuka. Membuat perhatian Bia teralihkan, dia seketika berdecak saat melihat siapa yang masuk. "Ngapain lagi ni orang di sini." gumam nya pelan, berbisik pada diri nya sendiri, dan mengalihkan pandangan ke arah lain. "Gimana kondisi kamu?" Rian bersuara, dan berdiri di samping kursi ranjang gadis itu. "Ck, tanya dokter lah! Ngapain lo nanya gue!" Balas Bia ketus, dengan pandangan tidak ke arah Rian. Rian menghela nafas nya. "Udah sakit kamu masih aja ketus." Bia tidak merespon sesaat. Sebelum akhir nya dia melirik sinis ke arah pria 25th itu. "Ngapain lo di sini?! Sana cabut!" Tanpa basa-basi dia mengusir Rian. Rian mendesah tertahan, mata nya terus menatap tenang ke mata Bia. "Kamu ngusir saya? Setelah saya menyelamatkan kamu dari maut?" Bia tersenyum sinis. "Emang gue minta? Enggak kan? Gue gak minta lo buat nolong gue!" Desis nya tajam, setajam tatapan nya. "Dan harus nya lo gak usah jadi sok pahlawan! Lo pikir gue tersanjung?!" Sorot mata Rian berubah datar. "Kamu pikir dengan bunuh diri semua selesai gitu aja?!" Suara Rian ikut menajam. "Kenapa pikiran kamu begitu singkat Bia?! Kenap---" "Justru dengan cara itu gue mengakhiri semua nya!" Potong Bia sengit. "Mengakhiri kebencian, mengakhiri dendam dan mengakhiri hidup gue sendiri. "Gue lebih baik mati! Daripada gue harus hidup di dekat orang-orang yang bahkan udah gak ingin gue lihat lagi! Dan lo! Lo sekarang masuk dalam list orang yang amat gue benci!" Ucapan Bia membuat Rian tertegun. Mata nya terus menatap ke arah gadis itu yang kini mengalih kan pandangan ke layar jendela ruangan rawat nya. Gadis di depan nya ini benar-benar telah memupuk rasa benci yang begitu luar biasa untuk orang-orang sekitar nya. "Apa yang membuat kamu begitu membenci mama kamu?" Rian akhir nya mempertanyakan apa yang selama ini berkecamuk di kepala nya. Bia tidak merespon, bahkan tidak melirik ke arah pria itu. "Kamu tau? Dia sejak tadi tidak berhenti menangis melihat kondisi kamu. Dia khawatir sama kamu Bia! Dia takut kehilangan kamu!" "Bullshit!!" Desis Bia tajam, mata nya seketika menyorot penuh kebencian kepada Rian. "Lo adalah orang b**o kesekian kali nya yang di tipu sama air mata buaya dia!" Suara nya naik satu oktaf. "Semua orang petcaya bahwa dia mengkhawatirkan gue! Dia takut kehilangan gue! Tapi mereka gak tau do'a seperti apa yang di panjatkan dia setiap malam!" Rian dapat melihat sorot mata Bia yang penuh kemarahan, namun juga ada terselip luka di sana. Terlihat dari mata gadis itu yang mulai berair. "Dia bahkan mengharapkan gue mati secepat nya! Gak ada do'a takut kehilangan! Melainkan do'a untuk mempercepat kematian gue?!!" Bia tiba-tiba saja menjerit. Rian termangu, mata nya tak beralih sedikit pun dari Bia. Dia juga dapat melihat air mata mengalir seiring dengan jeritan gsdis itu. "Dan elo!! Lo udah bikin gue gagal buat mati!! Lo yang udah menunda kebahagiaan gue!!!" Bia semakin menjerit histeris. Rian semkin mematung di tempat nya. Gadis itu baru saja secara tidak langsung mengatakan bahwa dengan kematian dia akan merasa bahagia. Bia mengalihkan pandangan nya dari lawan bicara nya, saat di rasakan air mata nya semakin tidak terbendung. Dia menatap keluar jendela ruangan rawat nya. Sakit di d**a nya demakin menjadi-jadi. Kenapa perlakuan semua orang selalu menyakiti batin nya? Kenapa? Tangan kiri Bia terkepal kuat, melampiaskan rasa sakit nya di sana. Rian menarik nafas nya perlahan, dia tau Bia kini tengah menangis, namun tidak ingin di lihat oleh nya. "Bia! Terkadang hidup tidak sesimpel itu. Mungkin dengan bunuh diri hidup kamu akan berakhir di dunia, tapi di akhirat? Bunuh diri bukan jalan keluar yang baik, kalau memang kamu membenci orang di sekitar kamu. Cukup hidup untuk diri kamu sendiri, karna hidup yang kamu jalani hanya kamu yang memiliki jalan itu. "Saya tau kamu bukan tipe orang yang mau di kasihani. Tapi kalau kamu seperti ini, itu sama saja kamu ingin orang lain mengasihani diri kamu." Rian mengakhiri kata-kata nya. Tangan nya terangkat menyentuh kepala gadis itu dengan lembut. "Masa depan kamu masih panjang. Kalau memang tidak ada yang mengharapkan masa depan kamu. Maka persiapkan masa depan itu untuk diri kamu sendiri, tunjukin ke mereka bahwa kamu bisa berdiri dengan kaki kamu sendiri. Tanpa harus mengharapkan belas kasihan dari orang lain." Ruangan itu berubah hening. Tangis Bia perlahan mereda, dia mengalihkan pandangan nya ke kanan, menatap punggung Rian yang menghilang di balik pintu. Tanpa Bia sadar, sejak tadi seseorang memperhatikan nya dari luar kaca transparan itu. Hati nya ikut menangis melihat kondisi Bia, walaupun dia hanya bisa melihat gadis itu dari luar jendela. ❄❄❄❄❄❄❄❄ Dua hari telah berlalu semenjak kejadian percobaan bunuh diri Bia. Selama itu juga, Rian tidak pernah melihat gadis itu ke sekolah, dengan pikiran bahwa gadis itu masih dalam masa pemulihan dsri luka-luka di tangan dan wajah nya. Bukan hanya Bia, tetapi ketiga teman nya termasuk Milka kali ini juga tidak masuk. Kemungkinan besar mereka juga bersama Bia. Rian dan Buk Kirana terpaksa membohongi absensi mereka berempat, guna melindungi mereka dari amukan Mis Dewi. Bagaimana tidak, keempat siswi XI IPA 2 itu sudah mendapatkan surat peringatan kesekian kali nya, jika mereka ketahuan membuat ulah lagi maka tidak menutup kemungkianan akan di keluarkan dari sekolah. "Pak Rian!" Rian mengalihkan pandangan nya. "Eh Buk Kiran. Ada apa?" Buk Kirana duduk berhadapan dengan guru matematika itu. "Bagaimana kondisi Bia pak?" Ya, Buk Kirana memang telah mengetahui peristiwa percobaan bunuh diri Bia dari pak Rian. Bisa di bilang, di sekolah itu hanya Pak Rian, Buk Kirana, dan ketiga teman Bia lah yang mengetahui tentang percobaan bunuh diri Bia itu. "Saya juga gak tau Buk." Rian menghela nafas nya. "sudah tiga hari dengan hari ini, saya tidak melihat Bia, bahkan di rumah nya." Buk Kirana menghela nafas nya dengan gusar. Kenapa semua nya semakin rumit saja? Dia menyandarkan punggung nya kensandaran kursi. "Tapi Buk Kiran gak usah khawatir. Terakhir kali saya melihat dia, dia sudah baik-baik ssja, tinggal pemulihan." Rian kembali bersuara, menenangkan Buk Kirana yang terlihat jelas kekhawatiran di sana. Buk Kirana mengangguk samar. Suasana hening seketika. "Buk!" Buk Kirana menatap kembali pada Pak Rian. "Kalau saya boleh tau, apa penyebab bunuh diri Bia yang pertama?" Buk Kirana terdiam sejenak setelah pertanyaan itu keluar dari mulut Rian. Tak lama dia memghela nafas nya, pandangan nya menerawang ke depan. "Gak jauh berbeda pak. Waktu itu, tepat satu tahun yang lalu, waktu Bia kelas 10. Dia bertengkar hebat dengan mama nya. Dan berakhir dia emosi, marah, dan melakuksn percobaan bunuh diri itu." Jelas Buk Kirsna dengan pandangan terarah kepada Pak Rian. "Pada saat itu, saya gak sengaja melihat Bia mengendarai mobil nya dengan kondisi emosi berat. Bahkan dia sengaja membanting stir nya hingga menabrak pohon. Saat itu saya mengikuti nya dari belakang, awal nya saya pikir kegilaan nya hanya berhenti di situ. Tapi. Setelah lama saya awasi, Bia tidak kunjung keluar dari mobil. Padahal sebelum nya, saya masih melihat pergerakan dari dalam mobil itu. "Saya penasaran, sekaligus khawatir. Akhir nya saya menghampiri mobil itu, dan hal pertama yang saya lihat goresan di tangan kanan nya. Di situ saya langsung membawa nya ke rumah sakit, dan untung nya goresan itu tidak mengenai nadi nya, walaupun nyaris sedikit lagi." Cerita Buk Kirana membuat Rian tertegun. Apa segitu luka nya Bia akan perceraian kedua orang tua nya? Hingga dia selalu menyakiti diri nya sendiri. "Dia selalu bilang pak. Kebahagiaan dia itu saat dia bisa merasakan kematian. Bahkan dia juga bilang, di saat dia di ujung nafas pun dia tidak akan ingin melihat mereka---" Buk Kirana menghembus kan nafas nya, sebelum akhir nya kembali melanjutkan. "---melihat kedua orang tua nya." lanjut nya lirih. Rian semakin tidak mengerti, apa yang kini di hadapi nya sebagai seorang guru sungguh lah berat. Tapi, dia sudsh terlanjur masuk ke dalam masalah Bia. Dan satu-satu nya cara keluar dari masalah itu, ya dengan merubah Bia. ❄❄❄❄❄❄❄ Hap Bia mendarat sempurna di halaman belakang sekolah. Dia menenteng tas nya, dengan jaket kulit hitam milik nya yang di ikatkan di pinggang. Tangan kanan gadis itu masih tampak di perban, begitu pun dengan pergelangan tangan kiri nya, namun dia menutupi nya dengan beberapa gelang di sana. Bia menatap was-was sekeliling nya, sunyi dan tidak ada siapa pun. Ini adalah kedatangan nya pertama ke sekolah, setelah empat hari tidak masuk. Bia baru saja bernafas lega, sebelum dia memutar tubuh nya dan bertabrakan dengan tubuh seseorang. Brukkk... "Anjing!!" Umpat Bia geram, saat pantatnya menyentuh lantai kasar halaman itu dengan sempurna. Bia baru saja akan menyemprot orang tersebut. "Eh lo gak ada ma---" teriakan nya terhenti saat melihat siapa yang berdiri di depan nya dengan bersidekap d**a. "Gak ada apa Bia?" Bia mendesah pelan, orang di depan nya itu adalah Mis Dewi. Wanita paruh baya itu menatap nya begitu tajam dan mengintimidasi, seperti orang yang siap memakan nya hidup-hidup. "Ck, hari pertama malah ketemu nya yang beginian." Gumam nya malas. "Berdiri! Dan ikut saya ke kantor!" Mis Dewi bersuara tegas, lalu memutar tubuh nya berbalik menuju ruang guru. Bia menggeram dan baru saja akan memukul tanah saat menyadari tangan kanan nya masih di perban. Dia mengurungkan niat nya, lalu bangkit berdiri dan berjalan di belakang wanita itu. Bia masih memasang wajah tenang dan tidak mau peduli nya saat dia sudah berada di ruangan guru. Lebih tepat nya ruangan Buk Kirana, dia cukup heran kenapa Mis Dewi membawa nya ke sini. Biasa nya juga dia lagsung di bawa ke ruangan kepala sekolah itu. Di dalam ruangan itu bukan hanya ada Buk Kirana, tapi juga ada Pak Rian yang seperti nya tengah mendiskusikan sesustu dengan guru itu. "Untuk kali ini saya percayakan Bia kepada bapak dsn ibuk! Buktikan ucapan kalian yang kemarin! Saya tidak ingin ada masalah lagi, yang membuat nama sekolah ini tercemar!" Ucapan itu di tunjukan kepada Buk Kirana dan Pak Rian. Namun tatapan tajam Mis Dewi justru tertuju pada Bia. Bia yang di tatap seperti itu hanya merespon dengan desahan jengah, seraya membuat balon dari permen karet di mulut nya. Tatapan Buk Kirana dan Pak Rian langsung saja tertuju pada Bia, saat Mis Dewi keluar dari ruangan. Gadis itu yang sadar tengah di tatap intens, balas menatap kedua guru tersebut. "Ck, apaan sih lo berdua lihatin gue kayak gitu?" Tanya nya sinis. Bia baru saja membalikkan tubuh nya saat sebuah suara menghentikan nya. "Balik badan kembali Bia! Ada yang harus saya dan Pak Rian bicarakan sama kamu!" Bia mendesah jengah, dengan malas-malasan dia memutar tubuh nya menghadap dua orang tersebut. Buk Kirana melirik Pak Rian yang di sambut anggukan oleh pria itu. "Saya dan Pak Rian sudah sepakat, bahwa mulai hari ini kamu akan mendapatkan belajar tambahan dari saya dan Pak Rian." Bia mendesah geram. "Berapa kali sih gue bilang? Gue gak mau! b***k banget sih!" desis nya sengit. Pak Rian buka suara seraya mengulurkan sebuah kertas kepada Bia. "Itu terserah kamu! Tapi di kertas ini ada sebuah perjanjian dengan mama kamu, dan kamu harus menandatangani nya." Bia merampas kasar kertas tersrbut. Dia menatap dan membaca isi di dalam kertas itu. "f**k!" seketika dia mengumpat. "Keputusan di tangan kamu! Kalau kamu tidak mau menandatangani surat itu, berarti kamu harus mengikuti syarat ke dua yang tertera di sana." Tambah Pak Rian. "Kita tidak memaksa kamu untuk menandatangani itu sekarang. Kamu bisa pikir-pikir dulu sampai besok." Ujar Buk Kirana, tidak melepas pandang nya dari Bia. Bia menatap tajam ke arah dua orang itu. Dengan emosi yang membuncah dia keluar dari ruangan tersebut seraya membanting pintu. Pak Rian dan Buk Kirana saling lirik. "Saya yakin pilihan nya akan jatuh di syarat pertama." Gumam Buk Kirana. "Semoga." Balas Pak Rian. ❄❄❄❄❄❄❄❄
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN