“Siswa Sekolah Garuda?” dari balik meja multifungsinya, seorang wanita setengah baya, berstelan kaku, dengan rambut pirang cepak, berwajah dingin menatap empat anak remaja di depannya. Fick, wanita itu, tak ingin cepat mengambil kesimpulan tentang empat remaja di depannya yang dimatanya nampak –sederhana, di bawah standard, kampungan, dan lugu.
Benaknya mengurai rapi apa yang diingatnya tentang profile ke empat remaja ini. “Siswa guru Wong Lee?” Tanyanya untuk memastikan, dijawab oleh anggukan keempat remaja di depannya.
“Zia?” tanya Fick membandingkan foto daftar siswa dengan seorang gadis berkulit kuning, hidung yang tinggi dan mata yang cerdas, rambut hitam yang dipotong model bob.
“Saya bu.” Zia menekukan kakinya, dengan tangan melipat di depan perut. Layaknya seorang ‘rendahan’ di depan –ningrat Wangsa Sebelas-.
Tampilannya mengingat Fick dengan gambaran Cleopatra. Cantik, cerdas. Fick mengingat sebuah catatan tentang anak ini: berIQ tinggi. hingga Wong Lee merekomendasikan untuk ditempatkan di posisi asisten peneliti di sini. Hhm, Catatan yang serius.
“Shachi?” Fick melirik gadis yang berdiri disamping Zia. Gadis berkulit merah, dengan rambut keriting berwarna merah itu menekukkan kaki dengan tangan melipat di depan perut. Gaya hormat yang sama dengan Zia. Tapi siapapun dapat melihatnya. Shachi melakukannya dengan ceria, hingga seperti meloncat. Seolah di kakinya ada bonus per yang membuat dia bergerak lebih.
Fick nyaris tertawa melihat gerakannya. Dia membaca catatan Wong Lee, rekannya dari sekolah Garuda. Di situ Wong Lee menulis:
Anak kampungan ini lugu, lucu, lincah, bodoh. Shachi adalah seorang badut berbakat! Alamiah! Selamat menikmati hiburan, kawan!
Hah, gila juga Wong Lee membuat catatan seperti ini. Batin Fick. Tapi bolehlah, nanti aku ingin melihatnya sampai dimana bakat anak ini.
“Shachi, bisa kau ceritakan sedikit riwayat singkatmu?” tanya Fick menatap gadis lucu di depannya.
“Saya Shachi bu, saya anak angkat dari pasangan steril, pekerja negara. Kami, seperti juga 80% warga negeri ini harus hidup berhemat. Daripada kami merasa nelangsa dengan keharusan berhemat, maka kami menerima kekurangan kami dengan perasaan syukur, hidup sederhana, dan kami memutuskan untuk bahagia.
“Semoga ibu mengerti ya. Hidup hemat, berbeda dengan hidup sederhana.”
“Cukup!” Fick cepat memotong bicara Shachi. Badut apakah ini? Aku seperti baru menerima ceramah seorang pendemo, kaum oposan, anti Wangsa Sebelas!
Fick semakin terperangah melihat Zia, Mario, Tora cekikikan. Apanya yang lucu? Pandangan mata jengkel Fick menghentikan tawa ke tiga remaja di depannya.
“Kalian pasti Mario, dan Tora.” Fick menengok ke sisi para remaja lelaki berdiri kaku, merendahkan diri dengan kaku, dan tersenyum kaku.
Fick mendengus. Benar benar siswa asosial, untuk senyum saja sepertinya harus belajar! Oh ya untuk itulah mereka ada di sini, mereka adalah siswa Wong Lee untuk mata pelajaran Rekayasa Komunikasi
“Oke, kalian bisa gabung dengan siswa-siswa terpilih dari sekolah lain. Panggil saya ibu Fick. Saya adalah pengawas kalian di sini. Bila ada urusan atau masalah –apapun- saya harus tahu, karena saya penanggung jawab kalian. Jangan lupa, nilai Kerja praktek kalian tergatung pada saya.” Suaranya berlogat Wangsa Sebelas. Dengan cengkok yang sangat khas. Dia berjalan didepan Zia, Shachi, Mario, Tora.
“Mari kita mulai petualangan kalian.” Fick bangkit dari kursinya berjalan dengan anggun ke luar dari ruangan, diikuti oleh ke empat anak remaja beransel.
“Mengingat kita akan keliling dan bertemu dengan berbagai bangsa dunia, mungkin di sini juga kalian sudah bisa melihatnya- kebanyakan penumpang ini adalah para pesohor dunia, kami minta, kalian harus menjaga sikap. Tahan diri kalian, bagaimanapun kalian tergila-gila dengan para pesohor ini. Jangan buat kami malu. Paham? ” ibu Fick
Fick mendapati semua pelajar di depannya tak ada yang memandangnya dengan khidmad. Karena ke empat pelajar itu sedang menikmati aneka pemandangan para pesohor yang hilir mudik di sekitar mereka.
“Ehem.” Dehem Fick terlewatkan dari telinga para siswanya. Para Siswanya seolah tersihir dengan pemandangan ruang plaza yang dipenuhi para pesohor. Menyadari dirinya dianggap angin sepi, Fick menepukan tangannya beberapa kali. Barulah dia mendapat perhatian dari para siswanya.
“Peraturan pertama…” Fick berjalan ke luar Plaza dan berjalan di depan membacakan peraturan-peraturan bagi para siswa. Fick merasa siswanya harus dijauhkan dari ruang Plaza, tempat dimana para pesohor bersimpang siur . Fick melanjutkan penjelasan tentang peraturan, lokasi, fungsi dan bagaimana sebuah ruang digunakan.
“Sssst …Intan …” Mata Tora berbinar melihat dari jauh rombongan yang nampak terang benderang, kelompok model dan tim fesyen. Rombongan itu melintas di depan para siswa menaburkan aroma mewah.
“Jatnika!” Shachi tak dapat menahan histerisnya, melihat desainer yang berasal dari sukunya lewat di depan mereka. Teriakan Shachi membuat mata ibu Fick melotot. Siswa-siswa lain pun mengikuti arah pandangan Shachi, dan menikmati pemandangan indah yang sangat dekat. Para pesohor.
Jatnika tersenyum ramah ke arah suara berisik para remaja.
“Roro!” Mario menunjuk seorang gadis yang melambai tangan di tengah rombongan Jatnika.
“Haaah, apa yang dia lakukan di sini?” Tanya Shachi merasa aneh karena Roro ada di kelompok para peragawati. Roro adalah salah satu teman sekelas mereka. Mereka tidak tahu bila Roro juga terpilih untuk bergabung di Pari Pesiar untuk tugas yang berbeda. Sangat berbeda.
“Aduuuh…” rombongan siswa yang berbaris itu kini tak karuan posisinya. Mereka saling mendorong ingin melihat para pesohor lebih dekat. Tak terhindarkan, Fick terdorong oleh ulah anak buahnya. Barisan siswa dibelakangnya –semua- mengacungkan smartphonenya untuk mengambil gambar para pesohor yang tadi lewat.
“Priiiiiit!” Fick tak dapat menahan diri untuk tidak meniup peluitnya. Berhentilah semua gerakan itu. Kini mereka sibuk menyimpan smartphonenya ke dalam saku baju atau celana mereka.
“Maaf , bu…” suara Shachi terdengar lemah lembut dan,membungkuk sopan, ala Wangsa Sebelas. Zia menahan tawa. Tora-Mario tersenyum. Tapi tidak dengan Fick.
“Kita lanjutkan.” Fick kembali mengenalkan semua yang ada di sana. Fick juga langsung membagikan tempat kerja para siswa yang rencananya setiap seminggu di putar.
Para siswa memegang smartphoennya dan membuka file peta lalu menandai tempat-tempat itu.
“Ini adalah pusat energi yang ada di PARI PESIAR. Reaktor nuklir. Sebagai sumber tenaga gerak, listrik, panas. teknologi Nuklir mutakhir, dengan menggunakan air laut sebagai materi kimia untuk reaksi atomnya. Jadi jangan main-main dengan air laut …walaupun system keamanannya sangat canggih …tapi aku sarankan –jangan pernah mendekat- daerah terlarang ini!- PAHAM?” Fick menjelaskan segala sesuatunya dengan penuh penekanan.
“Ya, buuu...” jawab para siswa hampir serentak mengakhiri rasa takjubnya. Reaktor nuklir dengan sumber nuklir dari reaksi atom air laut? Haaaa...?
“Saya yakin, kalian yang ada di sini telah sangat paham dengan bahaya dan bagaimana protokol keamanan Nuklir, dan menghidari radiasi bila terjadi kebocoran. Apa ada siswa yang nilai pelatihan protokol antisipasi bencana tidak memenuhi standar?” Tanya Fick dijawab dengan diamnya anak-anak.
“Bagus! Karena yang di sini memang hanya untuk siswa yang memenuhi kualifikasi. Kalian harus bangga.” Katanya lalu menggiring rombongan siswa menuju tempat hunian sementara mereka di Pari Pesiar.
“Nah, dan inilah kamar kalian. ” ibu Fick membuka pintu, di dalamnya nampak ruang sempit serba guna yang menghubungkan kamar kecil, dan dua kamar yang lain.
“Jangan lupa tujuan kalian di sini, gunakan kesempatan ini untuk melakukan pengamatan langsung pada objek.!” Fick mengingatkan tujuan mereka ada di sana. Maksudnya tentu saja agar anak-anak itu serius dalam bekerja.
“Baiklah, kalian bisa beristirahat, sebelum pekerjaan yang sesungguhnya menanti kalian!” Fick kembali membawa rombongannya. Meninggalkan Zia, Shachi, Tora, Mario.
***
Mario menatap takjub pemandangan kedalaman laut di depannya. Kameranya mulai ia mainkan. Hal yang sama dilakukan oleh Zia. Mengagumi kedalaman laut. Biru, teduh, dengan tarian aneka mahluk yang tak pernah berhenti.
“Ssssshhhhh…”
Tora, Mario, Shachi mendekati jendela yang merupakan pembatas Pari Pesiar dengan laut. Sejenak mereka terkagum dengan gerombolan ikan Maomao biru mengintari sepetak lebat Kelp. Gerombolan itu berenang membentuk sebuah sebuah formasi. Pola warna yang beragam dari ikan itu membentuk sebuah logo.
$INDO.CO!$
Sebuah perusahaan yang bergerak di bidang media. Semua tahu jaringan usaha yang menggurita ini dimiliki keluarga Ratsuya.
"Ikan-ikan itu...“
"Membuat formasi logo INDO.CO...?“
"LOGO-INDOCO!“
"Gila...“
"Bagaimana mungkin...?“
"Para seniman hayati itu ternyata telah lama melakukan ini. Apa kalian baru tahu?“
"Bagaimana caranya?“
"Itu adalah ikan-ikan transgenik, mereka dirancang untuk melakukan ini.“ Suara Zia terdengar datar.
"Seniman hayati itu melakukan pemilihan gen, dan mengatur setiap individunya, mereka dapat berpikir secara komunal.
“kalian tahu mereka seolah seekor tubuh yang memiliki satu otak. Itu yang namanya Kepandaian bergerombol.“ Zia melanjutkan penjelasannya.
“Yang mana otaknya?“ tanya Mario
“Ada beberapa ekor yang bertugas mengatur formasi itu. Bergantian. Dan para seniman hayati merancang gen –sifat pengikut- dibelakangnya.“ kata Zia.
“Jadi apa nama gen para pemimpin?“ tanya Tora.
“Gen pemimpin?“
“Kalau pemimpinnya mati?“
“Para ilmuwan telah membuat kopi gennya, dan tinggal membuatnya yang baru.“ kata Zia.
“Gila..“ cetus Sachi.
“Memang“ kata Zia.
“Informasi dari mana semua ini, Zia?“tanya Tora.
“Kau bisa mencarinya di sini, bodoh!“ Shachi tertawa lebar sambil menunjukan telpon-genggamnya.
"Oh ya tentu saja. Zia memakai smartphoenenya sebagai sumber ilmupengetahuan, sedangkan kalian cuma buat bermain-main.“ Shachi bersidekap. Mario dan Tora hanya nyengir.
“Oke ... kau amatilah hasil kerja para teknokrat itu.“ Shachi menuntun Zia untuk lebih dekat lagi dengan objek pengamatan.
Formasi ikan itu telah berubah dengan logo minuman ringan.
Shachi melangkah mundur dari depan jendela, lalu berjalan mengambil air dari kran pastry kecil. Kamar sempit itu dilengkapi dengan kamar-mandi yang sangat kecil. Dindingnya dipenuhi dengan pintu-pintu laci dan lemari akomodasi kamar itu seperti seprei, handuk, alat mandi, kosmetik yang semuanya di beri logo Pari Pesiar.
Pari Pesiar makin bergerak ke dalam. Hingga kedalaman laut nampak semakin gelap.
“Eh kenapa?!” Shachi setengah menjerit, dia langsung waspada.
Tiba-tiba Zia mematikan lampu. Agak lama mereka membiasakan diri dalam kegelapan, sampai mata mereka remang-remang dapat menangkap gerakan- mahluk air –seluas mata memandang- karena dinding Pari Pesiar yang berbatasan dengan bagian luar hampir 100 % adalah materi tembus pandang. Materi yang di desain sedemikian rupa, ringan, tapi tahan terhadap benturan, dan torpedo sekalipun.
“Ya Tuhan… Indah sekali.” Semuanya terpana melihat pemandangan di luar sana. Hari memang telah gelap, karena itu pemandangan malam tak jelas bila lampunya dinyalakan.
“Ikan apa itu?” tanya Sachi.
Seekor ikan Pedang, dengan warna yang terang melintas.
"Ikan Pedangkah itu?“ Tora ragu-ragu menjawabnya.
"Tapi kenapa warnanya begitu terang?“tanya Mario sama ragunya.
"Apa mereka membuat logo atau jadi model iklan sesuatu?”
Sejenak diam. Pemandangan Ikan yang melintas itu seolah menghipnotis –manusia dalam akuarium-. Begitu indah dan tak pernah terbayangkan. Mereka dapat hidup sedekat ini. Saling memandang, dan menyelidik.
"Ha! Aku bisa lihat, aku bisa lihat! Lihat ada logo pelumas...“
"Mungkin warna-warna yang terang itu juga salah satu hasil kerja para Seniman Hayati.“ Kata Shachi.
“Ya, mereka sengaja atau tidak telah mengubah segala perilaku dan komposisi komunitas aneka hayati di sini.“ Zia membuka telpongenggamnya dan melakukan pencarian informasi secara instan.
“Yeee…” Mario terdengar kesal, lampu kamar dinyalakan lagi oleh Zia .
“Syukurlah, tugas kita dibagi 2 waktu. Jadi kita punya waktu sendiri.” Zia membaca sebuah pesan tertulis dari telpongenggamnya. Membuat ketiga temannyanya mengecek pesan-pesan serupa.
“Mulai nanti malam, kalian tugas di dapur. Besok giliran aku dan di sector pertanian.” Senyum Shachi mengembang.
“Kita ini mau jadi pesuruh atau mencari nilai antropologi, euh?” Mario mengerutkan kening membaca tugas-tugas yang harus mereka lakukan.
“Jangan lupa, apa yang ada di Pari Pesiar ini harus diketahui dengan teman-teman di atas sana. Apa-saja yang kita lakukan, sampai mereka bisa menyimpulkan, bahwa inilah dunia social sesungguhnya.” Mario mengingatkan temannya.
“Jadi kita seperti membuat film dokumentasi?” tanya Tora.
“Kurang lebih begitu. smart phone ini disediakan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diatas sana.” jawab Sachi.
“Kenapa mereka tak menghubungi web sitenya langsung?” tanya Tora.
“Wong Lee menginginkan kita memiliki kemampuan ‘komunikasi seperti jantung berdetak keras, karena rasa takut.’” jawab Zia.
“Apa maksudnya?” tanya Mario.
“Komunikasi tingkat syaraf, dodol...” kata Sachi sok pintar.
“Apa maksudnya?” Mario bertanya lagi.
“sebuah informasi yang sangat cepat, dan langsung mendapat tanggapan!... dodooool...” kata Sachi berlagak gemas.
“Ah, kelas sialan itu.”
***