Lyla menatap Christ sambil bersungut dan memberi ekspresi menantang. "Memangnya kenapa kalau aku tidak pakai cincinnya?"
"Kau tanya kenapa huh?" geram Christ kesal.
"Kau juga tidak bilangkan ke sahabat terdekat mu kalau kau sudah menikah."
"Ya itu tidak penting!"
"Cincin itu juga tidak penting!"
"Tidak penting! Itu dari platinum dan berlian!"
"Tapi kalau aku pakai nanti aku jadi susah dapat pacar."
"Hei! Kau mau memacari sahabat ku?! Tidak boleh! Dia juga tidak akan menyukai mu!"
"Mana bisa tahu dia akan menyukai ku atau tidak, kalau aku saja belum melakukan apa-apa."
"Kau mau memacari sahabat suami mu sendiri, yang benar saja?! Gila itu namanya!"
"Hei, hei, ingat. Status kita hanya rekan kerja."
Christ seketika bungkam, dengan pipi yang tanpa sadar ia gembungkan. Pipi putihnya tampak memerah karena menahan kesal.
"Kau sendirikan yang waktu itu bilang, kita harus menghormati pernikahan, meskipun pernikahan kita ini hanya akan berlangsung setahun?" tutur Christ.
"Ya, memang. Tapi setelah aku pikir lagi , nanti aku sendiri juga yang rugi. Setelah cerai dengan mu, aku takut nanti akan kesulitan mencari pasangan secepatnya. Jadi lebih baik aku mencari pacar mulai dari sekarang. Kau juga bisa kembali ke pacar mu yang dulu itu kalau kau mau." Kata Lyla. "Atau kau tidak mau? Karena... mulai memikirkan aku?" Lyla mengedip-ngedipkan matanya genit pada Christ, yang membuat Christ merinding, dan otomatis memasang tampang geli.
"Kau itu terlalu percaya diri. Lihat saja, dia tidak akan menyukai mu." Cibir Christ.
"Kak William, bukan kau." Timpal Lyla.
"Kau memanggil William Kak? Hah, yang benar saja. Aku seumuran William, harusnya kau memanggil ku Kak juga." Kata Christ.
"Dari pada aku memanggil mu Kak, aku lebih senang memanggil mu Pak saja." Kata Lyla.
Christ tidak tahu harus membalas perkataan Lyla dengan apa lagi, Lyla sangat pandai bicara.
"Sekarang kita akan menemui orang tua ku, jadi kau wajib pakai cincin nikahnya." Kata Christ dengan nada tegas, berharap Lyla sedikit memasang ekspresi takut atau segan.
"Iya, aku tahu kok." Balas Lyla cuek, bahkan tanpa menatap ke arah Christ.
"Dasar bawahan kurang ajar." Gerutu Christ.
"Yang penting pekerjaanku bagus."
•••
Lyla tidur selama perjalanan ke rumah sakit. Karena jarak dari rumah sakit dan rumah itu cukup jauh, Christ berencana untuk menginap di hotel terdekat dari rumah sakit malam ini, lalu besok paginya baru pulang ke rumahnya.
Christ menyetel lagu dengan volume pelan untuk menemaninya menyetir, sesekali ia akan melirik Lyla, atau melirik tangan kanannya yang kini sudah terpasang cincin nikahnya kembali.
Bohong, kalau selama ini Christ tidak pernah memperhatikan Lyla. Meskipun dia hanya memberi perhatian dari jauh. Ada seorang gadis yang tiba-tiba menyatakan perasaan padanya, tentu saja membuat Christ sempat penasaran terhadap Lyla.
Dulu rambut Lyla itu warnanya hitam, bergelombang, dan mengembang. Panjangnya hanya sebawah bahu, dan poninya dipotong lurus, di atas alis. Christ berpikir itu terlihat lucu, apa lagi sesekali rambutnya sering dipasang pita warna-warni. Matanya kecil, hidungnya pesek, dan bibirnya tipis, suaranya juga bagus. Christ sempat menimang pernyataan perasaan Lyla, jujur saja.
Tapi ia langsung berubah pikiran, saat melihat tingkah asli Lyla. Kalau di depannya Lyla memang manis sekali, dan imut. Tapi di belakang, tingkahnya seperti Elise. Kalau ketawa kencang, sering teriak-teriak di kelas, lebih sering main dengan anak laki-laki, bahkan Christ pernah melihatnya bertengkar adu fisik dengan seorang murid laki-laki, yang dimana dia adalah Kakak kelasnya. Kalau menurut teman-temannya saat itu, tingkah Lyla begitu karena saudaranya laki-laki semua, dan Kakaknya, Thomas, adalah mantan Preman di sekolahnya dulu.
Meskipun tidak tahu rumor itu benar atau tidak, tapi sejak saat itu, Christ memilih tidak memedulikan Lyla lagi. Bukan berarti jadi benci, Christ bahkan tidak percaya -atau lebih tepatnya tidak peduli- kalau Thomas itu sungguhan mantan atau Preman atau bukan. Yang jelas Lyla bukan tipenya. Tipe Christ itu yang manis, imut, dan sexy. Jujur, itu persis Tania.
Lyla tiba-tiba bergumam dan membuka matanya perlahan. Ia melenguh pelan, sebelum mengangkat ke atas kedua tangannya untuk merenggangkan otot-ototnya.
"Sudah sampai belum?" tanya Lyla.
"Belum," balas Christ sembari membuang muka dari Lyla, dan menatap fokus jalanan.
Lyla menatap keluar jendela, ia melongo melihat pemandangan di luar. Banyak lampu kelap-kelip yang dipasang untuk menyambut musim dingin, natal sekaligus tahun baru.
"Hah, indahnya..." gumam Lyla. "Huwa, tidak terasa adik ku sudah besar. Biasanya menjelang natal aku akan sibuk memikirkan kado apa yang mau diberikan pada adik ku."
"Meskipun sudah besar, bukannya masih bisa dikasih hadiah ya?" tanya Christ.
"Leon tidak akan mau menerimanya. Tahun lalu dia bilang, kalau dia sudah kuliah tidak mau menerima lagi hadiah dari ku. Dia maunya hanya terima hadiah dari orang tua dan Kak Thomas saja." Balas Lyla.
"Kenapa begitu?"
"Dia bilang selama ini aku sudah bekerja keras, jadi tidak mau merepotkan. Huh, padahal aku tidak pernah merasa repot."
"Kalau begitu belikan hadiah untuk orang tua mu saja."
"Kau tahu? Aku pernah diomeli karena membelikan orang tua ku hadiah, menggunakan gaji pertama ku. Memang sih, sejak Ayah ku pensiun, aku yang jadi tulang punggung. Jadi mereka merasa aku tidak perlu membelikan mereka hadiah."
"Kak Thomas kan sekarang sudah menggantikan tugas mu, aku rasa tidak akan masalah kalau tahun ini kau memberikan semua anggota keluarga mu hadiah."
"Oh iya benar juga! Aku belikan mereka apa ya?"
Christ melirik Lyla yang masih terus menatap keluar jendela. "Kau sangat dekat dengan keluarga mu ya?" celetuk Christ.
"Aku rasa kita sudah pernah membahas ini." Ucap Lyla. Lyla akhirnya beralih dari jendela, jadi menatap Christ, ia bisa melihat raut wajah Christ yang berubah murung. "Ada sesuatu yang mengganggu perasaan mu?"
Christ tersentak mendengar pertanyaan Lyla, dan hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Oh, kau mau aku belikan hadiah juga?" tanya Lyla.
"Eh, yang benar saja? Memangnya aku anak kecil." Balas Christ.
"Kau sendiri yang bilangkan tadi? Meskipun sudah dewasa masih bisa dikasih hadiah."
"Tidak perlu, aku tidak butuh."
Lyla mengerucutkan bibir. "Ya sudah," gumam Lyla.
Untuk beberapa saat Christ dan Lyla hanya terdiam. Lyla kembali melihat ke arah luar jendela, sementara Christ terlarut dengan pikirannya sendiri.
"Aku... sebenarnya hanya sekali menerima kado natal dari orang tua ku, waktu umur ku 8 tahun, itu yang pertama sekaligus terakhir. Ah, sebenarnya kado itu bukan dari orang tua ku sih, tapi dari Ibu ku. Ibu kandung ku."
Lyla yang sebelumnya sudah bertekad hanya mau melihat ke luar jendela, terpaksa kembali berbalik untuk menatap Christ.
"Maksud mu?" tanya Lyla.
"Ibu ku yang sekarang bukan Ibu kandung ku. Dia Ibu tiri ku." Balas Christ, Lyla tertegun dan tidak memberi respon apapun karena terkejut. "Hah, tolong ya, jangan jadi mengasihani aku. Ibu ku memang sudah meninggal, tepat di akhir tahun."
Christ menutup mulutnya, entah kenapa matanya tiba-tiba memerah dan berkaca-kaca. Lyla menepuk pelan pundah Christ.
"Tidak usah cerita kalau kau tidak sanggup menceritakannya." Kata Lyla.
"Tidak! Aku bisa kok menceritakannya."
Lyla akhirnya diam, menatap Christ, untuk menantikan kelanjutan ceritanya.
"Ibu ku meninggal salah ku, itu semua salah ku. Aku main dengan teman-teman ku sampai larut untuk menyambut tahun baru, tanpa izin aku main ke rumah teman ku yang jaraknya jauh, Ibu mencari ku sendirian, karena Ayah sibuk kerja dan tidak peduli. Ibu melewati jalanan yang sepi, dan yah, kau bisa menebak apa yang terjadikan?"
"Di-dia dirampok?" tebak Lyla hati-hati.
Christ tidak menjawab. Tapi diamnya menjawab tebakan Lyla, kalau itu benar.
"Itu bukan salah mu, siapa juga yang menyangka itu akan terjadi?" tutur Lyla.
"Itu salah ku, semua orang bilang begitu. Harusnya aku izin waktu pergi." Balas Christ. "Aku sangat bodoh dan jahatkan? Iyakan?"
"Kau lebih bodoh dan jahat kalau masih merasa bersalah dan menyesal seperti itu. Meskipun kau merasa menyesal sampai gila pun, itu tidak akan merubah apapun. Maaf ya kalau bicara ku kasar, aku tidak bisa menyampaikan sesuatu dengan lembut. Aku akui kau memang salah, dan caranya menyesali perbuatan mu adalah jangan terus menyesal, dan ambil pelajaran dari apa yang sudah terjadi." Tutur Lyla.
"Jadi kau kasar pada Ibu mu, karena dia tiri ya?"
Christ mendengus. "Ya. Dia hanya Ibu tiri, tapi suka terlalu ikut campur urusan ku. Aku menerimanya kok sebagai pengganti Ibu, tapi kadang dia menyebalkan."
"Dia mungkin terlalu khawatir," ucap Lyla. "Apa hadiah yang Ibu kandung mu berikan?"
"Waktu itu Ibu ku baru belajar jahit, dia menjahitkan aku coat. Tapi lengan di bagian ketiaknya terlalu kecil, jadi ketiak ku terjepit setiap memakainya. Aku tidak pernah bilang tentang itu pada Ibu, takut melukai hatinya. Jadi kadang-kadang tetap aku pakai di depannya."
"Wah, kau anak yang baik ya?" kekeh Lyla.
"Kau memuji atau meledek?" tanya Christ sambil melirik Lyla yang sedang tersenyum lebar padanya.
"Aku memuji mu." Ucap Lyla. Ia kemudian menatap keluar, dari jendela depan. "Aku jadi ingin punya Putra yang menyayangi ku seperti kau menyayangi Ibu mu."
"Tapi jangan sampai Putra mu merasakan apa yang aku rasakan." Kata Christ.
Lyla memukul pelan bahu Christ. "Aku akan hidup sampai punya cucu!"
"Coat yang dijahitkan Ibu ku masih ada, kalau untuk ukuran anak perempuan, sebenarnya itu masuk. Maksud ku bagian ketiaknya tidak akan terlalu menjepit." Ujar Christ.
"Kalau begitu kau nanti akan program punya anak perempuan?" tanya Lyla.
Christ menganggukkan kepalanya. "Mungkin,"
"Aku ingin cepat menikah sungguhan, dan punya anak." Ucap Lyla sembari memejamkan matanya, dan menyatukan kedua tangannya di depan d**a.
Christ melirik Lyla sekilas yang sepertinya sedang berdoa, dan tidak memberi respon apapun.
•••
"Kita tidak bawakan sesuatu untuk Ayah mu?" tanya Lyla, sesaat setelah mereka sampai di rumah sakit.
"Tidak usah, kita datang saja juga Ayah dan Ibu sudah senang." Jawab Christ.
"Ck, kau ini jangan dingin-dingin dong dengan orang tua mu."
"Hei, kau tidak tahu sih kalau Ayah ku selama ini juga tidak pernah perhatian pada ku. Padahal kalau dia sakit, minta perhatian."
Lyla berdecak sembari menggelengkan kepalanya.
Saat mereka sedang berjalan hendak memasuki rumah sakit, langkah Lyla terhenti karena melihat seorang anak laki-laki yang sedang jalan mondar-mandir di depan gedung rumah sakit, sambil membawa beberapa tangkai bunga mawar yang sudah dibungkus plastik dengan corak-corak kecil, lalu dihias dengan pita.
Lyla menarik lengan baju Christ, untuk menghentikan langkah pria itu.
"Kenapa?" tanya Christ.
"Aku mau beli bunga untuk Ayah, kau tunggu di sini ya?"
"Ck, untuk apa?!" kata Christ dengan nada tak senang.
"Kok tanya untuk apa? Kan aku sudah bilang untuk Ayah mu. Jangan begitu pada Ayah mu, dia mungkin tidak perhatian pada mu, tapi kalau kau juga tidak mau memberi perhatian pada Ayah mu, berarti kau sama saja seperti Ayah mu."
"Akh! Kau tidak mengerti!"
"Kalau Ayah mu tidak perhatian pada mu, dia tidak akan memberi mu apa yang kau butuhkan kan? Atau dia sudah membuang mu. Mungkin caranya menyayangi mu memang beda."
"Sudahlah, terserah! Dasar keras kepala!"
"Aku akan tetap beli bunga, kalau kau mau duluan, duluan saja. Maaf sudah membuat mu marah." Kata Lyla sebelum pergi.
Christ menatap punggung Lyla yang menjauh. Ia kemudian masuk ke dalam rumah, Christ benar-benar tidak mau menunggu Lyla.
•••
Ibu Christ langsung menyambut kehadiran Lyla, begitu Lyla tiba. "Ah, Lyla, akhirnya kau datang. Kau dari mana saja?"
Lyla nyengir, kemudian menyodorkan beberapa tangkai yang ia bawa pada Ibu.
"Maaf aku terlambat, Christ melupakan bunganya di mobil." Christ, maupun Ayah dan Ibu terkejut mendengar perkataan Lyla.
Christ hampir membuka mulut untuk menyanggah, tapi melihat ekspresi Ayahnya yang tampak senang, entah kenapa membuat Christ tidak tega untuk berkata yang sebenarnya.
"Ah, benarkah bunga ini dari Christ?" kata Ayah, dengan nada suara yang tidak jelas, namun tetap dapat dimengerti.
"Iya benar. Tapi Christ lupa membawanya karena buru-buru masuk." Kata Lyla.
Lyla awalnya tidak berpikir untuk bohong seperti ini, tapi sepertinya Christ pun tidak menceritakan, kenapa dirinya bisa terlambat datang. Jangan-jangan Christ selama di sini malah tidak bicara apapun. Untungnya Lyla sudah merangkai ulang bunganya, meskipun seadanya. Jadi tidak sama persis dengan bunga yang dijual anak di depan rumah sakit.
"Biarkan aku memegangnya," kata Ayah sembari mengulurkan satu tangannya pada Ibu.
Ibu pun dengan senang hati memberikannya pada Ayah. Ayah tersenyum senang.
"Terimakasih Christ," ucap Ayah.
"I-iya sama-sama, aku harap Ayah suka." Kata Christ kikuk.
"Tentu saja Ayah suka, suka sekali! Padahal Ayah jarang memperhatikan mu, tapi kau tetap perhatian begini pada Ayah, Ayah jadi merasa bersalah."
"Ah, Ayah, jangan menangis." Kata Ibu saat melihat mata suaminya yang berkaca.
Christ hanya mampu terdiam sembari menundukkan kepalanya.
Selama di rumah sakit, yang paling banyak mengajak bicara orang tua Christ adalah Lyla. Bahkan saat Lyla membicarakan hal tidak penting sekalipun, itu tetap menjadi pembahasan yang menyenangkan bagi Ayah dan Ibu Christ.
"Ayah dan Ibu ku sangat suka mengulang-ngulang cerita waktu Kakak ku kabur dari rumah karena merajuk dengan Ayah dan Ibu." Ujar Lyla.
"Waktu itu Kakak mu umur berapa?" tanya Ibu.
"Umur 10 tahun. Dia minta dibelikan mainan, tapi Ibu bilang tunggu sampai dapat uang tahun baru. Kak Thomas tidak sabar, Ayah akhirnya menyuruh Kak Thomas menabung saja, tapi Kakak malah makin marah lalu kabur dari rumah. Tapi belum ada beberapa menit pergi, Kak Thomas balik lagi sambil lari-lari minta tolong pada Ayah, karena dikejar anjing galak." Ayah dan Ibu tertawa mendengar cerita Lyla, sementara Christ hanya diam.
"Christ juga pernah kabur saat pernikahan Ayah dan Ibu." Kata Ibu tanpa sadar, ia baru tersadar sudah salah bicara, saat Ayah memegang tangannya.
Sepertinya Christ tidak suka kalau membahas masalah ini. Lyla melirik Christ, yang rahangnya tampak mengeras. Tapi tiba-tiba Christ tersenyum, meskipun ketara sekali kalau terpaksa.
"Ah iya benar, aku waktu itu kabur, dan menginap di rumah teman. Rasanya sangat disayangkan aku jadi melewatkan pesta." Kata Christ sambil terkekeh pelan. "Tapi untungnya dua hari kemudian aku berhasil ditemukan, dan Ibu menjanjikan aku es krim."
"Lalu kau mau pulang?" tanya Lyla.
"Iya, aku akhirnya mau pulang." Balas Christ.
"Huaaa, membayangkan Christ kecil merajuk dan minta es krim, pasti lucu sekali." Kata Lyla sambil tertawa kecil.
"Iya, dulu Christ sangat lucu. Dalam beberapa kondisi, meskipun sudah dewasa, Christ juga bisa tetap terlihat lucu." Timpal Ibu.
Tak terasa malam sudah semakin larut, Christ dan Lyla pun harus segera pulang untuk istirahat, dan kembali besok untuk kerja.
"Kalian yakin tidak mau bulan madu?" tanya Ibu, sebelum Christ dan Lyla pamit.
"Sudah aku bilangkan, banyak kerjaan. Mungkin nanti saja saat libur tahun baru." Balas Christ.
"Ya sudah, jadi tiket yang kemarin Ibu berikan hangus dong." Kata Ibu.
"Makanya untuk apa Ibu beli, padahal belum bilang dulu pada ku." Kata Christ.
"Teman-teman ku mungkin mau Bu, tidak apa-apakan kalau aku berikan pada mereka?" tanya Lyla.
"Tidak apa-apa, asal benar-benar dipakai. Sayangkan sudah beli-beli." Kata Ibu.
Lyla tersenyum. "Terimakasih Bu,"
"Kalau begitu kami pergi sekarang, sudah malam sekali." Pamit Christ.
"Iya, hati-hati." Pesan Ibu.
"Ibu dan Ayah juga selamat istirahat." Ucap Lyla.
•••
Christ dan Lyla memesan kamar yang berbeda saat di hotel, tapi kamar mereka berhadapan. Lyla langsung membaringkan tubuhnya di kasur begitu sampai di hotel, sementara Christ memesan makanan serta bir terlebih dahulu sebelum tidur.
Dia butuh sesuatu untuk menenangkan pikiran serta perasannya.
Senyuman Ayahnya yang tampak bahagia setelah menerima bunga pemberian Lyla, terus terngiang di benaknya.
Dan kenapa ada orang seperti Lyla? Dia benar-benar baru tahu ada seseorang yang seperti Lyla di dunia ini. Imej Lyla di matanya yang bar-bar langsung hilang, terganti dengan imej, kalau Lyla itu orang yang sulit ditebak.
"Dia itu berusaha memperbaiki hubungan ku dengan orang tua, atau bagaimana? Cih." Monolog Christ sendiri, sebelum meneguk birnya.
"Dia pikir dia bisa melakukan itu apa?"
Satu, dua, sampai tiga botol berhasil ia habiskan. Dan saat akan botol keempat, Christ sudah tidak sanggup. Pada dasarnya Christ tidak begitu kuat terhadap alkohol, dan sekarang minum lebih banyak dari biasanya.
Batas maksimal Christ minum alkohol hanya dua botol. Christ akhirnya mengurungkan niatnya untuk membuka botol yang ke empat. Ia membaringkan tubuhnya di kasur, karena kepalanya yang terasa sangat berat.
Awalnya Christ ingin langsung tidur, tapi meskipun dia sudah menutup matanya, dia tidak kunjung pergi ke alam mimpi.
Christ tiba-tiba bangkit berdiri, kemudian bergegas keluar dari kamarnya.
Tok, tok, tok. Lyla yang sebelumnya sudah tidur, terpaksa bangun karena mendengar pintu kamarnya diketuk.
"Aduh, siapa sih?" gerutu Lyla sembari bangkit dari ranjangnya, dan bergegas hendak membukakan pintu.
Cklek. Kening Lyla mengernyit, dengan salah satu alis terangkat melihat Christ berdiri di depan pintu kamarnya, dengan bahu yang turun, dan wajahnya yang tampak kusut. Bau alkohol menguar dari tubuhnya.
"Aduh, kau baru minum ya? Berapa banyak? Kau sampai jadi bau begini." Kata Lyla sembari mengibaskan tangannya di depan wajah. "Kenapa kau ke sini? Mimpi buruk?"
Christ tidak menjawab semua rentetan pertanyaan Lyla, ia menundukkan kepalanya sejenak, dan tiba-tiba Lyla dapat mendengar suara isakan tangis dari Christ.
"Hiksh, kenapa kau melakukan itu?" tanya Christ.
"Melakukan apa?"
"Kau tidak perlu berusaha memperbaiki hubungan ku dengan orang tua ku."
"Aku tidak berusaha begitu kok. Aku hanya ingin membuat mereka senang. Melihat Ayah mu tampak senang menerima bunga dari ku, yang aku bilang dari mu, membuat ku tahu kalau kebahagiaan mereka adalah kau. Hanya saja hati mu sudah membatu untuk memaafkan mereka."
"Kau tahu tidak? Betapa sedihnya aku saat melihat anak lain yang orang tuanya datang saat kelulusan mereka? Aku sendirian. Aku pikir tidak apa-apa karena ada teman, tapi teman-teman ku juga sibuk dengan orang tua dan keluarga mereka."
Lyla diam. Dia jadi ingat waktu melihat Christ berdiri sendirian di depan pintu gerbang sekolah, saat hari kelulusannya di SMA. Dia tidak menyangka waktu itu orang tua Christ memang tidak datang, dia pikir Christ hanya sedang apa di situ. Bahkan dia tidak memegang buket bunga, seperti teman-temannya yang lain.
"Dari aku sekolah dasar sudah begitu. Kalau anak lain sedih dapat nilai buruk, aku malah senang, karena aku pikir Ayah mungkin akan marah pada ku. Tapi dia bahkan tidak pernah tahu berapa nilai ku di sekolah."
"Giliran aku berkencan dengan Tania, yang Ayahnya seorang pengguna n*****a, baru Ayah meladeni ku. Itu juga demi nama baik keluarga." Christ kemudian berdecih sinis. "Ayah tidak pernah memikirkan aku."
"Kau pasti dengar kalau Ayah mu merasa bersalah." Ucap Lyla sembari memegangi lengan Christ. Christ tidak menjawab, ia mengedarkan sejenak pandangannya kearah lain, sebelum menatap Lyla.
Lyla bisa melihat mata Christ yang berkaca-kaca. Lyla maju selangkah mendekati Christ, sebelum merengkuh pria itu. Ia menepuk-nepuk bahu Christ pelan, dan sesekali mengusap punggungnya.
Christ membalas pelukan Lyla dengan erat sembari memejamkan matanya.
Untuk beberapa saat mereka berpelukan, sampai akhirnya Lyla dapat mendengar dengkuran halus Christ. Lyla sedikit terkejut. Bisa-bisanya Christ tidur dengan posisi berdiri.
Lyla akhirnya membawa Christ ke kamarnya, dengan cara diseret, sementara ia berjalan mundur. Sepertinya mereka akan tukar kamar.
Setelah Lyla membaringkan Christ di kasur, Lyla langsung hendak pergi ke kamar Christ. Tapi Christ tiba-tiba terbangun, dan meraih ujung baju Lyla.
"Aku suka... aroma rambut mu." Ucap Christ dengan nada lirih. "Di sini saja, aku tidak mau sendirian, aku tidak suka sendirian."[]