DUA BELAS

2196 Kata
Rena melirik Bia setelah selesai membaca surat perjanjian tersebut atau bisa di bilang surat kontrak mengenai les privat Bia. "Kalau menurut gue sih lo ikutin aja syarat pertama. Gak susah juga kan? Cuman les privat matematika dan Kimia dalam 3 kali seminggu." Rena bersuara, mata sayu gadis itu melirik Bia, Yuna dan Milka bergantian. "Ck, cuman lagi lo bilang!" Bia berdecak. "Lo gak lihat itu untuk satu tahun. Ya kali selama satu tahun, hidup gue di penuhin sama rumus-rumus gak jelas kayak gitu." gerutu nya, seraya mengangkat kaki nya selonjoran di atas kursi. "Kan lo gak harus ikut aturan! Maksud gue, ya udah lo les ya les aja, mau tu pelajaran masuk ke otak lo atau enggak kan bukan urusan lo lagi. Yang mereka mau lo les." Yuna angkat bicara, seraya meletakkan ponsel nya di atas meja. Mereka berempat kini tengah berada di ruangan musik. Guna menghindari pelajaran Mis Dewi. Awal nya Milka tidak ikut, namum karna merasa bosan di kelas gadis manis berkacamata itu akhir nya menyusul Bia, Yuna dan Rena. Bia melirik Yuna, ada benar nya juga ucapan gadis itu. "Bener juga lo." gumam nya. "Ck, lagian apa susah nya sih Bi. Kan bagus kalau lo les sama Buk Kirana dan Pak Rian, biar waktu lo gak terbuang sia-sia." Ucapan Milka di sambut desahan ketiga teman nya. "Ini lagi si kutu buku." Dengus Rena, dan merebahkan kepala nya ke atas meja. "Di lo emang enak Mil. Nah di Bia, dia ngelihat buku aja udah mules." Celetuk Yuna. "Sebenarnya mah solusi nya gampang." Rena kembali menegakkan tubuh nya. "Lo pilih aja mana yang menurut lo keuntungan nya lebih ada. Syarat pertama atau kedua? Gak usah pusing-pusing. Kalau lo gak nanda tanganin ini berarti lo menyetujui syarat kedua, udah gampang kan." Yuna mengangguk setuju. "Nah bener. Gak usah di ambil pusing Bi." Bia tertegun sejenak, tangan kiri nya mengambil kertas di atas meja itu. Menatap tulisan berketik di sana. Dengan surat ini di sampai kepada yang bersangkutan BIAREZKA ARDILLA ZORA, untuk dapat memilih satu persyaratan dari dua yang di ajukan. 1. Bersedia mengikuti les privat bersama Buk Kirana dsn Pak Rian 3 kali dslam seminggu, untuk jangka waktu satu tahun. 2. Menemui orang tua laki-laki setiap 2 kali dalam seminggu . Jika pihak terkait menyetujui syarat pertama, maka wajib menandatangani surat ini. Jika tidak, maka pihak kedua menyetujui syarat nomor dua. Surat ini telah di setujui oleh BELLA ZORAYA selaku orang tua perempuan. Bia menggeram dan melempar kertas tersebut ke atas meja, lalu menurunkan kaki nya dan mengusap gusar rambut nya. Hal tersebut di saksikan oleh ketiga teman nya yang lain. Rena, Yuna dan Rena saling pandang satu sama lain. "Kalau menurut gue mending sih syarat no 1." Yuna bersuara,  "Daripada lo harus ketemu sama bokap lo! Lo pilih mana?" Bia terdiam. "Yun apa sih kok jadi ngomporin gitu." Desis Milka tidak suka. "Bukan ngomporin Milka s**u kedelai! Gue cuman nengajukan saran doang. Ya mau diterima ok, mau enggak juga gak masalah buat gue." Balas Yuna santai. "Tapi Yuna bener juga sih. Daripada lo pilih no 2, trus ujung nya berantem sama bokap lo, lo emosi. Mending jangan." Rena menambahkan. Bia semakin di buat bingung. Dia menggeram dan menggebrak meja. "Ah gak tau deh, pusing gue." Teriak nya, lalu berlalu keluar ruangan musik. Meninggalkan ketiga teman nya yang saling pandang satu sama lain. Yuna mendesah. "Huftt---ribet banget deh hidup tu anak." ❄❄❄❄❄❄❄❄ Milka untuk kesekian kali nya mendesah, saat melihat Bia malah menghentikan langkah nya. "Ck, Bia! Buruan dong! Ayok!" Milka menarik paksa tangan Bia. Sementara Bia mempertahankan posisi nya dengan memegang tembok koridor. "Duh! Lo aja deh! Gue tunggu sini! Males gue masuk!" Bia menolak dan menarik tangan nya dari Milka, gadis itu malah berjongkok di pinggir koridor. Untung saja koridor itu sepi tak berpenghuni, karna jam pulang telah berlalu. Milka berdecak di sertai geraman. " Ya kali gue yang masuk Bi! Ini kan surat perjanjian elo! Ya harus lo yang ngasih dong!" dia mendesah. Bia meringis, dan mengusap wajah nya dengan gusar berulang kali. Dia menatap ruangan yang ada di depan nya itu. Rasa nya begitu malas untuk memasuki ruangan tersebut. "Ayolah! Biar bisa cepet pulang nih! Gue capek!" Milka kembali menarik tangan Bia. "Ya udah kita pulang aja!" "Eh---enggak! Lo harus ngasih kertas ini dulu. Baru kita pulang!" Bia mendesah panjang. "Mil---" "Bi ay---" "Ada apa ini?" Suara Milka terpotong oleh suara bariton yang tiba-tiba muncul itu. Milka menoleh ke belakang, sementara Bia merubah ekspresi wajah nya menjadi datar. "Kalian kok belum pulang? Mau nginep di sini?" Rian kembali bersuara, melirik Milka dan Bia bergantian. Milka melirik Bia, yang malah menyibukkan diri menengok ke arah lain. Dia lalu menghela nafas nya, lalu tersenyum kikuk ke arah Pak Rian. "Eh pak Rian. Enggak kok, ini Bia mau ngomong!" ujar nya seraya mencolek-colek lengan Bia. "Ih apaan sih lo?!" Bia melotot. "Gak! Gak ada! Ini gue mau balik!" Bia baru saja akan berlalu pergi, saat Milka menarik nya dengan paksa sementara itu Rian menaikkan sebelah alis nya melihat kedua murid nya itu yang saling tarik menarik. "Gak pak Bia mau ngomong! Bia ayok!!" Milka yang mulai jengah mendorong Bia cukup keras, hingga gadis itu terhuyung ke depan. Bia yang kaget tidak dapat menyeimbangkan tubuh nya, alhasil tubuh nya menubruk tubuh kekar Rian. Rian dengan sigap menahan tubuh Bia, sehingga posisi mereka kini persis deperti orang berpelukan dengan tangan Rian melingkari pinggang ramping Bia. Milka membuka lebar mulut nya, melongo melihat adegan di depan nya. "Woow!" Bia mendongakkan kepala nya, tatapan nya dengan guru matematika itu bertemu cukup dekat. Jika saja Bia tidak menjadi kan tangan nya pembatas, mungkin dia akan menempel sempurna dengan d**a bidang itu. Bia yang tersadar langsung saja menarik tubuh nya, dengan sedikit dorongan di d**a Pak Rian. Dia lalu melirik tajam ke arah Milka. "Gara-gara lo anjing!" Geram nys. Milka yang di pelototi seperti itu malah menampilkan cengiran andalan nya. Rian menarik nafas nya dan berdehem. "Ada apa sebenarnya?" Dia akhir nya bertanya dengan intonasi datar. Bia yang sudah kepalang basah, menghembuskan nafas kasar nya lalu mengeluarkan kertas yang ada di dalam tas nya. Dan mengulurkannya kepada Pak Rian. Rian mengambil alih kertas tersebut, dan menatap nya. "Itu kertss perjanjian yang lo mintak! Udah gue tanda tanganin!" Bia bersuara dingin, dengan pandangan yang di alihkan dari Pak Rian. Rian tersenyum tipis, lalu melirik Bia. "Saya yakin kami akan memilih opsi yang pertama." ucap nya dengan nada bangga. Bia mendesah, dia menatap dingin ke mata tenang guru nya itu. "Gak usah seneng dulu lo! Gue cuman ingin 6 bulan masa les, gak lebih!" tekan nya. Rian menghela nafas nya. "Saya rasa kamu sudah membaca dengan cukup jelas Bia! Kalau di sini, dinyatakan untuk satu tahun ke depan." Bia menggeram. "Iya gue juga tau! Lo pikir gue buta huruf! Maksud gue, kan lo sendiri yang beberapa hari yang lalu nawarin 6 bulan masa percobaan! Kalau lo berhasil ngerubah gue, kita lanjut ke satu tahun! Tapi kalau enggak kita berhenti do 6 bulan dan lo berhenti ngerecokkin hidup gue!" ujar nya panjang lebar. "Itu kan beberapa hair yang lalu. Dan kamu pun sudah menolak nya kan?" Bia seketika mendesah. "jadi maksud lo?!!" "Ya, tawaran itu sudah tidak berguna lagi! Kamu akan tetap les dengan saya dan Buk Kirana dalam satu tahun." Ujar Rian dengan nada santai. Bia yang mendengar itu menggeram frustasi, dia baru saja akan melayangkan pukulan ke tembok kalau saja Milka tidak menahan tangan nya. "Bia! Santai! Tangan lo masih di perban b**o! Kalau lo mukul tembok lagi, gue jamin tangan lo kali ini putus." Pekik Milka. Bia menepis tangan Milka. "Tuh lo lihat! Gue udah baik-baik ngasih nego! Dia aja yang nyebelin!" geram nya dengan emosi tertahan. Milka meringis. "Ya udah terima aja Bi." Gumam nya pelan. Bia yang sudah super kesal dan emosi menghentakkan kaki nya. "Tauk deh! Sama aja lo sama dia!!" Gerutu nya, lalu berlalu meninggalkan koridor. Milka menghela nafas lelah nya. Dia lalu melirik ke arah pak Rian. "Maafin ya pak! Dia tu emang liar banget! Jadi bapak siap-siapa aja di terkam sama dia, kalau gak pinter-pinter jadi pawang nya dia." Ucapan Milka membuat Rian terkekeh. "Ada-ada aja kamu. Ya udah sana pulang!" dia mengusap puncak kepala Milka. Milka mengangguk, dan berlari menyusul Bia seraya meneriaki nama gadis itu. Rian menghela nafas nya, lalu menatap kertas yang ada di tangan nya. Tepat nya menatap ke arah tanda tangan yang di bawah nya tertera nama BIAREZKA ARDILLA ZORA. "Tulisan yang bagus." Gumam nya pelan sembari mengangkat kepala nya, menatap punggung dua siswi nya yang menjauh. ❄❄❄❄❄❄❄❄ "Lo yakin gak mau gue anter sampe rumah?" Tanya Milka, saat Bia baru saja akan membuka pintu mobil. Dia menatap teman nya itu dengan lekat. Bia tersenyum simpul. "Gue bukan anak kecil yang harus lo anterin pulang." Milka mendesah. "Emang lo bukan anak kecil. Tapi lo akan lebih dari anak kecil kalau lagi emosi. Bikin orang jantungan tau gak." Bia terkekeh pelan, lalu mengangkat tangan kanan nya yang di perban. "Lo pikir apa yang bisa di lakukan dengan tangan kayak gini?" Milka tersenyum dan tertawa pelan. "mangka nya. Jangan suka emosian jadi orang. Ya udah, tapi lo hati-hati ya." Bia mengangguk, dan keluar dari mobil jazz tersebut. Mata Bia mengikuti kepergian mobil Milka yang mulai menjauh. Kini, Bia kembali ke kondisi hidup nya. Sendirian. Kaki Bia perlahan mulai melangkah, pandangan lurus ke depan dengan kedua tangan yang di masukkan ke dalam saku jaket kulit nya. Pandangan Bia tidak beralih sedikit pun dari pemandangan di depan nya, kondisi jalanan di sekitar nya terlihat lebih sepi dari biasa nya. Sekarang tepat pukul 5 sore, sebentar lagi malam akan dstang. Namun, Bia lebih memilih untuk berada di luar rumah, karna di luar dia lebih bisa merasakan ketentraman. Langkah Bia terhenti tepat di depan sebuah halte bus. Mata nya menyorot jauh ke depan sana, lalu beralih menatap sekeliling nya yang di d******i dengan tanaman-tanaman hijau. Tepat di belakang halte itu adalah taman bunga yang di hiasi dengan tanaman-tanaman hijau, terlihat asri dan menentramkan jiwa. Bia memutar tubuh nya, lalu mendudukkan b****g nya di atas bangku panjang yang ada di halte tersebut. Mata nys menyorot jauh ke depan sana. Tatapan yang terlihat menerawang. "Ck, alay banget sih lo! Foto sana! Foto sini! Gak ada capek nya apa?! Gue aja yang lihat capek!" Bia terus menggerutu melihat tingkah gadis di depan nya itu. Sementara orang yang di gerutui hanya memeletkan lidah, dan kembali melanjutkan aktivitas memotret nya dengan camera canon milik nya. Bia mendengus dan menjatuhkan b****g nya di tempat duduk halte. Memperhatikan tingkah gsdis di depan nya itu. "Udah? Capek lo?" Gadis itu terkekeh dan mencubit gemas pipi Bia. "Bi! Lo kenapa sih marah-marah mulu! Ntar cepet tua loh!" Ujar nya dengan pandangan sibuk ke layar kamera, melihat hasil jepretan nya. Bia tidak merespon lagi, dan memiluh menatap ke depan. "Eh Bi! Lihat deh! Taman nya bagus banget, wih tanaman nya juga tinggi-tinggi trus hijau. Bagus nih buat objek foto." Bia menahan tangan gadis itu yang hendak berbalik badan menuju taman belakang halte tersebut. "Ck, udah kek temenin gue dulu! Lo kan janji mau dengerin cerita gue!" Gadis itu menyengir ke arah Bia. "Eh iya." Dia kembali duduk. "Tapi gue bosen dengerin cerita lo. Paling juga cerita lo itu-itu aja. Iya kan?" dia menatap ke arah Bia, dengan mulut mengunyah permen karet. Bia berdecak, seraya menghela nafas nya. Mata nya menatap lurus ke depan kembali. "Gue cuman gak tau harus kayak gimana?" Gadis yang duduk di samping Bia, mulai menghentikan aktivitas nya memainkan kamera di tangan nya. Kali ini memfokuskan pandangan ke arah Bia. "Jalanin aja sekuat yang lo bisa. Dan lo boleh berhenti kapan pun kalau lo udah gsk kuat." Bia menoleh, gadis di samping nya itu tersenyum. Lalu membalikkan tubuh nya, kini posisi nya dengan Bia berlawanan. Dia menatap taman, sementara Bia menatap jalanan. "Bi! Hidup tu seperti tanaman itu! Semakin tinggi dia tumbuh, semakin kenceng angin yang dia rasain. Kayak gitu juga hidup---" Pandangan mereka bertemu. "---Semakin lo dewasa, semakin banyak badai yang akan lo lalui." lanjut nya. Bia tertegun sejenak. Lalu tersentak saat sebuah tangan mendarat di atas pundak nya. "Tapi sebesar apa pun badai itu. Lo gak sendiri, ada gue yang akan selalu nemenin lo dan ngebantu lo buat ngehadang badai itu." Bia seketika tersenyum, mata mereka masih bersitatap cukup lama. Mata yang sama, namun mempunyai sorot yang berbeda. Bayangan itu berputar begitu saja di benak nya. Bayangan sosok seseorang, yang tidak bisa Bia tepis keberadaan nya. Halte ini adalah kenangan Bia bersama dia. Tangan kiri Bia perlahan keluar dari saku jaket, seraya membawa sebuah benda kecil dari dalam sana. Bia menunduk dan menatap bungkusan permen karet tersebut. Dia lalu menghela nafas nya, dan membuka bungkus permen karet tersebut. Dan memasukkan nya ke dalam mulut. Rasa permen karet ini selalu sama, dan tidak pernah berubah semenjak pertama kali Bia mencoba nya. Perlahan Bia mengunyah permen tersebut, setiap satu gigitan yang dia lakukan bayangan itu semakin nyata datang, semakin dia mengunyah dna mengulum permen karet itu semakin semua nya terlihat jelas. Bia mengusap pipi nya, saat cairan bening yang begitu Bia benci kembali mengalir. Bia merindukan dia. Dia, gadis pecinta permen karet. ❄❄❄❄❄❄❄
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN