Terhitung sudah 2 jam Bia duduk di halte tersebut, bahkan langit yang tadi nya terang mulai berubah menjadi gelap, saat matahari kembali ke peradaban nya. Sementara Bia, masih betah duduk di halte itu tanpa melakukan apa pun selain menatap lurus ke depan serta mulut yang tidak lelah mengunyah permen karet.
Bia mengelurkan permen karet di mulut nya lalu membuang nya. Dia mengeratkan jaket kulit nya saat angin mulai berhembus kencang. Rasa nya Bia masih tidak ingin pulang, selama empat hari dia menginap di rumah Milka hanya guna menghindari kontak mata dengan Bella.
"Kamu ngapain di sini?"
Bia seketika tersentak saat mendengar suara yang tiba-tiba muncul itu. Dia mendongak dan langsung mendengus saat melihat siapa yang kini berdiri di samping nya.
"Ck, lo lagi lo lagi." Gumam nya jengah.
Rian tidak menggubris gumaman gadis itu, dia malah duduk di samping Bia dengan jarak yang cukup jauh. Lalu sama-sama menatap lurus ke depan.
Bia melirik sinis ke arah pria 25th itu. "Lo ngapain sih nangkring di sini?!" Tanya nya dengan syara ketus.
Rian menoleh pada Bia. "Harus nya saya yang tanya, kamu ngapain di sni? Mana belum ganti baju lagi." dia meneliti penampilan gadis itu, yang masih mengenakan seragam.
Bia mendesah. "Ni orang gue nanya, selalu balik nanya." Gerutu nya, namun di dengar oleh Rian.
Rian menghela nafas nya. "Kamu hobi banget sih ngegerutu sendiri kayak gitu."
"Suka-suka gue lah! Repot banget lo sama hidup orang!" Ketus Bia, tanpa menatap guru matematika itu.
Rian tersenyum tipis, lalu menatap lurus ke depan. Niat awal nya tadi hanya lah lewat di depan halte ini. Namun mata nya langsung menangkap keberadaan seseorang yang di kenal nya tengah duduk di sini.
"Saya tadi dari makam adik saya." Rian bersuara setelah cukup lama hening. Pandangan nya terus menerawang ke depan. "Makam nya gak jauh dari halte ini." sambung nya.
Bia tidak merespon, tapi dia mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut pria itu. Dia tahu, jika di sekitar sini memang ada tempat pemakaman umum, tidak jauh dari halte ini.
Rian menoleh pada Bia, menatap gadis itu dari samping. "Kalau dia masih hidup, dia pasti sudah sebesar kamu. 16 tahun." Lirih nya, di sertai senyum tipis yang terlihat miris.
Bia kali ini menoleh pada Rian. Pandangan mereka bertemu. Bia tidak tau jika guru nya ini mempunyai adik, setau nya Rian adalah anak tunggal.
"Dia perempuan, cantik, pinter, tubuh nya sama kecil nya kayak kamu." Kekeh Rian pelan.
Bia seketika mendesah, dan mengalihkan pandangan nya ke depan. "Kenapa lo jadi curhat ke gue?!"
"Ya kali aja kamu mau tau tentang saya."
Bia mencibir. "Males banget! Apa untung nya buat gue tau hidup lo!" balas nya judes seperti biasa nya.
"Iya saya juga tau gak ada untung nya buat kamu." Balas Rian. "Tapi jujur saat melihat kamu saya jadi keingat sama dia. Dia meninggal 10 tahun yang lalu, karna kecelakaan peswat." dia kembali mengenang sosok adik nya.
Bia kali ini menatap Rian dari samping. Pria itu tampak menghela nafas nya. "Saya gak pernah bayangin kalau dia akan pergi secepat itu. Tapi, ikhlas gak ikhlas itu semua udah suratan Tuhan."
Rian menoleh pada Bia. "Kadang kita gak di beri pertanda apa pun. Kalau aja waktu itu saya tau dia akan pergi secepat itu, mungkin saya akan menghabiskan semua waktu bersama dia. Tapi---" Senyum miris hadir di wajah nya. "---tapi kata terlambat gak akan pernah ada guna nya lagi."
Bia tertegun dalam diam mendengar ucapan terkahir pria itu. Dia perlahan kembali menatap lurus ke depan.
"Tapi kata terlambat gak akan pernah ada guna nya lagi."
Terlambat. Kenapa harus ada kata itu. Ya kata terlambat gak pernah merubah apa pun. Hanya akan menimbulkan penyesalan.
"gue ingin lo berubah! Syukur kalau gue bisa nemenin lo terus! Tapi kalau enggak?! Kita gak tau takdir Tuhan Bi. Entah lo yang duluan mati! Entah gue yang duluan mati!"
Kata-kata itu berputar di kepala nya, menjadi hantaman terbesar untuk Bia.
"Selagi masih ada, jangan di sia-sia kan!"
Bia seketika menoleh, mata nya kembali beradu pandang dengan mata Rian dalam kurun waktu yang lama.
❄❄❄❄❄❄❄
Rian mengangkat kepala nya dengan mulut yang mengunyah makanan. Memperhatikan Bia yang duduk di depan nya yang sejak tadi tidak menyentuh makanan nya sama sekali, gadis itu hanya diam dan menatap keluar jendela restoran.
"Kamu gak suka sama makanan nya? Mau di ganti?" Rian bersuara, setelah meneguk minuman nya.
Bia menatap datar ke arah Rian. "Lo ngapain sih bawa gue ke sini?" dia bersuara dingin.
"Biasa nya restoran buat apa? Buat makan kan?"
Bia mendengus. "Gue gak laper."
Rian terkekeh pelan. "Gak laper? Masak? Udah jam segini kamu gak laper? Bohong kamu lucu Bia."
Bia masih menatap datar ke arah pria itu, rasa nya dia benar-benar muak dengan pria yang berstatus guru di sekolah nya itu. "Eh-lo doyan banget sih ngurusin hidup gue! Gak dimana-mana gue ketemu nya elo lagi elo lagi, empet gue lihat muka lo!" desis nya tajam.
Rian menghela nafas santai nya. "Satu tahun ke depan kamu akan sering bertemu saya daripada ini, jadi nikmati saja Bia."
Bia menggeram, dan mengalihkan pandangan nya keluar jendela restoran. Di luar tampak hujan membasahi jalanan, itu lah kenapa dia dan guru menyebalkan ini berada di restoran sekarang.
"Makan Bia! Kamu butuh nutrisi untuk privat besok!" Rian kembali bersuara, kali ini sarat akan nada perintah.
Bia tidak merespon, dia hanya diam tanpa menyentuh makanan nya barang hanya mengangkat sendok pun tidak. Rian menghela nafas nya melihat tingkah murid nya itu. Benar-benar keras kepala.
"Saya heran sama kamu, keras kepala kamu tu melebihi batu!" Rian mendesah, lalu menyodorkan sesendok makanan ke mulut Bia. "Buka! Kamu harus makan!"
Bia melirik sendok tersebut. Lalu melirik Rian yang menaikkan kedua alis nya. "Apanan sih lo?! Gue gak mau!" Tolak Bia mentah-mentah.
"Buka Bia! Kamu mau saya paksa?!" Suara Rian berubah dingin dan tajam.
Bia mendesah panjang, lalu menepis tangan pria itu. "Gue bisa makan sendiri!"
Rian menatap Bia yang mulai memakan makanan nya. Seulas senyum tipis hadir di wajah nya, dia lalu mengusap puncak kepala Bia. "Gitu dong! Marah boleh! Tapi makan jalan terus!"
Bia melirik Rian sekilas di sususl dengan dengusan jengah, dan kembali melanjutkan makan nya.
Suasana berubah hening, hanya terdengar rintik hujan di luar dan alunan musik pelan dari dalam restoran tersebut.
Hingga sebuah suara tak di undang hadir di tengah keheningan Bia dan Rian.
"Bia!"
Bia yang merasa nama nya di sebut mengangkat kepala nya. Mata dingin nya langsung saja bertemu dengan mata tajam seseorang yang begitu mengintimidasi nya.
Bia berdecak dan meletakkan sendok nya, lalu mendesah jengah. "Ck, kenapa sih hidup gue di kelilingi dengan orang-orang gal jelas kayak gini." Desah nya, seraya mengalihkan pandangan nya ke arah lain.
Rian menatap cowok yang ada di depan nya itu. Cowok yang sama, yang beberapa waktu lalu mencegat Bia di depan gerbang sekolah.
"Kamu ngapain di sini?!" Gerry bersuara tajam, setajam tatapan nya yang melirik ke arah Rian yang memasang wajah sesantai mungkin.
Gerry lalu memusatkan penglihatan nya kepada Bia.
"Bi!!"
"Suka-suka gue lah! Emang ni restoran punya nenek moyang lo?!" Suara Bia terdengar tajam dan ketus, namun tatapan nya berbanding terbalik dengan suara nya. Terlihat datar dan super dingin.
"Aku mau ngomong sama kamu!" Gerry menarik tangan Bia cukup kuat, membuat gadis itu tersentak berdiri.
Rian ikut berdiri, berniat mencegat tangan Bia yang lain. Namun tatapan dan suara Gerry menghentikan nya.
"Gak usah ikut campur lo!" Desis Gerry sengit, lalu menarik Bia keluar restoran dengan cepat.
Bia membiarkan tangan nya di tarik, walaupun dia merasakan sakit di pergelangan tangan kiri nya yang masih ada goresan luka, yang kini menjadi sasaran cengkraman tangan besar Gerry.
"Sakit b**o!" Bia menggeram dan menyentak tangan Gerry hingga terlepas, hal itu membuat pergelangan tangan kiri nya berdenyut, terlebih terkena himpitan beberapa gelang di sana.
Gerry menatap wajah Bia yang terlihat sedikit meringis dan memegang pergelangan tangan kiri nya. Dengan cepat dia menarik tangan gadis itu, hingga mendekat ke arah nya membuat jarak mereka menipis. Dia lalu sedikit menyentak beberapa gelang di sana, dia tertegun melihat pergelangan tangan gadis itu di perban.
Gerry mengangkat kepala nya, menatap mata Bia. "Kamu---" Suara nya tercekat di tenggorokan saat sebuah spekulasi muncul di otak nya melihat perban itu.
Bia menarik tangan nya. "Mau ngomong apa?!" Dia bertanya datar, tanpa menatap Gerry.
Gerry kali ini menatap sendu ke mata Bia, tangan nya terangkat menyentuh dagu gadis yang sangat di cintai nya itu. "Segitu tersiksa nya kamu?" suara nya terdengar lirih.
Bia menepis pelan tangan Gerry. "Gak usah nanya, gue gak butuh pertanyaan itu. Sekarang lo bilang apa mau lo?! Gue gak punya banyak waktu!"
Gerry menghela nafas nya sejenak. "Aku mau minta maaf. Aku---"
"Gue udah maafin." Potong Bia dingin, lalu beranjak pergi, berniat menembus hujan itu. Namun tangan nya kembali di tarik, membuat nya kali ini membentur d**a bidang itu.
Bia tertegun di dalam dekapan Gerry, cowok itu memeluk nya begitu erat membuat nya bisa mendengar detak jantung Gerry yang bergitu cepat.
"Aku mohon! Jangan siksa diri kamu terus! Jangan sakiti diri kamu terus Bi!" Bisik Gerry, yang terdengar lirih di pendengaran Bia.
Bia mendorong d**a Gerry cukup kuat, membuat pelukan itu terlepas. Tanpa mengatakan apa pun, dia berlalu menembus deras nya hujan malam itu, membuat cairan bening dari kelopak mata nya itu tertutupi dengan air hujan.
Bagaimana mungkin, gue gak nyakitin diri gue. Kalau kalian sendiri lah yang nyakitin gue selama ini. Batin Bia berteriak, dia tidak memerdulikan hujan kini membasahi tubuh nya.
Hidup Bia hancur. Bia tidak pernah merasa bahagia, bahkan saat pertama kali kaki nya bisa berjalan.
Bia masih diam dan menatap ke depan, saat sebuah tangan menghentikan langkah nya. Detik berikut nya, Bia merasakan hangat nya pelukan dari si pemilik tangan itu, membuat tubuh nya kali ini bergetar karna emosional.
"Saya bisa merasakan apa yang kamu rasakan. Walaupun saya tidak pernah berada di posisi kamu, dan walaupun saya tidak tau apa yang sebenarnya terjadi antara kamu dengan orang-orang di sekeliling kamu. Tentang apa yang terjadi dengan kehidupan kamu."
Tangan Bia perlahan terangkat, tangis nya mulai pecah, karna sesak yang begitu mendominasi d**a nya. Isakan itu mulai keluar dari bibir Bia, dia memeluk tubuh kekar Rian dan menangis kencang di sana, untuk pertama kali nya.
Rian mengerstkan pelukan nya, membiarkan gadis itu memangis sejadi nya malam ini. Dads Rian berdesir saat mendengar tangis pilu gadis itu, tangis yang menggambarkan segala perassan yang sesungguh nya dari seorsng Bia yang keras.
❄❄❄❄❄❄❄
Seperti pagi-pagi sebelum nya, Bia kembali menuai keterlambatan. Kali ini lebih parah, dia baru sampai pukul 9 di sekolah.
Gadis dengan rambut merah dan aksesoris berlebihan di tubuh nya itu tampak celingak celinguk dan berjalan hati-hati untuk menuju kelas nya. Terakhir kali dia telat, dia pergoki oleh singa lapar yang ada di SMA Rising ini.
Bia menyembulkan kepala nya dari balik tembok belakang sekolah. Menatap koridor yang tampak sepi itu. "Aman nih kayak nya. Gak ada si Dewi kematian alias singa lapar. Gue bisa bebas hari ini."
Bia bergumam pada diri nya sendiri, dia baru saja akan berlalu untuk melewati koridor itu saat merasakan sebuah tangan menepuk-nepuk pundak nya berulang kali.
"Ck, apa sih?" Bia menepis tangan itu tanpa menoleh ke belakang, dia terus berjalan mengendap-endap, menajamkan mata nya.
"Telat lagi Bia?"
Bia berdecak, dan mendengus. "Udah tau pake nanya lagi." Balas nya ketus.
Detik berikut nya langkah Bia terhenti, dia menggaruk tengkuk nya lalu membalikkan badan perlahan.
"Persembunyian yang sangat keren."
Bia mendesah kasar, saat dia di hadapkan dengan Rian, guru matematika nya itu. Dia menatap tidak suka ke arah pria berbadan besar, sudah seperti raksasa ini.
"Udah jam berapa ini Bia? Telat kamu udah keterlaluan loh." Rian bersidekap d**a menatap Bia.
"Lo ngapain di sini? Bukan nya ngajar malah kelayapan lagi!" Bia mengabaikan pertanyaam guru itu.
Rian tersenyum tipis, lalu mendekatkan wajah nya pada Bia. "Kamu lupa sekarang hari apa? Ini hari saya yang piket."
Shit...
Bia mengumpat pelan. Lepas dari Dewi kematian, malah ketemu sama Dewa menyebalkan. Kalau begini cara nya, lebih baik dia bertemu dengan Miss Dewi daripada bertemu dengan pria ini.
Rian tersenyum miring, lalu meletakkan tangan nya di atas kepala Bia. "Sekarang ikut saya!" lalu berjalan lebih duku.
Bia menggeram, dan menghentakkan kaki nya. Dia mendengus lalu mengikuti labgkah guru matematika nya itu.
Bia seketika mendesah malas saat tau kemana arah perjalanan nya sekarang. "Duh! Lo bisa gak sih gak usah bawa gue ke tempat ini. Gue mual tau gak!" ujar nya jengah, dan menatap jijik ruangan tersebut.
Rian melirik Bia.
"Bener deh! Mending gue bersihin toilet atau gudang gitu. Daripada harus ke sini! Ni perut gue udah mual banget." dia mengerutkan dahi nya.
Rian menaikkan sebelah alisnya. "Aneh kamu! Dimana-mana toilet itu lebih menjijikkan dari pada ini."
Bia mengusap gusar wajah nya. "Enggak! Lebih baik toilet daripada tempat ini. Ok?"
"Eh mau kemana kamu?!" Rian menarik tangan Bia saat gadis itu akan beranjak pergi. "Bia saya bawa kamu ke perpus loh, tempat dimana kamu bisa nambah ilmu." dia menatap ke mata gadis itu.
"Tempat nambah penyakit kalau buat gue." Balas Bia sengit.
Rian menghela nafas nya, lalu menarik Bia agar lebih masuk ke dalam perpustakaan yang sepi pengunjung itu, karna masih jam pelajaran. Bia mengacak rambut nya dengan gusar. Perpustakaan adalah tempat yang paling Bia hindari.
Rian menatap geli ke arah Bia yang tampak kacau dengan rambut yang acak-acakan. Gadis itu memasang wajah super malas nya, seakan perpustakaan memang tempat paling menjijikkan bagi nya.
"Kamu tu kenapa sih? Baru pertama kali saya lihat orang kayak kamu. Masak sama perpustakaan aja alergi." Rian mendekat seraya dengan santai merapikan rambut gadis itu.
Bia mematung di tempat nya saat merasakan tangan besar milik pria itu merapikan rambut nya, bahkan dengan jarak yang begitu dekat. Sehingga membuat nya bisa mencium wangi parfum pria itu.
"Udah." Rian menghentikan akstivitas nya merapikan rambut Bia, saat dirasa rambut itu telah rapi. "Sekarang kamu harus mulai belajar privat sama saya, setiap privat kita akan belajar di perpustakaan ini. Dan berhubung hari ini kamu buat masalah lagi, jadi sebagai pengganti hukuman nya kamu harus belajar di sini bersama saya."
Rian melangkahkan kaki nya ke arah rak buku dengan logo matematika XI MIpa. "Kamu tenang aja, saya sudah meminta izin kepada Buk Kirana untuk membawa kamu ke sini. Kamu ingat kan? Ini hari pertama kita privat?"
Rian menatap Bia setelah mendapatkan buku yang dia cari. Dia mengerutkan dahi nya saat melihat gadis itu masih berdiri di tempat nya, dengan pandangan tak berkedip ke depan.
Rian menghela nafas nya, gadis itu melamun. Dia melangkah ke arah Bia. Dan menyodorkan buku matematika yang baru saja di ambil nya, ke depan wajah Bia.
"Ini! Kamu pelajari buku ini, lalu 10 menit kemudian saya akan memberikan soal!"
Detik berikut nya...
Hacim...
Rian terkejut saat Bia tiba-tiba saja bersin. "Kamu kenapa?"
Hacim...
Bia menundukkam kepala nya seraya mengusap hidung nya. "Duh! Jauhin deh tu buku. Gue bersin-besin mu---"
Hacim...
"Tuh kan! Gue gak bisa nih di sini. Apalagi lo sodorin buku kayak gitu, gue alergi!" Jerit Bia, seraya menutup hidung nya agar tidak mencium bau buku lagi.
Rian memasang wajah cengo nya, melongo melihat reaksi tiba-tiba gadis itu. "Kamu alergi buku? Ada apa orang alergi buku? Kok saya baru tau." ujar nya heran, menatap Bia.
"Kan gue udah bilang, gue gak bisa deketan sama buku!" Ketus Bia, masih menutup mulut dan hidung nya.
Rian menatap buku di tangan nya dengan bingung.
"Jadi gue gak bisa les privat sama lo! Bye!"
"Eh!" Rian langsung menahan tangan Bia. "Gak bisa gitu! Kamu sudah tanda tangan kontrak. Gak ada alasan lagi, sekarang kamu belajar sama saya!"
Rian menarik Bia duduk di salah satu bangku panjang yang ada di perpustakaan. Menekan bahu gadis itu agar duduk.
"Tapi gue alergi anjing!!" Geram Bia dengan mata melotot.
"Gak akan kalau kamu pake ini!" Rian mengeluarkan sesuatu di dalam saku celana nya.
Bia seketika mendengus dan menjatuhkam kepala nya di atas meja.
"Mampus gue!"
❄❄❄❄❄❄❄