Bagian 1
David Constanov menatap bayangan dirinya.
Melihat bayangan dirinya yang -sangat –bukan David -.
Dari jendela kamarnya, berkali-kali David melihat bayangan dirinya sebagai seorang pria tua berumur enam puluh lima tahun. Dengan wajah bergelambir lemak. Kulit berkerut. Alis yang menjuntai tak rapih, berwarna putih, merah, dan hitam. Bibir yang tebal menonjol karena gigi tongosnya. Kantung mata penanda ‚tua, lengkap dengan kerutan di jidat, sekeliling mata, bibir. Semua –keriput-. Semua bagian atas lehernya keriput. Gambaran tua yang berkesan sangat dekat dengan kematian.
David menarik nafas panjang. Dia hampir tak percaya dengan penampilan barunya. Perwujudan yang sangat berbeda dengan dirinya yang asli. Seorang Lelaki di masa keemasan, 40-an tahun, tampan, atletis, penuh dengan gairah hidup. David asli adalah contoh segala keindahan yang Tuhan ciptakan pada seorang lelaki . David adalah gambaran patung hidup Michael Angelo. Penampilannya yang mampu menaklukan wanita-wanita dari berbagai kalangan. Sekaligus membuat patah hati para homoseksual.
Kini, dalam penampilan barunya, dia berubah total.
Haasshhhaahh.. apakah tidak ada cara lain selain bentuk rupa ini? Kenapa mereka tak mengirimkan perangkat penyamaran menjadi seorang lelaki remaja saja? Atau sekalian menjadi seorang gadis, agar aku bebas bergaul sekamar dengan mereka. Bebas ke kamar khusus wanita.
David menghela nafas lagi. Suaranya melenguh. Ternyata dandanan barunya telah mengubah sifat tenang, anggun, ksatrianya. Dia menjeadi si tua pengeluh.
Yayayayaya... kurasa para Wangsa Sebelas dari management Pari Pesiar ini sedang menikmati tontonan baru. Mereka pasti sedang mentertawakan aku, karena penampilanku yang buruk rupa. Sepertinya mereka sengaja melakukannya, menjadikanku badut penghibur. Pari Pesiar adalah tempat yang tepat bagi pembalasan mereka terhadapku. Karena aku, sebagai wangsa Sebelas, telah banyak melakukan kesalahan dengan cara bermain ‚’sesuai aturan wangsa sebelas’. Dan karenanya aku banyak merugikan bisnis-bisnis kotor para pengusaha Wangsa Sebelas tamak yang lain.
Baiklah, aku akan mencoba berpikir positif. Bahwa mereka sedang menghukumku. Agar aku lebih bersyukur, dan menjaga ketampananku dengan akhlak yang mulia. Aku harus ingat penyamaran ini adalah satu-satunya cara kabur dari para penagih hutang, yang ternyata mereka hadir juga di Pari Pesiar ini.
Topengnya terbuat dari biopolymer, materi temuan para ilmuwan yang biasa mereka gunakan sebagai bahan dasar penyamaran. Sangat lentur, tidak membuat panas pemakainya, tidak beresiko reaksi alergis, bisa diubah kapan saja mau, tergantung dari cetakannya. Bahan ini sangat terbatas, hanya para agen rahasia, dengan izin kepemilikan yang sangat ketat, yang dapat mengenakannya, itupun dengan melaporkan bentuk ‚baru’ wajahnya.
David menarik nafas. Dia mengalihkan perhatiannya pada laut di depannya.
Mahluk-mahluk laut itu juga menatapnya hampir tak berkedip. Seolah mereka sedang bermain petak umpet dan tahu bahwa Pari Pesiar merupakan tempat persembunyian seorang David. Melihat ikan-ikan itu memandang dirinya, David jadi ragu. Betulkah ini tempat yang tepat untuk melarikan diri. Kehadiran Presiden dan para pesohor itu seolah memantapkan keraguannya. David balas menatap ikan-ikan itu. Ada seekor Hiu macan yang terkenal buas berulang kali menabraki dinding. Sepertinya Hiu Macan itu tak yakin, bahwa ada kaca yang memisahkan mereka.
David menangkap pemandangan yang mengganggu diluar jendelanya. Mereka (pihak Pari Pesiar) menggantungkan sepotong daging segar dan masih berdarah-darah di sana. Mereka sengaja mengundang para carnivor laut, di depan jendelaku. Apa tujuan mereka melakukan ini? hiburan? Atau ancaman? Untuk apa? David hampir saja muntah seketika, melihat aksi hiu Macan menabraki jendela kamarnya, mengoyak daging dengan brutal.
David berlari ke kamar mandi. Dia memuntahkan semua hidangan terakhirnya di sana.
Gila! Sepertinya mereka memang sengaja menyiksaku! Pari Pesiar sialan.. atau ini hanya perasaaku saja? Tenangkan dirimu David!
David menyadari, bahwa babak baru hidupnya baru saja mulai. David baru saja berias di ‘belakang panggung’. Panggung sandiwara ada di balik pintu kamar ini, David tahu persis perannya. Dia harus bergaya sesuai perannya, jika tidak, maka sang sutradara akan menendangnya dari arena panggung sandiwara ini. Panggung dimana David tak pernah tahu skenarionya.
***
Chan Nio Menutup matanya. Lambungnya turut bergelombang menyaksikan Hiu itu. Chan Nio juga bisa melihat apa yang dikeluarkan David dari lambungnya. Chan Nio telah menyaksikan semua yang disaksikan oleh David . Karena ia sengaja menanamkan kamera pengintai di bagian kening topeng David. Sebuah kamera mikroelektrik berteknologi nano, telah ditanamkan di sana dengan rapih. Chan Nio mulai mengetikan jurnal pertamanya.
Observasi hari pertama:
Pengaruh Perubahan Wajah terhadap Terbentuknya Kepribadian Baru.
***
Lewat smartphonenya, David membaca pesan itu. Jadi acaranya akan mulai malam ini. Di sini. Tak usah ke mana-mana. Ke kasino ataupun tempat yang jelas untuk mengundi nasib tak perlu dikunjungi. Hmm, managemennya sangat rapih. Bisa jadi ini memang tempat yang sempurna untuk bersembunyi.
Ia tahu, seumur hidupnya ia tak pernah bermain judi. Segala keputusan bisnisnya didasari oleh perhitungan matematis, analisa pasar, angka psikologi sosial, neraca sosial. Hal-hal yang nampak tak dapat dihitung secara matetmatis, ia buat sistemnya sehingga selalu dapat terukur.
Tapi urusan judi? Bagaimana Ia dapat melakukan perhitungannya? Cuma algoritma langit yang mampu mengetahui bocoran judi. Dan David tak punya cara berkomunikasi dengan langit atau semacamnya. David bukan seorang dukun, atau paranormal. David adalah manusia biasa, pengusaha sukses yang bangkrut dan dikejar hutang.
David mengambil minuman. Tak terasa keringatnya mulai menetes.
David merasa judi ini permainan yang keterlaluan. Apalagi dirinya yang bukan seorang penjudi. Judi terdahsyat, tergila, dan tak terpetakan efeknya, baik bagi yang menang, apalagi bagi yang kalah.
“Selamat datang di surga bagi para peserta arisan ekslusif. Hadirin mulia yang berkelas kakap. Bukankah di sini memang kalian bisa melihat Kakap secara langsung? Huehehehehe.” Seorang pengarah acara saluran khusus mencoba melucu di smartTV.
Ini gila. David mencoba sesuatu yang haram seumur hidupnya.
“…Ok… kita mulai putaran pertama untuk arisan ini… huehehehehe… ” entah apa yang lucu sampai pengarah acara itu renyah tertawa.
Glek, seteguk minuman mengaliri tenggorokan David . Tenggorokannya mendadak kering, diserang ketegangan.
“…Ini dia… tap! Stop!… nomornya adalah… ”
Itu bukan nomerku! Itu bukan nomerku!
Terima kasih Tuhan!
Bersoraklah David . Meloncat dan berulang tangannya mengepal gemas gembira sekali. Dia langsung menjalankan smatphonenya.
Dia mencari nomor rekeningnya di Bank Pari Pesiar. Itu dia! yaaaaah Tuhan! Angkanya telah ber’nol’ yang banyak. Yes. Tangannya mengepal lagi tanda kepuasan. Lalu dia memainkan kursornya. Hmmm, kenapa harus berhenti, judi ini tidak membutuhkan uang!. Dia tengah melakukan transaksi lagi.
Pengalaman pertama, dosis pertama, masih dalam tahap aman, walaupun tanpa perhitungan probabilitas matematis.
Karena judi ini menentang hukum probabilitas matematis.
Jalan terus!
***
Di ruang lain, Chan Nio mengetikan kata pendek:
Alasan dasar pengambilan keputusan adalah kemenangan dan kebankrutan yang dramatis sering membuat seseorang melupakan resiko yang menunggunya dengan misterius di sebuah tikungan dramatik..
***