Intan Koo bercermin. Bayangan dirinya yang memantul itu memang sempurna. Sebenarnya ia tak usah terlalu lama berdiri di depan cermin. Perilaku bercermin hanya akan menandakan bahwa dirinya kurang percaya diri dengan keindahan yang Tuhan berikan itu. Tapi Intan tak pernah bosan menatap bayangan dirinya.
“Cermin oh cermin, katakan padaku, siapakah gadis tercantik di Pari Pesiar ?” tanyanya konyol menirukan gaya ibu tiri dalam kisah kuno, putri salju.
“Tentu saja aku, bodoh…” Devilia muncul di sisi cermin yang lain. Keduanya tersenyum menampakan deretan gigi yang indah. Putih, bersih.
Sambil membawa sebotol minuman ringan, Devilia berjalan menuju jendela kamar, dan membuka tirainya secara otomatis. Dia bisa melihat langsung pemandangan Laut yang selalu dinamis. Tapi pemandangan itu tak mampu menjernihkan perasaannya.
“Atlit selam itu…” gumam Devilia menggantung.
“Yaaah…” Intan terduduk lemas. Dia mengerti apa yang dimaksud dengan suara Devilia. Rasa terancam, karena Roro si pendatang baru itu tak dapat dipandang sebelah mata. Sebagai atlit selam, Roro memiliki anatomi tubuh yang berbeda dengan para peragawati yang nyaris serupa tulang berbalut kulit saja. Roro lebih menonjolkan otot-otot yang indah terbentuk karena bertahun-tahun disiplin latihan. Dan dibalik baju selam, snorkle siapa yang mempedulikan lagi kecantikan wajah?
“Dia, si manusia ikan yang gagal tumbuh kembang itu?“ suara Intan terdengar sengak. Sangat berbeda dengan tampilan di luar ruang. Anggun, ramah, lengkap dengan sopan santun.
“Hahaha. Tapi lihatlah dia cukup bersinar. Di dalam air …di sana …” Devilia menghembuskan bisikan provokasinya. Menghembuskan angin, di hati yang ragu membara.
Keduanya menengok ke pemandangan di balik mereka. Kedalaman laut dengan keanekaragamannya yang selalu bergerak dinamis.
“Itu dia.” Intan menunjuk seorang penyelam yang berenang menuju kamar mereka.
Penyelam itu melambaikan tangan. Sebuah tali di pinggang menghubungkannya dengan penyelam lain. Nampak yang berenang dibelakangnya adalah siswa selamnya. Gerakan orang yang dibelakangnya terlihat payah.
“Sedang apa dia?” Devilia membawa minuman mineral dan minum di depan pemandangan yang aneh itu.
“Roro?” Intan membaca nama yang tertera pada yaha baju selam itu.
“Hhhh, tentu saja dia sedang pamer? Dia pasti ingin menunjukan pada kita bahwa dia kini memiliki seorang siswa?”
Si penyelam melambaikan tangan lagi, tanda dia pamit. Orang yang dibelakangnya ia tarik dengan tali yang terikat di pinggangnya. Gerakan Roro ke atasnya yang lincah sangat indah. Lambaian tangannya dibalas Devilia dan Intan setengah hati.
“Kebijakan pembatasan dan pengawasan peredaran sumber daya transgenik akhirnya diberlakukan sebulan lalu. Walau kebijakan ini mengundang protes dari sebagian besar warga, tapi program penyelamatan lingkungan tak bisa ditawar-tawar lagi…Bip”
Magenta mematikan pantulan tayangan berita dari smartphone kecilnya . Lalu kamarpun sunyi dan gelap. Kalimat-kalimat gombal itu rasanya tak pernah berhenti.
Matanya menatap ke arah luar kamarnya. Pemandangan laut, dan udara bersih di Pari Pesiar ini memang pilihan tepat untuk pilihan hidup sehat. Tapi tentu saja tukarannya sangat mahal. Buat Magenta tukerannya adalah keberaniannya. Dia harus membayarnya dengan gejolak jantungnya yang sering menderu tanpa kendali hanya karena kombinasi pikiran, khayalan, dan prasangka berlebihan terhadap laut.
Masa lalu, lima tahun yang lalu, selalu terpampang di depannya, juga kini.
“Hallo Magenta!“ tiba-tiba smartphonenya kembali bergetar. Sensornya menangkap dinding kamar dan langsung menayangkan kiriman wajah dari seberang sana.
“Oh, Boss…” Magenta sedikit kaget melihat wajah atasannya tiba-tiba menerangkan kamar gelapnya. Smarthphonenya otomatis menyalakan tayangan pantulan di atas dinding kamar.
“Bagaimana tidurmu di sini? Nyenyak?”
“Senyenyak beruang kutub yang berhibernasi.” Suara Magenta terdengar jengkel. “Oh bos Marko! Bagaimana mungkin aku bisa tidur nyenyak? Tempat ini cukup mengerikan bagiku.”
“Bukankah ini adalah impian setiap karyawanku? Bertugas sambil bermain-main?” Marko tersenyum puas. Senyum yang dimata Magenta nampak sebagai sahutan rasa puas: Rasakan!
“Ah, siapa bilang? Aku mati kutu di sini! Aku di dalam laut! Bayangkan!”
“Bukankah ada spa, salon kecantikan termuktahir, hingga berbagai program hobi di sana?” tanya Marko tak percaya, bagaimana mungkin di tempat sehebat itu Magenta tersiksa?
“Tapi semuanya ada ‘dalam laut’!”
“Cobalah yoga ringan untuk menenangkan pikiranmu. Hmm Magenta, apa kau sudah tahu?”kata-kata Marko terpotong.
Magenta sudah hafal, ya setelah pertanyaan ini Akan muncul kalimat lain yang bertanda seru.
“Sesuatu telah terjadi dan aku harus ada di tempat kejadian.” Potong Magenta dengan kata-kata yang telah dihafalnya.
“Hahaha, gadis pintar! Benar, sebuah berita sedang menantimu!”
“Pari Pesiar ini disusupi teroris? Pari Pesiar ini akan bertabrakan dengan karang? Reaktor nuklir Pari Pesiar ini rusak, bocor, kehilangan keseimbangan menuju kejatuhannya ke palung yang terdalam di laut banda? Atau celah timor? Sementara di sana ada tumpahan minyak dari pemboran tak sempurna? Ada perompak dari kapal selam lain dengan torpedo tercanggih yang dapat menembus dinding Pari Pesiar? Kecelakaan paling tragis sepanjang sejarah pasca Titanic…” mata Magenta berbinar membayangkan sebuah tantangan.
“Imajinasimu terlalu gila, Magenta. Yang benar adalah: David Constanov si pengusaha penuh kontraversi itu ada di Pari Pesiar. David Sang Penguasa pantai terpanjang Indonesia itu ada di Pari Pesiar.”
Magenta diam. Beritanya tidak mengerikan, tapi cukup membuat Magenta kaget.
David ? Ada di sini?David -KU? Si Wangsa Sebelas Tampan yang aku cintai?
“Bisnisnya hancur. Kini David termasuk daftar cari kejaksaan sebagai saksi utama para pengusaha dan pejabat nakal yang tersangkut kasus hutang dan kasus korupsi, kolusi, Nepotisme, Pembangunan di luar prosedur. Penebangan liar, hingga reklamasi untuk membuka kawasan pantai.” wajah Marko nampak datar.
Magenta masih diam. jadi benar, yang dimaksud adalah dia. Diaku.
“Ayolah Magenta, Kau pasti bisa menemukan dia. Kau pasti dapat mengenalinya. Aku tahu kebiasaanmu mengotak ngatik samaran orang.”
Tak ada kata-kata yang memberondong keluar mulut Magenta seperti biasanya. ya, aku pasti mengenalinya, bukankah aku pernah sangat dekat dengan David . Cukup dekat. Seperti tiada jarak Wangsa Sebelas-warga biasa. Sedekat kau bisa mencium harum ketiaknya.
“Magenta! Cari tahu apa rencana dia selanjutnya terhadap bisnis-bisnisnya! Lalu bagaimana kasus pailitnya akan ia tangani. Ini menyangkut ratusan karyawannya, para investor, dan para penguasa yang bekerja sama dengannya secara diam-diam. Kerajaan bisnisnya ada sepanjang pantai Indonesia. Jangan lupa Kejatuhannya menyeret runtuhnya angka-angka di bursa saham dunia.”
Magenta menggigit bibirnya. Jelas setan tampan itu –sekali lagi- telah menyebabkan kiamat kecil banyak orang.
“Tunggu apa lagi? bergeraklah!” Marko berkaca pinggang. Ia tak mau rupiahnya menguap begitu saja hanya untuk memenuhi keinginan Magenta merasakan hidup mewah di dalam Pari Pesiar.
“Oh, Bos, bukankah tugasku hanya meliput gaya hidup di sini? Bukan sedang melakukan investigasi kasus kejahatan. Apalagi membantu kepolisian federal mencarinya.” Magenta mengambil bantal dan siap posisi tidur. Dia memang cukup lemas dengan berita mendadak ini. Tuhan, bila bertemu David di sini aku harus bagaimana?
"Magenta, semua negara bagian di NKRI ini mencarinya! Bahkan mungkin seantero dunia! Rekeningnya di Swiss telah bersih beberapa waktu lalu!“
“Mungkin kau dapat mencari informasi tentangnya. Apa kau sama sekali tak penasaran? Makan sianglah di resto! Mungkin kau bisa menemukannya di sana. cari informasi di sana!”
Magenta langsung bangun. Dia bergegas mengemasi tas dan Smartphonenya yang masih menyala. Magenta lupa dengan apa yang baru saja terlintas, cinta terlarangnya, dan keengganan yang baru ia ucapkan. Bahwa dia –Cuma- meliput gaya hidup. Bukan sedang melakukan investigasi kejahatan untuk sebuah liputan, terlebih lagi mencari seorang pelarian.
Marko tersenyum merasakan gerak cepat anak buahnya. Dia tahu Magenta pasti akan bergerak cepat. Reporter model Magenta pasti tak bisa tinggal diam. Sekalipun dalam liburan.
“Berhati-hatilah selalu! Ingat kau ada dalam PARI PESIAR, wilayah 100% Wangsa Sebelas..” Marko mengingatkan Magenta. Suaranya melembut, terdengar sedikit khawatir.
“Yes, boss.” Magenta mematikan smartphonenya. Dia terdiam sesaat. Sial! Bukankah tadi aku sudah bilang bahwa ini bukan tugasku? kenapa aku mau saja menjalankan permintaan Bos cerewet yang pelit itu?
Y a, anggap saja ini adalah liputan gaya hidup di PARI PESIAR yang mulai membosankan ini. Tapi meliput dan menyelidiki pelarian seorang David , pria masa laluku yang membuat aku –belum menikah- sampai saat ini. dapatkah aku melakukannya?
***