03

2443 Kata
"Dasar gila," celetuk Elise, sementara Cora hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengar cerita Lyla. "Apa yang kau pikirkan Putri Seo?" tanya Elise sambil melotot. "Aku yakin kau tidak mengambil keputusan segampang itukan?" kini Cora angkat bicara. "Iya, tidak kok, aku sudah memikirkannya matang-matang tentang ini. Kak Thomas selama ini sudah banyak berbuat untuk ku, Leon juga sudah harus masuk kuliah. Tidak salahkan aku sedikit membantu? Kak Thomas pantas kok mendapat posisi tinggi di kantor, dan nanti kebutuhan Leon selama kuliah juga jadi tercukupi." Tutur Lyla. "Kakak mu akan lebih sakit hati, kalau tahu kau nikah kontrak demi dia tahu." Kata Elise. "Iya, aku tahu. Makanya dia jangan sampai tahu." Kata Lyla. "Aduh, kau yakin pilihan mu ini tepat?" tanya Cora. "Aku yakin," balas Lyla. "Kau akan berstatus janda setelah cerai nanti. Kau mau? Nanti kau akan susah dapat jodoh ke depannya." Kata Cora. "Aku selama ini tidak punya pasangan juga tidak masalahkan? Jadi aku rasa tidak akan apa-apa." Kata Lyla. "Aku khawatir tahu, kadang kau itu agak bodoh." Kata Cora. "Bukan agak, sangat." Timpal Elise, yang membuatnya langsung mendapat pukulan di kepala oleh Cora. "Kalian tidak usah khawatir, aku akan baik-baik saja, malah mungkin aku bisa membuat Christ menyukai ku." Kata Lyla. "Kalau kau secantik aku, aku percaya." Jawaban Elise, sukses membuatnya mendapat pukulan lagi dari Cora. "Orang tua mu bagaimana? Dia pasti shock waktu kau bilang akan menikah." Ujar Cora. "Iya, mereka memang langsung shock, Kak Thomas dan Leon juga. Ayah menyuruh Christ untuk segera menemuinya." Kata Lyla. "Hahh... aku hanya bisa berharap kau tidak dapat masalah." Kata Cora. "Namanya masalah pasti ada, kau doakan saja aku bisa menghadapinya." ••• Srettt, suara kertas yang Christ dorong ke arah Lyla, menjadi suara pertama yang keluar, setelah Lyla baru masuk ke ruangan Pak Direktur satu ini, dan duduk di hadapannya. "Ini kontraknya, kau harus baca dengan teliti." Tutur Christ. "Jadi sungguhan ada kontraknya seperti ini? Aku kira kontraknya hanya lisan." Kata Lyla. "Ini hal serius, mana mungkin hanya lisan?" "Entahlah, aku merasa benar-benar ada kontrak fisik pernikahan begini lebih kekanakan dan aneh." "Aku tidak mau ada pelanggaran kontrak, di antara kita masing-masing. Kalau ada kontrak fisik kan gampang," "Gampang apanya, kalau melanggar bisa tinggal tuntut?" "Iya," Lyla berdecih, ia kemudian mengambil kontrak tersebut, dan kemudian membaca syarat-syaratnya. Sebenarnya dalam kontrak, Lyla lebih diuntungkan. Dia tidak akan disentuh, karena memang ada larangan seks di dalam kontrak, mendapat bayaran perbulan, bisa menjalani aktifitas seperti biasa, dan tidak perlu melayani Christ selayaknya istri pada suaminya. Lyla tiba-tiba menunjuk isi kontrak nomor 4 ke arah Christ. Di mana berisi Lyla tidak harus memenuhi kewajibannya setelah menikah. "Bagaimana kalau aku melarang ini?" tanya Lyla. "Itu terserah pada mu, paling aku jadi hanya menganggap mu sebagai pembantu." Balas Christ. "Kita benar-benar akan tinggal bersama?" "Iya. Tapi kau jangan senang dulu, meskipun kita satu rumah, tetap beda kamar, dan hidup masing-masing." "Hei, kita ini manusia. Manusia itu adalah makhkuk sosial. Bagaimana bisa satu rumah tapi hidup masing-masing, minimal kita harus menjadi teman." "Yah, maksud ku kita tidak usah hidup seperti pasangan, nanti kau jadi terlalu banyak berharap pada ku." "Bertahun-tahun aku menyukai mu, aku tidak pernah berharap apa-apa tuh pada mu." Perkataan Lyla, sukses membuat Christ bungkam. "Di sini ada keterangan, aku bebas melakukan apapun. Berarti aku boleh kencan dengan pria lain?" "Aku tahu kau tidak akan melakukan itu, makanya hal itu aku masukan ke dalam kontrak." "Ini memang pantas untuk ku sih." "Aku tidak kejamkan? Aku membayar mu, dan aku membiarkan mu tetap bebas." "Hhmmm..." respon Lyla. "Ck, kau ini, mentang-mentang akan menikah dengan ku, sikap mu pada ku jadi seperti bukan ke atasan." "Jujur saja aku merasa aneh untuk menghormati mu seperti biasa setelah kejadian kemarin." "Memangnya aku melakukan apa?" "Kau tidak sadar ya? Kemarin kau sangat menjengkelkan." Christ menggembungkan pipinya, dengan mata melirik ke arah lain, dan kedua tangan terlipat di depan d**a. "Secepatnya kau harus temui orang tua ku, begitu pula sebaliknya." Kata Lyla. "Aku tahu, kau sudah membicarakannya di telepon." Balas Christ. "Meskipun hanya pernikahan kontrak, aku harap kau tidak merasa gelisah, terbeban, atau sangat terpaksa karena menikahi ku. Jujur saja, aku tidak akan menganggap pernikahan ini sebagai pernikahan kontrak maupun bisnis. Aku benar-benar mau menikah, meskipun hanya setahun." Ujar Lyla. Christ seketika menatap Lyla. "Kau itu orang yang akan mudah dibohongi orang lain." Ucap Christ. Lyla menggendikan bahu. "Yah, aku tahu." ••• Lyla duduk sendirian di atap rumahnya yang terbuka. Atap rumahnya itu berbentuk petak, dan biasanya digunakan untuk menjemur. Mata gadis itu menatap langit yang gelap, tanpa ada satupun bintang. 'Keputusan ku tepat tidak ya? Tapi ini kan demi keluarga juga. Kalau Kak Thomas dapat posisi tinggi, dan kebutuhan Leon selama kuliah terpenuhi, aku juga yang akan senang. Ayah dan Ibu juga akan lega. Di usia mereka yang sudah senja, aku tidak mau mereka memikirkan Kak Thomas yang tidak kunjung kerja, dan biaya kuliah Leon.' Batin Lyla. Sebenarnya ada rasa takut di hati Lyla. Bagaimana pun dia masih punya perasaan pada Christ, meskipun sekarang rasanya samar-samar. Dan diberi kesempatan untuk menikahi pria yang selama ini disukai, siapa yang tidak senang? Meskipun kesenangan itu terasa janggal. Tapi justru karena Lyla punya perasaan pada Christ, Lyla takut jadi makan hati. 'Kalau aku membuat Christ jadi menyukai ku, apa bisa ya? Bahkan selama ini aku tidak bisa menggaet hati pria lain, apa lagi Christ? Padahal aku tidak buruk kok. Wajah ku tidak jelek, meskipun tidak cantik juga, aku tidak terlalu ceria atau murung. Kalau bicara juga seadanya. Tapi kenapa tidak ada yang mau dengan ku?' Yah, Lyla tidak sadar. Sebenarnya bukan tidak ada yang mau dengannya, tapi dia sendiri yang tidak mau dengan mereka. Suara teriakan Thomas dari dalam rumah, tak lama terdengar. "LYLA! KAOS KAKI KU DI MANA?!" "Astaga! Urus baju mu sendiri dong! Kenapa selalu aku yang mengurus baju mu hah?! Nanti kalau aku menikah, siapa yang akan mengurus mu?!" gerutu Lyla sembari beranjak dari atap. ••• "Jadi hari ini anda mau menemui orang tua ku?" tanya Lyla, sesaat setelah ia baru masuk ke ruangan Christ. Sebelumnya mereka sudah berbincang melalui telfon, tapi kemudian Christ menyuruh Lyla untuk ke ruangannya. "Iya. Ayah ku harus mendapat perawatan segera, jadi kita harus menikah secepatnya juga." Balas Christ. "Oh, oke. Kalau begitu aku akan kembali bekerja." Kata Lyla sembari memegang knop pintu untuk pergi. "Hei, kau kan baru masuk. Harusnya duduk dulu, masih banyak yang harus kita bicarakan." Kata Christ sembari sedikit membanting sebuah katalog di tangannya ke atas meja. Lyla akhirnya mengurungkan niatnya untuk keluar dari ruangan Christ. "Duduk," titah Christ sembari duduk di kursinya sendiri. Lyla akhirnya bergegas ke meja Christ, lalu duduk di kursi yang berhadapan dengan pria itu. "Aku sudah mengenalkan mu pada orang tua ku. Padahal belum pernah bertemu dengan mu, tapi mereka sudah segirang itu tahu aku putus dengan Tania, dan akan menikah dengan wanita lain." Tutur Christ, dengan gerutuan di akhir. Lyla hanya bergumam sebagai respon. "Lalu bagaimana dengan orang tua mu? Apa mereka setuju setelah kau memberitahu akan menikah?" tanya Christ. "Ya, tentu saja. Mereka sangat khawatir aku tidak kunjung menikah, terlebih Kak Thomas sangat bersemangat saat menceritakan tentang mu." Balas Lyla. Christ tersenyum simpul. "Baguslah, semua berjalan lancar." Sret. Suara katalog yang digeser ke arah Lyla, jadi suara lain di antara pembicaraan mereka. "Ini katalog untuk dekorasi pernikahan, kau pilih saja yang kau suka." Kata Christ. "Bagaimana dengan mu?" tanya Lyla. "Aku hanya ikut saja." Balas Christ. "Ini kan pernikahan kita bersama, meskipun hanya kontrak. Tetap saja kau harus ikut andil dalam dekorasi dan lain sebagainya dong, jangan hanya membiayai. Agar pestanya berkesan, dan kau merasa nyaman." Christ terdiam, raut wajahnya menunjukan ia sedikit terkejut mendengar perkataan Lyla. "Untuk apa kau memikirkan kenyamanan ku?" tanya Christ. "Yah, kalau kau tidak mau aku peduli, aku tidak akan melakukannya. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan kok." Balas Lyla, dengan dagu yang ia topang menggunakan satu tangan. Sementara tangan lainnya, mulai membolak-balik halaman katalog. "Aku suka konsep yang elegan." Ucap Christ. "Bagaimana dengan mu?" "Aku suka konsep yang lembut. Heum, apa kedua konsep itu bisa disatukan ya?" Tepat di halaman kelima katalog, mata Lyla langsung berbinar saat melihat dekorasi pernikahan, yang sepertinya mendekati seleranya dan Christ. "Hei, bagaimana dengan ini?" tanya Lyla sambil menunjuk dekorasi yang menggunakan warna hitam, perak serta dihiasi bunga-bunga dengan warna pastel. "Ini mendekati selera kitakan? Hitam dan silver itu kan elegan, warna bunga-bunganya juga aku suka." Ujar Lyla. "Aku tidak sangka akan ada tema seperti ini." Kata Christ sembari sedikit mencondongkan wajahnya ke arah katalog. "Tentu saja ada, tapi kan tidak sepenuhnya hitam." "Kalau begitu pilih tema ini saja." "Ya sudah, kau yang akan uruskan?" "Ya, nanti aku akan hubungi mereka." "Sekarang aku sudah bisa kembali bekerja?" Christ yang sebelumnya masih menunduk menatap katalog, tak lama mengangkat kepalanya dan menatap Lyla. "Aku sebenarnya penasaran, bagaimana perasaan mu saat ini? Apa kau senang akhirnya menikah dengan orang yang kau sukai?" tanya Christ. "Aku tidak tahu apakah aku harus senang atau tidak. Karena ini hanya sementara, aku rasa akan lebih baik tidak sama sekali, karena setelah berpisah aku pasti akan sangat terluka." Balas Lyla. "Maaf," ucap Christ. "Yah, sudahlah, aku senang kok bisa membantu mu. Kalau begitu aku permisi dulu, Pak." ••• Gaun dengan warna putih membalut tubuh Lyla. Setelah gaun dengan renda hitam di bagian pinggang, dan bagian bawah rok gaun terpasang, choker berwarna hitam, beserta liontin berbentuk hati berwarna perak, ikut dipasang di lehernya. Huh, gugup. Lyla sangat gugup. Padahal ini bukan pernikahannya yang sebenarnya. Ini hanya seperi pekerjaan. Panjang rambut Lyla yang sebelumnya hanya sampai di bawah bahunya sedikit, kini dibuat panjang sampai sepunggung, dengan dipasang hairclip model curly. Belum apa-apa rasanya Lyla sudah lelah. Pasang baju dan rambut palsu saja sudah memakan waktu berjam-jam, belum lagi makeup dan lain sebagainya. "Beruntung ya anda bisa mendapatkan Pak Christ." Celetuk salah satu stylish. "Memangnya kenapa?" tanya Lyla. "Ah, masak Nona sendiri tidak merasa beruntung? Dia tampan, baik, karirnya bagus, dan jelas dari keluarga terpandangkan? Semua orang lega saat mendengarnya akhirnya putus dengan artis itu." "Aku penasaran, apa yang salah dengan Tania?" "Oh, anda tidak tahu? Ayahnya kan pengguna n*****a, Nona Tania juga pernah ketahuan menggunakannya waktu remaja. Dia angkuh dan agak kasar. Setahu ku selama ini Pak Christ juga selalu disetir oleh Tania." 'Ini hanya gosipkan? Kadang orang sering melebih-lebihkan sesuatu, entah itu kebaikan atau keburukan. Apa lagi kalau orang itu memang doyan gosip. Mana ada orang seburuk itu di dunia? Kalau Tania memang pernah menggunakan n*****a juga, itu pasti karena beban hidupnya. Harusnya orang-orang menolongnya, bukannya malah mengucilkan dia.' Batin Lyla. Dia jadi merasa kasihan pada Tania. Artis glamour yang selalu tersenyum di depan kamera, ternyata punya kehidupan yang tidak baik. Ditambah dapat gunjingan dari orang yang bahkan tidak mengenalnya. "Sudah berapa lama Nona berkencan dengan Pak Christ?" Lyla seketika gelagapan, saat ditanyai demikian. "Be-belum lama, tapi kami memilih langsung ke jenjang serius." Kata Lyla cepat. "Wah, berarti selama ini Pak Christ memang ragu ya dengan Tania. Padahal pacaran sudah lama, tapi tidak kunjung menikah. Giliran bersama Nona, langsung dinikahi. Anda sangat beruntung." Lyla hanya dapat merespon dengan tawa kikuk. 'Yang terjadi sebenarnya, tidak seperti yang kau lihat dan dengar.' Batin Lyla. ••• Christ mendekatkan wajahnya tanpa ragu pada wajah Lyla, sementara Lyla malah tampak ragu dan takut, apa lagi saat Christ mulai memiringkan kepalanya. Lyla memejamkan matanya erat, dan akhirnya bibir Christ pun mendarat di atas bibirnya. Hah, rasanya seperti mimpi. Orang yang kau sukai selama bertahun-tahun, akhirnya menikah dengan mu, tapi... Kenapa hanya setahun? Tidak bisa kah menjadi selamanya? Tapi bukan tidak mungkin kan, kalau Lyla bisa membuat pernikahan ini jadi selamanya? Kening Lyla mengernyit, dengan sebelah alis terangkat. Kok rasanya Christ sangat lama ya menciumnya? Lyla hendak melepas ciuman itu lebih dulu, tapi Christ tiba-tiba menahan tengkuknya, membuatnya membelalakan mata, dan tak lama terdengar sorakan serta tepuk tangan orang-orang. Insting Lyla mengatakan untuk menampar Christ. Karena meskipun dia menyukai Christ, dia tahu Christ menciumnya tanpa perasaan. Ini sama saja pelecehan, padahal sudah tertera dikontrak, tidak boleh ada kontak fisik yang berlebihan, kecuali dalam keadaan tertentu seperti pernikahan. Tangan Lyla mengepal, berusaha menahan diri untuk tidak menampar Christ. ••• Plak! Christ tersentak saat Lyla tiba-tiba menamparnya, begitu mereka masuk ke ruang ganti, dan hanya ditinggal berdua. "Hei, kau sadar tidak perbuatan mu tadi melanggar kontrak?" tanya Lyla sembari menunjuk wajah Christ. Christ menepis tangan kanan Lyla yang menunjuknya. "Tidak sopan," ucap Christ. "Kau yang tidak sopan! Kau yang buat kontrak konyol itu, tapi kau sendiri yang mau melanggarnya." "Ya ampun, aku hanya mencium mu itu, itu wajar saat pernikahan kan? Harusnya kau senang dong, bisa dicium orang yang kau sukai." Lyla menatap sengit dan jengkel Christ. "Aku tidak merasa senang tuh." "Jangan sok jual mahal." "Kau itu ternyata b******n juga ya?" Lyla mengangkat tangannya hendak menampar Christ lagi, tapi Christ sudah lebih dulu meraih kedua tangannya. "Dari pernikahan ini mungkin kau akan sadar, kalau aku tidak sebaik yang kau kira selama ini. Aku akan sangat bersyukur kalau kau jadi membenci ku, jadi aku tidak perlu merasa bersalah saat menceraikan mu." "Kalau akhirnya aku tetap menyukai mu bagaimana?" Christ berdecih. "Itu tidak mungkin. Kalau kau memang masih menyukai ku, kau berarti nanti mau saja bermalam dengan ku kan?" Duk! Tanpa aba-aba Lyla tiba-tiba menendang perut bagian bawah Christ dengan lutut, hingga Christ langsung tersungkur. "Aku bukan gadis murahan tau," ucap Lyla. "Sudahlah, aku mau ganti baju dulu." Kata Lyla sembari masuk ke dalam tirai untuk mengganti bajunya. "Jangan buka tirainya! Awas saja!" ••• "Ayah bilang kau dan Lyla cuti selama dua minggu, dan Ibu sudah membelikan kalian tiket untuk bulan madu! Tiket pesawat, hotel, dan jalan-jalan ke tempat indah." Christ menatap datar Ibunya yang tampak sangat bersemangat. Lyla menanggapi dengan ramah dan sukacita, sambil tak lupa mengucapkan terimakasih. Padahal Lyla hanya akting, tapi di mata Christ, Lyla sungguhan merasa senang, karena diberi waktu untuk bulan madu bersamanya. "Nah, kalian sekarang pasti lelahkan setelah acara pernikahan, makanya sekarang kalian tinggal di rumah Ayah dan Ibu saja sementara, yang paling dekat dengan gedung pesta. Besok kalian bisa pulang ke rumah Christnieee..." kata Ibu sambil mencubit pipi Christ. "Aduh, Ibu. Jangan memperlakukan aku seperti anak kecil di depan istri ku dong." Protes Christ. "Ah, iya deh, yang sudah besar. Mentang-mentang sudah menikah, kau jadi hanya mau dimanja dengan istri mu ya?" Christ mengerucut kan bibir, ia kemudian melirik Lyla yang tampak sedang menutup mulutnya untuk menahan tawa. Thomas, Leon dan kedua orang tua Lyla, tak lama ikut datang ke ruang ganti untuk menyapa Lyla serta Christ. Melihat kehadiran mereka, Ibu Christ langsung menyapa dengan ramah. "Hwaaaaa, adik ku kenapa sudah menikah?!" semuanya terkejut, saat Thomas tiba-tiba menangis sambil memeluk Lyla. "Nanti siapa yang mengurus baju ku? Apa lagi mencari kaos kaki ku yang sering nyelip, dan menjahitkan celana ku yang sering robek? Lalu, lalu, nanti siapa yang mengelus kepala ku waktu aku susah tidur? Huaaaaaaa." Ayah menggelengkan kepalanya, sembari menutup wajahnya. Jujur, dia malu dengan tingkah Putranya ini. Mana di depan besan pula. "Makanya cari pacar, atau latihan urus diri mu sendiri lah." Kata Lyla sembari berusaha melepaskan pelukan Thomas yang mulai membuatnya sesak napas. "Kakak, kau membuatku malu." Dengus Leon. Thomas akhirnya melepaskan pelukannya dari Lyla. Ia menatap adik perempuannya, dengan mata merah dan berkaca-kaca. "Aku harap kau bahagia." Ucap Thomas. "Iya, tentu saja, pasti. Kakak tidak perlu khawatir." "Hei, jaga adikku, jangan terluka seujung kuku pun." Kata Thomas pada Christ. Christ tersenyum. "Itu pasti, Kakak ipar." ••• "Kita akan benar-benar pergi bulan madu nanti?" tanya Lyla, setibanya ia di rumah orang tua Christ. Dan ia serta Christ, sudah masuk ke dalam kamar lama Christ. Sejak kerja, Christ sudah tidak tinggal lagi di rumah orang tuanya. Sebenarnya kamar lama Christ sebelumnya agak berdebu karena sudah lama tidak ditinggali, untungnya ada pembantu yang sudah membersihkannya. "Kenapa? Kau sangat ingin bulan madu ya?" tanya Christ sembari menyenderkan punggungnya pada pintu kaca yang mengarah keluar. "Aku ingin jalan-jalan sih." Balas Lyla jujur. "Kalau kau memang ingin pergi, kita tidak akan satu kamar hotel, jadi kau nanti bayar biaya hotel mu sendiri." Kata Christ. Alis Lyla bertaut. "Tega sekali, kau yang harusnya bayar kamar hotel mu sendiri dong. Atau kau bisa memotong dari bayaran ku sebagai istri setahun mu." "Hah, aku tidak mau pergi. Kau pergi saja sendiri." Ucap Christ. "Memang bisa tidak pergi? Kan Ibu mu sudah membelikan tiketnya." "Tinggal aku tolak. Aku akan bilang mau bulan madu di rumah saja." "Mana bisa begitu, bulan madu itukan jalan-jalan, dan menikmati suasana romantis." "Bulan madu itu untuk begini," kata Christ sambil mengatukan kedua tangannya yang ia buat jadi kerucut. "Jalan-jalan itu hanya bonus." "Setahu ku bulan madu itu jalan-jalan kok." Christ mendengus. "Ya memang jalan-jalan, tapi intinya itu untuk itu." "Tapi kan kita sudah pasti tidak akan melakukan itu, jadi sebut saja bulan madu sebagai jalan-jalan." "Aku malas jalan-jalan." "Ayolah," "Tidak." "Ayolah~" "Tidak!" "Nanti aku akan bongkar kalau kita hanya nikah kontrak." Christ menghela napas. "Oke, baiklah! Dasar kau ini. Polos, polos, bisa mengancam juga ternyata." "Siapa yang bilang aku polos huh?"[]
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN