04

2366 Kata
"Kita akan tidur bersama?" tanya Lyla. "Tentu saja tidak, aku akan tidur di karpet, kau di kasur." Balas Christ. "Hah, aku kira kau akan menyuruh ku tidur di karpet." Kata Lyla sambil menghela napas lega. "Kalau kau maunya begitu, aku sih tidak masalah." Kata Christ. "Enak saja, tentu saja yang harus di bawah laki-laki." "Sebenarnya itu tidak adil." "Terus kau mau kita tidur bersama?" "Ya tidak. Atau jangan-jangan kau yang mau seperti itu?!" seru Christ tiba-tiba, sambil menyilangkan kedua tangannya di depan d**a. "Sorry not sorry," balas Lyla sembari melompat untuk berbaring di atas kasur Christ. "Sorry not sorry? Apaan tuh?" Lyla mengabaikan pertanyaan Christ, dan malah sibuk berguling-guling di atas ranjang Christ. "Kasur mu nyaman sekali ya." Komentar Lyla. "Iyalah, kasur mahal." Balas Christ. Tok, tok, tok. Pintu kamar Christ tiba-tiba diketuk, membuat Christ otomatis naik ke atas ranjangnya, dan langsung memeluk Lyla, membuat Lyla terkejut. Tapi belum sempat ia protes, kamar Christ sudah lebih dulu terbuka, dan menampilkan Ibu Christ yang sedang tersenyum sambil membawa trolley berisi teh dan kue. "Aduh, maaf ya Ibu mengganggu kalian, Ibu hanya mau mengantarkan ini." Kata Ibu sambil melirik sekilas bawaannya. "Mau mengantarkan itu, atau penasaran dengan aktifitas yang kami lakukan?" tanya Christ sinis. "Christ! Kau tidak sopan sekali pada Ibu mu." Kata Lyla dengan nada pelan, tapi ternyata tetap dapat didengar oleh Ibu Christ. "Ah iya benar, anak itu memang sering tidak sopan pada Ibu, apa lagi setelah pacaran dengan Tania." Christ mendengus. "Aduh Ibu, jangan bawa-bawa Tania dong." "Ibu kan hanya bicara fakta. Ya sudah lanjutkan aktifitas kalian, jangan lupa dikunci dong pintunya." Kata Ibu. "Iya, iya." "Iya Bu," Christ dan Lyla, merespon secara bersamaan, yang membuat Ibu tersenyum. Ibu pun pamit dan keluar dari kamar Christ, tak lupa menutup pintunya. Begitu Ibu pergi, Christ langsung melepas pelukannya dari Lyla, sementara Lyla hanya diam, sambil berguling ke sisi kasur, dengan membelakangi Christ. Deg, deg, deg. Suara detak jantung Lyla yang rasanya terdengar sampai keluar. Ini kali pertama ia dipeluk Christ. Waktu Christ menciumnya, ia memang sempat berdebar juga, tapi hanya sesaat. Dan sekarang hanya pelukan, debarannya malah lebih lama. "Aduh sial, aku lupa kunci pintu." Gerutu Christ. "Kenapa sih kau kasar pada Ibu mu?" tanya Lyla sambil beranjak duduk, setelah merasa debaran jantungnya kembali normal, meskipun sedikit. "Karena Ibu tidak merestui hubungan ku dengan Tania." Ucap Christ. "Hah, astaga. Apa kau tidak merasa buruk huh? Hanya karena seorang wanita, kau jadi kasar pada orang tua mu sendiri? Harusnya pasangan itu bisa membawa mu untuk lebih sayang dan hormat pada orang tua mu, bukan malah sebaliknya. Bagaimana pun, orang tua lebih banyak berjasa pada mu, dari pada kekasih mu." Tutur Lyla. "Hah, sudahlah, kau tidak perlu ikut campur." Kata Christ. "Ya sudah terserah, aku kan hanya bilang fakta. Untuk kebaikan mu sendiri juga. Malah aku yang merasa tidak enak, melihat mu kasar pada orang tua mu sendiri." "Ya sudah, kau saja yang memperlakukan mereka dengan lembut. Aku juga menikah dengan mu kan, untuk Ayah ku. Aku juga sudah melakukan sesuatu untuk orang tua ku, memangnya itu tidak cukup? Sampai aku harus mengorbankan hubungan ku dengan Tania." Kata Christ. Lyla tidak menjawab lagi, lebih tepatnya dia hanya menjawab di dalam hatinya. 'Yah, mudah-mudahan pengorbanan mu itu malah jadi hal yang baik untuk mu.' Batin Lyla. "Ayo kita minum tehnya, keburu dingin." Kata Lyla sembari beranjak dari ranjang, dan mendekati trolley yang tadi Ibu Christ bawa. "Woah, ini teh rosella ya? Woah, aku suka sekali teh ini." Wajah Lyla tampak berseri. "Woah! Ada black forest juga! Ayo Christ, kita makan." Lyla tanpa sadar bertepuk tangan kecil, sembari duduk di sofa. Christ hanya diam sambil memperhatikan tingkah Lyla. Perkataannya tadi dewasa sekali, tapi tiba-tiba dia bersikap seperti anak-anak begini, membuat Christ tercengang. "Entah kenapa aku merasa ada yang tidak beres dengan tehnya." Kata Christ sambil berjalan mendekat ke Lyla, dan ikut bergabung dengan gadis itu untuk menyantap teh dan kue. "Tidak beres bagaimana, memangnya Ibu mu akan memberi racun?" tanya Lyla. "Heum, mungkin?" balas Christ sembari duduk di sebelah Lyla. "Ada-ada saja kau ini. Biar aku tuangkan tehnya ya?" Christ hanya diam, dan membiarkan Lyla menuangkan teh untuknya. Setelah selesai menuangkan teh di cangkir, Lyla pun menyerahkannya pada Christ. Christ menerimanya sambil bergumam terimakasih. Aneh, entah kenapa Christ merasa ini agak janggal. Lyla jadi seperti istri sungguhannya saja. Yah, memang, di depan Tuhan dan semua orang begitu. Tapi di antara dirinya dan Lylakan, hanya menganggap ini pernikahan bisnis. Sebelum menyeruput tehnya, Christ terlebih dahulu mencium aroma tehnya. Heum, tidak ada yang aneh. Ia minum sedikit, enak. Dan akhirnya kecurigaan Christ lenyap begitu saja, karena rasa enak dari teh rosella ini. Membuatnya meneguk habis teh tersebut, bahkan minta tambah lagi. Dan Lyla dengan senang hati menuangkannya ke dalam cangkir Christ. Mereka tanpa sadar juga jadi mengobrol, karena ternyata mereka punya kesukaan yang sama dalam bidang musik dan olah raga. "Aku dulu sangat badminton." Oceh Lyla bersemangat. "Ah sama! Aku juga suka. Aku sebenarnya suka basket juga sih, tapi dibanding basket, aku jauh lebih suka badminton, entah kenapa aku selalu menang saat main badminton." "Sama sekali dengan ku! Basket itu lebih melelahkan sih menurut ku, padahal sama-sama melompat, tapi kan harus rebutan bola." Kata Lyla. "Iya, rebutan itu melelahkan." Jawab Christ. "Sama seperti rebutan bias." Kata Lyla, yang membuat Christ tertawa. "Kau suka idol ya?" "Tidak terlalu sih, tapi aku suka Stray Kids." "Oh, aku juga sedikit suka. Siapa yang kau suka memang di Stray Kids?" "I.N." "Bagaimana dengan leader- nya?" "Tidak, aku tidak terlalu suka, dia suka mengumbar perut." "Memangnya kenapa?" "Itu malu." "Ahh, dasar sok polos." "Hei, aku benar-benar malu tahu setiap melihatnya." Christ tiba-tiba mengernyitkan kening sambil mengibaskan bajunya. "Hei, kau merasa hawanya tiba-tiba panas tidak?" tanya Christ. "Sebenarnya aku sudah merasakannya dari tadi." Balas Lyla sembari menepuk kedua pipinya. "Ck, pantas wajah mu memerah, remot ac di mana ya?" Christ hendak bangkit berdiri, tapi tak lama ia terduduk lagi, karena sadar ini bukan rasa panas karena suhu. Christ menghela napas sembari menepuk kening. "Aduh, Ibu..." ••• Tap. Sekujur tubuh Christ menegang, saat merasakan punggung tangannya bersentuhan dengan kulit tangan Lyla. Ia menolehkan kepalanya ke arah Lyla, dan menemukan gadis itu dalam kondisi wajah yang merah padam. "Christ, aku kenapa ya?" tanya Lyla. "Ma-mana aku tahu, mandi sana, sepertinya kau benar-benar kepanasan." Balas Christ. "Eumhh, tapi aku kan sudah mandi." Kata Lyla sambil menjalankan dua jarinya di atas tangan Christ. Christ otomatis langsung menarik tangannya dari Lyla. "Hei, apa-apaan kau itu?!" protes Christ. Bukannya jera, Lyla tiba-tiba malah mengulurkan sebelah tangannya untuk menyentuh tangan Christ lagi. "Jangan menyentuh ku!" seru Christ. "Rasanya jadi nyaman kalau menyentuh mu." "Ish, apa-apaan sih kau ini? Jangan genit begitu." Lyla mengerucutkan bibir. "Siapa yang genit? Aku kan hanya mencoba mencari pelampiasan." "Pelampiasan apa?" "Tidak tahu, yang jelas badan ku terasa tidak enak sekarang." "Makanya sana mandi saja, rendaman di air dingin." "Tidak mau..." "Lyla jangan macam-macam ya," Christ memperingati sembari bangkit berdiri, sambil tertatih ia berjalan hendak ke kamar mandi, tapi tiba-tiba ada yang memeluknya dari belakang. Bukan hanya pelukan yang membuat Christ mematung, tapi Lyla juga menempelkan pipinya pada tengkuk Christ. Christ menarik napas dalam, kemudian menghembuskannya. Ia lalu berbalik badan yang membuat pelukan Lyla otomatis terlepas. "Tarik napas dalam, kemudian hembuskan, dan coba kau tenangkan pikiran mu." Kata Christ sembari memperegakan apa yang dia katakan. "Kenapa aku harus melakukan itu?" tanya Lyla. "Lakukan saja." Titah Christ. Meskipun Lyla merasa ini bukan solusi untuk mengatasi rasa panas dan aneh di tubuhnya, dia tetap mengikuti intruksi Christ. Lyla melakukannya sambil memejamkan matanya, karena kalau buka mata, entah kenapa rasanya dia sangat ingin menyentuh Christ. Perasaan ingin itu tidak bisa ia kontrol, sampai-sampai ia jadi seolah tidak kenal harga diri. Oh, tapi rupanya Christ juga melakukan hal yang sama, dia ikut memejamkan matanya, saat melihat Lyla mulai berkeringat. Tapi lama-lama Christ tidak tahan untuk membuka matanya. Ia membuka satu matanya dan melihat ke arah Lyla yang masih melakukan perintahnya tadi. Christ menelan ludah. 'Ibu! Apa yang anda lakukan pada Putra anda ini?!' batin Christ. Christ tiba-tiba menutupi bibir Lyla dengan satu tangan, membuat Lyla membuka matanya dan menatap heran Christ. "Kenapa kau menutup mulut ku?" tanya Lyla. "Bibir mu kering, tidak enak dilihat." Balas Christ. Lyla menepis tangan Christ. "Kering? Kering apanya? Aku bisa merasakan bibir ku lembab kok." Kata Lyla sembari menggigit bibir bawahnya. "Akh, sudahlah, aku mau ke kamar mandi." Kata Christ frustasi. Lyla meraih tangannya sambil mengerucutkan bibir. "Ayolah, pegangan tangan saja, itu sudah bisa membuat ku jadi lebih baik kok." Kata Lyla. "Iya, kau jadi merasa lebih baik, tapi aku tidak. Aku malah jadi lebih tersiksa nanti." Balas Christ. "Memangnya kenapa?" Christ mendengus, mana mungkin dia menjelaskan tentang kondisinya. "Ayolah, bantu aku, rasanya benar-benar tidak enak nih." Kata Lyla sambil memasang ekspresi memelas pada Christ, yang membuat Christ jadi merasa tidak enak untuk menolak. Apa lagi penyebab semua ini adalah Ibunya. "Ya sudah, hanya pegangan tangan." Kata Christ, yang Lyla balas dengan anggukan kepala. Mereka pun duduk bersisian di pinggir kasur, dengan posisi berjauhan, dan saling menggenggam. "Kau benar-benar tidak tahu ya, sebenarnya kita kenapa?" tanya Lyla. Christ hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban. Dia tahu, dia tahu! Tapi masak menjelaskannya pada Lyla? Dan... apa Lyla sama sekali tidak mengerti rasa apa ini? Seperkian detik mereka hanya diam sambil berpegangan tangan, lama-lama Lyla merasa ini kurang dan dia mau lebih. Akhirnya Lyla menggeser duduknya agar berdekatan dengan Christ. Tentu saja Christ terkejut, meskipun kondisinya sama dengan Lyla, dia berusaha untuk terus mengaktifkan pikiran rasionalnya dengan cara mengingat Tania. "Hei, Lyla, jangan dekat-dekat." Peringat Christ. "Hanya dekat-dekat kok..." balas Lyla. Nada suara gadis itu bahkan mulai berubah. Christ memegangi salah satu bahu Lyla agar gadis itu menjauh darinya. "Lyla, tidak boleh begini oke, bagaimana kalau kita kelepasan?" "Kelepasan apa?" "Yahhh, kelepasan itu. Masak kau tidak mengerti?" "Coba kalau peluk," "Tidak mau, itu sudah berlebihan." "Berlebihan apa? Kan hanya memeluk." Christ mendengus. "Hanya memeluk, oke?" Lyla mengangguk, sebelum berhambur ke pelukan Christ. Tapi Christ tidak sadar, kalau bagian belakang kaosnya agak tersingkap ke atas, dan malah Lyla yang menyadarinya. Entah kenapa Lyla tidak bisa menahan tangannya untuk tidak pergi ke bagian punggung Christ yang sedikit terlihat. Christ tersentak begitu merasakan kulit tangan Lyla di punggungnya. "Lyla!" seru Christ, sembari hendak menurunkan kaosnya, tapi tangan Lyla sudah lebih dulu masuk ke dalam bajunya. "Lyla!" Christ kembali berseru dengan frustasi, sambil berusaha melepas pelukan Lyla. "Tubuh mu panas seperti aku, kau merasakan hal yang sama dengan ku kan?" "Y-ya terus?" "Kalau aku menyentuh mu, jadi terasa lebih baik. Harusnya kau jugakan? Kenapa kau selalu menolak sentuhan ku?" "Lyla, sudah aku bilang, nanti kita kelepasan." Lyla melepas pelukannya dari Christ, tapi sambil menarik baju pria itu. "Memangnya kenapa kalau kita kelepasan, kan kita sudah menikah." Kata Lyla. "Lyla, ingat, kita hanya menikah sementara." Lyla memasang ekspresi merajuk, dengan masih menarik-narik kaos Christ. "Aahhh, lalu bagaimana ini? Ahh, badan ku panas-" Christ menutup mulut Lyla sambil menatap tajam gadis itu dari jarak dekat. "Kau yang meminta," ucap Christ sebelum mendorong tubuh Lyla agar berbaring di kasur. ••• Setelah membaringkan Lyla di kasur, Christ tiba-tiba menggendong Lyla dan membawanya ke kamar mandi dengan setengah berlari. Sesampainya di kamar mandi, Christ meletakan Lyla di dalam bath up, lalu meraih shower, dan mengguyur tubuh Lyla dengan air dingin. "CHRIST! APA YANG KAU LAKUKAN?!" teriak Lyla. Lyla tiba-tiba menarik tubuh Christ untuk ikut masuk ke dalam bath up, duk! Suara debuman kencang terdengar karena tubuh Christ berbenturan cukup keras dengan bath up. Christ yang kesal menyemprot wajah Lyla dengan air. "Huaaaaa!" teriak Lyla kelabakan. Ia berusaha merebut shower yang ada di tangan Christ. Tapi Christ terus melindungi shower- nya. Tapi bukan Lyla namanya kalau tidak bisa brutal. Dia mendorong tubuh Christ hingga tubuh pria itu berbaring di dalam bath up, lalu Lyla naik ke atas tubuhnya sambil merebut shower yang ada di tangan Christ. Air jadi beralih disemprotkan ke Christ, kini Christ yang kelabakan. "Hei! Berhenti! Berhenti! Aku bisa mati!" teriak Christ. Merasa kasihan, Lyla akhirnya menghentikan aksinya. Ia kemudian menatap Christ yang sedang mengangkat sedikit kepalanya, agar tidak tenggelam di air yang sudah tertampung di bath up. Christ menghambil napas banyak-banyak, karena sebelumnya sudah kehilangan banyak jeda untuk bernapas. Sesaat kemudian ia tersadar, kalau Lyla sedari tadi menatapnya. "Kau sudah tidak berpikir yang macam-macamkan?" tanya Christ. "Memangnya aku berpikir macam-macam tadi? Tapi sekarang aku sudah merasa lebih baik sih." Balas Lyla. "Kalau begitu menyingkirlah dari atas tubuh ku." "Tapi sebenarnya tadi kita kenapa sih?" "Mana aku tahu, pergilah sana." "Aku penasarannn..." "Lebih baik kau tidak tahu." Lyla malah tetap diam di atas tubuh Christ sambil berpikir, sementara Christ sudah mulai sesak napas karena beban di perutnya. "Lyla! Kau mau membunuh ku ya?! Cepat menyingkir dari atas tubuh ku!" ••• Christ menggigil karena antri mandi dengan Lyla. Padahal Lyla sebenarnya tidak mandi, tapi beberapa kali menyiramkan air ke tubuhnya untuk menghilangkan sisa-sisa rasa tidak nyaman di tubuhnya, juga untuk mengembalikan pikiran rasionalnya. Lyla tidak mengerti sih kenapa tubuhnya begini, yang jelas dia sekarang sudah sadar, kalau dari tadi pikirannya kurang senonoh. Setelah selesai dan Lyla keluar kamar mandi, dia terkejut melihat Christ yang sedang jongkok di depan kasur sambil memeluk kakinya. "Kenapa kau lama?" tanya Christ sambil menggertakan giginya. "Kenapa kau tidak ganti baju saja? Kau kan juga tadi sebelumnya sudah mandi." Balas Lyla. Christ tidak menjawab, dia bangkit berdiri kemudian lari masuk ke kamar mandi. "Euhh, dasar aneh." Gumam Lyla. Lyla berjalan ke kopernya yang tergeletak di lantai untuk mengambil pakaiannya. Karena mandi dadakan, Lyla jadi tidak sempat ambil baju dan harus pakai baju di luar kamar mandi. "Christ! Kalau sudah selesai mandi jangan langsung keluar sampai aku izinkan!" seru Lyla, yang Christ balas hanya dengan gumaman. Lyla entah kenapa merinding mendengarnya, suara Christ rasanya ada yang ganjal. ••• Selesai dengan tragedi aneh yang mendera Lyla dan Christ sebelumnya, Lyla dan Christ pun kini sudah siap tidur di tempat masing-masing. Lyla di atas kasur, sementara Christ di karpet. Untungnya karpet tebal, jadi bukan masalah Christ tidur di karpet. "Rasanya aneh aku sudah menikah, tapi dengan perempuan lain, bukan Tania. Yah, meskipun memang sih, ini hanya pernikahan sementara." Celetuk Christ tiba-tiba. Padahal dari tadi mereka hanya saling terdiam, sambil sibuk dengan ponsel masing-masing. "Bicara mu kasar sekali tahu, pikirkan perasaan ku dong sebelum ngomong. Aku kan bukan gadis yang baru mengenal mu untuk pernikahan ini." "Maaf," ucap Christ. "Lagi pula aku heran, kenapa kau bisa menyukai ku sampai selama ini." Lyla mengerjapkan mata, sambil menatap langit-langit kamar. "Heum, kenapa ya? Aku sendiri tidak tahu kenapa. Waktu pertama kali bertemu dengan mu itu kau tampak sangat polos, di tempat les kau selalu bernyanyi sambil tersenyum, kau juga ramah, kau selalu bisa memimpin teman-teman, entah di sekolah atau di tempat les. Aku jadi kagum saja awalnya, tapi semakin dilihat... eummm, ternyata kau benar-benar... yah begitulah." "Begitu apa?" "Intinya aku menyukai mu, awalnya karena kau manis, pintar nyanyi dan punya jiwa pemimpin yang kuat. Tapi sebenarnya tidak ada alasan yang terlalu spesifik kenapa aku bisa jadi benar-benar menyukai mu." "Kalau kau masih menyukai ku sampai saat ini, kenapa tidak terus mengejar ku?" "Heh, untuk apa? Aku dua kali ditolak, dan kau jelas sudah punya pacar. Aku berpikir realistis saja. Aku sadar aku tidak akan pernah bisa mendapatkan mu, jadi ya sudah, aku berhenti mengejar dan berharap pada mu, meskipun masih menyukai mu. Meskipun itu jadi menghambat ku untuk punya pasangan, toh aku tidak terlalu butuh pasangan juga. Elise dan Cora, sudah seperti pacar ku hahaha." "Tapi teman dan pasangan itu kan rasanya bedakan?" "Heum, entahlah, aku merasa sama saja sih. Bahkan kalau pun aku tidak punya teman, aku sangat dekat sengan keluarga ku. Bahkan aku dan Kak Thomas sering membicarakan hal yang tidak wajar dibicarakan Kakak beradik." "Enak ya," komentar Christ, yang membuat Lyla mengernyitkan kening. "Apa maksud mu?" tanya Lyla. "Sudahlah, tidur saja." Balas Christ.[]
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN