Lyla melirik Christ, untuk melihat reaksinya. Dia hanya diam, namun tetap saja tidak dapat menyembunyikan kegelisahannya. "Kau mau ke sana?" tanya Lyla. "A-apa? Ke sana kemana?" Christ gelagapan dan malah balik bertanya. "Yah, menemui Tania, tentu saja, memangnya kemana lagi?" Christ menggelengkan kepala. "Aku 'kan sedang bersamamu, aku bisa... menemuinya kalau acara kita sudah selesai. Itu juga denganmu, tidak sendiri. Kau mau 'kan?" Lyla menganggukkan kepalanya. "Tentu saja. Tania pasti sudah difitnah. Kalau bisa kita membantunya," Pesanan mereka tak lama datang, Christ sebenarnya jadi tidak selera makan, tapi dia tidak mau menunjukkannya di depan Lyla. Saat baru saja tangannya hendak mengambil satu potong pizza, Lyla tiba-tiba sudah lebih dulu menyodorkan pizza yang ada di tangan

