Chan Nio menarik nafas panjang. Matanya menatap pada pasien yang tergolek di seberang ruang isolasi. Balutan plester membungkus wajah pasien itu dengan sempurna.
Mata Chan Nio kemudian menatap Magenta lagi. Mata pengintip yang ia letakKan di topeng David bekerja dengan sempurna. Sesempurna kamera itu menyampaikan gambar cabe-seledri yang menghias gigi saat Magenta tersenyum dan menatapnya.
Observasi hari ke dua : Berpenampilan tua-buruk tak menghalangi seorang flamboyan menghentikan kelakuan tebar pesona. Bahkan sepertinya objek merasa tertantang.
“Bagaimana Chan Nio? Ini hal menarik bukan? Kau dapat menambahkan objek pengamatan mu. Si tampan menjadi si tua, buruk rupa, dan si monster menjadi si tampan?” Tanya dokter Chandra si rekan kerja. Chandra berdiri bersandar di meja komputer Chan Nio. Tangannya bersidekap.
“Si monster itu bila dibiarkan apa adanya, sebenarnya sudah menjadi tantangan tersendiri.” Chan Nio memainkan mouse komputernya, mengamati wajah-wajah tak berbentuk korban dari segerombolan ikan mungil bergigi cakil atau hanoman yang berperilaku anomali, sebagaimana susunan DNAnya.
Korbannya, Drako Wongso, seorang lelaki yang wajahnya terbalut perban itu lima tahun yang lalu adalah seorang model tampan , penggemar selam. Ia mengalami kecelakaan dalam pengambilan gambar untuk sebuah iklan wisata air.
Model itu sedang mencoba menggambarkan dirinya yang tergoda dengan tarian ikan iklan. Mendekati mereka dengan halus, dan tiba-tiba ikan-ikan transgenik itu menyerangnya dengan keroyokan dan ganas, seperti seorang maling kupon air di permukaan sana yang tertangkap basah, dan dihabisi oleh warga yang geram, dan merasa mendapat objek pelarian segala emosi –haus air- yang terbendung.
Melihat wajah yang berlobang-lobang, luka pipi hingga nampak bagian rahang, dan giginya, Hidung yang nyaris hilang. Dari gambar-gambar itu bisa kita bayangkan kebringasan komplotan para Carnivora transgenic itu. Ikan-ikan yang hanya berukuran 10-15 cm , dengan nama spesies, Coca nomor.1 sp, sesuai nama industri minuman ringan yang membiayai penciptaannya. Industri yang di iklankan para mahluk iblis jadi-jadian.
Jika bukan karena kemajuan teknologi kedokteran, si penyelam itu tentulah sudah tamat riwayatnya. Air laut yang asam, bersifat korosif dan dipenuhi oleh mikroba kuman mutan, menjadi jalan cepat untuk mati.
Lima tahun ini tim dokter merawatnya dengan telaten. Sementara dia sendiri harus menelan segala nyeri guna mengembalikan parasnya yang tampan. Beberapa kali bedah kosmetik dilakukan, tapi selalu gagal, karena –sepertinya- air liur yang ditinggalkan ikan-ikan itu memberikan efek alergi terhadap obat bius setiap akan dilakukan pembedahan. Sungguh tragis. Tak ada usaha yang memungkinkan. Sekalipun para dokter spesialist berkumpul, mereka hanya menemukan –temuan baru- terhadap efek liur ikan yang bersifat racun.
“Mungkin alasan ini dapat menolongku, bayangkan bila si monster tak bisa ke manapun karena penampakannya yang mengerikan. Sedang Pari Pesiar menjanjikan sebuah surga bagi siapapun penumpangnya. Lalu dia memberikan publikasi buruk akan Pari Pesiar , dan kehebatan dunia pencitraan saat ini.
“Bagaimana bila korban ini, menyatakan pada publik, bahwa –sekali lagi- para Ilmuwan, adalah sekedar kumpulan orang berotak gila yang kerasukan setan? Seniman sains jelmaan iblis?”
“Dan rekanku, Chan Nio, adalah seorang terapisnya, yang lima tahun ini tak mendapat kemajuan apa-apa, selain pasien baru, dengan kepribadian –merusak- layaknya seorang monster.”
“Jangan lupa sobat... dia adalah seorang kerabat Ratsuya!”
Chan Nio diam, memandang Chandra tanpa mimik.
“Oh, Chan Nio! Karirmu di ujung tanduk! Karirmu hanya akan selamat bila kau dapat mengembalikan dia sebagai Manusia Utuh!”
“Sialan! Kau tak tahu, semua itu tak semudah membalikan tangan.”
“Kau sudah berjanji dengan istrinya, juga pada tuan Drako.”
Chan Nio masih juga diam. Wajahnya datar. Matanya menatap lurus mata Chandra.
“Apa yang harus kau pertimbangkan lagi?” Chandra benar-benar tidak sabar.
“Oke, aku butuh segala sesuatu tentang data biologisnya. Kau bisa berikan data itu ke bagian Biokosmetic. Hmm, mungkin kau harus melalui akses rahasia. Gunakan kata sandiku. “ Chan Nio mengetikan beberapa huruf pada smartphonenya.
“Bip.” Smartphone Chandra berbunyi. Chandra tersenyum, wajahnya yang dari tadi resah, berubah cerah.
“Kau hanya bisa mencoba dua kali masuk ke situ situ. Semoga berhasil.” Suara Chan Nio menyudahi ketikan komputernya.
BIP.
***
Dapur PARI PESIAR.
“Ya Tuhan! apa ini?” Tanya Mario yang sedang siap dengan pisau dagingnya. Dia mengambil sesuatu dari termos.
“Jantung. Pesanan seorang Wangsa Sebelas di kamar suite. Kau tahu kan cara memotongnya agar tetap ‘indah’ saat disantap.” Kata Tora tanpa menengok ke arah Mario. Dia asyik membuat irisan halus sayuran mentah untuk salad.
“Mereka (para Wangsa Sebelas) menyantap jantung juga? Haaa?” Suara Mario bergelombang, tanda ia grogi.
Tora menatap Mario aneh. “Yeah… apa buatmu itu aneh? Tak ada yang aneh bila menyangkut Wangsa Sebelas”. Bisik Tora jelas. Dia berbisik karena di sana hanya mereka yang bukan Wangsa Sebelas.
Mario hanya diam. Wajahnya memucat seiring telinganya menangkap dengan komentar Tora.
Bagus! Kita sudah menemui keanehan! Ingin sekali ia bicara wajar, menimpali Tora, tapi tak bisa, mulutnya seolah begitu berat untuk membuka. Jantung… Jantung ini! Oh Tora… aku tak kuat melihat ’dia’ berdenyut. Denyutnya seolah memberi komando pada jantungku untuk berdenyut lebih repot.
“Itulah gunanya kurator di bagian penangkaran. Membuat semua selalu segar dan sehat untuk disantap.” Kata Tora meneruskan kegiatannya, tanpa melihat wajah pucat Mario dengan bibir bergetar.
“Penangkaran…? Mereka menangkarkan manusia?” desis Mario semakin ngeri dan tak percaya. Tuhan, Bantu aku berdiri, karena kini aku merasakan lututku lemas.
“Kau gila atau i***t? Tentu saja tidak! Yang mereka makan dan dibuat sushi itu ikan-ikan, bodoh. Aku memang baca menu khusus jantung Hiu untuk kamar …”
"Untuk kamar..." Tora mengulang ucapannya lagi. kepalanya mulai bingung, perlahan berpikir.
Merasa telah terjadi kesalah-pahaman, barulah Tora menghampiri temannya. Dia menengok isi termos di depan Mario. Wajahnya perlahan-lahan memucat sampai seputih kapas.
“Ini jantung orang. HAH! Kamu tahu ini ? INI JANTUNG ORANG! INI JANTUNG ORANG!” suaranya berubah gugup, tubuhnya ikut bergetar, pisau sayur dari tangannya sampai jatuh. Lalu dia terkulai, duduk di bawah meja dapur.
Keributan mereka mengundang perhatian para pekerja yang lain. Supervisor saat itu langsung mendekati mereka.
Wajahnya tenang, suaranya datar terlatih, menyuruh pekerja lain melanjutkan pekerjaannya. Seolah ini adalah hal yang biasa, Si Supervisor menutup kotak termos pengawet, memanggil seorang pekerja untuk membantu Mario mengangkat tubuh Tora yang pinsan.
***
Mata Ratsuya Wongso, sang bos besar, belum terpejam betul, dan kesadarannya belum hilang 100%. Dia masih dapat dengan jelas menangkap percakapan dokter Chandra dan suster di samping ranjangnya.
"Hah jantung Hiu?” suara dokter Chandra itu sangat jelas, mengembalikan kesadaran Ratsuya 100%. Suara keras itu pasti karena rasa terkejutnya.
"Ssss.” asistennya memberi isyarat agar ia tak terlalu keras bicara. Suster itu menggiring Chandra menjauhi ranjang. Keduanya bicara dengan berbisik. Membuat Ratsuya berusaha keras untuk mendengar apa yang membuatnya terbangun.
“Hubungi dapur. Barang itu mungkin masih ada di sana…” terdengar suara bisik dokter Chandra.
“Yaa.” jawab susternya.
“Suster, dia bangun.” Dokter Chandra bergegas mendekati ranjang.
Dengan cekatan, suster itu menahan Ratsuya untuk bangun. Ratsuya tak dapat melawan saat tangan suster yang kuat itu menekan tubuhnya untuk berbaring. Dengan terampil dia memegang lengan Ratsuya dan menyuntikkan kembali senyawa kimia yang mengirimnya ke alam nirwana. Mematikan semua sensor perasanya, untuk sementara.
“Ah, fisiknya memang sekuat baja. Siapa yang menyangka bahwa jantungnya palsu?” kata suster melap peluhnya di keningnya. Suster itu cukup tegang Menghadapi seorang Ratsuya, untuk sebuah operasi illegal di Pari Pesiar.
“Sebaiknya kita biarkan dia tidur..” Kata dokter Chandra.
“Oke.”
***