"Uwahhh, Christ ternyata punya jerawat!" Christ langsung menutup mulut Lyla, karena gadis itu tiba-tiba berteriak, membuatnya terkejut.
"Masak tidak kelihatan?!" seru Christ sembari menutupi dagunya yang memiliki satu jerawat, setelah menjauhkan Lyla darinya.
"Oh, pantas cukuran jenggot mu jadi tidak bersih." Komentar Lyla.
"Ya memang kenapa sih? Manusiawi kan punya jerawat?"
"Aku tidak bilang kau jadi 'apa-apa' kok karena ada jerawat. Tapi pas sekali aku juga sedang jerawatan di dagu hehehe."
Christ menatap Lyla dengan kening mengernyit. "Mana?"
Lyla menunjuk dagu di bagian sisi sebelah kirinya. "Letaknya sama seperti punya mu kok, tapi aku sudah mau sembuh, dan sekarang ditutup makeup, jadinya tidak kelihatan."
Christ mengerucutkan bibir. "Punya ku masih sakit." Keluh Christ.
"Aku punya obatnya kalau mau, tapi ada di rumah." Kata Lyla.
"Aku mau!"
"Tapi dipakainya hanya sebelum tidur."
"Jadi tidak bisa dipakai sekarang?"
"Tentu saja tidak bisa."
"Haduh, aku kira bisa!"
"Yah bisa saja, kecuali kau tidak malu pakai obat jerawat siang-siang. Obatnya tuh berwarna. Lagian tidak akan langsung sembuh, butuh waktu sampai dua atau tiga hari."
"Yah, percuma dong."
"Kalau tidak dikasih akan lebih lama sembuh."
Christ tiba-tiba berteriak, membuat Lyla terkejut. Dia baru tahu kalau Christ serandom ini.
"Aaaaa! Kenapa kita jadi membahas jerawat?! Aku mengantuk." Kata Christ sembari meletakan kepalanya pada bahu Lyla tanpa permisi.
Lyla berdecak. "Dasar aneh," gumam Lyla, yang tidak direspon Christ.
Lyla melirik Christ. Ia langsung menatap Christ dengan tatapan tidak percaya, karena menemukan Christ yang rupanya sudah terlelap. Padahal baru beberapa detik setelah ia bilang mengantuk dan menyenderkan kepala di bahunya.
Yah, meskipun dia tidak ingin Christ menjauh seperti kemarin. Tapi harusnya tidak sedekat ini. Batin Lyla.
Hah, jadi serba salah sepertinya.
Lyla menguap, sembari meletakan kepalanya di atas kepala Christ. Dia sedikit terkejut saat pipinya bertemu dengan rambut Christ, rambut Christ sangat lembut.
•••
Tok, tok, tok. Thomas mendengus. Sumpah deh, kalau Christ bukan atasannya, dan dia suka pekerjaannya, dia pasti sudah menendang pintu di depannya dan berteriak-teriak, karena dia sudah mengetuk pintu berulang kali, tapi tidak menerima respon apapun dari Christ.
"Adik ipar! Aku bawa berkas yang kau minta tadi pagi!" seru Thomas. Ia kemudian berdecak, karena lagi-lagi tidak menerima jawaban.
"Akh, aku tidak peduli! Tidak peduli ya kalau dibilang tidak sopan sama atasan, aku ketuk-ketuk dari tadi juga tidak dipersilahkan masuk." Sambil ngedumel, Thomas membuka pintu ruangan Christ.
Tapi baru setengah melangkah, ia berhenti dan langsung menutup mulutnya melihat apa yang terjadi di sofa.
Christ berbaring telentang di sofa, sementara Lyla berbaring tengkurap di atas tubuh Christ.
"Oh tidur toh, pantas." Gumam Thomas. "Hey, tapi ini kan bukan rumah, bagaimana bisa mereka mesra-mesraan di kantor? Cih. Mentang-mentang pengantin baru."
Thomas berjalan ke meja kerja Christ, untuk meletakan berkas yang tadi ia bawa. Sebisa mungkin tidak membuat suara sedikit pun, agar tidak mengganggu tidur Christ dan Lyla.
'Kapan aku nikah ya? Haish, sekarang pacar saja tidak punya.' Batin Thomas. 'Aish, tunggu sampai Leon selesai kuliah! Kalau aku menikah sekarang, siapa nanti yang akan jaga Ayah dan Ibu? Sabar Thomas. Kita cari pacar dulu, aku yakin banyak yang mau dengan mu.'
Saat sedang sibuk bermonolog sendiri, Chamgbin seketika tersadar saat ia mendengar suara lenguhan Christ. Buru-buru ia keluar dari ruangan Christ, tidak ingin Christ atau Lyla sampai mendapatinya ada di sini. Karena pasti nanti jadi canggung.
Sementara itu, Christ melenguh sebenarnya hanya karena ia hendak pindah posisi jadi menyamping. Karena ada Lyla di atas tubuhnya, Christ jadi memeluknya terlebih dahulu, sebelum dibawa berguling ke sisi kanan.
Lyla membalas pelukan Christ, sambil menyamankan posisi kepalanya di d**a Christ. Karena sama-sama tidur, tidak ada yang menyadari tingkah masing-masing.
Padahal sekarang masih jam kerja, tapi Christ dan Lyla malah tidur siang. Hal yang tidak pernah ada di kamus Christ dan Lyla.
•••
William menopang dagunya sembari menatap layar ponselnya. Tumben Lyla belum menghubunginya, belakangan ini Lyla sering sekali mengiriminya pesan, menceritakan berbagai hal yang membuat jam kerja William yang membosankan jadi lebih menyenangkan.
Lyla itu orang yang menyenangkan, sama sih seperti Kakaknya. Hanya saja Kakaknya lebih cerewet dan gampang marah.
Tapi ada sesuatu yang membuat William sebenarnya merasa janggal dengan Lyla. Tidak hanya dengan Lyla, tapi juga dengan Christ.
Keduanya sepertinya tidak memiliki hubungan apapun, tapi sama-sama seperti sedang menutupi hal yang sama.
Meskipun tidak mau ikut campur atau cari tahu, jujur saja William penasaran. Keduanya sama-sama gugup waktu William hendak memastikan mereka sudah menikah atau belum?
Dan selalu mengalihkan topik. Pernah saat ia dan Christ sedang makan siang di kantor kantin, dan papasan dengan Lyla. Christ langsung mengajak William untuk pergi. William bahkan belum sempat menyapa Lyla saat itu.
Christ itu meskipun selalu menceritakan apapun padanya, kalau sudah punya rahasia, akan sangat pandai menutupinya.
Bahkan William selama bertahun-tahun berteman dengan Christ, tidak tahu kalau Ibunya saat ini bukan Ibu kandungnya.
William tahunya malah dari Ibu Christ sendiri. Waktu itu William sedang main ke rumah Christ, dan dia kaget melihat Christ yang bersikap kasar pada Ibunya. Ibu Christ kemudian bilang padanya, untuk memaklumi sikap Christ, karena dia memang hanya Ibu tiri.
Hubungan mereka sempat renggang saat itu, William merasa Christ tidak benar-benar menganggapnya sebagai sahabat. William tahu memang tidak semua hal harus diberitahu ke orang lain, meskipun itu sahabat sendiri. Tapi hal-hal seperti itu... bukannya harus diberitahu? Terlebih selama ini Christ sudah tahu banyak tentang dirinya, tapi William malah tidak tahu banyak tentang Christ.
Kalau memang benar sampai Christ juga menutupi hal besar atai penting lagi darinya, apa dia akan kembali menjauhi Christ?
•••
Duk! Christ tersentak saat tiba-tiba merasakan tendangan yang cukup keras di perutnya. Ia membuka matanya dengan susah payah, dan mendapati lutut kiri Lyla berada tepat di depan perutnya.
"Aduh, pakai rok pendek tapi angkat-angkat kaki." Gumam Christ sembari berusaha meluruskan kaki Lyla kembali.
Tapi ia tak lama tersadar ada yang aneh dengan posisinya dan Lyla, ia langsung bergerak mundur, tapi malah membuatnya jatuh dari sofa.
Bruk! Suara debuman yang cukup kencang, membuat Lyla juga jadi terbangun. "Christ? Kau tidak apa-apa?" tanya Lyla.
Christ tidak menjawab, ia sibuk meringis sambil mengusapi kepalanya.
Lyla pun turun dari sofa, dan membantu Christ untuk kembali duduk di sofa.
"Kau tidak apa-apa?" Lyla kembali bertanya sembari mengusapi kepala bagian belakang Christ.
"Aku tidak apa-apa, hanya kaget." Kata Christ.
"Memangnya kenapa sampai kaget begitu?" tanya Lyla.
Christ menatap Lyla dengan salah satu alis terangkat. "Heh, kau tidak sadar?"
Lyla menggelengkan kepalanya.
"Aku kaget kita ketiduran, padahal sekarang bukan jamnya istirahat." Tutur Christ sembari membuang muka. "Ck, hei, kenapa masih mengelus kepala ku sih?!" protes Christ.
"Yah, kan kau baru jatuh." Kata Lyla.
"Aku sudah tidak apa-apa, sekarang lebih baik kita kembali kerja." Balas Christ sembari bangkit berdiri, tapi ponsel Christ tiba-tiba berdering, membuatnya mengurungkan niatnya untuk pergi ke meja kerjanya.
"Siapa?" tanya Lyla penasaran.
"Ibu," balas Christ sembari menempelkan benda berwarna hitam itu ke depan telinganya.
Lyla melihat ke arah jam dinding, matanya seketika melebar. Sekarang sudah jam tujuh malam! Astaga, berapa lama ia dan Christ tidur?
"Apa? Ibu sudah di rumah ku?!" seru Christ. "Astaga Bu! Kenapa datang sendiri? Kan bisa aku jemput!"
"Nanti kau kerepotan, lagian perjalanan dari rumah sakit ke rumah mu kan jauh. Ayah dan Ibu sudah pergi dari rumah sakit dari sore tadi."
"Ck, ya sudah aku dan Lyla akan segera pulang."
"Tapi sekarang belum waktunya pulang kantorkan?"
"Tidak apa-apa izin sebentar."
"Ya sudah, Ayah dan Ibu tunggu."
Sambungan telfon pun tak lama terputus, ia menatap Lyla yang balik menatapnya dengan tatapan penasaran.
"Hah, ck, kita harus pulang sekarang." Kata Christ.
"Ayah dan Ibu sudah sampai ya?" tanya Lyla.
"Iya, astaga, aku kira datangnya akan lebih malam." Balas Christ.
"Bagus dong kalau datangnya masih jam segini, bahaya orang tua masih di jalan larut malam. Apa lagi Ayah sakit." Kata Lyla.
"Kau itu jangan memperlakukan orang tua ku seperti orang tua mu sendiri dong."
Lyla menatap Christ aneh. "Kau ini bicara apa sih? Meskipun itu orang tua yang tak ku kenali sama sekali, aku akan tetap bersikap begini kalau diperlukan. Kau itu terlalu percaya diri, aku sengaja melakukan ini untuk mengambil hatimu. Iyakan?"
Christ gelagapan. "Ti-tidak!" tukas Christ.
"Aku mau menolakmu ah, kalau kau tiba-tiba menyatakan cinta padaku." Kata Lyla sambil terkikik.
"Itu tidak akan mungkin terjadi!"
•••
"Kalian baik-baik saja kan?" tanya Ayah, begitu Christ dan Lyla baru tiba di rumah.
"Kami baik-baik saja." Balas Christ. "Memang apa yang Ayah pikirkan?"
"Perasaan Ayah hanya tidak enak. Tapi syukurlah kalau kalian baik-baik saja." Kata Ayah.
"Memangnya Ayah punya perasaan batin? Ayah kan bukan Ibu. Ibu yang sekarang juga tidak akan bisa merasakannya."
Lyla sontak menepuk tangan Christ, karena perkataan yang dilontarkan Christ.
"Orang tua, mau Ayah dan Ibu pasti punya ikatan batin dengan anaknya, meskipun tidak sekuat Ibu, tapi tetap punya, namanya juga sedarah." Kata Lyla sembari menatap tajam Christ, ia kemudian beralih menatap Ayah Christ sembari tersenyum.
"Ayah,lebih baik kita masuk, tidak bagus di luar malam-malam." Kata Lyla sembari memegangi kursi dorong Ayah.
"Ayah bisa sendiri Lyla." Kata Ayah.
"Tidak apa-apa kok. Ayah belum benar-benar pulih, pasti berat memutar rodanya." Lyla kemudian memutar kursi roda Ayah menghadap ke pintu, dan perlahan mendorongnya masuk ke dalam rumah.
Christ menatap punggung Lyla yang menjauh di dalam rumahnya, tapi tak lama Lyla menoleh ke belakang, membari kode pada Christ untuk segera masuk.
Christ tidak langsung menurut, dia menenangkan dirinya terlebih dahulu, agar saat di dalam rumah tidak mudah tersulut emosi.
Setelah merasa tenang, baru Christ bergegas masuk ke rumah, tak lupa menutup pintu dan menguncinya.
•••
"Akh! Ibu! Kenapa pakai dapur ku tanpa izin?!" seru Christ saat menemukan Ibunya di dapur.
"Ibu hanya mau membuatkan makan malam, kau dan Lyla kan pasti lelah habis pulang kerja."
Lyla yang sedang minum, langsung menghampiri Christ dan menggenggam tangan kanannya, sembari mengelus punggung tangan Christ menggunakan ibu jarinya, agar pria itu tenang. Lyla cukup kaget mendengar Christ yang baru masuk tiba-tiba membentak Ibunya, bagaimana dengan Ibu yang dibentak? Apa lagi sudah tua.
Lyla bisa lihat tangannya agak gemetaran.
"Maaf Bu," ucap Christ sembari menundukkan kepalanya.
Lyla mengusap bahu Christ, kemudian menuntunnya untuk duduk di kursi meja makan.
"Aku buatkan teh ya? Atau mau minuman dingin?" tawar Lyla.
"Aku... aku mau minuman dingin saja." Balas Christ.
"Oke, akan aku ambilkan." Kata Lyla sembari bergegas ke kulkas.
Di kulkas tidak tersedia banyak minuman, hanya air mineral, s**u, jus buah kemasan, dan bir. Tangan Lyla meraih salah satu kaleng birnya, sembari mengernyitkan kening.
"Christ, kenapa ada bir di dalam kulkas?" tanya Lyla sembari menunjukkan bir yang tadi ia ambil.
"Aku hanya membutuhkannya sesekali." Balas Christ.
Lyla mendengus, dan mengembalikan bir yang tadi ia ambil ke tempat semula. "Sudah aku bilangkan jangan minum di rumah."
Christ tidak merespon, dia hanya menopang pipinya sembari memajukan bibir bawahnya.
Lyla tak lama kembali, sambil membawakan jus kemasan dan gelas. Ia menuangkan jusnya terlebih dahulu ke gelas, sebelum menyerahkannya pada Christ.
Tapi saat Christ hendak mengambil jus tersebut, Lyla malah menjauhkannya dari Christ.
"Senyum dulu, aku tidak mau memberikannya kalau manyun seperti itu." Kata Lyla, yang membuat Christ menatapnya jengkel.
"Apa-apaan sih kau ini?!" seru Christ.
"Apa susahnya senyum? Kenapa juga kau merajuk seperti itu?"
Christ malah makin manyun, sembari melipat kedua tangannya di depan d**a.
"Benar nih kau tidak mau jusnya? Sudah habis loh, tinggal segelas ini."
"Aku mau! Tapi jangan menyuruh ku yang aneh-aneh dong."
"Memangnya senyum aneh? Hanya tinggal tarik kedua bibir mu ke atas."
Christ akhirnya senyum, tapi hanya sebentar, itu pun terpaksa, dan tidak mau sambil melihat Lyla.
"Sekarang berikan jusnya!" seru Christ sembari menengadahkan tangannya.
"Tidak mau! Senyuman mu tidak tulus!"
"Astagaaa! Ya sudah aku minum bir saja!" kata Christ sambil hendak berdiri, tapi Lyla cepat menahannya.
"Oke, oke, nih." Lyla akhirnya menyerahkan jus yang sempat ia tahan dari Christ, Christ langsung meraihnya, karena takut Lyla nanti kembali menjauhi jus itu darinya.
"Ibu, mau aku bantu masak?" Lyla meninggalkan Christ sendiri di meja makan, untuk menghampiri Ibu. Meskipun Ibu sempat menolak tawaran bantuan Lyla, pada akhirnya Lyla tetap bersikukuh membantu.
Christ terdiam, mengamati Lyla sembari meminum jusnya. Manusia seperti Lyla itu benar-benar nyata tidak sih? Batin Christ.
Kalau posisi Lyla terganti oleh Tania, suasana rumah pasti tidak akan jadi sehangat sekarang. Tania juga tidak bisa melakukan pekerjaan rumah, dia menghabiskan masa kecil dan remajanya sebagai trainee. Ditambah Tania memang selalu takut untuk ambil inisatif. Saat masa trainee- nya ruang geraknya sangat dibatasi oleh pelatih, salah sedikit bisa kena amuk. Jadi Tania tidak berani bergerak, sebelum diperintah.
Di mata Christ itu bukan sebuah kekurangan, tapi malah penderitaan. Hanya saja dengan sifat Tania yang seperti itu, akan mempengaruhi suasana rumah saat ini.
Christ sangat canggung dengan orang tuanya, meskipun Ibunya sudah berusaha memanjakan dirinya. Kalau Lyla itu Tania, tidak terbayang bagaimana bekunya suasana saat ini.
Christ tercenung, dia tanpa sadar jadi memikirkan Tania. Apa kabarnya dia? Christ selalu khawatir pacar barunya tidak bisa menerima atau memaklumi kekurangan yang Tania miliki.
Selama berkencan dengannya, Tania sebenarnya sudah sedikit berubah. Dari awalnya dia hanya bisa tersenyum di depan kamera, sampai akhirnya dua bisa tersenyum juga meskipun di balik kamera.
"Christ, kenapa melamun?" Christ seketika tersadar dari lamunannya, ia mendongak dan mendapati Lyla yang berdiri di depannya.
"Makanan sudah siap. Kau bisa bawa Ayah mu ke sini?" ujar Lyla.
"Apa? Ibu saja!"
Lyla memiringkan kepalanya ke kiri, sembari menatap tajam Christ. Christ berdiri sambil berdecak.
"Oke! Aku akan bawa Ayah ke sini." Kata Christ dengan kaki sedikit menghentak saat keluar dapur.
'Kenapa juga sih aku menuruti perintah Lyla? Aku kan Bosnya!' dumel Christ dalam hati.
•••
Brak! Tania tersentak saat Direktur perusahaannya, tiba-tiba membanting sebuah berkas di depan wajahnya.
"Haduh, sejak kau pacaran dengan dia kenapa malah banyak iklan yang meng- cancel kontraknya?!" seru Direktur itu.
"Kan sudah jelas, dia itu artis baru! Aku artis lama yang pernah pacaran dengan seorang Direktur, dan tidak pernah dapat restu dari keluarganya, dari situ saja nama ku sudah jelek! Banyak yang berspekulasi macam-macam, kenapa hubungan ku dengan Christ tidak pernah direstui."
"Dan saat berita aku pacaran dengannya terpublish, itu baru beberapa hari setelah Christ menikah, kesannya aku jadi gadis yang suka gonta-ganti pacar dengan cepat. Imej ku jadi semakin jelek karena rencana anda, bukannya memperbaiki reputasi ku. Yang reputasinya naik malah hanya dia."
"Apa lagi anda tahu di negeri ini, perempuan yang selalu salah! Orang-orang hanya selalu membela pihak laki-laki. Padahal aku yang menderita di sini."
Pria senja itu menggulung berkas yang tadi ia lempar, dan hendak melayangkannya pada wajah Tania. Tapi Manajer Tania yang sedari tadi berdiri di samping Tania, langsung menahannya.
"Anda mau memukul perempuan? Lagi pula yang dikatakan Tania itu benar. Memangnya anda dapat komisi berapa dari agensi artis baru itu? Rencana anda hanya memperburuk reputasi Tania."
"Kalian sudah berani ya pada ku!"
"Intinya banyak kontrak iklan yang batal, bukan salah Tania." Ujar Manajer tersebut. Ia kemudian meraih tangan Tania, mengajak gadis itu berdiri.
"Saya dan Tania permisi dulu." Mereka berdua membungkuk secara terpaksa di depan pria senja itu, sebelum bergegas pergi dari ruangan yang selalu terasa menyesakkan itu.
Namun saat baru membuka pintu, Tania dan Manajernya terhenyak, karena mendapati ada seseorang yang berdiri di depan pintu.
•••
"Jadi kamar ku itu aslinya kamar tamu?" tanya Lyla, yang dibalas anggukan oleh Christ.
"Makanya sekarang kita harus tidur bersama, Ayah dan Ibu akan pakai kamar mu. Kasur di kamar mu juga lebih luas dari kamar ku." Kata Christ.
"Tapi kasur mu sempit, aku tidak mau." Kata Lyla.
"Sofa di ruang tengah itu sofa bed sih, ukurannya jauh lebih besar dari kasur ku, kau mau tidur di sana saja?" tawar Christ.
"Kenapa sih kau tidak beli kasur yang besar untuk kamar mu huh?"
"Aku takut kasur besar. Nanti kalau berguling, di sebelah ku ternyata ada makhluk lain."
Lyla menatap Christ dengan tatapan tidak percaya. "Serius kau punya pemikiran seperti itu?"
Christ menganggukkan kepalanya. Lyla menghela napas. Dia benar-benar banyak melihat sisi lain Christ.
Ngomong-ngomong Lyla dan Christ saat ini sedang rapat di kamar mandi Lyla. Kalau di luar takut terdengar orang tua Christ, sekalian Lyla mau memakaikan obat jerawat ke wajah Christ.
Orang tua Christ saat ini sedang nonton TV di ruang tengah, sambil menunggu kamar tamu yang kata Christ sedang dibereskan.
"Kita 'harus' ya tidur bersama?" tanya Lyla.
"Itu kan tidak perlu ditanya, kalau tidur terpisah nanti orang tua ku curiga kan?"
"Kan bisa kita tidur terpisah, nanti aku atau kau bangun lebih awal untuk pindah. Jadi seolah-olah, semalam kita tidur bersama."
"Kau tidak tahu betapa besar rasa ingin tahunya Ibu ku itu, bisa saja dia keluar tengah malam dan menge cek."
"Ini bukan modus mu lagi agar kita tidur bersamakan?"
Christ tergelak, tapi bukan tawa karena ada sesuatu yang lucu. Tawanya seperti tokoh jahat di kartun.
"Kau terlalu percaya diri," ucap Christ.
"Aku tidak akan bilang begitu, kalau sebelumnya kau tidak pernah bilang ingin tidur dengan ku." Kata Lyla sembari melipat kedua tangannya di depan d**a, sementara Christ langsung berhenti tertawa aneh.
"Jadi sekarang kesimpulannya bagaimana?" tanya Christ.
"Kita tidur di ruang tengah saja." Balas Lyla. "Tapi beda selimut."
"Beda selimut? Nanti kalau orang tua ku lihat bisa curiga."
"Katanya kalau satu selimut berdua, di tengah-tengahnya bisa ada hantu."
"Benarkah?" tanya Christ dengan mata membola, Lyla membalasnya dengan anggukan.
"Ah tidak percaya, suami istrikan tidurnya pasti menggunakan satu selimut yang sama." Kata Christ.
Lyla seketika menggerutu, iya benar saja. Itu mitos yang dia dengar dari Thomas sih. Thomas sering memberinya peringatan, kalau pacaran nanti jangan mau diajak satu selimut bersama, nanti ada hantu. Padahal selama ini Lyla tidak pernah pacaran.
"Waktu di hotelkan kita satu selimut." Kata Christ.
"Ada kok hantunya!" seru Lyla.
"Aku tidak lihat tuh."
"Ya kan kau hantunya."
Christ berdecak, sementara Lyla tergelak melihat raut wajah kesal Christ.
"Oke, jadi kita tidur di ruang tengah saja?" tanya Christ memastikan. Lyla hanya menganggukkan kepalanya sebagai respon.
"Sekarang kita siap-siap tidur, aku sudah ngantuk." Kata Lyla sembari meraih sikat dan pasta gigi.
Christ pun melakukan hal sama, dia sudah bawa sikat giginya sendiri.
Selama sikat gigi, tidak ada yang buka suara. Yah, siapa yang bicara sambil gosok gigi? Tapi suasana jadi agak canggung.
Saat kumur, mereka saling lirik melalui cermin. Lalu waktu hendak membuang air bekas kumur, kepala mereka terantuk karena sama-sama menunduk ke arah wastafel.
'Suasana yang aneh.' Batin Lyla.
Selesai gosok gigi, Lyla beralih hendak cuci muka. Tapi saat sedang menuangkan sabun ke tangannya, ia bisa merasakan ada mata yang memperhatikannya. Lyla menoleh ke sampingnya, dan mendapati Christ tengah memperhatikannya.
"Apa?" tanya Lyla.
"Aku tidak bawa sabun cuci muka ku, jadi minta dong." Balas Christ sembari mengulurkan sebelah tangannya pada Lyla.
Lyla pun memberikan sabun cuci mukanya ke tangan Christ, tapi hanya sedikit, membuat Christ merengut.
"Pelit! Kenapa hanya segini?!" seru Christ.
"Ini mahal tahu." Balas Lyla. "Lagian tidak perlu banyak-banyak, nanti wajah mu kering."
Lyla menggosok wajahnya dengan sabun, lalu Christ mengikuti bagaimana caranya Lyla cuci muka. Cara Lyla cuci muka, beda dengan dirinya. Christ biasanya menggosok mukanya secara asal, lalu langsung dicuci. Kalau Lyla pelan-pelan, pipinya dulu, baru ke dagu dan kening, lanjut ke hidung, dan terakhir leher.
"Leher juga harus disabuni?" tanya Christ.
"Tentu saja, leher juga perawatannya juga sama seperti wajah." Balas Lyla.
Selesai cuci muka, Christ senyum-senyum sendiri sembari menepuk-nepuk pipinya menggunakan jari. Sabun cuci muka Lyla wanginya lebih enak dari miliknya, busanya juga lembut, dan habis cuci muka ada efek cerah instan. Meskipun rasanya kurang bersih, karena sabun cuci muka Lyla terlalu lembut.
Lyla tak lama menyodorkan handuk kecil yang masih bersih pada Christ.
"Keringkan wajah mu, nanti baru aku pakaikan obat jerawatnya." Christ menurut untuk mengeringkan wajahnya.
"Huahhh, segar." Kata Christ. "Kalau begini aku bisa begadang nanti."
"Jangan begadang, nanti jadi jelek." Kata Lyla.
"Aku sering begadang kok, tapi tetap tampankan?"
"Whatever, hadap sini, aku mau oleskan obat jerawatnya."
Christ mengalihkan wajahnya dari cermin, jadi menghadap ke arah Lyla.
"Agak merunduk badannya, agar mudah." Titah Lyla lagi.
Christ pun menekuk lututnya, agar wajahnya sejajar dengan Lyla. Lyla pun kemudian mengoleskan obat jerawatnya di atas jerawat Christ, menggunakan cotton bud. Saat Lyla sedang memberinya obat, Christ malah fokus pada bibir Lyla.
"Kok bibir mu lembab sekali?" tanya Christ.
"Ya aku kan pakai lipblam." Balas Lyla.
"Aku juga mau dong! Punya ku tidak selembab itu."
"Aish, kau centil juga ternyata." Kata Lyla, tapi tetap mengambilkan lipblam miliknya, setelah selesai memakaikan Christ obat jerawat.
Christ otomatis memajukan kedua bibirnya, saat Lyla mengoleskan bibirnya dengan lipblam, tapi saat sudah beberapa kali oles, Lyla dan Christ baru menyadari sesuatu.
Lyla sontak menjauhkan lipblam- nya dari bibir Christ, sembari membuang muka untuk menutupi wajahnya yang memerah, begitu pula dengan Christ.
•••
Ayah dan Ibu sudah di kamar tamu, atau kamar Lyla untuk istirahat. Besok pagi mereka akan kembali ke rumah sakit, karena sebenarnya Ayah belum boleh keluar dari rumah sakit.
Sementara Lyla dan Christ, sudah berbaring di sofa bed yang ada di ruang tengah. Lyla main ponsel sambil tiduran, sementara Christ sibuk cari remote TV.
"Kau mau nonton malam-malam begini?" tanya Lyla.
"Volume suaranya akan aku kecilkan kok. Biasanya kalau tengah malam ada film bagus." Balas Christ.
"Film bagus? Film dewasa maksud mu?"
"Tidak mesti kok. Aha, ini dia." Lyla melirik Christ yang baru menemukan remote TVnya di selipan sofa. Ia kemudian duduk manis sembari menekan tombol merah remote tv, hingga tv pun tak lama menyala.
Tapi tayangan yang sedang berlangsung di tv, membuat Christ maupun Lyla mematung. Tayangan tersebut adalah berita tentang Tania yang baru keluar dari gedung agensi bersama Manajer dan pacar barunya.
Dari kamera yang menyoroti Tania, Christ bisa melihat raut wajah Tania yang tertekan. Padahal dia sudah berusaha menutupi wajahnya dengan tudung jaket yang dikenakannya. Tapi wajah Tania tetap tidak bisa tertutup maksimal dari sorotan kamera.
'Tania sepertinya tidak bahagia.' Batin Christ.
Christ tiba-tiba mematikan TV-nya membuat Lyla menatapnya heran.
"Tidak jadi nonton?" tanya Lyla.
"Sudah tidak mood." Balas Christ sembari berbaring, dan menarik selimut untuk menutupi sebagian tubuhnya.
Christ menutup matanya sejenak, tapi tak lama membuka matanya lagi dan langsung menatap Lyla yang berbaring di sebelahnya.
"Sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan dengan mu." Ujar Christ, yang membuat Lyla menoleh ke arahnya.[]