Dreettt… Drettt….
Suara nyaring dari Iphone memaksa ku terbangun dari tidur. Ah, sial. Rupanya aku lupa mengaktifkan mode silent. Lagi pula siapa yang menelfon, awas aja kalo bukan hal penting Tiara melirik pada jam digital di atas nakas sebelum meraih Iphonenya apaan nih masih jam dua siang . Dengan enggan Tiara menjawab telfonya tanpa melihat id pemanggilnya.
“Ra, Tiaraaaa….. lagi apa lo?” suara Reina begitu nyaring , membuat Tiara menjauhkan Iphonenya dari telinganya.
“Reina, sialan lo, bikin kuping gw budeg. Apaan si lo Rein, ngapain ganggu gw. Tau gw lagi tidur baru pulang kerja tadi pagi” ucapku sedikit kesal
“Hehehee…Yaya lupita angel gw”
“Ye lu enak, ambil cuti jadi kaga kerja, makannya lupa”
“Udeh-udeh jangan ngambek. Eh, nanti satnight lo ada acara gak?”
“Hmm. Kaga, “
“Hmm… ini nih salah satu keuntungan punya temen jomblo lovers hahaha selalu ada di saat gw kesepian di malam minggu” suara tawa Reina semakin nyaring
“Sialan lo, maksud lo apa? Ohhh, jadi lo ngajak gw keluar karna lo gak ada temen malam minggu” aku semakin kesal
“Eittss, cantik bukan begitu, ah gitu aja marah santai dong!. Aku ngajak kamu keluar karna aku mau ngajak kamu makan , kebetulan si Haris lagi gak bisa keluar jadi kita berdua aja ye..”
“Nah.. kan, kalo Haris gak bisa aja baru deh ngajak gw”
“Haha kamu kan my secon option hahaha… “ tawa Reina nyaring.
Ih, nyebelin banget si Reina . baru saja ingin membalas ucapan Reina, tapi si comel itu sudah membeo lagi.
“Gak juga ko sayang emang aku sama Haris mau ngajak kamu, tapi tadi di proyek ada problem gitu jadi si Haris pergi ke sana dulu, nanti setelah itu dia nyusul kita ko... Gimana mau gak? Mau ya mau ya.. ya ..ya “ cerocosnya membuatku sulit untuk menolak si Comel ini, karna nanti bisa makan panasi nih kuping kena ocehan Reina. Lagian di rumah sendirian booring juga. Itung-itung menghibur diri setelah kegalauan pagi tadi.
“Hmm… “
“Yes, jam 7 aku jemput”
Haris adalah seorang arsitek muda yang sukses, selain itu ia juga seorang lelaki tampan yang bertanggung jawab dan sangat menyayangi Reina yang manja dan bawel itu, terkadang aku iri melihat kehidupan Reina, ia cantik, pintar, memiliki keluarga yang sangat sayang padanya.
Reina memiliki orangtua yang selalu kompak, punya pacar yang sayang dan selalu jagain dia. Sedangkan aku ? hanya Reina satu-satunya yang memahami ku, aku bersyukur mengenal si comel ini, meski sifatnya kadang buat tensi naik.
Aku mengenal Reina saat MOS, awalnya kami tidak begitu akrab sampai pada suatu hari guru memberikan kami tugas kelompok dan kami mengerjakan tugas di rumah Reina. Papah dan mamanya sangat baik membuat aku sangat nyaman berada di rumah Reina karna di rumahnya tercipta suasana kekeluargaan yang hangat dan penuh cinta. Mulai saat itu aku dan Reina semakin dekat , aku sering berkunjung ke rumah Reina bahkan menginap di rumahnya . Apalagi di saat aku merindukan kedua orang tua ku.
Kringg…kringgg…
Alarem berbunyi waktu menunjukan pukul 17:00 rasanya masih mengantuk , aku duduk di atas kasur untuk beberapa menit sampai akhirnya, memutuskan tidur kembali .
Aku terlelap kembali dalam buaian mimpi. Dalam mimpi itu aku berdiri di atas padang tandus dengan tubuh ku yang mulai lemah karna dehidrasi, di padang pasir itu tidak ada siapapun, hanya ada 1 pohon besar yang rindang. Aku ingin sekali berjalan ke sana namun tubuh ku terlalu lemah, aku terus merangkak , dari kejauhan aku melihat seseorang berjalan ke arahku, ,semakin ia mendekat semakin tak terlihat ia seperti……
“Fatamorgana…. Haakk,", aku terbangun dari tidur dan meningglkan mimpi yang entah apa artinya. huftt Cuma mimpi, Aku membuka screen iphone ku waktu menunjukan pukul 18:37 .
Ra, udah siap belum ?
Bentar lagi gw otw
Setelah membaca chat dari Reina aku segera bangun dan bersiap-siap, Reina bukan orang yang memiliki jam karet dia selalu on time, kalau pun telat hanya dalam hitungan menit.
Sesampainya di café aku memesan potato wedgets yang di lumuri mayonase and cheese dan guava juice, sedangkan Reina memesan beef black paper dan capucino fload.
“Ra,”suara memulai percakapan
“Hmm.. “pandangan mataku menuju ke arah taman
“Lo kenapa si Ra?”
“Hmm, gak apa-apa. Lagi bad mood aja”
“Badmood gegara gw ajakin lo keluar?” wajah Reina terlihat khawatir dan penasaran
“Bukan..”
“Trus?? Masalah orang tua lo..? atauuu... Haaaa… Raditya?? Ya ya.. bisa jadi masalah lo tu dia”
Wajah ku terkejut “Kok lo tau,? Kali ini yang membuat ku susah, bukan saja masalah orang tua , tapi juga..”
“Tapi juga apa Ra?” Reina memotong ucapan ku
“Radith” wajah ku menunduk menyebutkan nama lelaki itu
“Kamu udah tau, Ra.?”
“Tau apa ? maksud kamu, aku udah tau kalau Radith mau nikah gitu?” aku coba memastikan ucapan Reina
“Iya, jadi lo udah tau ? kapan lo tau?”
“What.. jadi lo juga udah tau ? “ Reina mengangguk “ Gw tau kemarin dari si Revi, tapi gw udah sempet tanya ke Dokter Ferry, dia juga belum tau pasti tentag kabar itu, terus kalo lo tau dari mana Rein?
“Ya kemarinkan gw cuti sekalian anter Mamah cek up, nah pas siang gw bawa Mamah ke Rumah Sakit. Terus gw sempet mampir ke ruangan kita karna ada barang yang ketinggalan, aku gak sengaja denger dari dokter Hans kalo dokter Radith mau resign karna mau nikah dan akan menetap di kampung nya.” Jelas Raina
Reina mengibas-ngibaskan tangannya di hadapan mata ku”Hoy…Hoy kenapa lu Ra, ?”
“Emm…gak apa-apa ko. Cuma masih ngantuk aja”
“Ah, bohong lu, lu broken heart kan ?”
“Apaan sih” aku mencoba berkilah dari Reiana
Tiba-tiba reina menggegam tangan ku” Ra, jangan bohong Gw tau elo, gw tau lo suka sama Radith. Lo tau kenapa gw ajak lo ke sini?” tatapan Reina penuh simpati
Aku hanya menggelengkan kepala “Gw ajak lo ke sini karna gw tau, lo pasti lagi sedih karna Radith” suara Reina semakin rendah dan tanpa terasa aku menitikan air mata, Reina yang sadar aku menangis –mencoba menenagkan ku “Ra udah jangan nangis, gw tau lo kuat. Kalo lo mau ngobrol dan bahas ini semua mending kita balik ke rumah gw aja, gak enak di liat orang kalo lo nangis” aku segera menyeka air mata yang masih mengalir,” Gw, gw gak apa-apa ko Rein. Makasih ya”
Diantara kebisingan malam yang riuh akan cerita cinta, kehangatan dan kerinduan, aku duduk di sudut kegundahan, menikmati malam dengan cahaya bulan yang menusuk relung hati. Menjalarkan perih dari luka yang kembali basah, sebab untuk kesekian kalinya, aku harus merasakan kehilangan.
******