Restoran PARI PESIAR dengan interior minimalis. Meja-kursi dan bar terbuat dari logam campuran materi yang sangat ringan, tapi kuat. Resto yang terkesan modern itu disempurnakan dengan tayangan kehidupan laut yang indah. Seluas mata memandang adalah air dan isinya. Pemandangan itu seolah mampu mengembalikan uang yang telah dikeluarkan untuk membeli tiket Pari Pesiar.
Tapi bagi Magenta, pemandangan yang begitu terbuka, menghadap ke arah laut lepas, seperti menyalakan mimpi-mimpi buruknya secara abadi. Mimpi buruk yang tak perlu tidur untuk melihat dan mengalaminya.
Bayangkan! Aku ada di kedalaman laut! Bagaimana bila terjadi kebocoran, dan ikan-ikan atau mahluk transgenik serupa monster itu menyelinap masuk ke dalam sini?
“Oke, untuk kesembuhan jiwaku, aku ada di sini!“ bisik Magenta pada dirinya, mengukuhkan niatnya. Mengusir sikap groginya yang tiba-tiba menyerangnya.
Mata Magenta menari-nari, mencari kursi yang kosong. Makan di depan bar gaya resto Sushi? Ah, Apa tidak terlalu mencolok? Aku seorang wanita Indonesia ‘asli’ sekalipun darahnya telah tercampur berbagai suku yang ada di sini. Magenta menyadari dirinya yang sendiri. Di sarang Wangsa Sebelas. Pari Pesiar ini adalah sarang Wangsa Sebelas. Hampir semua yang berada di sini adalah Wangsa Sebelas.
Memang, hampir semua Wangsa Sebelas di Indonesia adalah orang kaya. Jadi tak aneh bila Pari Pesiar ini dipenuhi oleh mereka. Lalu warga biasanya seperti Magenta. Statusnya sedang bertugas. Seperti siswa-siswa yang hilir-mudik di sini. Melayani para tamu, bekerja di dapur atau bagian lain. Intinya sama. Warga biasa = kelas pekerja.
Kesimpulannya, PARI PESIAR adalah koloni menyelam Wangsa Sebelas. ‘Sub Wangsa Sebelas Teritorial’. Barangkali itu judul laporan khusus perjalanan Magenta kelak. Tapi terlihat terlalu sinis dan berbau SARA, bukan? Magenta menarik nafas.
“Maaf.. bila tuan tak keberatan..” hampir saja Magenta duduk di sebuah kursi kosong ketika seorang Wangsa Sebelas menarik kursi kosong itu.
“Maaf, nona, kursi ini milik seorang Wangsa Sebelas.” Kata-katanya sopan, tapi muatannya menegaskan bahwa ia seorang a*******d.
Magenta menarik nafas. Senyumnya hambar. Matanya mencari kursi lain. Tentu saja mereka semua tahu dirinya bukan bagian dari mereka. Matanya yang bulat, hidungnya yang pesek, dan warna kulitnya yang coklat, rambutnya yang hitam, tubuhnya yang mungil, tak bisa ia ganti dengan hidung mancung, kulit putih, rambut merah yang sehalus sutera, ukuran tubuh yang tinggi dan besar sebagaimana ciri-ciri morfologis Wangsa Sebelas.
“Maaf, aku sedang menanti seorang teman Wangsa Sebelas.” Wanita Wangsa Sebelas di dekat kursi itu menarik kursi kosong incaran Magenta.
Magenta tak tersenyum lagi. Baik nyonya, aku pun tak sudi duduk dengan Wangsa Sebelas yang a*******d .
Sampai lima kali Magenta mengalami penolakan. Ia kembali membaca ticket makannya. Ticket yang menjelaskan bahwa ia sebagai tamu undangan, memiliki hak kursi malam itu di dalam restoran . Tapi kenapa tak ada kursi untuknya? Magenta menarik nafas. Jelas sekali, para Wangsa Sebelas ini tidak menyukai warga biasa bercampur dalam ruangan yang sama. Resto ini seolah hanya untuk para Wangsa Sebelas.
Lalu matanya menangkap sosok lelaki tua yang sedang menatapnya. Tatapan yang membuat Magenta terpana sejenak. Tatapan yang membuat Magenta merasa salah tingkah, sejenak.
Dia, David tua, tapi tentu saja Magenta tak mengenalinya. David tua berdiri dan menarik kursi kosong di depannya. David tua mempersilahkan Magenta duduk.
“Kalau nona tidak keberatan, sudikah kiranya nona duduk di sini, menemani saya yang tua dan (mulai) kesepian.” Suara David tua bercengkok khas Wangsa Sebelas, lirih bergetar berselang batuk terdengar cukup jelas.
Magenta celingukan mencari orang lain disekitarnya, tak ada yang berdiri selain dirinya. Lalu Magenta menunjuk dirinya sendiri. David tua mengangguk menjawab keraguannya bahwa kursi itu tentmemang untuknya.
“Terima kasih.” bisik Magenta. Senyumnya baru mengembang. Hangat, ikhlas.
David tua tersenyum. Ya nona, aku tahu mereka sengaja melakukannya. Mereka sengaja menolakmu! Ya Tuhan, kenapa di tempat persembunyian ini kau dekatkan aku dengan wanita hebat ini? Dengan wanita cinta pertamanyai. Magenta, gadis hebatku!
Detik berikutnya David tua sudah berhasil menelan kekakuannya.
Dengan gayanya yang tenang dia berhasil tersenyum, padahal jauh di dalam dirinya, dia sekuat tenaga menahan segala gelombang rasa rindu.
“ Apa kabar Magenta? Anda peraih Bidik award 3 kali itu, bukan? Suatu kehormatan bagi saya bisa berkenalan dengan seorang wartawati terkenal seperti anda, nona.”
Magenta duduk di kursi kosong itu. Dia terdiam. Suara itu! Apa aku tak salah dengar? “Kabar baik, seperti yang tuan lihat, saya bisa bergabung di Pari Pesiar ini. Dan kabar buruk, saya di tolak komunitas Pari Pesiar.“
David tua tersenyum kecut. Tak ada sedikitpun yang berubah dari dirimu. Kau tetap si Magenta sinis. David tua tak dapat menahan pandangannya pada wanita muda di depannya.
Sejenak mereka bertatapan. Canggung. Magenta lalu menghindari tatapan David tua dengan melihat apa terhidang di meja itu. Air liurnya mulai membanjir.
“Kalau nona mau, silahkan ambil. Biar saya pesankan lagi.” David tua tahu, mata Magenta tak lepas dari menu laut di atas meja itu. Aku hampir lupa bahwa sebagai jurnalis jujur, kau tak mungkin sekaya aku. Ya Tuhan! Aku ini sedang miskin, kenapa aku selalu merasa sebagai seorang yang kaya? Oh ya tentu saja! Karena nol-ku dalam rekening minus itu telah kembali bertaburan beberapa digit. David tua seolah menelan sendiri semua keterangan pribadinya.
David tua masih tak percaya, nasibnya bergelombang tinggi rendah. Muda kaya tampan, menjadi tua buruk rupa. Untung-rugi, miskin-kaya, perubahan nominal yang drastis begitu cepat hanya dalam hitungan hari.
“Lobster dengan saus nanas. salad, dan yang terhebat adalah ini semua dihasilkan dari dalam sini. Ini semua sangat sehat, bebas polutan.” Kata David tua menyendokan piring kosong di depannya lalu memberikan pada Magenta. Seperti yang dulu sering ia lakukan, pada Magenta dalam keadaan normal.
Magenta hanya mengangguk kaku. Dia merasa aneh lelaki tua yang asing di depannya ini menyendokkan hidangan ke dalam piringnya. Perlakuan yang biasa dilakukan oleh seseorang yang akrab. Tanda perhatian seorang saudara, sahabat, atau pasangan kekasih.
“Untuk Lobster yang diambil langsung dari laut ini sebelum dimasak, bahan-bahannya melalui proses netralisir. Semacam detoksifikasi, karena laut sudah sangat tercemar, dan tenthu saja cemarannya mengotori mahluk laut. PARI PESIAR itu memiliki penangkaran yang difungsikan sebagai thempat detoksifikasi bagi mahluk laut yang akan dijadikan santapan.
“Tentu saja kau sudah tahu semua. Seorang peraih Bidik award tentu tak pernah melewatkan informasi sekecil apa pun.” Kata David tua sarat dengan nada pujian dan kagum.
Magenta menatap pak tua di depannya, lalu tersenyum sekedarnya. Dia tahu hidangan di sana memang semuanya dari laut.
“Terima kasih. jangan terlalu melebih-lebihkan. Dan jangan lupa, hidangan sesehat ini hanya diperuntukan bagi para orang kaya. Sementara warga lain tubuhnya berperang dengan setiap asupan makanan yang terkontaminasi polutan. Yang bersifat karsinogen.” [1]berbeda dengan muatan bicaranya, Magenta menyuapkan lobster dengan penuh gairah.
Oh, Magenta si sinis, kau tak pernah berubah. Kau selalu bicara tanpa sensor, sekalipun di depan seorang petinggi Wangsa Sebelas. Dan kini kau mengobral mulut nyinyirmu di depanku dengan seksi.
Tahukah kau, aku begitu merindukanmu. Tapi kau di sini, di depanku, dan aku tak berdaya untuk mengatakannya sambil memelukmu, membisikan ‚’aku adalah...’ David tua hanya mampu menelan ludah .
David tua menaikkan tangannya lagi untuk memanggil seorang pelayan lalu memesan menu yang sama. Oh, nona manis… begitu laparkah engkau sampai kau lupa aku belum mempunyai piring. Kau makan tanpa menungguku manis?
“Maaf, kalau tuan tak keberatan. Aku sedang meliput program ‚gaya hidup’.” Kata Magenta mengeluarkan smartphonenya untuk merekam pembicaraan mereka. Mulutnya masih mengunyah.
“Aku keberatan. Sebaiknya kita mengobrol biasa saja sebagaimana layaknya orang yang baru berkenalan.” David tua menjauhkan alat perekam itu. Dia betul-betul belum siap. Bukankah dia sedang melarikan diri dari publikasi? Dia jadi menyesal kenapa dengan gegabah mengajak Magenta bergabung. David tua tidak pernah memikirkan ada Magenta si jurnalis senior dalam Pari Pesiar.
Bagaimana kalau wartawati cantik ini tahu bahwa dirinya adalah seorang yang penting yang termasuk daftar orang yang dicari. David sadar yang duduk di depannya memang reporter berhidung Srigala. Ia seolah mencium darah segar bila melihat sesuatu yang dapat menjadi komoditas beritanya. Terlebih lagi karena gadis ini adalah seorang penting di masa lalu seorang David . Ya Tuhan!
“ Aku hanya seorang Wangsa Sebelas tua . Bukan seseorang yang penting.“ David tua mendorong alat perekam Magenta.
“Hmmm setidaknya anda seorang Wangsa Sebelas, berpenghasilan lebih yang dapat menopang hidup lebih lama di dunia. Dibanding usia kematian rata-rata masyarakat umumnya yang 45 tahun .“ Kata Magenta begitu tajam.
“Bukankah usia tua merupakan penanda bahwa ia dapat melakukan segala cara yang mahal untuk menunda kematian. Hidup sehat yang mahal. Mudanisasi sel-sel somatis. Hidup di lingkungan yang sehat yang pasti mahal. Bongkar pasang organ tubuh hasil dari rekayasa biomedis.
“Orang biasa, apalagi kelas lebih rendah. Mereka akan sangat berat melampaui usia 45-50 tahun. Dengan kualitas polusi udara yang membakar paru-paru, kontaminasi logam di air yang mempercepat rusaknya fungsi ginjal. Hingga orang-orang dari golongan ini akan nampak beredar dengan membawa tabung oksigen ke manapun mereka pergi, atau membawa mesin hydrolisis pengganti fungsi ginjal.
„Dan kini ’industri gaya’ melihatnya sebagai peluang pasar, mereka dengan bangga mengenalkan tampilan tabung oksigen dan mesin hydrolisis yang fashionable.
“Juga kebanyakan dari mereka adalah orang-orang botak yang rontok rambutnya karena segala kontaminan di air, atau mereka sengaja membuat botak agar berhemat dalam keramas.“ Magenta bicara tanpa memperhatikan dimana dia bicara seperti itu. Jelas sudah bahwa dia memang pantas ditolak para Wangsa Sebelas tadi.
David tua tercenung dengan kata-kata Magenta. Terpana, kagum, terkejut, dengan spontanitas yang tiba-tiba menohok sisa hati kecilnya yang baik.
“Saya selalu kagum dengan keberanian nona menyampaikan uneg-uneg, walaupun sebernarnya, bukankah seorang wartawati hanya bertanya dan bukan berpendapat?“ David mengangkat alisnya, tersenyum geli, dan matanya menatap ramah.
"Heuheu.. tuan lupa ya? Tuan sudah menolak wawancara, dan kita cuma sedang mengobrol.“
Magentaku! Gadis hebatku! Si mulut nyinyir nan seksi!
“Oke. Tak masalah.” Kata Magenta sangat ringan, melegakan hati yang mendengarnya.
“Jadi kita mengobrol sebagai kenalan baru saja.” Kata Magenta melemah ditegaskan dengan anggukan halus dan senyuman yang memikat David .
Magenta meliriknya. Lelaki di depannya memang buruk rupa. Gigi tongosnya dan alisnya yang tak karuan. Dia juga seorang WANGSA SEBELAS. Tuhan, Kenapa aku tak bisa memilih dengan siapa aku akan bertemu di Pari Pesiar ini?
Pria tua ini pasti telah memilih membelanjakan uangnya untuk ‚hidup-lebih-lama-‚ dibanding untuk mempertampan penampilannya. Pikir Magenta, matanya terus menatap David tua yang duduk di depannya. Tatapan selidiknya tentu saja membuat David tua grogi, debaran kecil yang sering menyerangnya di masa lalu perlahan ia rasakan kembalikan kehadirannya di jantung.
Tanpa sadar Magenta membandingkan dengan seorang David Constanov, 40 tahun. David Constanov dikenal sebagai pengusaha tampan. David Constanov hampir selalu dikelilingi oleh wanita-wanita cantik, berkelas, tanpa satu pun yang berhasil menjalin hubungan serius dengannya.
Aku dulu pernah takluk dengan caranya memuja wanita.
“Jadi, Siapakah tuan? bagaimana kenalan baruku ini sampai ada di Pari Pesiar ini?” Tanya Magenta menghindari tatapan David tua dengan mengambil kembali potongan timun laut bersaus pedas. Jelas dalam adu tatap dan saling selidik itu, Magenta kalah.
David tua terdiam. Kau sangat tahu nona.
"Kau pasti sudah tahu banyak tentang aku.“ Kata Magenta tanpa basa basi, Magenta mengucapkannya penuh percaya diri.
David tua tersenyum. “ya tentu saja, Nona seorang pembawa acara yang hampir tiap hari muncul di SmartTV, Smartphone.“ Aku tahu dengan segala sesuatu yang terkait dengan dirimu.
“Nama saya, Moran.“ David tua telah hapal dengan identitas barunya.
“Moran, 60 tahun, analis militer. Hidup sendiri.“
Tuhan, kenapa kau pertemukan aku dengan gadis ini LAGI? Reputasinya sebagai reporter handal, membuat dia seperti ancaman. Tapi Tuhan, coba lihat betapa manisnya dia. Hidung mungilnya, mata bulatnya yang cerdas, alisnya yang kuat dan indah, kulitnya yang coklat, amboy..! Dia Indonesia asli, bukan seorang Wangsa Sebelas. Tidak ada yang berubah dengan dirinya.
Apakah David tua yang berperan sebagai Moran ini, bisa menaklukan nya? Membuat dia jatuh cinta? Bagaimana mungkin?
“Hmm, tuan (kakek tua) Moran yang saya hormati, saya sangat menghargai tuan (kakek) bila tuan sudi memberitahu saya, kira-kira, di mana saya dapat menemukan Tuan David (yang tampan nan menawan)?” bisik Magenta terdengar gemetar saat menyebutkan nama ‘David ’
David tua menatap Magenta dengan terkejut. Ya Tuhan! kenapa kalimat pertanyaan itu sebagai pembukanya? Apakah ia –tetap- dalam misinya? Untuk pekerjaan atau untuk proyek pribadinya? Untuk kepuasan hatinya?
Hati-hati David !
***
[1]Senyawa kimia penyebab kanker.