EMPAT BELAS

2431 Kata
"Buk Kirana tenang saja, sekarang Bia di bawah pengawasan saya. Saya akan pastikan dia belajar." Ucapan Pak Rian lantas saja membuat Buk Kirana menghela nafas nya lega. Wanita 25th itu menoleh pada rekan satu kerjaaan nya itu. "Syukur deh pak, saya juga tenang jadi nya. Saya pikir dia tidak masuk lagi, atau membolos." Rian tersenyum tipis. "Dia sekarang berada di perpustakaan. Saya meminta nya membaca buku, lalu menjawab soal yang saya berikan." Buk Kirana memgangguk. "Ya sudah pak saya juga harus kembali mengajar. Permisi." Rian mengangguk, lalu menatap sebentar kepada punggung Buk Kirana yang menjauh. Dia menghela nafas nya lalu berjalan menunju perpustakaan dimana tadi dia meninggalkan gadis nakal itu. "Bagaimana Bia? Kamu bisa menjawab nya? At---" Rian menghela nafas nya berat saat melihat pemandangan di depan nya. Seperti nya stok kesabaran nya harus di perbanyak mulai sekarang. Bagaimana tidak, lihat lah baru 30 menit dia meninggalkan gadis ini, bukan nya belajar Bia malah enakan tidur dengan kepala yang di rebahkan di atas meja dan mulut serta hidung yang di tutupi dengan masker. Ya, Rian tadi memang memberikan masker mulut kepada Bia, guna agar dia tidak bisa mencium bau buku, dan agar tidak menimbulkan bersin-bersin lagi. Serta tidak menjadikan bersin itu sebagai alasan dia tidak akan belajar. Rian memasukkan kedua tangan nya ke kantong celana bahan nya. Lalu melangkah mendekati meja tempat Bia terlelap dalam tidur nya. Dia lalu mengambil duduk di samping gadis itu. Untuk sesaat Rian memperhatikan wajah damai Bia yang terlelap dalam tidur. Kalau di lihat-lihat Bia itu cantik, cantik sekali. Mata gadis itu bulat dengan bola mata yang hitam sempurna, bibir kecil nan pink alami, kulit putih, dan fostur tubuh yang tidak terlalu tinggai namun juga tidak terlalu pendek, fostur tubuh yang terlihat lucu. Tapi sayang, semua itu tertutupi dengan sikap dan tingkah laku nya yang terbilang buruk. Rian menghela nafas nya perlahan. "Apa sih yang salah sama diri kamu?" Dia menatap lekat ke mata terpejam gadis itu. "Ya hidup gue lah." Rian membulatkan mata nya saat Bia tiba-tiba saja bersuara dan membuka mata nya. Gadis itu menegakkan tubuh nya, dan menatap Rian dengan mata sayu nya. "Kamu gak tidur?" Tanya Rian, dengan nada yang sedikit kaget. Bia menghela nafas nya, lalu menyenderkan tubuh nya pada dinding, kini posisi nya berhadapan dengan pria tersebut. "Menurut lo?!" Dia balik bertanya seraya melepaskan masker yang di pakai nya. "Lo nanya apa yang salah di diri gue kan? Tuh udah gue jawab, hidup gue." Bia bersuara dingin. Rian menghela nafas nya sejenak. "bukan hidup kamu yang salah, tapi kamu yang menanggapi nya yang salah. Terlalu pakai emosi." ujar nya, seraya menatap Bia. Bia mendesah, dan mengeluarkan permen karet nya. "Sok tau lo! Ok, gue tau hidup lo emang yang paling benar!" Dia menatap malas ke mata Rian. Rian menatap lekat pada gadis itu, dia dapat melihat ada sorot emosi tertahan di mata nya itu. "Oke gak usah di bahas! Sekarang mana jawaban soal dari yang saya kasih tadi!" Bia diam sejenak, dia melirik kertas yang ada si atas meja. Lalu mengambil kertas tersebut dan memberikan nya kepada Rian. Rian mendesah panjang saat melihat apa yang di lakukan gadis itu terhadap kertas tersebut. Hanya berisi coret-coretan tidak jelas. "Jawaban nya mana Bia?" suara nya nyaris frustasi. "Ck, ya mana gue tau!" Ketus Bia. "Kan lo tau isi otak gue gak pernah yang kayak begituan!" Rian melirik Bia, dia mendengus kesal. "Ya kan saya tadi udah nyuruh kamu baca buku!" Bia menatap datar ke arah Rian. "Jangan kan baca, ngelihat tulisan dan angka yang begini banyak aja udah bikin gue pusing! Yang ada gue mati berdiri kebanyakan baca buku kayak begini!" Rian seketika terkekeh mendengar gerutuan Bia. "Dan saya yakin kematian kamu itu akan jadi trending topic di sekolah ini." Bia mendengus dan memutar bola mata nya malas mendengar lelucon Rian yang sama sekali tidak menarik. "Ya sudah! Biar saya jelaskan!" Rian menggeser duduk nya agar lebih dekat dengan murid nya itu. Bia masih duduk dengan malas-malasan, menatap pria itu yang mulai menjelaskan materi matematika kepada nya. Bukan nya mendengarkan, gadis itu malah terus menguap dan kembali mengantuk setelah dia mengeluarkan permen karet dalam mulut nya, lalu menggulung nya dengan kertas bungkusan tadi. "Gimana? Kamu ngerti?" Tanya Rian, dan masih sibuk membolak-balik buku tersebut. "Bia? Kamu ngerti kan?" Rian mengangkat kepala nya, menatap ke arah Bia. Dia kembali mendesah panjang kali ini dengan geraman nya. Saat melihat gadis itu malah tertidur dengan bertumpukan tangan. "Ck, dasar gadis nakal." Gumam Rian, dan terus menghela nafas nya. Kali ini membiarkan gadis itu tertidur, karna di sisi lain dia juga lelah. Berbicara dan menjelaskan sejak tadi panjang lebar, tapi gadis itu malah tertidur dan tidak mendnegarkan nya. "Bia! Bia! Kamu satu-satu nya yang bikin saya pusing sampai sepusing ini, menghadapi tingkah kamu yang terbilang aneh." ujar Rian, seakan berbicara kepada Bia. Dia menatap gadis itu, dengan tangan yang tanpa sadar terangkat membelai rambut gadis itu. ❄❄❄❄❄❄❄❄ Bia mengerjapkan mata nya berulang kali. Saat kesadaran nya mulai timbul, hal pertama yang di rasakan nya adalah pegal yang luar biasa di punggung nya, serta tangan yang mati rasa karna kelamaan menumpu kepala nya. "Oh s**t!" Umpat Bia seraya meregangkan tubuhnya yang terasa begitu pegal. Bia menatap sekeliling nya, seketika dia mendengus saat menyadari dia masih berada di perpustakaan. Dia melirik jam tangan nya, sudah pukul empat sore, cukup lama juga dia tertidur. Sudah dapat Bia tebak, bahwa sekolah sudah pasti telah sepi. Pasal nya, sekolah itu sudah di bubar kan sejak satu jam yang lalu. "Kamu sudah bangun?" Bia menoleh ke asal suara teesebut, dia mendengus pelan mendapati pria bercelana bahan itu berdiri bersandar di salah satu rak buku dengan bersidekap d**a. "Ck, pake nanya lagi lo. Menurut lo gimana?" Ketus Bia, sembari mengalihkan pandangan nya ke arah lain. Rian menghela nafas nya, lalu berjalan mendekati gadis itu, dan duduk di samping Bia seraya menyandarkan punggung nya di sandaran bangku. "Saya bawa kamu ke sini buat balajar, bukan nungguin kamu tidur." "Gak ada yang nyuruh lo nunggu." Balas Bia, tanpa melirik Rian. "untuk hari ini saja! Tapi besok, kamu sudah harus serius mengikuti les privat ini." Rian bersuara tegas. Bia mendengus tanpa menjawab. "Bia!" "Iya bawel!" lirik Bia tajam. "Nyinyir banget lo nyuruhin gue belajar." Gerutu nya. "Buat kamu!" Rian menyodorkan sebuah kotak kepada gadis itu. Bia menatap kotak tersebut. "Di luar hujan deras, gak memungkinkan untuk pulang. Jadi, saya beliin kamu makanan, kamu sejak tadi belum makan." Bia melirik Rian, "Kamu gak mau?" Rian menaikkan sebelah alis nya. "Ya udah lo tarok aja situ!" Balas Bia cuek, dan kembali menatap ke luar jendela. Rian menghela nafas nya pelan, dan meletakkan kotak tersebut di atas meja.  Suasana perpustakaan yang sudah sepi itu, semakin hening saat kedua nya tidak lagi membuka suara. Bia sibuk menatap rintik hujan yang ikut mengalir di kaca transparan jendela tersebut. Bahkan udara dingin itu sampai menembus ke dalam perpustakaan ini. Bia membenci hujan? Tidak, dia tidak pernah membenci hujan, dia hanya membenci cerita yang terjadi di balik rintik air tersebut. Dalam suasana seperti ini, membuat sisi mellow Bia kembali hadir. Dan Bia benci akan hal tersebut. Cukup dia melakukan kebodohan semalam, saat dengan bodoh nya dia menangis di dalam dekapan pria di samping nya ini. Sementara Bia sibuk dengan pikiran nya. Rian justru melirik ke arah gadis itu, yang menatap kosong ke luar jendela. "Ada yang mengganggu pikirin kamu?" Rian akhir nya bertanya. Bia tidak membalas, baik melalui kata-kata ataupun melalui gelengan atau anggukan kepala. "Bia?" "Kalau gue boleh tau, kenapa lo kekeh banget buat nyentuh hidup gue sejauh ini?" Rian tertegun saat mendengar pertanyaan tersebut. Dia tidak mengerti kenapa Bia tiba-tiba saja menanyakan hal yang sebenarnya juga sering di tanyakan nya. Rian menatap Bia yang masih setia menatap ke luar jendela. "Lo udah tau kalau gue anak brokenhome, gue berantakan. Trus apa lagi yang mau lo tau?" "Bia? Saya gak bermaksud untuk mengorek informasi tentang kehidupan pribadi kamu." Rian bersuara. "Trus maksud lo apa?" Bia menoleh tiba-tiba pada Rian, membuat pandangan mereka bertemu. "kamu kenapa tiba-tiba nanya kayak gini?" Tanya Rian heran, tanpa memutus kontak mata dengan gadis itu. Bia diam sejenak, lalu menghela nafas nya gusar. Dan menumpu siku nya di atas meja, mengusap kepala nya dengan pelan. "Sorry! Gue cuman mau lo lupain apa yang terjadi semalam." Rian tertegun, kini dia ingat akan kejadian semalam. Pikiran nya berkelana pada saat dimana Bia menangis di dalam pelukan nya. "Kamu menyesali itu?" Tanya Rian. Bia menatap ke depan. "Gue gak pernah menyesali apa pun yang telah terjadi dalam hidup gue. Yang gue selali tu cuman satu sejak dulu,---kenapa gue mempunyai takdir kayak gini." "Setiap orang itu punya jalan hidup nya masing-masing Bia. Di antara saudara kembar saja, terkadang mempunyai jalan takdir yang berbeda." Ucapan Rian membuat Bia tertegun, dia menoleh pada pria itu. "jadi mau kamu sepeti apa oun, gak akan pernah merubah situasi, kalau kamu sendiri yang gak mau merubah itu. Saya gak minta kamu untuk menganggap saya ini guru kamu." Rian diam sejenak, dia lalu bangkit berdiri dengan kedua tangan yang di masukkan ke saku celana. "Kamu bisa menganggap saya di luar konteks antara murid dan siswa." Dia berbalik, membuat tatapan nya kembali bertemu dengan Bia. "Teman? Atau kakak buat kamu?" Bia tidak bersuara lagi, dia menatap sejenak kepada Rian. Sebelum akhir nya mengalihkan pandangan ke luar jendela. "Kamu hanya butuh lebih terbuka dengan orang-orang yang kamu percaya. Supaya beban dalam diri kamu sedikit berkurang." Rian menyentuh pundak Bia. "Seperti saya yang membagi setengah beban saya kepada kamu." Bia spontan menoleh, "Pertama kali nya, saya menceritakan sosok alm adik saya ke kamu. Dan itu membuat saya sedikit lega." lanjut Rian dengan mata yang menatap lekat pada Bia. Terbuka? Entah lah! Entah Bia bisa atau tidak. Dia sudah terlanjur menutup diri nya akan orang asing, bahkan dia tidak memiliki kepercayaan lagi terhadap orang lain, kecuali tiga teman nya Milka, Yuna dan Rena. Bia tidak pernah percaya lagi dengan siapa pun, dia sudah terlalu sering di kecewakan hanya karna dia terlalu percaya dan terlalu menumpukan hidup nya pada seseorang. Bia tidak ingin terulang lagi, terluka untuk kesekian kali nya. Hanya karna satu kata, yaitu percaya. ❄❄❄❄❄❄❄ Bia mengerutkan dahi nya melihat kondisi di sekeliling nya. Sebuah jalan yang tidak terlalu ramai namun juga tidak terlalu sepi. Di sepanjang jalan itu hanya di hiasi oleh lampu-lampu jalan yang remang-remang. Ini pertama kali nya Bia melihat pemandangan seperti ini. Sederhana namun terlihat elegan. Tidak jauh dari pinggir jalan itu, terdapat dua buah ayunan kayu yang di topang oleh pohon besar. Suasana indah, dan cukup menentramkan saat kita pertama kali melihat nya. "Ini tempat favorit adik saya dulu. Biasa nya, kami sekeluarga akan menghabiskan weekend di sini." Bia tersentak saat suara itu hadir tepat di samping nya. Dia hanya melirik sekilas pada orang di samping nya itu, lalu kembali menatap ke depan dengan memasnag wajah datar nya. Rian menoleh pada Bia yang berdiri di samping nya dengan bersandar pada bemper mobil. "Kamu tau kenapa kamu saya bawa ke sini?" Bia mendesah. "Emang gue cenayang." Balas nya santai namun terkesan dingin. Rian terkekeh pelan, lalu ikut menatap ke depan. "Hari ini hari ulang tahun adik saya. Tepat 17 tahun umur dia kalau dia masih hidup." Bia tertegum, dia diam-diam melirik Rian. Seberapa besar sih cinta pria di samping nya ini kepada adik semata wayang nya itu? "Biasanya kalau saya kangen sama dia. Cuman ada dua tempat yang akan saya kunjungi. Pertama makam nya, kedua tempat ini." Rian menundukkan kepala nya, seraya tersenyum tipis yang terlihat kecut. "Saya gak pernah membayangkan jika dia akan pergi secepat ini." gumam nya lirih. Bia ikut termangu dengan ucapan Rian. Sebandel-bandel nya dia, sebrengsek-b******k nya dia. Dia tetap lah orang yang mempunyai hati nurani, bagaimana pun juga hidup Bia tidak lebih beruntung dari pria ini. Jika dalam kondisi seperti ini, Bia tidak melihat sosok wibawa Rian sebagai guru. Melainkan persis seperti nya, ABG yang seperti baru putus cinta. "Gue boleh nanya?" Rian mengangkat kepalanya, mata nya langsung saja bertemu dengan Bia yang tidak berkedip menatap nya. Lalu dia mengangguk pelan. "Kenapa lo milih gue sebagai tempat untuk lo bercerita?" Rian terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis. Dia tau cepat atau lambat gadis ini pasti akan menanyakan hal tersebut. "Karna saya ingin." jawab nya simpel. "Saya pernah bilang kan sama kamu, kalau bagi beban kamu kepada orang yang kamu percaya. Dan saya memilih kamus sebagai orang yang saya percaya." Sambung nya. "Lo melupakan fakta bahwa gue bukan siswi baik. Secepat itu lo percaya sama gue? Mustahil." Sinis Bia di iringi senyum miring nya. "Kenapa tidak? Kepercayaan itu tergantung hati kan? Kalau hati udah bilang iya, kamu bisa apa? Membantah? Bahkan jika hati dan pikiran di sandingkan, maka pikiran akan kalah, karna hati adalah tempat jawaban yang paling jujur." Lagi-lagi Bia di buat tertegun dengan ucapan pria di samping nya ini. Terkadang dia berpikir bahwa apa yang di lakukan Rian, semata-mata hanya untuk membuat nya berubah menjadi lebih baik, dan tidak membuat onar lagi. Tapi terkadang, dia juga merasakan ketulusan dari pria ini. Rian melirik Bia yang tampak melamun. Dia lalu tertawa pelan. "Gak usah di pikirin! Kalau itu jadi beban buat kamu." Bia mendengus, dan melirik tajam ke arah pria itu. "Geer banget lo! Siapa juga yang mikirin, gak penting juga buat gue! Kata-kata lo tu terlalu puitis, gak cocok sama gue. Jatuh nya alay." Rian lagi-lagi tertawa pelan. "Ketawa lagi ni orang." Gumam Bia pelan. Rian menghentikan tawa pelan nya lalu menatap Bia dari samping. Pantulan cahaya lampu jalan itu tepat mengenai wajah gadis itu. Membuat kesan tersendiri saat Rian melihat nya. Bia tanpa sadar ikut mengalihkan pandangan nya ke kanan. Di sana lah, mata nya dan mata Rian bertemu, tatapan Rian yang begitu terlihat lekat hingga mengunci pergerakan mata Bia. "Kenapa lo liatin gue kayak gitu?" Bia bersuara rendah, jujur saja dia gugup di tatap seperti itu. Sudah sangat lama rasa nya dia tidak berinteraksi sedekat ini dengan seorang laki-laki. Rian menggeleng seraya tersenyum. "Kamu cantik. Dan akan lebih cantik lagi, kalau di iringi dengan sikap kamu yang baik." ujar nya, tanpa memutus pandangan nya kepada Bia. Bia menghela nafas nya dengan malas. "Berarti lo gak bisa terima gue apa ada nya." Balas nya snatai. "Benarkah? Jadi kalau saya terima kamu apa adanya. Kamu mau sama saya?" Rian bersuara menggoda. Bia yang menyadari kesalahannnya dalam berbicara, spontan menoleh pada Rian yang tampak menaikkan sebelah alis nya. Bia berdecak, "Mimpi lo!" Ketus nya, dan berjalan memutari mobil dan duduk di bangku penumpang. Rian yang mendapatkan jawaban itu hanya terkekeh pelan, dan ikut masuk ke dalam mobil. Melajukan mobil nya, meninggalkan tempat tersebut. ❄❄❄❄❄❄❄
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN