Kadang perasaan dan keinginan seseorang itu... sulit ditebak ya? Malah bikin bingung sendiri. Satu-satunya jalan hanya bisa pasrah dengan kehendak Tuhan.
Keputusan Christ semalam benarkan? Atau tidak? Rasanya sakit dengar dia bilang begitu, tapi salah Lyla sendirikan? Yang berkata seolah meminta Christ, agar tidak sering muncul di depannya.
Saat sarapan Lyla tidak bertemu Christ di meja makan, meskipun Lyla sudah memperlambat makannya, Christ tidak kunjung keluar dari kamarnya. Padahal dia sudah menyiapkan dua porsi sarapan, mau memanggilnya rasanya canggung sejak kejadian semalam. Padahal di meja makan Christ meletakkan kunci mobil, dengan secarik kertas berisi tipe mobil dan plat nomornya.
Lyla awalnya ragu-ragu untuk menggunakannya, tapi sepertinya mobil itu memang ditujukan untuk dirinya. Terlebih jarak kantor dan rumah Christ juga jauh. Halte bis tidak ada di sekitar sini.
Kalau Lyla tidak menggunakan mobilnya, sama saja menyusahkan diri sendiri.
Dan saat Lyla sudah pergi, Christ baru keluar dari kamarnya. Ia ke dapur dulu untuk sarapan.
Sesaat ia terdiam melihat ada sarapan yang sudah tersaji di meja makan. Christ kira Lyla tidak akan membuatkannya sarapan.
Christ menarik salah satu kursi, kemudian duduk di sana. Ada secarik kertas yang terselip di bawah piring.
'Tadi malam sepertinya semuanya jadi kacau. Maaf itu salah ku, aku tidak seharusnya bilang begitu. Makanlah dengan baik ^^'
Christ menarik ke belakang rambutnya. Jadi Lyla merasa bersalah karena sudah mengungkapkan isi hatinya yang sebenarnya? Itu tidak salahkan. Tapi Christ bingung harus merespon bagaimana. Dia pikir jalan terbaiknya memang menghindari Lyla, kalau itu bisa membuatnya jadi jauh lebih baik.
Dia tidak salahkan?
•••
"Wahhh, rumit." Christ melirik temannya yang baru saja merespon ceritanya. Bukan William, karena William masih kerja.
Tapi temannya yang lain, Alex.
"Ck, kenapa kau tidak bilang begini, baiklah Lyla, aku akan mencoba membalas perasaan mu. Harusnya kan begitu! Kau masih mau mengharapkan Tania huh?" kata Alex yang membuat Christ tertegun.
"Aku yang selama bertahun-tahun hanya pacaran dengan kucing saja, mengerti masalah begini. Kok kau malah mau menghindari Lyla?"
"Y-ya karena aku pikir itu jalan terbaik. Sebelumnya aku juga sudah memberinya tawaran untuk menjalin hubungan sungguhan, tapikan dia tolak." Kata Christ.
"Itu karena tawaran mu yang sebelumnya, kau gunakan untuk membuat pelampiasan. Bukan karena kau memang niat mau menjalin hubungan sungguhan dengan Lyla." Timpal Alex, yang membuat Christ diam.
"Kenapa sih? Kau sama sekali tidak mau membuka hati mu untuk Lyla?" tanya Alex.
"Aku... aku tidak yakin bisa." Balas Christ sembari mengusap tengkuknya.
"Kau pasti sudah lihat berita pagi ini, Tania sudah resmi berkencan dengan artis seagensinya. Lalu kau mau apa lagi? Mau cari wanita lain? Sementara jelas ada Lyla di depan mu, yang mencintai mu, dan sekarang terikat pernikahan resmi dengan mu."
"Aku tidak bisa... bahkan aku tidak bisa membayangkan sama sekali untuk berkencan dengan Lyla."
"Kau buta." Ucap Alex. "Ya sudah, hindari saja Lyla sementara, nanti kau juga akan menyadari sesuatu. Kau mungkin memang menyukai Tania, tapi Tania sangat jarang, malah hampir tidak pernah ada di sisi mu karena sibuk. Sementara Lyla, dia baru beberapa hari bersama mu, tapi dia selalu ada di samping mu kan? Bahkan dia peka saat kau butuh pelukan. Aku sebenarnya mual waktu kau cerita itu, karena aku tidak suka hal-hal berbau romantis seperti itu. Tapi mendengar semua cerita mu, Lyla adalah orang yang paling kau butuhkan dalam hidup mu."
"Dan biasanya kebanyakan wanita itu suka menghancurkan hubungan pria 'nya' dengan keluarganya sendiri, atau bertengkar dengan mertua. Tapi Lyla malah berusaha memperbaiki hubungan mu dengan orang tua mu."
"Aku tidak minta Lyla melakukan itu." Ucap Christ.
Alex mengorek telinga kirinya dengan jari kelingking, sambil mendengus jengah.
"Tidak minta, tapi kau sekarang jadi tidak dilema lagikan? Harus bagaimana ke orang tua mu." Kata Alex.
"Hah, sudahlah. Aku mau balik kantor dulu, terimakasih sudah mau dengar cerita ku." Kata Christ sembari bangkit berdiri.
"Oke." Balas Alex.
Christ bangkit berdiri, kemudian bergegas keluar dari restoran.
Rasanya tidak nyaman untuk makan siang di kantor karena ada Lyla, makanya Christ memilih makan di luar dengan salah satu temannya.
Selama di perjalanan pulang Christ terus memikirkan perkataan Alex. Bukannya Christ tidak mau mencoba membalas perasaan Lyla, tapi ia masih ragu, jadi tidak berani menjanjikan apa-apa pada Lyla.
Bagaimana kalau akhirnya dia gagal?
Christ mengusap wajahnya kasar. Kalau bukan karena Ayahnya, dia tidak akan berbuat sampai sejauh ini. Meskipun dia punya dendam tersendiri pada Ayahnya, ternyata di dalam hatinya dia masih sangat mencintai pria senja itu, sampai melakukan hal ini segala.
Semuanya jadi rumit.
•••
Lyla menatap kalender di depannya. 14 hari berlalu. 14 hari ditambah saat hari pernikahan, dua malam di rumah Christ, satu hari di hotel dan satu hari saat hubungannya dengan Christ mulai jadi terasa aneh.
19 hari pernikahannya dengan Christ sudah berjalan. Waktu terasa cepat berlalu, sekarang sisa 346 hari lagi. Masih banyak hari yang tersisa sih. Diam-diam Lyla memang suka menghitung harinya sejak menikah dengan Christ.
Sejak kejadian malam itu, hubungannya dengan Christ benar-benar tidak membaik. Christ serius menjauhinya. Selama 14 hari Lyla hanya bertemu Christ sesekali, itu pun saat ada rapat, atau pekerjaan tertentu yang mengharuskan mereka bertemu.
Di rumah Christ tidak akan keluar kamar, kalau Lyla belum masuk kamar atau pergi keluar rumah.
Tapi setiap hari Lyla tetap menyediakan makanan untuk Christ. Beberapa hari pertama masih dimakan, tapi selanjutnya tidak lagi. Jadi Lyla yang makan, makanan yang disiapkannya untuk Christ, agar tidak terbuang sia-sia.
Sakit? Iya jelas. Perasaan Lyla sangat sakit, tapi dia tidak mau gegabah lagi mengekspresikan perasaannya. Dia takut salah bertindak lagi, dan malah semakin memperkeruh suasana. Jadi Lyla memilih diam.
Lyla benar-benar menyesal dengan tindakannya kemarin. Jadi serba salah.
Ting! Lyla sontak menolehkan kepalanya dari kalender meja yang tadi sedang ia pegang, karena mendengar ponselnya berbunyi.
Buru-buru Lyla meraih ponselnya. Matanya mengerjap melihat ada pesan masuk dari Christ. Sudah lama sejak terakhir Christ mengiriminya pesan.
Perasaan berdebar tidak bisa ia elakan. Dengan gugup Lyla membuka pesan itu.
From: Christ
Hari ini orang tua ku akan berkunjung ke rumah.
To: Christ
Tiba-tiba?
From: Christ
Iya. Katanya perasaan Ayah ku tidak enak, jadi dia mau datang untuk menge cek kondisi kita.
To: Christ
Memangnya kita kenapa?
From: Christ
Waktu Ibu telfon, pertanyaan yang pertama kali keluar "hubungan kalian baik-baik sajakan?"
To: Christ
Jadi kita harus apa?
From: Christ
Yah, berakting sebaik mungkin kalau kita baik-baik saja. Jangan ada celah sedikit pun yang bisa membuat Ayah dan Ibu curiga, karena nanti Ayah kemungkinan besar jadi tidak mau kembali ke rumah sakit.
To: Christ
Aku usahakan.
Tapi Ayah memangnya sudah boleh keluar dari rumah sakit ya?
From: Christ
Saat ini kondisinya sudah membaik. Tapi itu pun dia sebenarnya tidak boleh pergi terlalu jauh dari rumah sakit.
To: Christ
Oh begitu.
From: Christ
Aku harap, kita nanti tidak canggung.
•••
Cora menatap khawatir Lyla yang tampak kusut. Dari tadi bolak-balik menarik ke belakang rambutnya, mengusap kasar wajahnya, lalu berakhir menenggelamkan wajahnya di lipatan tangan.
Bahkan sudah lima belas menit duduk di kantin, Lyla tidak pesan apapun.
Cora akhirnya meletakkan minuman yang sedang ia minum. Ia berdiri dan bergegas pergi untuk memesankan Lyla minuman.
Buk! Elise yang sedang makan, tiba-tiba memukul kepala Lyla, yang membuat Lyla terkejut dan menatap Elise dengan tatapan protes.
"Apa sih?!" gertak Lyla.
"Kau yang apa? Kenapa sih dari tadi? Cerita dong." Sahut Elise.
"Tidak ada apa-apa..."
"Ck, tidak apa bagaimana sih? Jelas-jelas ada apa-apa."
Lyla menegakan tubuhnya sembari menghela napas. "Tunggu Cora deh,"
Tak berselang lama, Cora datang sambil membawa minuman. Ia menyodorkan pada Lyla, lalu duduk di sebelahnya.
"Terimakasih." Ucap Lyla.
"Oke, sekarang Nyonya Bang, ayo tepati janji mu untuk cerita." Kata Elise.
"Jangan panggil aku dengan sebutan begitu." Dengus Lyla. Ia terdiam sejenak, sebelum akhirnya menceritakan apa yang sebenarnya terjadi padanya.
Elise dan Cora hanya diam menyimak cerita Lyla.
"Jadi sekarang yang kau takutkan, kau akan canggung dengan Christ?" tanya Cora, yang Lyla balas dengan anggukan.
"Kalau ketahuan canggung dengan orang tua Christ, gagal semua dong akting yang sudah ku bangun." Kata Lyla.
"Aku rasa tidak akan langsung ketahuan kalau akting, yah wajar saja misalnya sesekali canggung. Kalian kasih alasan saja sedang bertengkar." Kata Elise.
Lyla memajukan bibir bawahnya. "Kalau bilang begitu orang tua Christ akan kepikiran tidak ya? Maksud ku, mereka akan khawatir atau tidak kalau aku dan Christ sedang bertengkar."
"Yah, tidak tahu. Bisa ada kemungkinan khawatir sih, tapi bukannya pertengkaran itu hal wajar dalam setiap hubungan?" Kata Elise.
"Tapi mereka kan pengantin baru, harusnya masih dalam masa manis-manisnya." Timpal Cora.
"Oh iya, benar juga. Ya sudah, kenapa kalian tidak latihan saja dulu, agar tidak canggung nanti." Kata Elise.
"Bagaimana caranya?" tanya Lyla.
"Kau tanyakan langsung saja pada Christ, aku yakin dia setuju untuk latihan dulu." Balas Cora.
Lyla menghela napas sembari menganggukkan kepalanya. Sedikit takut sih untuk menemui Christ, apa lagi sudah lama mereka tidak ketemu, padahal satu rumah.
•••
Dengan ragu Lyla mengetuk pintu ruangan Christ. Setelah Christ mempersilahkan masuk, Lyla baru membuka pintu, dan jalan dengan perlahan memasuki ruangan Christ.
Melihat kehadiran Lyla, tentu saja membuat Christ terkejut.
"A-ada apa? Kenapa kau ke sini?" tanya Christ sembari bangkit berdiri, dan buru-buru menghampiri Lyla.
"Duduk dulu di sini." Kata Christ sembari menunjuk sofa panjang berwarna putih yang ada di ruangannya.
Lyla pun menurut untuk duduk. Sementara Christ duduk di sofa lain, yang berhadapan dengan sofa yang diduduki Lyla.
Untuk beberapa saat Lyla maupun Christ tidak ada yang buka suara. Christ diam menunggu Lyla untuk bicara, sementara Lyla diam karena ragu untuk mengutarakan niatannya kemari.
"Eum, kita sepertinya tidak bisa tidak canggung nanti waktu ketemu Ayah Ibu." Lyla akhirnya buka suara juga. "Makanya aku pikir apa kita sebaiknya latihan? Agar tidak terlalu kelihatan canggungnya nanti."
"Latihan? Latihannya bagaimana?" tanya Christ.
"Aku justru tidak tahu latihannya harus bagaimana, mungkin kau punya ide?"
Christ terdiam sejenak untuk mencari ide, Lyla pun menunggu dengan sabar, sambil berharap ide Christ nanti tidak aneh, atau membuatnya tidak nyaman nanti.
Setelah cukup lama berpikir, akhirnya ada ide yang muncul di benak Christ, meskipun sebenarnya ia tidak yakin dengan idenya sendiri. "Eumm, mungkin pegangan tangan? Atau ngobrol saja?"
"Mau ngobrol apa?" tanya Lyla.
"Ti-tidak tahu juga." Balas Christ. "Ya sudah pegangan tangan saja? Aku tidak tahu sih cara ini akan efektif atau tidak, paling efektif ya mengobrol sebenarnya."
"Ya sudah ayo ngobrol." Kata Lyla.
Bukannya ngobrol, Christ dan Lyla malah hanya saling tatap, sesekali melirik ke arah lain, dan diam.
Christ mengurut batang hidungnya. "Aku rasa tidak bisa kalau begini." Gumam Christ. "Oke, tapi akan aku coba."
Christ berdehem, kemudian menatap Lyla dengan serius. "Apa cara ku menghindari mu benar? Apa itu membuat mu nyaman?"
Lyla tertegun dengan pertanyaan yang Christ utarakan. Dia jadi bingung harus jawab apa. Jawab seadanya, atau bohong?
"I-itu... sebenarnya aku tidak tahu. Waktu aku bilang saat tidak dekat dengan mu, aku malah lebih baik, sebenarnya aku tidak menyuruh mu untuk menjauh juga. Apa lagi selama beberapa hari, kita sudah terbiasa dekat. Aku... aku memang agak kekanakan waktu itu. Maaf. Aku juga sebenarnya sakit hati, waktu kau ingin menjadikan aku sebagai pelampiasan. Makanya aku ngomong yang aneh-aneh." Tutur Lyla. Yah, pada akhirnya dia memilih menjawab dengan jujur.
Kalau dia jawab, apa yang Christ lakukan sudah benar, atau salah. Malah jadi terkesan ambigu, dan bisa membuat Christ maupun Lyla bingung harus berbuat apa jadinya.
"Aku tidak menyalahkan mu karena sudah jujur. Malah aku jadi tahu seberapa jahat aku." Kata Christ.
"Ahh, kau tidak jahat. Perasaan kan memang tidak bisa dipaksakan. Justru aku yang bodoh, karena sudah terlalu berharap. Sebenarnya bukan berharap, tapi marah karena kau tidak bisa membalas perasaan ku. Padahal itukan bukan salah mu." Kata Lyla. Kemudian ia menghela napas. "Yah, sebenarnya intinya aku tidak suka kau menjauh, apa lagi kita tinggal di satu rumah. Itu rasanya aneh kalau tidak saling sapa. Ditambah kau terus mengabaikan masakan ku. Aku sakit hati tahu! Kau pikir masak gampang!" ujung-ujungnya Lyla mengomel di akhir, dia tidak bisa menahannya.
"Maaf, aku tidak bermaksud. Habis aku jadi..." Christ menggantungkan kalimatnya, karena dia merasa heran sendiri dengan kalimat yang akan keluar dari mulutnya.
'Aku jadi ingat Lyla setiap makan masakannya, kan rasanya aneh.' Batin Christ.
"Habis apa?" tanya Lyla.
"Tidak enak makan sendiri, makanya aku makan di luar dengan teman."
'Padahal sudah biasa sih makan sendiri.'
"Oh, begitu. Padahal kan bisa dibekal makanannya." Protes Lyla.
"Iya, maaf. Aku tidak kepikiran."
"Huh!" Lyla melipat kedua tangannya di depan d**a, sembari menggembungkan pipinya.
"Hei, jangan merajuk, seperti anak-anak saja. Aku minta maaf!"
"Oke, aku maafkan. Lalu ke depannya kita akan bagaimana?"
"Kita berteman saja." Ucap Christ. "Itu pun kalau kau tidak keberatan."
"Aku tidak keberatan! Apa lagi aku sudah dekat dengan Kak William."
"Hah?" salah satu alis Christ terangkat. "Kalian sudah jadi dekat? Sejak kapan?"
"Sejak waktu kita pertama kali ketemu lah. Selama kau jadi menyebalkan aku selalu bertemu dan ngobrol dengan dia."
"Kok kau bilang aku menyebalkan? Kau sendiri tadi yang bilang, aku menjauh itu karena salah mu sendiri!"
"Iya, iya, salah ku. Intinya sekarang aku sudah dekat dengan Kak William, aku optimis, bisa melupakan mu secepatnya. Apa lagi dia itu tampan, manis, suaranya bagus, baik juga."
Christ menutup telinganya. "Aku geli mendengar mu memuji-muji dia, kalau mau memuji-muji dia di depan teman mu saja sana. Aku juga masih tidak terima kau memanggilnya Kak, tapi aku tidak dipanggil Kak juga!"
"Kau kan katanya mau jadi teman ku, jadi tidak masalah dong aku cerita yang baik-baik tentang Kak William. Dan aku sudah bilang, aku tidak akan pernah mau memanggil mu Kak, aku maunya memanggil mu Pak."
Christ mendengus. Ia tiba-tiba beranjak berdiri, kemudian berpindah tempat duduk jadi di samping Lyla.
"Cukup ngobrolnya, sekarang pakai metode kedua. Pegangan tangan." Tanpa menunggu persetujuan Lyla, Christ sudah lebih dulu meraih tangan Lyla, kemudian menggenggamnya.
Lyla hanya diam sembari menatap Christ yang jarak wajahnya lumayan dekat dengannya, lalu membuang muka. Baru dia bilang optimis akan segera melupakan Christ, tapi sekarang dia goyah.
Sementara Christ, menyandarkan punggung dan kepalanya di sandaran sofa, sembari memejamkan mata. Pegangan tangannya pada Lyla tetap erat.
Lyla melirik Christ. Sepertinya Christ kelelahan, terdengar dari napasnya yang juga memberat.
"Christ," panggil Lyla.
"Hhmm?" sahut Christ tanpa membuka matanya.
"Tapi kenapa sih kau sama sekali tidak bisa menyukai ku?"
"Aku tidak tahu. Kan kau yang bilang sendiri, perasaan itu tidak bisa dipaksakan."
"Ya iya sih, tapi aku tetap merasa penasaran. Memang kau kenapa?"
"Kau tidak kenapa-napa, bukan salah mu juga kalau aku tidak bisa menyukai mu."
"Makanya coba dong fokus hanya pada ku. Kau tidak bisa menyukai ku kan pasti karena melirik wanita lain."
"Heh, apa-apaan kau ini? Untuk apa aku fokus pada orang yang tidak membuat ku tertarik?"
"Huh, kata-kata mu itu, menyakitkan tahu!"
"Kau sendiri yang mulai."
Lyla akhirnya memilih diam sambil mengayun-ngayunkan kakinya. Lalu Christ, lama-lama tertidur. Kepalanya yang sebelumnya bersandar di sandaran sofa, perlahan-lahan geser ke arah kanan yang kosong. Lyla yang menyadari kepala Christ yang hendak jatuh, buru-buru menangkap sebelah sisi kepalanya. Niat Lyla hendak mengembalikan posisi kepala ke tempat semula, tapi Christ tiba-tiba membuka matanya dan menatap Lyla, yang membuat Lyla mematung.[]