Murkanya Fans Abrar

1637 Kata
Lucu rasanya saat seseorang membenci mu hanya karena merasa tersaingi ❄❄❄ Hari ini Alayya datang ke sekolah sedikit lebih siang. Tidak ada alasan mengapa ia datang lama hari ini,ia hanya sedang ingin saja. Dengan langkah kecilnya ia memasuki gerbang sekolah dengan tenang. Tak perduli tatapan menghunus yang tujukan orang-orang padanya. Tepatnya tatapan para siswi yang sejatinya adalah fans Abrar. Sejak kejadian seminggu yang lalu, yaitu kejadian saat hidung Alayya berdarah dan di gendong oleh Abrar ke UKS, Alayya menjadi sorotan dan pusat perhatian para penggemar Abrar. Dan dalam seminggu itu pula para penggemar Abrar membully nya habis-habisan. Bukan secara fisik tapi secara mental. Tapi Alayya tetap diam, ia hanya tersenyum menganggapi ucapan mereka. Selama mereka tidak main tangan, Alayya akan terus seperti itu. Menurut Alayya itu lebih baik. Alayya maasih bisa menahannya jika itu masih berupa sindiran atau semacamnya. Saat Alayya sampai di kelas, ia langsung di sambut oleh senyuman dari Atifa. Alayya tahu arti senyum itu. Itu adalah senyum yang diberikan Atifa untuk menguatkan Alayya. Dalam senyum itu seolah-olah Atifa mengatakan 'tenang Alayya, masih ada aku'. Alayya membalas senyum itu. "Fa, hari ini gak ada PR kan?" tanya Alayya basa-basi. Padahal ia tahu bahwa hari ini tidak ada PR. Atifa menggeleng. "Gak ada. Eh! Tau nggak?-" "Enggak" jawab Alayya cepat. Atifa mendengus dan Alayya tertawa melihat itu. Dalam hati Atifa tersenyum lega bahwa Alayya ternyata masih bisa tertawa. Atifa sangat khawatir, ia khawatir Alayya akan tertekan dengan apa yang terjadi seminggu belakangan ini. "Belum juga ngomong" Alayya menghentikan tawanya. "Yaudah maaf. Mau ngomong apa tadi? " Pancaran mata Atifa kembali antusias. "Semalam aku di belikan Novel baru sama Ayah ku loh. Novel nya bagus banget. Mau aku pinjamin nggak?" Mendengar kata Novel mata Alayya juga ikut berbinar. "Beneran, Fa? Mana? Kamu bawa? Aku pinjam dong!" seru Alayya bersemangat. Atifa mengeluarkan buku Novel itu dari tas nya dan menyodorkannya pada Alayya."Nih, terserah mau balikin kapan. Aku udah selesai bacanya kok". "Waaah! Makasih Atifa!." Seru Alayya memeluk Atifa. Atifa menepuk-nepuk pelan punggung sahabatnya itu. Di sela-sela pelukan Atifa tersenyum. Setidaknya ia berhasil membuat Alayya melupakan apa yang terjadi seminggu ini. Walau hanya sebentar. ❄❄❄ Alayya dan Atifa sedang makan siang di kantin. Keadaan kantin sangat ramai saat ini. Beruntung mereka kebagian meja. Alayya dan Atifa sedang menyatap makan siang yang mereka pesan beberapa menit yang lalu. Awalnya mereka menikmati waktu makan siang dengan tenang, sesekali di selingi canda dan tawa keduanya. Hingga suara gebrakan meja mengejutkan mereka. Braaak Alayya yang tadinya sedang menikmati semangkuk soto terperanjat saat kuah soto panas itu tumpah mengenai rok nya. Bajunya juga terkena cipratan kuah soto. Alayya menghela nafasnya lelah. Ia menoleh ke arah Atifa yang sedang menatapnya, dari tatapan itu seolah-olah Atifa bertanya 'kamu nggak pa-pa?' Alayya menganggukkan kepalanya sebagai isyarat kepada Atifa bahwa ia baik-baik saja. Alayya mengalihkan tatapannya ke arah lima siswi yang sedang berdiri di dekat mejanya. Mereka menatap Alayya dengan tatapan yang beragam. Satu hal yang pasti, tidak ada satupun dari mereka yang menatap Alayya dengan normal. Alayya masih mencoba bersikap tenang. Alayya berdiri dari duduknya dan menarik tangan Atifa. Otomatis Atifa juga ikut berdiri. "Ayo bantu aku bersihin seragam ku" kata Alayya dengan ekspresi dan suara yang tenang. Baru saja mereka melangkah, pergelangan tangan Alayya yang menganggur di cekal oleh salah satu dari mereka. Jujur Alayya tidak mengetahui nama kelima siswi itu. Yang ia tau bahwa mereka adalah kakak kelas sekaligus penggemar Abrar. Dan tujuan mereka menemui Alayya? Sudah pasti ingin mengganggu Alayya. "Mau kemana lo!" seru siswi yang mencekal pergelangan tangan Alayya. Seruan itu berhasil membuat mereka menjadi pusat perhatian saat ini. Satu per satu orang-orang yang ada di kantin mengerumuni mereka. "Saya mau bersihin seragam saya kak. Kena kuah soto" jawab Alayya tanpa rasa takut. Alayya bahkan menatap tepat ke manik mata orang yang mencekal pergelangannya. "Waaah nantangin dia Sis! " "Udah Siska, langsung aja" Sahut kedua teman nya pada siswi yang bernama Siska itu. "Kak bisa lepasin tangan saya nggak? Bau badan saya gak enak kak. Saya mau bersihin seragam saya" Atifa hanya bisa diam. Genggaman jemari Alayya di jarinya sangat kuat. Atifa tahu bahwa sekarang Alayya sedang melawan rasa takutnya. "Oooh, lo mau bersihin seragam lo? Yaudah deh sekalian kalau gitu. Nan!." katanya memanggil salah satu teman nya. Siswi yang di panggil Nan itu memberikan sekaleng minuman soda berwarna merah pada Siska. Tanpa ada rasa kasihan Siska mengguyur kepala Alayya dengan minuman itu. Alayya memejamkan matanya saat minuman itu mengalir dari kepalanya menuju wajahnya. Bahkan minuman itu kini membasahi lehernya. Tetesan minuman itu mengenai seragam sekolahnya. Seragam yang tadinya terkena noda berwarna kuning karena kuah soto sekarang bertambah dengan noda merah minuman kaleng. Alayya membuka matanya. Ia menatap ke arah lima siswi itu. Kali ini tatapan matanya tak terbaca. "Kakak gak pernah di ajari sopan santun ya?" tanyanya dengan nada yang terkesan meremehkan. Alayya melihat seragamnya yang sekarang sangat kotor. Tiba-tiba ia merasa emosi. Bunda nya selalu memastikan seragamnya tetap bersih agar Alayya bisa datang ke sekolah dengan rapi. Dan perempuan di hadapannya dengan mudah mengotori seragam yang selalu di cuci dengan hati-hati oleh Bundanya. Dan sekarang Atifa tahu bahwa saat ini Alayya sedang berada diujung batas kesabarannya. Atifa mengusap lengan Alayya dengan tanganya yang satu lagi. "Lo! Berani ya lo ngelawan kakak kelas. Kurang ajar banget lo" "Kakak yang kurang ajar. Apa salah saya sama kakak? Kenapa kakak ngelakuin ini ke saya?" tanya Alayya. "Lo nanya apa salah lo! Lo gak tau salah lo apa?" Siska tersenyum miring. Ia maju selangkah mendekati Alayya. "Salah lo adalah udah berani dekat-dekat sama Abrar!" seru Siska mulai terpancing emosi. Alayya menatap Siska sinis. "Memang nya kenapa? Gak boleh? " tanya Alayya dengan berani menatap tepat pada manik mata Siska. Alayya tidak tau darimana ia mendapatkan keberanian sebesar itu. Alayya yakin bahwa Atifa pasti sama bingungnya dengan dirinya. "Ya jelas gak boleh lah! Gue gak bakal ngijinin lo dekat-dekat sama Abrar" "Memangnya kakak siapanya kak Abrar? Pacar nya? Bukan kan?" "Waah, udah sikat aja Sis. Ngelunjak banget nih anak. Gaya ngomongnya songong banget" timpal komplotan Siska yang berdiri di belakang Siska. Wajah Siska memerah menandakan bahwa ia sedang emosi saat ini. Berbeda dengan Alayya yang terkesan santai. "Gak tau diri ya lo! Gak usah sok hebat lo! Emang lo siapanya? Pacarnya? " "Iya saya pacar kak Abrar. Kenapa? Keberatan? Jadi tolong, gak usah ganggu-ganggu hubungan saya. Gak usah jadi pengganggu di hubungan kami" Sungguh, ini diluar kemauan Alayya. Tapi mau bagaimana lagi. Jika ia tetap diam, ia akan terus di permalukan. Sementara Atifa hanya bisa ternganga sambil menatap Alayya. Siska geram. "Lo!." Tangannya terangkat ingin menampar Alayya. Alayya refleks memejamkan matanya.  "Berhenti" ucap suara itu dengan tenang. Semua orang yang sedang berkerumun sontak mengalihkan tatapan nya ke arah sumber suara, termasuk Alayya dan Siska. Alayya masih setia memandangi Abrar dan kedua sahabatnya yang berjalan ke arahnya. Entah kenapa saat melihat Abrar berjalan mendekat ke arahnya membuat jantung Alayya berpacu lebih cepat. Abrar berdiri di antara Alayya dan Siska. Di turunkannya dengan pelan tangan Siska yang masih terangkat di udara. Semua orang yang ada di sana pun mulai berbisik-bisik. Tapi Abrar hanya diam saja. Ia tidak ingin meladeni bisikan orang-orang itu. "Jangan pernah sentuh dia" kata Abrar menatap manik mata Siska dengan tatapan dan wajah dinginnya. "Tapi dia udah berani dekat-dekat sama kamu dan dia udah bohong, si cewek cunguk ini bilang kalau kalian dia pacar kamu. Aku gak suka" adu Siska. Abrar melirik Alayya. Alayya yang sadar kalau ia sedang di lirik oleh Abrar pun menunduk takut.Ia yakin bahwa Abrar pasti marah padanya karena sudah berbicara sembarangan. Dalam hati Alayya menyesali ucapannya beberapa menit lalu. Abrar mendekat pada Alayya. Di genggamnya tangan kanan Alayya. Alayya yang tangannya di genggam pun mendongak kan kepalanya. Melihat ke arah Abrar. Abrar mengedarkan pandangannya melihat orang-orang yang tengah mengerubungi mereka. Kemudian beralih menatap ke arah Siska. "Memang kenapa kalau dia dekat sama gue?” “aku gak suka” “dan kenapa lo gak suka?” tanya Abrar. “karena dia gak pantes dekat-dekat sama kamu. Dan si cunguk ini juga udah bohong, dia ngaku-ngaku jadi pacar kamu. Aku tau itu gak bener.” “dia gak bohong. Dia memang pacar gue" kata Abrar santai dan ekspresi wajah yang terkesan tenag, namun berhasil membuat Siska dan semua yang ada di sana terperangah. Bahkan ada yang histeris, siapa lagi kalau bukan fans Abrar. Begitu juga dengan Alayya yang tak kalah terkejutnya. "Wajar kalau dia dekat-dekat sama gue. Dia cewek gue dan gue cowok nya” ucap Abrar yang lagi-lagi berhasil membuat fans-fans nya heboh. Wajah Siska memerah. Marah dan malu bercampur menjadi satu. “A-apa? Enggak, kamu bohong! Aaku tau kamu cuma mau bela si cunguk ini kan? Enggak, aku gak terima!” “Kenapa lo yang gak terima? lo siapa gue? Gue gak kenal sama lo dan gue bahkan gak tau nama lo" Jawab Abrar santai namun terkesan tegas. Skak mat. Siska terdiam. Matanya mulai berkaca-kaca mendengar ucapan pedas langsung dari mulut Abrar. Fans-fans Abrar mulai berbisik-bisik. Kebanyakan dari mereka ternganga akibat baru pertama kali mendengar Abrar berbicara sepanjang dan segamblang itu. Mereka terperangah mendengar Abrar yang berbicara panjang lebar. Itu adalah peristiwa langka. Dimana sang pangeran es yang irit bicara dan dingin tak tersentuh hari ini berbicara panjang lebar. "Anjir, nyelekit banget omongan lo" kata Gilang. "Setuju gue. Ngena banget sakitnya sampe ke ulu hati" sambung Rangga melebih-lebihkan. Abrar melirik kedua sahabat. Dalam lirikan itu seakan ia berkata 'kalian berdua bisa diam nggak'. Sementara Gilang dan Rangga yang dilirik seperti itu oleh Abrar hanya cengengesan.  Abrar manarik tangan Alayya menjauh dari kerumunan itu. Sementara Alayya hanya diam saja. Alayya masih diam dan pasrah mengikuti Abrar yang menarik tangannya. Tiba-tiba saja Abrar menghentikan langkahnya lalu berbalik badan ke belakang. "Dan lo" Abrar menunjuk Siska dengan dagunya. "Berhenti manggil cewek gue cewek cunguk. Dia punya nama" Abrar berbalik lagi dan pergi meninggalkan kantin dengan menggenggam tangan Alayya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN