06

2279 Kata
"Pak Christ tidak melakukan sesuatu yang buruk padamu kan?" tanya Elise, sesaat setelah ia, Cora dan Lyla duduk di kantin kantor untuk sarapan. Ketiganya pas sekali sama-sama tidak sempat sarapan pagi ini, dan karena semalam minum alkohol, mereka harus mengisi perut dengan sup taoge untuk meredakan hangover. Lyla menggeleng sebagai jawaban dari pertanyaan Elise. Elise pun menghela napas lega. "Syukurlah. Tampangnya semalam itu sangat mengerikan, mengingatnya membuat ku merasa ada sesuatu yang menusuk mata dan hati ku. Gila, aku membayangkan kau dibentak-bentak atau dia akan menggunakan kekerasan untuk menghukum mu, duhh, ngeri, ngeri." Kata Elise sembari menggosok kedua pipinya. "Dia tidak punya wewenang untuk melakukan itu. Kecuali aku benar-benar dia anggap istri, dia baru bisa menghukum ku sedikit saat aku melakukan kesalahan. Tapi dia kan tidak menganggap aku begitu, aku bebas melakukan apapun yang aku mau, dan dia tidak berhak campur tangan. Kecuali apa yang lakukan, nanti akan merugikan dia." Tutur Lyla. Kepalanya tertunduk, dan raut wajahnya terlihat murung. Elise dan Cora hanya diam, mereka tahu Lyla belum selesai bicara, dan butuh jeda sejenak untuk mengambil napas serta mengkondisikan suaranya, yang mungkin saja akan bergetar kalau ia lanjut bicara begitu saja. "Dia memang sempat marah, karena kau kerjai, dan Ibu mertua ku sebenarnya mau aku dan Christ cepat pulang karena mau ke rumah sakit menjaga Ayah mertua. Tapi yahhh, dia hanya marah sedikit, terus ya dia tidak melakukan apa-apa lagi. Meskipun suasana hatinya pagi ini sepertinya buruk, entah karena aku atau ada hal lain." "Hei, cobalah buka hati mu untuk laki-laki lain." Kata Cora tiba-tiba. Perkataannya sangat tidak nyambung dengan perkataan Lyla. "Kau selalu membantu ku saat patah hati karena ulah pria tidak bertanggung jawab, tapi kau tidak bisa mengatasi diri mu sendiri." Elise menganggukan kepalanya setuju. "Aku bukan orang yang akan bicara lembut, jadi aku tegaskan, kau harus menyerah soal Christ, dan cari laki-laki lain yang tulus. Meskipun kau tidak mencintainya, minimal kau menyukainya. Nanti kalau sudah terbiasa, kau juga lama-lama akan mencintainya. Kau menyakiti diri mu sendiri kalau terus mempertahankan perasaan mu. Memang kau tidak berniat mengambil hatinya lagi, atau memperjuangkan cinta mu itu, tapi kau punya ikatan kerja sama aneh dengannya, kalian jadi sering bertemu. Perasaan mu jadi terasa lebih jelas, dan kondisinya lebih mempertegas kalau kau dan Christ tidak akan pernah bisa bersama." Ujar Elise. "Jadi di tengah-tengah kerja sama mu ini dengannya, aku sarankan kau sambil pendekatan dengan laki-laki lain, dan coba menghapus perasaan mu pelan-pelan dari Christ. Kau pantas mendapatkan seseorang yang lebih darinya. Aku rasa lebih mudah bagi mu untuk dekat dengan pria lain, saat kau sadar perasaan mu pada Christ, hanya melukai mu." Lyla hanya menghela napas sebagai respon, sambil menyendok kuah supnya. "Itu pasti sulit, tapi ada kami yang akan membantu." Ucap Cora. "Waktu kedua kali kau ditolak Pak Christ, kau bilang hidup bukan hanya tentang cinta dan laki-laki. Tapi... masalah hidup mu saat ini hanya itukan? Karena sebelum-sebelumnya kau sudah melewati masalah yang lain. Masalah sekolah, pertemanan, keluarga, pekerjaan, keuangan, semua sudah berhasil kau lewati, tapi satu hal ini belum." "Aku akan melajang saja seumur hidup, aku rasa itu lebih baik." Kata Lyla. "Bercanda ya? Aku tidak siap menemukan video tidak senonoh nanti." Kata Elise. "Hei, apa maksud mu?!" seru Lyla sambil melotot ke arah gadis berambut sebahu itu. "Kau pikir aku pria yang butuh hal seperti itu?" "Dalam pelajaran biologi, pria dan wanita sama-sama membutuhkan hal itu, meskipun tidak separah pria. Itu sudah hukum alam." Kata Elise. "Astaga, kenapa kalian jadi lari ke sana?" dengus Cora. "Intinya kau harus membuka hati mu untuk orang lain, Lyla. Aku tahu rencana mu hanya 'tidak akan berusaha mengambil hati Pak Christ lagi', tapi kau sama sekali tidak ada rencana untuk buka hati ke pria lainkan? Sulit Lyla kalau mau seperti itu." "Aku... akan mencobanya." Ucap Lyla sambil menopang dagunya. Entah kenapa dia tiba-tiba teringat William. "Hei, kalian ingat mahasiswa yang dulu jadi salah satu Guru di tempat bimbel ku, saat akhir tahun kita SMA?" celetuk Lyla. "Siapa?" tanya Elise. "Kim William, pria manis yang membantu ku membetulkan rantai sepeda ku." Balas Lyla sambil tersenyum simpul. "Oh, yang dengan polosnya bilang, 'aku punya dry shampoo' pada ku itukan? Hah! Dia tidak pernah jadi siswa SMA yang sebentar lagi menghadapi ujian kelulusan serta tes masuk universitas ya? Boro-boro keramas, gosok gigi saja aku tidak sempat." Elise tiba-tiba malah ngomel. "Berlebihan, padahal nilai mu tetap saja di bawah ku dan Lyla." Timpal Cora. "Hei, aku tanya bukan untuk mendengar omelan mu. Jadi kalian ingatkan siapa itu Kim William?" kata Lyla. "Iya, ingat, ada apa memangnya?" tanya Cora. "Dia kan waktu itu menghilang begitu saja, dan sekarang sudah kembali. Pagi ini dia datang ke rumah, sayangnya aku tidak bisa menemuinya." Balas Lyla. "Dia mungkin jawaban untuk masalah mu saat ini." Ucap Cora. 'Waktu itu aku menyuruh Christ untuk putus sementara dengan Tania, selama menikah dengan ku. Tapi aku malah mau pendekatan dengan pria lain. Aku merasa... ini kurang baik. Tapi aku tidak bisa begini teruskan? Benar kata Cora dan Elise, aku harus mulai membuka hati untuk orang lain. Apa aku bilang saja ke Christ, kalau dia tidak apa-apa mau kembali pacaran dengan Tania.' Batin Lyla. ••• Tok, tok, tok. "Masuk!" Kriettt. Christ otomatis mengalihkan pandangannya dari laptop, saat mendengar pintu ruangannya dibuka. Keningnya mengernyit, melihat Lyla yang rupanya hendak masuk ke ruangannya. "Ada apa? Tumben ke sini tanpa aku minta." Kata Christ. "Ada yang mau aku bicarakan." Balas Lyla. Christ bangkit dari meja kerjanya, kemudian duduk di sofa. "Duduklah," ucap Christ. Lyla pun akhirnya duduk di sofa lain yang berhadapan dengan sofa yang diduduki Christ. "Sesuatu yang penting?" tanya Christ. "Yah, mungkin penting untuk mu. Aku mau memberikan kabar baik." "Apa?" "Aku rasa tidak apa-apa kalau kau mau kembali pacaran dengan Tania seperti biasanya." "Huh? Tiba-tiba?" "Tidak tiba-tiba, aku sudah memikirkannya. Karena aku juga ingin kencan dengan pria lain." "Hah? Apa?" Christ melebarkan matanya sesaat, kemudian matanya mengerjap-ngerjap karena terkejut sekaligus bingung. "Pernikahan kita belum ada seminggu, tapi kau tiba-tiba membatalkan syarat yang kau buat sendiri?" "Yah, memang aku jadi terlihat aneh. Tapi ada seseorang yang aku suka dari masa lalu datang." Tutur Lyla. "Bukannya yang kau sukai hanya aku?" Lyla mengetukan jari-jarinya di pinggir meja. Entah kenapa mulutnya bergerak sendiri, untuk merangkai kata-kata yang tidak terpikirkan sebelumnya. "Sebenarnya dulu aku hampir terpikat dengan pria lain, dia Guru bimbel ku saat tahun terakhir SMA. Masih mahasiswa waktu itu, dia mengajar untuk anak SMP. Waktu itu dia membantu ku membenarkan rantai sepeda. Kau tahu? Senyumnya itu manis sekali, begitu pula dengan suaranya, sangat lembut dan halus. Sikapnya juga menyenangkan. Boyfriend material pokoknya." Ekspresi Christ berubah malas, saat kata-kata berentet yang mendekspresikan tentang pria itu keluar dari mulut Lyla. "Aku tidak peduli dia seperti apa. Jadi maksud mu kau mau kembali pendekatan padanya?" tanya Christ. "Tentu saja! Pria itu tidak boleh aku lewatkan. Dia sempat menghilang, makanya aku menyukai mu lagi. Tapi sekarang kembali, aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan berharga ini." Balas Lyla. "Bagaimana kalau dia menolak mu? Sama seperti aku menolak mu." "Hoiii, jangan salah, kami pernah hampir ciuman tau, waktu main ke taman wahana. Waktu itu dia belikan aku permen kapas, tapi satu dimakan berdua. Ya ampun, moment itu sangat manis. Hah, hanya saja Leon tiba-tiba datang dengan Kak Thomas sambil menangis. Kami memang main berempat waktu itu." "Paling kau duluan yang mencoba menciumnya." "Sialan! Ya tidaklah! Dia duluan yang mau melakukannya." "Hei, aku Direktur di sini! Jaga bicara mu!" "Iya, maaf." "Aku tahu sekarang kau mau bersikap seenaknya pada ku, tapi ini di kantor, aku atasan mu. Kalau di luar kantor, terserah kau mau bersikap seperti apa." "Oke, baiklah Pak," kata Lyla sambil memutar kedua bola matanya. Christ tiba-tiba bangkit berdiri, ia kemudian menggebrak meja sambil mencondongkan tubuhnya ke arah Lyla, yang membuat Lyla terkejut dan mematung. "Apa?!" seru Lyla. "Aku tahu kita sudah menikah, tapi pernikahan ini pekerjaan! Kau mengerti? Setelah semua kerja sama ini kau jadi kurang ajar pada ku. Bagaimanapun aku tetap atasan mu, aku Bos mu!" Lyla tidak bisa menjawab, fakta itu tidak bisa disangkal, karena memang benar. "Kau benci, kau marah, karena aku tidak membalas perasaan mu huh?" tanya Christ. "Tidak," balas Lyla dingin sembari membuang mukanya. "Lalu kenapa kau bertingkah kurang ajar pada ku? Kau bahkan berani meninggalkan meja mu padahal belum waktunya jam istirahat. Kau merasa status mu sebagai istri ku itu nyata? Itu hanya ada dalam mimpi mu!" Plak! Lyla tiba-tiba menampar Christ, sembari beranjak berdiri. "Aku minta maaf atas sikap kurang ajar ku setelah jadi istri mu, aku tahu aku salah. Aku seolah lupa kalau pernikahan ini hanya pekerjaan! Tapi tolong jaga kata-kata mu dan hormati aku meskipun sedikit! Bawahan juga harus dihormati!" kata Lyla sebelum melenggang pergi dari ruangan Christ. ••• Thomas menemui Lyla di mejanya, untuk mengajaknya makan siang bersama. Tapi ia malah menemukan Lyla sedang menenggelamkan wajahnya pada lipatan tangan di atas meja. "Hei, Lyla, hei, Lyla, dia si setan kecil. Yang jelek, yang pendek, dia sangat suka ngomel, tapi suramnya hari iniiii... karena setannya sedih! Yeah!" semua karyawan langsung menatap Thomas yang heboh bernyanyi sendiri. Thomas berusaha mengabaikan tatapan karyawan lain, kemudian mengguncang tubuh Lyla. "Lyla, bangun, kau kenapa? Ayo makan siang dengan ku." Kata Thomas. "Eunghhh, aku tidak selera makan." Balas Lyla. "Hei, apa aku belum bilang? William akan datang ke kantor kita jam makan siang ini." Kata Thomas. "Kau menyuruhnya ke kantor?" "Tidak, dia sendiri yang berinisiatif ingin datang. Dia bilang sangat ingin bertemu dengan mu, Elise dan Cora." Lyla terdiam sejenak, tidak langsung beranjak dari mejanya karena hendak berpikir. "Ayolah, apa lagi yang kau pikirkan?" tanya Thomas. Lyla menghela napas, sembari menegakan tubuhnya. "Kakak duluan, aku akan menyusul." Kata Lyla. "Baiklah, aku tunggu. Jangan lama-lama ya," kata Thomas sambil berlalu. Lyla menatap sejenak pantulan dirinya di layar gelap komputernya. Ia kemudian bangkit berdiri sembari melepas cincin pernikahannya dengan Christ, kemudian ia simpan di laci mejanya. ••• Lyla tertegun melihat seorang pria dengan tubuh jangkung, berkulit sedikit gelap, dan punya senyuman manis yang hangat tengah berdiri di depannya sambil tersenyum lebar. "Hai, Lyla, lama tidak bertemu. Wah, kau sudah dewasa, terakhir ketemu kau masih SMA." Ujar pria itu, yang tak lain adalah William. "Aku kan bertumbuh," kekeh Lyla. "Kakak kemana saja selama ini? Bahkan kau tidak pernah menghubungi ku." "Aku ke Amerika untuk belajar dan kerja, di sana aku ganti nomor dan sibuk dengan kehidupan baru. Maaf, aku tidak pernah menghubungi mu." 'Yah, sebenarnya wajar sih kau tidak pernah menghubungi ku, hubungan kita kan tidak sedekat itu.' "Tidak apa-apa Kak, kau sudah pesan sesuatu?" tanya Lyla. "Mau aku yang pesankan?" Thomas menawarkan bantuan. "Tidak usah repot-repot." Balas William. "Hei, tidak apa-apa. Kau mau makan apa? Biar aku yang pesankan, sekalian aku teraktir deh." William dan Lyla akhirnya memberitahu apa yang ingin mereka makan ke Thomas, sebelum akhirnya duduk di salah bangku kantin. Lyla tidak melihat keberadaan Elise dan Cora, mereka kemungkinan masih kerja, ada di pantry, atau makan siang di luar. Lyla belum lihat ponselnya lagi siang ini, mungkin mereka berdua sebenarnya memberi kabar. "Mungkin kau terkejut karena aku tiba-tiba menemui mu," kata William. "Eungh, sejujurnya iya." Balas Lyla sambil nyengir kecil. "Aku dipindah tugas ke sini lagi, dan teman-teman ku ternyata sudah banyak yang kerja di luar negeri juga, lalu aku teringat kau. Aku tidak bisa hidup nyaman di satu tempat kalau tidak ada yang aku kenali sama sekali. Aku sudah menemui beberapa teman-teman lama yang masih tinggal di sini, tapi aku rasa lebih bagus kalau lebih banyak teman lama yang aku temui. Maaf kalau membuat mu tidak nyaman." Celoteh William. "Tidak nyaman? Justru aku bersyukur bisa ketemu Kakak lagi. Kakak itu sangat baik, dan sejujurnya aku nyaman berteman dengan Kakak. Sayangnya waktu itu Kakak menghilang, padahal kita baru kenal sekitar setahun. Aku ingin kita jadi lebih dekat, tidak seperti dulu." Kata Lyla. "Aku harap begitu. Aku juga masih ingat dengan Elise dan Cora, kata Kakak mu mereka satu tempat kerja dengan mu?" Lyla menganggukkan kepala. "Iya, tapi aku tidak tahu mereka ada di mana sekarang. Mau aku hubungi mereka?" "Ahh, tidak perlu, nanti saja." Kata William. "Ngomong-ngomong aku terkejut waktu Kakak mu memberi tahu tempat kerja mu." "Memangnya kenapa?" "Ini kan kantor teman ku," Mata Lyla melebar. "Ya?" "Christ, kau pasti kenal. Dia Direktur sekaligus anak pemilik perusahaan ini kan? Satu-satunya orang yang masih kontak dengan ku saat di Amerika hanya dia. Karena kami berteman dari lama." "O-oh, jadi Bos kami itu teman mu?" William menganggukkan kepala sambil tersenyum lebar. "Wah, senangnya, teman-teman ku ada yang kumpul di satu tempat yang sama. Bagaimana kerja di sini? Apa Christ memperlakukan bawahannya dengan baik?" "Ya, tentu saja, dia Bos yang baik, meskipun agak dingin dan galak." Kata Lyla. "Dari dulu kalau menyangkut soal seperti belajar, atau pekerjaan, dia memang akan sangat serius. Tapi aslinya dia menyenangkan kok." Kata William. "Kakak tidak mau sekalian temui beliau?" tanya Lyla. "Tidak perlu, kita sudah janjian ketemu nanti malam. Dia bilang sekarang sibuk." Balas William. "Kakak tahu kalau dia sudah menikah?" Kening William bertaut. "Menikah? Dia tidak bilang apapun soal menikah. Hal sepenting itu seharusnya dia bilang pada ku." 'Dia tidak bilang pada sahabatnya sendiri? Yah, sebagian karyawan di sini juga tidak tahu sih. Jadi Christ mau merahasiakannya ya?' batin Lyla. "Hubungannya dengan Tania kan tidak direstui, dia bilang tidak akan menikah dengan siapapun kecuali Tania." Ujar William. "Oh, begitu ya?" respon Lyla. Suasana hatinya mendadak suram. "Dia bodoh. Tania tidak buruk sih, tapi dia tidak cocok dengan Christ." Kata William. "Ah, sudahlah, tidak usah membahas dia dengan pacarnya. Aku rasa kau jadi tidak nyaman." "Maaf, Kakak peka sekali." Kata Lyla sambil tersenyum simpul. "Tapi dulu aku tidak pernah melihat Kakak dengan Bos ku." "Dia memang tidak pernah main-main ke tempat bimbel, dia juga tidak mau sih kalau aku ajak main dengan anak perempuan." Kata William. "Padahal kau dan Elise setengah-setengah." Kekeh William. "Hah?! Setengah-setengah bagaimana?!" seru Lyla tidak terima. William dan Lyla mulai terlarut dalam obrolan yang menceritakan masa lalu mereka, sampai akhirnya Thomas datang dengan membawa makanan yang mereka pesan. Meskipun teman Christ, William jauh lebih humble dari pada Christ. Bahkan dia dengan cepat bisa akrab dengan Thomas. Padahal William bilang, dia takut ada di sebuah tempat yang isinya orang-orang yang tidak ia kenal. ••• Ting! Christ membuka pesan yang baru masuk dari seseorang dengan nama kontak 'William si Beruang.' Dia mengirim sebuah foto dengan pesan di bawahnya. Christ tentu saja terkejut melihat foto yang William kirim, dia berfoto dengan Lyla? From: William si Beruang Aku bertemu teman lama lagi. Namanya Lyla, dan aku juga sekarang akrab dengan Kakaknya. Mereka kerja di perusahaan mu, hahaha. Dunia sangat sempit. Dia anak perempuan yang pernah aku ceritakan dulu. Dia salah satu murid di tempat aku ngajar bimbel, yang rantai sepedanya copot, lalu menangis di pinggir jalan karena tidak ada yang bisa dimintai tolong. Dia sangat cantik sekarang, dulu juga sudah cantik sih, meskipun bar bar seperti temannya yang satu lagi. Aku sangat lega bisa mengumpulkan orang-orang yang dulu aku kenal di sini. Jadi tidak ada yang perlu aku khawatir kan. Christ mematung sambil menatapi layar ponselnya. Akh, benar, kenapa dunia sesempit ini? To: William si Beruang Hahaha, syukurlah. Kau jadi tidak perlu gelisah lagi selama di sini, dan bisa bekerja dengan baik. Lagian kau kan bisa cari teman baru padahal. From: William si Beruang Kau tahukan? Aku akan sulit beradabtasi kalau tidak ada orang yang aku kenal sama sekali ㅠㅠ. Meskipun aku sudah tua, hal itu tidak berubah. Ngomong-ngomong Lyla bilang tadi kau sudah menikah. Apa benar? Kau tidak pernah cerita apa-apa pada ku. Itu kan hal penting sekali. To: William si Beruang Itu hanya gosip. From: William si Beruang Oh, begitu ya? To: William si Beruang Kakak Lyla tidak cerita apa-apa? From: William si Beruang Tidak, kami malah lebih banyak menceritakan soal musik. Christ bernapas lega, tapi sekaligus terheran-heran. Dia pikir Thomas akan dengan semangat menceritakan adiknya yang bisa menikah dengan Direktur sepertinya. Tapi sepertinya, Lyla mau pun Thomas sama-sama tidak memandang jabatan sebagai sesuatu yang membanggakan. To: William si Beruang Lyla itu sudah menikah? From: William si Beruang Aku tidak tanya, tapi sepertinya belum. Dia tidak pakai cincin nikah. Tapi bisa saja sudah, terus cincinnya kelupaan ia lepas. 'Hah? Lyla melepas cincinnya?' Christ berdehem, sembari melonggarkan sedikit dasinya. From: William si Beruang Nanti malam kita jadi ketemu dan makan malam kan? Jangan bilang kau sibuk lagi  ㅠㅠ. Sudah dua hari aku di sini, kita belum ketemu sama sekali. To: William si Beruang Sejujurnya iya. Nanti malam aku ke rumah sakit untuk menjenguk Ayah ku. Kau tahukan dia stroke? Dan sekarang sedang perawatan. Maaf baru bilang. From: William si Beruang Hah, ya sudahlah. Kalau besok bagaimana? To: William si Beruang Nanti aku kabari lagi. ••• Lyla menguap lebar. Dia baru saja selesai mandi dan mengemas barangnya untuk pindah ke rumah Christ. Christ sampai saat ini belum pulang, sepertinya dia masih ada kerjaan, atau menemui William? Lyla pulang sendiri dengan taksi, dia tidak mau lagi pulang pergi dengan Christ. Baru saja ia memikirkan soal pria berkulit seputih s**u itu, Lyla tak lama mendengar suara mobilnya. Lalu disusul dengan suara pintu, kemudian kaki melangkah. Sampai akhirnya pintu kamar yang dibuka. "Kau tidak pakai cincin pernikahannya?"[]
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN