BAB. 3. SIAPAKAH AKU (bagian 2)

1320 Kata
    Intan Koo bercermin. Bayangan dirinya yang memantul itu memang sempurna. Sebenarnya ia tak usah terlalu lama berdiri di depan cermin. Perilaku bercermin  hanya akan menandakan bahwa dirinya kurang percaya diri  dengan keindahan yang Tuhan berikan itu. Tapi Intan  tak pernah bosan menatap bayangan dirinya.         “Cermin oh cermin, katakan padaku, siapakah gadis tercantik di Pari Pesiar ?” tanyanya konyol menirukan gaya ibu tiri dalam kisah kuno, putri salju.             “Tentu saja aku, bodoh…” Devilia muncul di sisi cermin yang lain. Keduanya tersenyum menampakan  deretan gigi yang indah. Putih, bersih.         Sambil membawa sebotol minuman ringan, Devilia berjalan menuju jendela kamar, dan membuka tirainya secara otomatis. Dia bisa melihat langsung pemandangan Laut yang selalu dinamis. Tapi pemandangan itu  tak mampu  menjernihkan perasaannya.         “Atlit selam  itu…” gumam Devilia  menggantung.         “Yaaah…” Intan terduduk lemas. Dia mengerti apa yang dimaksud dengan suara Devilia.  Rasa        terancam, karena Roro si pendatang baru itu tak dapat dipandang sebelah mata. Sebagai atlit selam, Roro memiliki anatomi tubuh yang berbeda dengan para peragawati yang nyaris serupa tulang berbalut kulit saja. Roro lebih menonjolkan otot-otot yang indah terbentuk karena bertahun-tahun  disiplin latihan. Dan dibalik baju selam, snorkle siapa yang mempedulikan lagi kecantikan wajah?         “Dia, si manusia ikan  yang gagal tumbuh kembang itu?“ suara Intan terdengar sengak. Sangat berbeda dengan tampilan di luar ruang. Anggun, ramah, lengkap dengan sopan santun.         “Hahaha. Tapi lihatlah dia cukup bersinar. Di dalam air …di sana …” Devilia menghembuskan bisikan provokasinya. Menghembuskan angin, di hati yang ragu membara.         Keduanya menengok ke pemandangan di balik mereka. Kedalaman laut dengan keanekaragamannya yang selalu bergerak dinamis.          “Itu dia.” Intan menunjuk seorang penyelam yang berenang menuju kamar mereka.         Penyelam itu melambaikan tangan. Sebuah tali di pinggang menghubungkannya dengan penyelam lain. Nampak yang berenang dibelakangnya adalah siswa selamnya. Gerakan orang yang dibelakangnya terlihat payah.         “Sedang apa dia?” Devilia membawa minuman mineral dan minum di depan pemandangan yang aneh itu.         “Roro?” Intan membaca nama yang tertera pada yaha baju selam itu.         “Hhhh, tentu saja dia sedang pamer? Dia pasti ingin menunjukan pada kita bahwa dia kini memiliki seorang  siswa?”         Si penyelam melambaikan tangan lagi, tanda dia pamit.  Orang yang dibelakangnya ia tarik dengan tali yang terikat di pinggangnya. Gerakan Roro ke atasnya yang lincah sangat indah. Lambaian tangannya dibalas Devilia dan Intan setengah hati.         “Kebijakan pembatasan dan pengawasan peredaran sumber daya transgenik  akhirnya diberlakukan sebulan lalu. Walau kebijakan ini mengundang protes dari sebagian besar warga, tapi program penyelamatan lingkungan  tak bisa ditawar-tawar lagi…Bip”          Magenta mematikan pantulan tayangan berita dari smartphone kecilnya . Lalu kamarpun sunyi dan gelap. Kalimat-kalimat  gombal itu rasanya tak pernah berhenti.          Matanya menatap ke arah luar kamarnya. Pemandangan laut, dan udara bersih di Pari Pesiar ini memang pilihan tepat untuk pilihan hidup sehat. Tapi tentu saja tukarannya sangat mahal. Buat Magenta tukerannya adalah keberaniannya. Dia harus membayarnya dengan  gejolak jantungnya yang sering menderu tanpa kendali hanya karena kombinasi pikiran, khayalan, dan prasangka berlebihan terhadap laut.         Masa lalu, lima tahun yang lalu, selalu terpampang di depannya, juga kini.          “Hallo Magenta!“ tiba-tiba smartphonenya kembali bergetar. Sensornya menangkap dinding kamar dan langsung menayangkan kiriman wajah dari seberang sana.          “Oh, Boss…” Magenta  sedikit kaget melihat wajah atasannya tiba-tiba menerangkan kamar gelapnya. Smarthphonenya otomatis menyalakan tayangan pantulan  di atas dinding kamar.         “Bagaimana tidurmu di sini? Nyenyak?”         “Senyenyak beruang kutub  yang berhibernasi.” Suara Magenta terdengar jengkel. “Oh bos Marko! Bagaimana mungkin aku bisa tidur nyenyak? Tempat ini cukup mengerikan bagiku.”         “Bukankah ini adalah impian setiap karyawanku? Bertugas sambil bermain-main?” Marko tersenyum puas. Senyum yang dimata Magenta nampak sebagai sahutan rasa puas: Rasakan!         “Ah, siapa bilang? Aku mati kutu di sini! Aku di dalam laut! Bayangkan!”         “Bukankah ada spa, salon kecantikan termuktahir, hingga berbagai program hobi di sana?” tanya Marko tak percaya, bagaimana mungkin di tempat sehebat itu Magenta tersiksa?         “Tapi semuanya ada ‘dalam laut’!”         “Cobalah yoga ringan untuk menenangkan pikiranmu. Hmm Magenta, apa kau sudah tahu?”kata-kata Marko terpotong.         Magenta  sudah hafal, ya setelah  pertanyaan ini  Akan muncul kalimat lain yang bertanda seru.         “Sesuatu telah terjadi dan aku harus ada di tempat kejadian.” Potong Magenta dengan kata-kata yang telah dihafalnya.         “Hahaha, gadis pintar! Benar, sebuah berita sedang menantimu!”         “Pari Pesiar  ini disusupi teroris? Pari Pesiar  ini akan bertabrakan dengan karang? Reaktor nuklir Pari Pesiar  ini rusak, bocor, kehilangan keseimbangan menuju kejatuhannya ke palung yang terdalam di laut banda? Atau celah timor? Sementara di sana ada tumpahan minyak dari pemboran tak sempurna? Ada perompak dari kapal selam lain dengan torpedo tercanggih yang dapat menembus dinding Pari Pesiar? Kecelakaan paling tragis sepanjang sejarah pasca Titanic…” mata Magenta berbinar membayangkan sebuah tantangan.         “Imajinasimu terlalu gila, Magenta. Yang benar adalah:  David Constanov si pengusaha penuh kontraversi itu ada di Pari Pesiar.  David  Sang Penguasa pantai terpanjang Indonesia itu ada di Pari Pesiar.”         Magenta diam. Beritanya tidak mengerikan, tapi cukup membuat Magenta kaget.         David ? Ada di sini?David -KU? Si Wangsa Sebelas Tampan yang aku cintai?         “Bisnisnya hancur. Kini David  termasuk daftar cari kejaksaan sebagai saksi utama para pengusaha dan pejabat nakal yang tersangkut kasus  hutang dan kasus korupsi, kolusi, Nepotisme, Pembangunan di luar prosedur. Penebangan liar, hingga reklamasi  untuk membuka kawasan pantai.” wajah Marko nampak datar.         Magenta masih diam. jadi benar, yang dimaksud adalah dia. Diaku.          “Ayolah Magenta, Kau pasti bisa  menemukan dia. Kau pasti dapat  mengenalinya. Aku tahu kebiasaanmu mengotak ngatik samaran orang.”         Tak ada kata-kata yang memberondong keluar mulut Magenta seperti biasanya. ya, aku pasti mengenalinya, bukankah aku  pernah sangat dekat dengan David . Cukup dekat. Seperti tiada jarak Wangsa Sebelas-warga biasa. Sedekat kau bisa mencium harum ketiaknya.         “Magenta! Cari tahu apa rencana dia selanjutnya terhadap bisnis-bisnisnya! Lalu  bagaimana kasus pailitnya akan ia tangani. Ini menyangkut ratusan karyawannya, para investor, dan para penguasa yang bekerja sama dengannya secara diam-diam. Kerajaan bisnisnya ada  sepanjang pantai Indonesia. Jangan lupa Kejatuhannya menyeret runtuhnya angka-angka di bursa saham dunia.”         Magenta menggigit bibirnya. Jelas setan tampan itu –sekali lagi- telah menyebabkan kiamat kecil banyak orang.         “Tunggu apa lagi? bergeraklah!” Marko berkaca pinggang. Ia tak mau rupiahnya menguap begitu saja hanya untuk memenuhi keinginan Magenta merasakan hidup mewah di dalam Pari Pesiar.         “Oh, Bos, bukankah tugasku  hanya meliput gaya hidup di sini? Bukan sedang melakukan investigasi kasus kejahatan. Apalagi membantu kepolisian federal mencarinya.” Magenta  mengambil bantal dan siap posisi tidur. Dia memang cukup lemas dengan berita mendadak ini. Tuhan,  bila bertemu David  di sini aku harus bagaimana?         "Magenta, semua negara bagian di NKRI ini mencarinya! Bahkan mungkin seantero dunia! Rekeningnya di Swiss telah bersih beberapa waktu lalu!“         “Mungkin kau dapat mencari informasi tentangnya. Apa kau sama sekali tak penasaran? Makan sianglah di resto! Mungkin kau bisa menemukannya di sana.  cari informasi di sana!”         Magenta langsung bangun.  Dia bergegas mengemasi tas dan Smartphonenya yang masih menyala.  Magenta lupa dengan apa yang baru saja terlintas, cinta terlarangnya, dan keengganan yang baru ia ucapkan. Bahwa dia –Cuma- meliput gaya hidup. Bukan sedang melakukan investigasi kejahatan untuk sebuah liputan, terlebih lagi mencari seorang pelarian.             Marko tersenyum merasakan  gerak cepat anak buahnya. Dia tahu Magenta  pasti akan bergerak cepat. Reporter model Magenta  pasti tak bisa tinggal diam. Sekalipun dalam liburan.         “Berhati-hatilah selalu! Ingat kau ada dalam PARI PESIAR, wilayah 100% Wangsa Sebelas..” Marko mengingatkan Magenta. Suaranya melembut, terdengar sedikit khawatir.         “Yes, boss.” Magenta mematikan smartphonenya. Dia terdiam sesaat. Sial! Bukankah tadi aku sudah bilang bahwa  ini bukan tugasku?  kenapa aku mau saja menjalankan permintaan Bos cerewet yang  pelit itu? Y        a,  anggap saja ini adalah liputan gaya hidup  di PARI PESIAR yang mulai membosankan ini. Tapi meliput dan menyelidiki  pelarian seorang David , pria masa laluku yang membuat aku –belum menikah- sampai saat ini. dapatkah aku melakukannya?                                                                                 ***              
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN