Arsy berdiri sekitar tiga menit didepan sebuah apotek. Gadis itu ragu untuk masuk ke dalam apotek, apalagi ia masih mengenakan seragam. Gadis itu menarik nafasnya lalu menghembuskannya perlahan. Mencoba tetap pada pendiriannya bahwa apa yang dikatakan Daniel semua itu tidaklah benar. Sekarang, Arsy tepat didepan meja etalase didalam apotek. Salah satu pegawai apotek tersenyum ramah kepadanya. "Selamat siang, dek, ada yang bisa kami bantu?" tanyanya dengan ramah. "Saya—" jantung Arsy berdebar hebat. Pelipisnya dan lehernya berkeringat dingin. "Ya?" "Saya—beli testpack tiga." Terlihat pegawai apotek itu mengerjapkan matanya beberapa kali. "Untuk—" "Kakak saya nyuruh saya beli testpack. Maklum, dia pengantin baru." kata Arsy lalu tersenyum canggung. Pegawai apotek itu tertawa pelan.

