Hangat, nyaman, empuk, ugh, Christ jadi enggan untuk bangun dan menjalani aktifitas hari ini. Apa lagi semalam dia terlalu banyak minum alkohol, jadi kepalanya pusing sekarang.
Apa Christ sekarang ada di surga? Ah, kalau begitu tandanya dia sudah mati dong.
Entahlah dia ada di mana sekarang, yang jelas Christ saat ini merasa nyaman, damai, seperti ada seseorang yang sedang melindunginya, dan berusaha menghiburnya dari rasa sedih yang mengungkung dirinya semalam.
Christ tersenyum sembari mengeratkan pelukannya pada pinggang seseorang.
Tunggu, tunggu, pinggang?
Christ seketika membuka matanya. Ia mengangkat kepalanya, kemudian mendongak. Matanya seketika melebar melihat Lyla yang sedang tidur dengan nyenyaknya. Sementara ia memeluk pinggangnya, dan tadi menjadikan d**a Lyla bantal.
Christ langsung bangkit duduk sembari menutup mulutnya.
'Kenapa aku tidur di sini?' batin Christ.
Lyla tak lama melenguh, sembari merubah posisi tidurnya.
"Kakak... kaos kaki Kakak ada di kolong..." Christ melirik Lyla yang baru mengigau. "Jeong... jangan khawatir... kamu tetap bisa makan nanti... di sana... iya... Kakak akan cari uang yang banyak. Kuliah saja yang benar."
"Kak... kalau nakalin Leon, celana Kakak yang bolong akan aku gantung di pohon."
Christ diam, dan tanpa sadar malah mendengarkan dengan seksama setiap igauan yang keluar dari mulut Lyla. Bahkan saat ada jeda, dia menunggu.
"Ayah... aduh, kenapa minum teh manis begini? Aku sudah beli gula aren."
"Ibu, masker wajah yang kemarin aku beli kenapa tidak dipakai? Ibu bilang kulit Ibu bermasalah."
"Sepertinya kau yang paling diandalkan di keluarga mu ya? Kau mengurus mereka semua dengan baik." Celetuk Christ tanpa sadar.
"Christ jangan sedih... Ayah dan Ibu mencintai mu... hanya saja mereka tidak tahu." Christ tersentak, saat ia masuk ke dalam racauan Lyla. Meskipun tidak jelas, Christ tetap dapat menangkap maksud perkataannya di akhir.
'Mereka mencintai mu, hanya saja mereka tidak mengerti bagaimana cara menunjukkannya.'
Christ menghela napas. Ia kemudian melirik jam tangannya. Sudah jam 5 pagi, masih ada waktu untuk tidur sampai beberapa jam lagi. Tapi mau kembali ke kamarnya sendiri rasanya malas.
Christ akhirnya membaringkan tubuhnya di samping Lyla, yang posisi tidurnya kini memunggunginya.
Dua hari tidur sekamar dengan Lyla. Christ jadi tahu Lyla suka mengigau saat tidur. Tapi sepertinya hanya saat dia kelelahan. Waktu sehabis pernikahan, dan tragedi teh, malamnya Lyla ngigau saat tidur.
Tapi malam berikutnya saat aktifitas tidak padat, Lyla malah tenang saat tidur.
Sekarang gadis itu sudah tidak mengigau lagi. Hanya sesekali bergerak, mencari posisi nyaman.
Tangan Christ tanpa sadar terulur untuk menyentuh rambut Lyla. Entah kenapa dari semua hal, rambut Lyla adalah yang paling menarik perhatiannya.
Christ kemudian memejamkan matanya, sembari tetap memegangi rambut Lyla.
•••
"Akkhhhh! Kenapa kita tidur satu kasur?!" Christ jadi terbangun karena mendengar teriakan Lyla. Dengan susah payah Christ membuka matanya, kemudian melihat Lyla yang sedang duduk ditepi ranjang, sambil meletakan kedua tangannya di sisi kepalanya.
"Kenapa sih harus ribut pagi-pagi? Aku juga tidak melakukan apapun pada mu." Kata Christ sembari mengangkat tangannya ke atas, untuk merenggangkan ototnya.
"Lagi pula harusnya aku yang tanya, kenapa aku ada di kamar mu?" tanya Christ.
"Kau mabuk, lalu datang ke kamar ku sambil menangis. Setelah itu kau ketiduran. Aku mau tidur di kamar mu, tapi kau menahan ku." Cerita Lyla.
"Hhmmm, kenapa aku melakukan itu ya?"
"Karena kau kurang kasih sayang." Celetuk Lyla sambil terkekeh, yang membuat Christ berdecak.
Christ pun bangkit duduk dan kembali merenggangkan otot-ototnya, bahkan sampai berbunyi.
Christ sebenarnya sudah ingat sedikit, memorinya saat mabuk semalam. Dan jujur dia sedikit malu mengingat dirinya yang menangis, dan dipeluk oleh Lyla. Ditambah permintaannya agar Lyla tidak meninggalkan dirinya.
Pipi putihnya sontak saja memerah.
"Sebelum pulang aku ingin berenenang..." kata Lyla sambil mengucek mata.
"Kenapa tiba-tiba?" tanya Christ.
"Dari awal datang ke sini aku sudah tertarik dengan kolam renangnya, cantik sekali. Terus aku dengar banyak pria dari luar negeri sedang berlibur, mungkin sajakan aku bertemu seseorang yang tipe ku dan masih single."
"Sekalipun masih single dia tidak akan mau dengan mu."
"Ahh, kau ini, kenapa bilang begitu terus sih? Cemburu ya?"
"Huh? Cemburu? Ya Tuhan, aku tidak buta dan bodoh. Mana mungkin aku suka wanita bar-bar seperti mu."
"Aku tidak bar-bar! Aku tuh cantik dan anggun seperti Putri." Kata Lyla sambil berpose centil.
Christ merespon dengan membuat gesture hendak muntah, sampai pura-pura batuk segala, membuat Lyla mengerucutkan bibirnya.
"Ah, sudahlah, aku mau berenang pokoknya!" kata Lyla sembari turun dari ranjang.
"Jangan lupa bersihkan kotoran di mata mu sebelum pergi! Tanpa kotoran di mata dan air liur saja pria-pria itu mungkin sudah tidak tertarik, apa lagi kalau ada, hahaha. Mereka mungkin jadi ingin menenggelamkan mu." ledek Christ, tapi tidak Lyla hiraukan.
Namun tak lama tisu toilet melayang dari kamar mandi, dan mendarat di atas kepala Christ.
•••
Lyla pergi berenang, sementara Christ pergi ke gym. Kalau sudah begini terpaksa Christ izin tidak masuk kerja sehari.
Sudah terlambat juga untuk pergi bekerja.
Karena Lyla tidak punya baju renang maupun bikini, jadi Lyla hanya pakai celana pendek selutut warna hitam, dan kaos oblong warna abu-abu.
Dia tahu dengan penampilannya yang seperti itu dia tidak akan bisa menarik perhatian siapapun. Yah, lagi pula sebenarnya dia hanya bercanda pada Christ kalau mau mencari pria bule.
Lokasi tempat gym dan renang bersebelahan, ditambah ruangan gym terbuat dari kaca. Jadi Christ bisa melihat Lyla dari dalam tempat gym.
Awalnya Christ berusaha tidak memedulikan Lyla, dan ingin fokus olah raga saja. Tapi dia melihat Lyla melompat dari ketinggian sebelum menceburkan diri ke air, membuat Christ otomatis was-was, dan mau tidak mau memantau Lyla diam-diam.
Lyla punya berbagai cara untuk masuk kolam renang. Berputar-putar dari pinggir, gaya batu, menerjunkan diri dengan posisi menyamping, dan terjun dari ketinggian adalah yang paling sering dia lakukan.
Mungkin Lyla tidak sadar, dia sudah membuat suasana kolam renang di pagi hari jadi gaduh. Orang-orang hanya memilih jalan-jalan di pinggir kolam, karena cuaca juga sedang lumayan dingin dan tidak cocok untuk berenang, apa lagi di pagi hari begini.
Jadi yang berenang hanya Lyla, dan segelintir orang yang sangat sedikit.
Christ berdecak sembari menggelengkan kepalanya melihat tingkah Lyla. "Memang tidak waras," gumam Christ.
Di sisi lain, Lyla sama sekali tidak sadar kalau Christ ada di tempat gym dan sedang memantaunya. Kalau sudah berenang dia akan lupa segalanya, bahkan untuk tubuhnya yang sudah membeku sekalipun.
Saat hendak terjun lagi ke kolam, Lyla tiba-tiba mendengar ada yang berteriak-teriak di tengah kolam.
"Tolong saya! Kaki saya!"
Lyla untuk beberapa saat terdiam. Dia mengernyitkan kening, dan menyipitkan matanya untuk memperjelas penglihatannya, pada sumber suara teriakan itu. Ada seorang pria dengan rambut pink keunguan yang tampak sedang meminta tolong.
Menyadari situasinya gawat. Lyla akhirnya mengurungkan niatnya untuk kembali beratraksi. Dia masuk ke dalam kolam, dan berusaha secepatnya menghampiri pria itu.
Christ yang padahal sedang fokus mengangkat barbel, mendengar orang-orang di sekitarnya ribut sambil mendekat ke arah jendela yang mengarah ke kolam, akhirnya jadi panik. Dia pikir ada apa-apa dengan Lyla, mengingat bagaimana cara berenang gadis itu yang bar-bar.
Samar-samar ia mendengar orang-orang bicara kalau ada yang tenggelam.
Christ langsung meletakan barbelnya, dia tidak memastikan terlebih dahulu apa yang sebenarnya terjadi dari tempat gym. Karena jendela yang mengarah ke kolam juga sudah dipenuhi orang.
Sambil mengelap keringatnya menggunakan handuk kecil yang ada di lehernya, Christ berusaha berjalan secepat mungkin ke kolam renang.
Dan sesampainya di sana, langkahnya terhenti melihat Lyla sedang bersusah payah membopong seseorang ke pinggir kolam. Christ pun berlari menghampiri.
Dia lega melihat Lyla tidak apa-apa, sekaligus khawatir melihat pria yang tampak sudah tidak sadarkan diri.
Christ mengulurkan kedua tangannya ke arah Lyla setelah ia berjongkok di pinggir kolam, bermaksud menyuruh gadis itu menyerahkan pria itu ke tangannya. Lyla pun segera menyerahkan pria yang dibopongnya pada Christ, agar dia dibawa keluar dari kolam.
Setelah Christ berhasil meraih tubuhnya, dan mengeluarkannya dari kolam. Christ pun membaringkannya di pinggir.
Lyla tak lama menyusul keluar dari kolam, dan berjongkok di samping pria itu.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Christ.
"Aku tidak apa-apa," balas Lyla, sambil meletakan kedua tangannya di atas d**a pria itu, bermaksud untuk mengeluarkan air yang mungkin saja tertelan.
Tapi pria itu tidak bereaksi.
"Aduh bagaimana ini?" gumam Lyla gelisah.
Ia kemudian merundukkan tubuhnya untuk memberi pria itu napas buatan. Christ terkejut melihatnya, dan langsung menahan Lyla.
"Apa sih?! Dia bisa mati ini!" seru Lyla.
"Tap-" Lyla menepis tangan Christ yang memegangi bahunya, dan tetap memberi pria itu napas buatan.
"Uhuk! Uhuk!"
Lyla seketika tersenyum puas, begitu pria itu batuk sambil mengeluarkan air, dan tak lama ia membuka matanya.
"Hah, syukurlah..." ucap Lyla.
•••
"Terimakasih banyak sudah menolongku. Aku tidak bermaksud berenang tadi, jadi tidak pemanasan dulu, dan akhirnya kakiku kram, ahh, pokoknya kejadiannya konyol. Aku tadi terpeleset, aku pikir tidak masalah deh berenang sekalian. Ahh, malah kejadiannya begini." Tutur Felix, orang yang tadi Lyla tolong.
"Sama-sama, yang penting sekarang kau sudah selamat. Lain kali tolong lebih hati-hati." Kata Lyla sembari tersenyum.
Felix menganggukkan kepalanya, dan ikut tersenyum.
Christ sedari tadi tidak bicara sama sekali. Padahal saat ini mereka sedang diajak sarapan oleh Felix.
"Yang di samping Kakak suami Kakak?" tanya Felix.
"Bukan, dia hanya teman." Balas Lyla.
"Oh, tapi kalian pakai cincin." Kata Felix.
"Ini hanya cincin biasa kok." Kata Lyla sambil melepas cincin nikahnya, yang membuat Christ melotot, dan makin mengunci rapat mulutnya.
Selagi Lyla dan Felix sibuk bercengkrama sembari sarapan, Christ hanya diam. Dia juga hanya minum kopi, dan menyantap sarapannya sangat sedikit.
"Aduh, kenapa makan mu sedikit? Semalam kan kau minum alkohol, kau harus supnya." Kata Lyla saat Felix sedang pergi sebentar untuk memesan minuman lagi. Lyla lalu mendorong pelan mangkuk berisi sup taoge ke arah Christ.
"Aku sudah tidak lapar. Sekarang sudah hampir siang, aku rasa kita harus segera pulang." Kata Christ sambil beranjak berdiri.
"Ah, nanti saja. Kita juga sudah izin tidak masuk kan hari ini? Aku masih mau mengobrol dengan Felix."
"Kita pulang sekarang!" bentak Christ tiba-tiba, yang membuat Lyla kaget dan mematung untuk beberapa saat.
Sadar dirinya tidak sengaja berteriak, Christ langsung pergi begitu saja meninggalkan Lyla, tanpa memaksa gadis itu untuk ikut dengannya.
•••
Lyla melirik Christ yang sedang menyetir. Dari sarapan tadi sampai sekarang, Christ terus diam dan tidak buka mulut sama sekali.
Lyla sampai tidak berani mengunyah keras-keras snack yang sedang ia makan, takut Christ makin marah.
Ternyata begini toh, kalau Christ marah. Hanya diam, rahangnya jadi mengeras, dan aura di sekitar jadi terasa tidak enak.
Lyla memeluk kaleng snack rasa coklatnya, sambil menoleh keluar jendela. Omong-omong snack itu pemberian Felix sebagai ucapan terimakasih.
Felix itu imut sekali, batin Lyla. Sayangnya jauh lebih muda, hanya beda setahun umurnya dengan adiknya.
"Kau tidak ingin mengatakan sesuatu?" celetuk Christ, yang membuat Lyla tersentak.
Lyla akhirnya menolehkan kepalanya ke arah Christ, yang tetap fokus menyetir.
"Mengatakan apa? Bukannya harusnya aku yang bilang begitu?"
Christ berdecak. "Perilaku mu tadi, apa-apaan?" protes Christ.
"Perilaku yang mana?" tanya Lyla bingung.
"Kau tanya yang mana?!" seru Christ yang membuat Lyla otomatis menundukkan kepala, karena kaget sekaligus takut.
"Memberi napas buatan ke sembarangan orang, padahal aku saja yang melakukannya tadi! Diakan pria!"
Lyla seketika mengangkat kepalanya, dan menggembungkan sebelah pipinya.
"Ya ampun Christ, kau cemburu, jadi kau suka Felix? Lalu bagaimana dengan Tania?!"
Christ tertegun, kemudian menepuk keningnya mendengar perkataan Lyla.
"Ah, sudahlah, lupakan." Kata Christ.
"Kalau kau memang suka dengan Felix kenapa tadi malah pergi? Kau bahkan tidak pamit sama sekali padanya. Felix memang manis sih, tapi dia bilang dia sudah punya pacar. Kau kan juga sudah punya Tania." Oceh Lyla.
"Hei, aku masih suka wanita!"
"Ya terus apa yang membuat mu marah? Kau tidak mungkin marah karena cemburu pada Felix kan?"
Christ seketika bungkam. 'Iya ya, aku marah kenapa?' batin Christ.
"Oh, atau kau memang cemburu pada Felix? Kau mau aku cium? Sini aku cium, mumumu..." Christ menyentil kening Lyla saat gadis itu dengan lancangnya mencondongkan wajah ke arahnya, sambil memajukan kedua bibirnya.
"Aku hanya terkejut kau melakukan itu ke sembarangan orang."
"Melakukan itu apa? Aku kan hanya memberi napas buatan, bukan menciumnya. Jangan kekanakan deh. Dia bisa saja mati kalau aku hanya mencoba menekan dadanya."
Christ menggembungkan pipinya. "Ya sudahlah, tidak usah dibahas lagi."
"Kau mau?" tawar Lyla sembari menyodorkan satu buah snack ciki dengan rasa coklat itu pada Christ.
Christ membuka mulut, dan membiarkan Lyla memasukan ciki itu ke dalam mulutnya. Mereka melakukannya secara tidak sadar, itu hanya refleks.
Tapi saat Lyla mau menyuapi Christ untuk yang kedua kalinya. Mereka baru sadar apa yang sudah mereka lakukan. Lyla dan Christ sontak buang muka, untuk menutupi wajah masing-masing yang memerah.
•••
Lyla ketiduran, sementara Christ mati-matian berusaha menahan kantuknya. Dia sepertinya harus minum kopi atau minuman berenergi agar tidak ngantuk.
Perjalanan masih cukup jauh untuk sampai ke rumahnya. Christ akhirnya terpaksa mencari minimarket terdekat yang ada di pinggir jalan, untuk istirahat dan beli minuman.
Lima belas menit mencari, akhirnya ia berhasil menemukan minimarket. Saat Christ sedang mengarahkan mobilnya ke sana, Lyla otomatis terbangun. Ia mengangkat kedua tangannya ke atas sembari mengerang.
"Kita kemana ini?" tanya Lyla.
"Aku agak ngantuk, mau beli kopi atau minuman berenergi." Balas Christ.
"Kalau kau memang lelah mending tukaran saja nyetirnya dengan ku, aku bisa bawa mobil kok." Kata Lyla.
"Aku masih bisa kok, kalau istirahat sebentar." Kata Christ.
"Ya sudah kalau begitu, aku juga mau beli air mineral sih."
Christ keluar duluan dari mobil, sementara Lyla mau membenarkan riasannya dulu sebelum menyusul Christ.
Saat Christ baru memasuki minimarket, ia terdiam sesaat di depan pintu, karena melihat ada satu pasangan dengan pakaian serba hitam dan tertutup tengah berdiri di depan kasir.
Tidak ada yang aneh dengan pasangan itu, tapi dari penampilannya. Sudah jelas mereka adalah pasangan selebriti. Yang membuat Christ tercenung, karena ia melihat rambut si gadis yang terurai. Rambut panjang dan disemir warna biru. Rambut yang benar-benar Christ kenali.
Lyla tak lama masuk ke dalam minimarket, dan kemudian menepuk bahu Christ sambil berseru. "Christ, kenapa hanya diam di depan pintu?!"
Suara Lyla, sukses menarik perhatian dua sejoli berpakaian serba hitam itu. Mereka menoleh, dan si gadis yang menggunakan masker di mulutnya tampak terkejut saat melihat Christ.
Sementara Lyla hanya bisa memasang ekspresi bingung. Dia tidak tahu siapa gadis yang sedang melihat ke arahnya dan Christ, dan bertanya-tanya kenapa Christ dari tadi hanya diam mematung di tempat, dengan mata yang mengarah ke gadis itu juga.
Lyla menarik lengan baju Christ pelan, membuat Christ tersadar dari lamunannya. Ia sontak menoleh ke arah gadis yang tingginya hanya sampai sebahunya.
"Kau kenapa? Apa ada sesuatu yang buruk?" tanya Lyla cemas.
Christ menggelengkan kepalanya. Ia meraih salah satu tangan Lyla dan menggenggamnya, lalu menariknya menuju area minuman.
Gadis dengan rambut biru itu hendak mengejar Christ, tapi tangannya sudah lebih dulu ditahan oleh pria yang sedang bersamanya saat ini.
"Kau mau memberitahu hubungan kita sekarang padanya?" tanya pria itu.
"Aku mau menjelaskan, ini tidak seperti yang kau pikirkan."
"Ya ampun, kalian kan sedang break sekarang. Tidak apa-apa dong kalau kau kencan dengan pria lain."
"Tapi kan ini hanya demi kerjaan! Dia harus tahu, agar tidak salah paham."
"Hei, sadarlah, hubungan mu dengan Christ itu tidak akan berakhir mulus. Kenapa sih kalian masih mempertahankan hubungan yang jelas-jelas dapat tentangan dari keluarga? Sekarang kita sedang berusaha menaikkan popularitas kita, kalau kau sekarang menghampiri Christ, dan paparazi menangkap gambarnya. Selesai sudah rencana agensi kita, dan kau bisa kena masalah."
Gadis itu terdiam. Seandainya dia bisa menghubungi Christ lewat telfon, tapi sekarang ponselnya sedang disita agensi, Manajer sendiri melarangnya buka internet untuk sementara waktu.
Sejak Christ menikah dengan Lyla, dan berita ia putus dengan Christ mengedar kemana-mana. Banyak netizen yang mengolok dan meremehkannya.
Christ anak pengusaha yang cukup terkenal. Meskipun bukan selebriti, banyak yang mengenalnya, terlebih setelah ia pacaran dengan selebriti.
Sementara itu Lyla menatap Christ yang sekarang jadi diam lagi. Dia saat ini sedang memilih-milih minuman energi, tapi tangannya yang sebelah masih menggenggam tangan Lyla. Lyla dapat merasakan kemarahan, kesedihan, dan kecemasan hanya dari genggaman tangan Christ.
Setelah mencerna apa yang sedang terjadi, Lyla akhirnya sadar kalau perempuan dari pasangan yang tadi mereka temui di depan itu, adalah Tania.
Dan dia sedang jalan dengan pria lain. Pasti itu yang membuat Christ seperti sekarang.
Tapi karena dia maupun Tania sama-sama orang yang cukup dikenal, mereka tidak bisa menyelesaikan masalah mereka terang-terangan di depan umum. Kecuali kalau mau masuk berita utama.
"Christ, bagaimana kalau kita beli permen dan kue? Atau mau es krim? Apa yang bisa membuat perasaan mu lebih baik?" tanya Lyla setelah cukup lama hanya terdiam.
"Aku mau kau hanya diam." Balas Christ sembari menghela napas.
Lyla mengerucutkan bibir, tapi menurut untuk diam. Thomas pernah bilang, kadang pria kalau sedang patah hati butuh ketenangan dan sendirian.
Setelah selesai mengambil minum. Mereka langsung ke kasir untuk membayar. Tania dengan pria yang bersamanya tadi, sepertinya sudah tidak ada.
"Kita minum dulu di depan, nanti baru lanjut perjalanan." Kata Christ sembari melepas genggaman tangannya pada Lyla, untuk membayar.
Lyla hanya membalas dengan anggukan kepala.
Selesai bayar, mereka bergegas keluar dari minimarket, dan duduk di salah satu meja yang tersedia di depan minimarket.
"Christ, aku rasa lebih baik kau istirahat saja, dan aku yang menyetir. Kau tampak sangat lelah." Tutur Lyla.
Dibanding lelah, sebenarnya galau yang lebih ketara di wajah Christ. Lyla tidak mau terjadi apa-apa di jalan, karena Christ yang melamun.
"Lyla," Christ tak lama buka suara, setelah dari tadi hanya diam. "Apa karena aku tidak setampan dan sekeren selebriti, makanya Tania selingkuh?"
Lyla terdiam sejenak mendengar pertanyaan Christ, tapi ia kemudian terbahak. Padahal Lyla sudah berusaha untuk menahan tawanya. Tapi pertanyaan Christ sangat konyol baginya.
"Hah? Pertanyaan macam apa itu? Ya ampun, ternyata kau memang masih ada sisi kekanakan." Kata Lyla di sela tawanya.
"Hei! Jangan ketawa dong! Aku serius tahu!"
"Kalau masalah fisik kan itu relatif Christ. Dan bagi ku ya kau tentu jauh lebih tampan dan menawan dari pada selebriti, karena seperti yang kau tahu, aku menyukai mu. Kecuali Taeyong, dia memang tidak terkalahkan tampannya."
"Hei, jangan kemana-mana bicara mu." Decak Christ.
"Kalau kau bukan selera Tania, Tania tidak mungkin berkencan dengan mu kan? Dan kalau memang dia tidak melihat mu dari segi fisik, berarti dia tidak akan semudah itu melupakan mu. Karena seseorang yang seperti mu itu hanya satu. Tapi mungkin saja ada seseorang yang menurut Tania jauh lebih baik dan cocok dengannya, yah, dengan begitu dia bisa saja selingkuh, atau lebih tepatnya pindah kelain hati. Karena kalian saat ini tidak punya hubungan apapun. Bagaimana pun penilaian seseorang ke orang lain juga beda-beda."
Christ mendengus sembari menopang dagunya. "Begitu ya? Tapi dia pernah bilang aku pria terbaik yang pernah ditemuinya sepanjang hidupnya."
"Itu kan karena dia belum pernah bertemu dengan pria lain yang jauh lebih baik dari mu." Balas Lyla.
"Kalau kau sendiri bagaimana? Memangnya kau tidak pernah bertemu dengan seseorang yang jauh lebih baik dari ku?"
"Ya tentu saja mungkin pernah, tapi aku tidak sadar, karena aku hanya terpaku dengan mu. Tapi sekarang aku akan lebih membuka mata ku."
Christ diam sembari meminum minumannya kembali. Tidak lama Christ beranjak berdiri, dan menghampiri Lyla, yang berpikir kalau sudah waktunya untuk melanjutkan perjalanan.
Jadi Lyla ikut berdiri, dan hendak ke mobil duluan. Tapi Christ menghentikannya, dengan berdiri di depan Lyla.
"Ada apa? Mau memberikan aku kunci mobilnya?" tanya Lyla.
Christ tidak menjawab, ia hanya menatap Lyla sembari menempatkan satu tangannya pada bahu kanan Lyla. Lyla mengernyitkan kening, dan baru saja ia membuka mulut hendak bertanya lagi. Bibir Christ tiba-tiba mendarat di atas bibirnya dengan cepat, membuat Lyla sontak membulatkan matanya.[]