"Wah, wah, wahhh, apaan ini, aku tidak salah dengar? Jadi merasa nyaman tidur denganku? Oh my- oh Tuhan, woah!" Christ menatap jengkel Lyla yang memberi respon berlebihan, bahkan sampai bertepuk tangan segala.
"Gila, aku tersanjung sekali loh." Kata Lyla sambil menggelengkan kepala. Ia kemudian menatap Christ dengan tatapan aneh, pokoknya Christ tidak suka melihatnya.
"Tapi aku tidak mau!" seru Lyla dengan penuh penekanan. "Aku itu masih polos, dan aku mau menjaga kepolosanku."
Christ maju selangkah hendak menjitak Lyla, tapi Lyla sudah lebih dulu bangkit berdiri dan berlari ke kamarnya.
"Koper mu masih ada di kamarku! Kalau kau mau ambil, lewati aku dulu!" seru Christ, Lyla menyahut dengan teriakan frustasi.
Christ tertawa puas. Tapi tak lama ia terdiam. Bukankah tadi dia dan Lyla sedang tegang dan canggung karena pertengkaran di mobil tadi? Tapi tiba-tiba mencair begitu saja.
•••
Waktunya jam makan malam. Christ biasanya masak sendiri, atau pesan. Tapi karena banyak bahan makanan yang belum sempat diolah kemarin, Christ sepertinya akan masak saja.
Tapi belum sempat ia masuk ke dalam dapur, dari luar Christ dapat mencium aroma masakan, juga suara-suara dari dalam dapur. Dengan setengah berlari Christ bergegas masuk ke dapur.
Ia melihat Lyla dengan hanya dalam balutan celana pendek, kaos putih oblong dan rambut tergelung, sedang sibuk di depan kompor.
"Hei! Kok kau pakai dapur ku tanpa izin?!" seru Christ, setelah cukup lama mematung tanpa sadar saat baru melihat Lyla tadi.
"Maafkan saya Pak, tadinya saya mau izin dulu. Tapi waktu membuka kulkas anda, untuk meletakan minuman yang tadi aku beli di minimarket, aku menemukan banyak bahan makanan yang hampir busuk. Menunggu izin anda, keburu bahan makanannya jadi busuk." Kata Lyla. "Sekali lagi maafkan hamba."
Christ meringis dengan cara bicara dan sikap Lyla yang dibuat-buat.
"Kau tahu, aku jadi ingin menjitak mu!" seru Christ.
"Jangan Pak, nanti kepala saya jadi sakit."
"Kau sedang meledek ku, atau apa sih?!" gerutu Christ.
"Setelah melihat kulkas anda, saya jadi sadar kalau level anda dan saya itu sangat berbeda. Bahan makanan anda mahal-mahal sekali, ya ampun. Hamba menangis melihatnya." Ujar Lyla dramatis, sampai memegangi dadanya segala.
Kalau tidak ingat mereka saat ini sedang ada di dapur, Christ pasti sudah menghampiri Lyla untuk menjitak kepalanya. Tapi pasti Lyla akan menghindar, dan besar kemungkinan tubuh mereka akan menyenggol benda berbahaya kalau berlarian di dapur. Lagi pula mereka bukan anak-anak, tidak sepantasnya main kejar-kejaran seperti saat rebutan kunci tadi.
Jadi Christ harus sabar.
"Padahal ya waktu aku pertama kali bertemu dengan mu, aku kira kau miskin. Soalnya kau suka sekali minta makanan anak lain di tempat les." Tutur Lyla jujur.
Oke, jadi apa Christ masih harus bersabar?
"Itu kan karena aku tidak pernah makan makanan yang mereka bawa, jadi aku mau cicip. Aku tidak pernah makan makanan rumahan seperti mereka." Balas Christ.
"Sampai sekarang?" tanya Lyla.
"Sekarang aku sudah bisa masak sendiri."
"Kalau begitu antri ya, aku masak untuk ku dulu, nanti baru kau masak untuk diri mu sendiri."
"Serius?!" seru Christ dengan ekspresi yang menunjukkan keterkejutan serta emosi.
Lyla tertawa lebar. "Bercanda! Hahaha, astaga, lihat ekspresi mu, konyol sekali."
"Kau ini kenapa sih? Dari tadi membuat ku kesal saja." Dengus Christ.
"Kau lebih menyebalkan dari pada aku. Sekarang kau duduk saja, sebentar lagi makanannya jadi. Aku harap kau suka." Kata Lyla.
"Terimakasih." Ucap Christ sembari mendudukkan dirinya di salah satu kursi meja makan.
"Memangnya kau pintar masak?" tanya Christ.
"Jago sih tidak, tapi sudah pasti bisa. Karena masak itu kebutuhan." Balas Lyla.
"Ya, kau benar." Gumam Christ. "Apa yang biasanya kau masak di rumah mu?"
"Tergantung orang rumah hari itu mau makan apa. Aku jarang masak juga sih di rumah, karena masalah memasak lebih sering Ibu yang tangani." Kata Lyla.
Christ tidak merespon, ia melipat kedua tangannya di atas meja, sembari meletakan dagunya di atas sana.
Lyla melirik Christ sejenak. Dia sadar suasana hati Christ kini langsung buruk setelah mendengar perkataannya.
"Aku tahu sih peran orang tua itu sangat penting. Tapi yang membuat kita menderita itu, karena kita terlalu memikirkan apa yang kita tidak punya dari orang lain." Ujar Lyla. "Yah aku tahu. Uang tidak bisa menggantikan cinta, tapi aku yakin Tuhan itu adil. Cinta, kekayaan, semuanya sudah diatur sesuai porsi masing-masing. Dan pasti berbeda pada setiap orang. Entah sumbernya, berapa banyak isinya, kapan datangnya. Kau bisa menjalani hidup dengan baik kalau tidak terlalu memikirkannya, tinggal menunggu saja dan percaya kalau Tuhan itu adil."
"Kau pasti tahu itu sulit. Atau selama ini kau tidak pernah merasa kurang?" sahut Christ.
"Kau bercanda ya? Tentu saja aku pernah merasa kurang. Aku rasa setiap manusia pernah merasakan perasaan itu. Aku selalu merasa kurang cantik, apa lagi kau tahu, teman-temen ku itu sangat cantik. Aku tidak apa-apanya dibanding mereka berdua." Tutur Lyla.
"Siapa? Cora dan Elise?"
"Yap. Kau bisa lihat bagaimana cantiknya mereka kan? Aku juga tidak terlalu mirip dengan Thomas dan Leon, yang punya fisik jauh lebih bagus."
"Lalu apa solusinya?" tanya Christ.
"Aku berusaha merawat diri. Minimal aku terlihat bersih dan terawat, aku rasa cukup. Melihat orang-orang yang tetap percaya diri dengan kekurangan fisiknya, dan tidak mau melihat orang yang suka membanding-bandingkan fisik orang lain. Kalau lihat yang lebih cantik, kadang memang bikin iri sih, tapi aku yakin aku punya kelebihan lain yang tidak mereka miliki. Intinya berusaha percaya diri, agar aura yang keluar juga terlihat bagus."
"Kalau orang dengar omongan mu, pasti mereka akan bilang, itu sulit." Kata Christ.
"Yah, itu memang sulit dijalani. Memang aku bilang itu gampang? Waktu Ayah ku mulai pensiun, aku juga stress karena masalah keuangan. Dan iri dengan orang-orang kaya. Tapi kalau aku terus iri, aku jadi tidak punya semangat, dan akhirnya aku malah membuang waktu untuk iri dan membanding-bandingkan diri dengan orang lain. Bukannya berusaha. Meskipun tidak sekaya orang lain, yang pentingkan aku punya uang, yang cukup untuk sehari-hari, tidak perlu lebih-lebih."
Christ hanya diam, menyimak setiap celotehan Lyla.
"Mungkin sulit dimaafkan memang, tapi cobalah kau memaafkan orang tua mu. Aku tahu terlambat, tapi saat ini orang tua mu berusaha memberikan apa yang kau butuhkan selama ini. Kalau kau terus marah dan dendam pada orang tua mu, mau sampai kapan? Kau malah hanya akan tersiksa. Rasanya pasti seperti tertusuk duri, karena dulu pun aku pernah benci seseorang. Lebih baik terima permintaan maaf mereka dengan lapang d**a kan? Aku tidak menyuruh mu melakukannya, tapi aku harap kau mau mencobanya."
"Iya, rasanya memang sakit terus mengingat perlakuan orang tua ku yang menyebalkan. Tapi sulit dihilangkan. Sekarang mereka tiba-tiba bersikap baik, membuat aku kepikiran saja. Dan bingung harus bersikap bagaimana. Kalau terima permintaan maaf mereka, nanti mereka merasa senang, padahal aku bertahun-tahun tersiksa." Kata Christ.
"Aku yakin orang tua mu sudah menerima apa yang seharusnya mereka terima. Bukankah kalau kau bingung-bingung begini, kau jadi tersiksa sendiri? Seandainya kau memaafkan mereka, dan melupakan semua yang terjadi dulu, lalu memulai hidup baru dengan perasaan bersih. Aku rasa... kau akan jauh lebih bahagia?"
"Bagaimana caranya aku melupakan semua itu?" dengus Christ.
"Dengan cara menerima cinta mereka saat ini. Meskipun terlambat, setidaknya seumur hidup mu, kau tetap dapat merasakan cinta dan perhatian mereka. Dibanding kalau kau seperti sekarang. Bagaimana kalau di antara kalian ada yang sudah pergi duluan? Dan kau belum sempat merasakan semua itu."
"Aish! Apa-apaan bicara mu itu?! Ngawur!" hardik Christ.
"Maaf kalau terdengar kasar. Tapi realistis kan?"
Christ menggembungkan pipi. Dia tidak bisa mengelak.
"Maaf ya, aku terlalu banyak bicara." Ucap Lyla. "Aku tidak bermaksud menceramahi mu. Aku hanya takut kau nanti menyesal."
Christ menghela napas, sembari memijat tulang hidungnya.
"Apa kau akan menceritakan hubungan buruk ku dengan orang tua ku, pada teman-teman mu?" tanya Christ.
"Untuk apa? Hal-hal seperti itu tidak perlu diceritakan pada orang lain." Balas Lyla.
Christ menatap Lyla, yang sayangnya tidak sedang menatapnya. Dia masih sibuk memasak, jadi membelakanginya.
Christ bangkit berdiri, kemudian berjalan mendekati Lyla. Ia awalnya hanya berdiri diam di belakang Lyla, sampai akhirnya Christ memeluk pinggang Lyla dari belakang, sembari meletakan keningnya di pundak kanan Lyla.
Lyla tersentak kaget, tapi memilih diam. Christ pasti lelah sekali, dan Lyla malah bicara panjang lebar padanya.
"Maaf ya," ucap Lyla.
"Kau tidak perlu minta maaf, kau benar. Aku hanya... merasa sedikit lelah, dan perlu berpikir."
•••
"Makanannya sudah matang, sampai kapan kau mau begini?" tanya Lyla. Christ malah melenguh, tanpa sadar dia hampir ketiduran.
"Ya ampun, kau memang punya bakat tidur berdiri ya?"
Christ menggembungkan pipinya, sembari meletakan dagunya pada bahu Lyla. Karena telinga mereka bersentuhan, Christ dapat merasakan telinga Lyla yang memanas.
Dan Christ malah dengan jail menempelkan wajahnya terus menerus pada wajah Lyla sambil tersenyum tanpa dosa.
"Christ!" seru Lyla kesal. "Sanalah! Makanannya kan sudah matang dari tadi, nanti keburu dingin."
Christ akhirnya melepas pelukannya. Dan tanpa diminta, dia sudah lebih dulu mengambil lauk pauk yang sudah dipindah ke piring, lalu membawanya ke meja makan.
Lyla masih berdiam diri di tempat, sembari memegangi sebelah pipinya, dan menolehkan wajahnya ke arah lain agar Christ tidak dapat melihat wajahnya.
"Hei, kenapa kau malah hanya berdiri di sana? Ayo makan." Kata Christ.
Lyla mengibaskan sejenak wajahnya dengan tangan, sebelum ke meja makan.
"Hei, coba kau koreksi sikap mu tadi pada ku." Kata Lyla dengan sinis.
"Apa? Sikap yang mana?" tanya Christ.
"Kau sama sekali tidak sadar ya?"
"Kau tidak suka aku peluk?"
"Iya, sangat tidak suka. Hubungan kita itu hanya sebatas rekan kerja. Kau lupa? Tapi kau sudah bersikap berlebihan pada ku."
"Aku minta maaf. Tapi kau memeluk ku terus setiap suasana hati ku buruk, dan tadi karena perasaan ku sedang begitu, jadi aku kira tidak apa-apa."
"Bilang saja kau cari kesempatan."
"Apa?! Aduh, kau pasti berpikir aku ini melakukannya karena menyukai mu ya? Duh, yang benar saja?"
"Aku tidak bilang begitu tuh. Cari kesempatan tidak mesti karena suka kan? Apa lagi pria kan, kalau ada kesempatan untuk kontak fisik dengan perempuan, pasti dilakukan."
"Hei, itu kan untuk golongan pria yang berengsek, aku tidak seperti itu kok."
"Kau mencium ku, dan memeluk ku tanpa izin. Apa itu namanya bukan berengsek?"
"Hei, aku sudah minta maaf berkali-kali. Sekarang kita mau makan, jadi jangan bertengkar, oke?"
Lyla akhirnya menurut untuk berhenti mendebatkan perihal itu, ia duduk di meja makan, dan mengambil sendoknya.
Saat hendak mengambil nasi, Christ sudah lebih dulu meletakan nasi ke atas piringnya. Lyla tentu saja jadi menatap Christ kebingungan.
"Kau kerasukan apa sih?" tanya Lyla.
"Aku baru memikirkan sesuatu." Balas Christ.
"Memikirkan apa lagi? Kau ini terlalu banyak berpikir." Tutur Lyla sembari menyendok nasi dan memasukannya ke dalam mulutnya.
"Bagaimana kalau kita benar-benar menjalin hubungan?"
"Uhuk! Uhuk! Uhuk!" Christ membelalakan matanya, saat Lyla tiba-tiba tersedak nasi. Lyla memegangi tenggorokannya, sembari memukul-mukul dadanya.
Christ pun bangkit berdiri dari kursinya dan menghampiri Lyla. Ia memukul-mukul punggung Lyla agar nasi yang menyangkut di tenggorokannya keluar.
"Sak... ittt!" keluh Lyla susah payah sembari memukul kepala Christ tanpa sadar.
Christ akhirnya menggunakan metode lain, yaitu air mineral. Lyla menggeram kesal, karena Christ tidak pakai metode ini saja dari awal. Dia sendiri tidak bisa ambil minum karena sesak napas.
Setelah Christ mengambilkan air mineral, ia membantu Lyla untuk meminumnya.
"Puah!" seru Lyla lega, karena nasinya akhirnya bisa tertelan.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Christ khawatir.
Lyla menatap Christ sambil melotot, wajahnya merah padam karena menahan sakit cukup lama. "Menurut bagaimana Tuan Bang?"
"Hah, lagian makan buru-buru." Kata Christ.
"Hah?! Aku makan buru-buru? Tidak sadar apa yang membuat ku tersedak huh?"
"Oke, aku minta maaf. Aku tidak menyangka kau akan sekaget itu."
Lyla menghela napas. "Siapa yang tidak kaget kalau mendengar omongan mu barusan? Kau menawarkan itu pasti karena Tania sudah pacaran dengan pria lainkan?"
"Tidak kok! Tidak begitu! Ya itu memang salah satu alasan, tapi tidak salahkan kalau akhirnya ingin benar-benar memiliki hubungan dengan mu? Bukan sebagai partner kerja seperti sekarang. Toh, kita juga sudah resmi menikah, jadi sekalian saja. Meskipun awalnya pernikahan ini untuk saling bantu." Tutur Christ.
"Aku tidak mau." Ucap Lyla yang membuat Christ terkejut.
"Apa? Kenapa? Bukannya harusnya kau senang?"
"Kau baru saja patah hati, dan aku tahu kau sedang berusaha melampiaskan kesedihan mu kan?"
"Hei, kenapa kau berpikir begitu?"
"Kecuali kau bilang begini saat perasaan mu sudah stabil, dan bisa menerima hubungan mu yang benar-benar berakhir dengan Tania."
"Kau kan tidak bisa membaca perasaan ku, jangan sok tahu."
"Sayang sekali Tuan Bang, dari ekspresi mu bahkan sudah terlihat jelas apa yang kau rasakan saat ini. Di mata mu juga tidak ada ketertarikan atau kesungguhan mengajak ku untuk menjalin hubungan. Maaf ya Tuan Bang, aku bukan bahan pelampiasan atau pelarian. Aku manusia, yang tidak bodoh dan punya perasaan."
Christ bungkam, kali ini dia tidak punya alasan lagi untuk mengelak apa yang Lyla katakan.
•••
Lyla mengelap wajahnya yang baru saja ia cuci. Ia kemudian menatap pantulan dirinya di depan cermin. Dia bisa dengan mudah membaca pikiran dan perasaan orang lain, tapi orang lain tidak dapat membaca pikiran serta perasaannya dengan mudah.
Mungkin tadi di depan Christ, ekspresi Lyla tidak menunjukkan apapun. Tapi kini saat ia sendirian, jelas sekali ia sedang merasa sedih. Alisnya bertaut dengan mata yang menyayu.
Lyla menghela napas. Dia terus membatin kenapa Christ tega melakukan itu? Christ pikir karena dia menyukainya, Lyla dengan begitu saja akan menuruti semua permintaan Christ?
Sempat ada rasa senang di hati Lyla mendengar tawaran Christ, itu tidak bisa dipungkiri. Tapi setelah menilik wajah Christ, dan mengingat berbagai kejadian yang terjadi baru-baru ini, Lyla sudah bisa menyimpulkan, kenapa Christ tiba-tiba menawarinya hal itu.
Memang bisa saja Lyla menerimanya, kemudian membantu Christ untuk melupakan Tania. Tapi... setelah dipikir. Dia hanya digunakan untuk pelampiasan semata, sewaktu-waktu saat perasaan Christ sudah membaik, Lyla takut akhirnya akan Christ tinggal begitu saja.
Bertahun-tahun dia menyukai Christ, tidak pernah mendapat satu pun kesempatan. Jadi Lyla pikir dia memang tidak akan bisa dicintai Christ, mau seperti apapun usahanya.
Lyla tidak bisa protes Christ tidak pernah bisa membuka hati untuknya. Dia sadar diri. Dengan fisiknya yang tidak terlalu cantik, sifatnya yang urakan dan prestasinya yang biasa saja. Dia sangat tidak pantas untuk seseorang seperti Christkan?
'Tenanglah, jangan menangis. Kau bodoh kalau menangis.' Batin Lyla sembari menepuki dadanya yang terasa nyeri.
Setelah perasaannya sudah lebih membaik dan tenang, Lyla bergegas keluar dari kamar mandi. Tapi ia terkejut melihat Christ ada di kamarnya.
Otomatis Lyla menutupi dadanya dan merapatkan kakinya. Saat ini dia hanya menggunakan kaos putih yang panjangnya sampai setengah paha. Karena mau tidur, jadi Lyla hanya menggunakan satu helai pakaian di tubuhnya.
"Kenapa kau ada di sini?" tanya Lyla.
"Aku mengantarkan koper mu." Balas Christ.
"O-oh begitu. Ya sudah sekarang pergilah. Tidak sopan tahu masuk-masuk ke kamar orang tanpa izin, perempuan lagi!" kata Lyla jengkel.
"Maaf," ucap Christ. "Soal tadi di meja makan juga aku minta maaf."
"Sudahlah, aku sudah terlalu banyak menerima permintaan maaf mu hari ini." Kata Lyla sembari membuang muka. "Mungkin aku juga sudah berbuat kesalahan pada orang lain, makanya ada orang yang juga terus berbuat salah pada ku. Jadi tidak perlu merasa bersalah lama-lama."
"Kenapa kau berpikir begitu?" tanya Christ.
"Kau tidak tahu ya? Kalau sikap orang lain ke kita itu, menandakan sikap kita ke orang lain juga." Balas Lyla. "Makanya aku tidak terlalu menyalahkan mu. Sekarang pergilah dari kamar ku. Kau mengertikan kenapa aku mengusir mu hah?!" suara Lyla jadi meninggi, karena Christ tidak angkat kaki juga dari kamarnya.
"Kau cantik," ucap Christ tiba-tiba.
"Oke, kau bicara random lagi. Sekarang apa maksud mu?" tanya Lyla ketus.
"Aku mengatakan yang sebenarnya, kau cantik. Elise dan Cora tidak terlihat lebih cantik dari mu, semuanya sama. Kalian semua sama-sama cantik, dengan kelebihan yang kalian punya masing-masing. Aku tahu meskipun kau sudah berusaha percaya diri, masih ada rasa minder kan? Waktu kau bilang kau tidak cantik, aku sebenarnya kaget. Karena aku sama sekali tidak pernah berpikir begitu."
Lyla diam, tapi matanya tiba-tiba memanas. "Percuma juga aku cantik. Kalau secantik apapun aku, kau tetap tidak bisa menyukai ku." Kata Lyla dengan nada suara bergetar.
"Aku tidak tahu kau pernah merasakannya atau tidak. Mungkin ini terdengar kekanakan, aku juga tidak menyangka akan sesakit ini rasanya, saat perasaan ku terang-terangan tidak bisa dibalas. Saat kita tidak dekat, itu malah tidak terasa, mungkin karena jarang ketemu, jadi aku juga tidak setiap saat mengingat mu. Tapi saat kita lebih sering bertemu, itu membuat ku... selalu ingat dengan perasaan ku pada mu."
Lyla mengusap matanya dengan lengan baju. "Aish! Keluarlah! Aku benar-benar tidak mau melihatmu sekarang!" teriak Lyla tanpa menatap Christ.
'Ini memalukan, kenapa aku menangis? Apa yang aku lakukan?' batin Lyla.
"Oke, aku akan jarang memperlihatkan diri di depanmu."[]