BAB. 5. SENYUMLAH! (bagian. 1)

1494 Kata
            Peristiwa tertukar jantung itu berdampak fatal.  Tora si lembut hati  yang paling merana merasakan dampaknya. Dia terpaksa absen untuk bekerja  di keesokan harinya. Di kamarnya yang sempit dia meringkuk di tempat tidur  susun bagian  bawah.         “Aduuuh Tora, ” Shachi mengipas-ngipaskan sapu tangan yang telah ditetesi oleh aroma terapi untuk memberikan efek ketenangan pada penghirupnya. “Kau yang gagah, Pria terkeren di kelas, macho terkena sindrom jantung nyasar.” Belum selesai Shachi menghentikan kalimatnya, Tora bangkit dari tempat tidurnya, berlari ke kamar mandi dan mengeluToraan sisa isi perutnya.         “HOEK… hoek… hoek…”         “Oh, Shachi manis, tahukah kau, dia itu tak  bisa mendengar kata ‘jantung’.” kata  Zia mengingatkan sobatnya itu, ia cepat-cepat menutup mulutnya begitu sadar  ada kata ‘jantung’ dalam kalimatnya. UPS!         “…Hoek …hoek…” kata ‘jantung’ itu telah di respon di kamar mandi.         “Dan sekarang giliranmu yang mengatakan  ‘jantung’.” O-oo, Shachi  sengaja menekan kata ’jantung’ dengan suara yang keras.          “Hoek… hoek… hoek…” respon yang sangat jelas dari kamar mandi.          Zia melotot kepada Shachi, tapi percuma Shachi hanya tersenyum dan memasang wajah inoncentnya.         “Kalau kamu setampan Jatnika, mungkin aku rela memijit punggungmu.” Shachi mulai ngawur.  Zia kembali  melotot.         “Kalau kau seorang Roro! maka aku tak akan sesakit ini. Hrrrr…” sahut Tora mencuci mulutnya dengan berkumur. Suara kumur itu jelas tidak murni, karena telah berkombinasi dengan geram.         “Sebenarnya ceritanya bagaimana?” Zia  menengahi adu mulut yang baru saja mulai.         “Sepertinya ada orang mengganti jantungnya di Pari Pesiar ini.” Kata-kata Tora diakhiri dengan bunyi Hoeknya.         “Haaa? Bukankah Undang-Undang cangkok organ sangat jelas! Dari mana mereka dapatkan?” Tanya . Zia . Firasatnya mulai bermain.         Awan mendung sedang bergerak di sini. Ada bayangan gelap, dan api. Seperti neraka.         “Jantung sintetis? Itu sih kuno?” Shachi betul-betul bebal dan berhati es. Minus 100 derajat. Dia hanya menarik nafas mendengar Tora ber’hoek’ lagi, karena ada kata Jantung.         “Shachi!” mata Zia  menghujan tajam. Tanda bahwa ia sangat tidak setuju dengan komentar sobatnya.         Tatapan  Zia membuat Shachi mengkerut. Seolah ia terdakwa pendosa besar. Bibirnya mulai bergerak mengucapkan ‘maaf…’ tanpa suara.         “Maafkan aku Tora, aku terlalu kasar ya mengucapkan ‘jantung’ dengan jelas?” tanya Shachi melembut.         “Hoek...“         "UPS..“         "Hrrrrr..” Cuma dijawab dengan suara orang berkumur.         “Apa yang dikatakan Pihak management, Tora?” Tanya Zia.  Dia tahu Tora masih kesal pada Shachi.  melihat Tora keluar dari kamar kecil dengan lemah.         “Mereka hanya mengatakan  bahwa peristiwa ini tak boleh bocor ke mana-mana. Tapi aku rasa tak bisa . Karena saat itu aku sangat histeris melihat… benda itu berdenyut-denyut di dalam kotak…” Tora terkulai di atas ranjangnya. Walaupun ia telah mengganti kata ‘jantung’ dengan ‘benda’ tapi tetap saja ia merasa bisa melihat denyutnya.         “Ada yang aneh.” Gumam Zia.         “Jelas. Seonggok jantung manusia tidak terpasang di tempat seharusnya. misterius.” Kata Shachi menimpali.         “ HOEK!”         “Ups!” Shachi menutup mulut.  Zia kembali melotot ke arah Shachi.                                                                                  ***     Ruang kaca.         Di Balai Pertemuan berdinding kaca, Pari Pesiar terasa begitu hangat. Bersinar. Terang. Nyaris serasa di permukaan laut.         Para ilmuwan berhasil  menirukan sinar matahari. Walau tentu saja tak 100% sama dengan aslinya. Mereka membutuhkan spectrum cahaya yang serupa dengan cahaya matahari. Untuk menjamin keberlangsungan proses  fotosintesis dalam pertumbuhan tanaman sayur-mayur yang diadakan untuk komsumsi seisi Pari Pesiar. Sinarnya disesuaikan dengan matahari yang asli. Dibuat siang-malam.         Sinar Matahari tiruan itu dihasilkan oleh lampu dengan energi Nuklir yang ada Pari Pesiar. Semua warga Pari Pesiar  dapat menikmatinya. Jadi bila siang, mereka –para pelancong- yang kaya itu hilir mudik di sekitar rumah kaca. Menikmati semua fasilitas mengasyikkan yang dapat mereka beli. Ada lapangan volley pantai, Golf mini, tennis yang tersebar disekitar kebun tiruan itu. Atau sekedar tidur-tiduran diatas pasir hangat dengan bikini-nya, berkacamata, bertopi.         Pose putri duyung ini betul-betul mereka nikmati, karena di pantai-di atas sana, mereka tak mungkin seperti ini, karena alasan bolongnya ozone di kutub selatan telah meluas, polutan laut dan udara membuat warga sangat berhati-hati untuk ber-pose- terbuka.         Shachi dan  Zia bekerja di sana. Di sektor itu hampir semua jenis pekerjaan mereka lakukan, karena  Pihak management mengaturnya agar semua siswa merasakan pekerjaan apa saja di Pari Pesiar. Tepatnya, mengatur agar anak-anak itu agar tidak pernah menganggur ataupun bersantai.         “Wow, para Ilmuwan  itu betul-betul gila.” Shachi berdecak kagum menyaksikan hamparan sayur mayur di hadapannya.         “Tidak aneh, oksigen kita tercukupi. Ini adalah paru-paru Pari Pesiar  yang sempurna.” Kesimpulan yang terlalu dramatis. Mata Shachi menari-nari  memandang apa yang ada di depannya.  Zia mulai masuk ke rumah kaca yang lain. Dia mulai mengenakan kostum  menjaga agar dirinya tetap bersih di dalam sana.         Shachi berjalan lesu mengikuti Zia menuju   Ruang kultur. Tempat dimana pembibitan tanaman dibuat mudah, banyak, cepat dan terkontrol dengan teknologi  kultur jaringan            Lalu  secara berangsur area Balai Pertemuan itu menjadi sepi. Beberapa orang meninggalkan tempat itu dengan sengaja. Ada yang tergesa atau berjalan sambil berpura-pura santai. Tempat itu sepertinya hanya merupakan tempat penantian sementara orang. Itu semua karena daya tarik  sebuah acara.         “Shachi, tidakah kau selalu perhatikan, bahwa area ini selalu sepi di jam-jam seperti ini?“ Zia melihat sekeliling taman yang berangsur sepi.         “Apa itu masalah?“         Memang terkadang Zia merasa gagal berdiskusi dengan Sachi. Sepertinya apapun masalahnya, di kepala Sachi seperti hanya lewat saja. Tak perlu pembahasan.                                                                                         ***           Area Publik itu berangsur senyap, karena kebanyakan pengunjungnya mengikuti sebuah acara ilegal yang dipenuhi rahasia. Acara yang menyita adrenalin. Hingga mereka, peserta acara itu,  selalu memutuskan, untuk menyiapkan mental dengan yoga ringan atau sekedar refresing di area pertanian yang menyejukan jiwa untukbersiap mengikuti acara.Tak peduli, semakin hari-semakin mengoncang jiwa. Seperti sihir, acara itu ditunggu-tunggu dengan segala doa, harapan, debaran  jantung. Beratus pasang mulut memanjat permohonan untuk acara ini dengan  rangkaian doa klise, dengan gerak bibir seperti ikan koki, karena kata ‘please’ yang dilantunankan berulang.        Tak ada seorang peserta pun  yang beranjak, saat acara ini tiba. Karena acara ini menjadi acara yang dinanti dengan segala debaran. Iklan rahasia yang ditayangkan berulang  Seolah menjadi  cambuk berduri yang (dengan aneh) mereka tunggu.         Seperti saat ini, saat acara ini berlangsung.         “Aturan ke satu:         “Seorang telah kalah dari arisan putaran pertama. Pecundang itu langsung tamat, dan tak berhak mengikuti putaran selanjutnya.         “Aturan ke 2:         “Tidak ada yang boleh mundur.             "Aturan ke 3:         “Sekalipun ia mampu membayar kembali apa yang telah ia dapatkan pada putaran ke 1.“         “Aturan ke 4 adalah –tak ada tawar menawar dalam arisan ini .         “Sekalipun ia mau membayar biaya ‘penyelengggaraan’ berlipat-lipat’. TITIK.         “Aturan selanjutnya adalah,         “Nikmati saja apa yang sedang kau ikuti! Selagi bisa menikmatinya! Huehehehehehehehehehehehehe.”           Gema tawa yang panjang berdampak ngeri, menambah seram, menimpali debaran aneh pada jantung, melengkapi perasaan tertantang untuk menuruti saran –yang memaksa-itu.         “Bagaimana? Masih akan dilanjutkan?” Tanya Alek  dari ranjang susun  bagian atas.         “Ya. bagaimana lagi? Kita tak boleh mundur.” Kata Zaki yang terbaring di ranjang bawahnya menatap gerombolan ikan Bigeye Jack  berenang-renang membuat formasi kompak dan harmonis. Seperti burung-burung yang terbang secara gregarious di atas sana. Di udara atas sana, tentu saja di tempat yang sesak dengan polutan.         “Lihat Alek, kukira tayangan iklan bawah laut di TV itu bukan  isapan jempol belaka. Bukan manipulasi dari teknik animasi yang canggih. BUKAN!“ kata Zaki kagum.         “Aah, yayaya, gila bukan? Bersyukurlah kita bisa menyaksikan kegilaan para seniman hayati itu di sini. Secara langsung. Mereka ( Ikan-ikan) menarikan sebuah tarian, dan membuat formasi, dengan kombinasi warna aneh, tak lazim,  dibagian sisi  tubuhnya, membentuk sebuah logo minuman ringan. Mereka adalah gerombolan ikan transgenik –steril yang dipesankan sebuah industri makanan untuk menayangkan sebuah iklan.         “Dirancang agar setiap individu memerhatikan baik-baik tetangganya. Ikan-ikan itu mengikuti aturan sederhana yang membuat kelompok itu tetap siaga, terus bergerombol, hindari benturan, beraksi dengan formasi iklan begitu menemui ‚manusia’, dan pergi ke arah yang sama.         “Sepertinya  tak ada lagi di dunia ini yang bebas dari sentuhan tangan para ilmuwan.“ Lalu senyap. “Puaskanlah pemandangan dan ketakjuban ini, Lek! Siapa tahu ini adalah terakhir kalinya.“Terdengar Zaki menarik nafas panjang nan berat.         “Tidak! Kau tidak boleh bicara seperti itu!“         “Kau tahu sobat? kita sebenarnya kini dalam genggaman mereka. Tak berkutik.“         “Sesuai peraturan, kita hanya memasang taruhan  30% dari apa yang kita dapatkan. Secara matematis, bila sampai akhir, -selamat-, tanpa modal apapun kita akan mengantongi berapa nol rupiah?”         “Yaaah pokoknya banyak!”         “Tapi sebenarnya taruhannnya tak dapat dihargai seperti itu.” Taruhan yang sebenarnya adalah segala-galanya.         Mengakhiri acara itu, transaksi dilakukan lalu nampak  pemasang iklan paling bergengsi, iklan pasta gigi, dengan senyum model yang memperlihatkan deretan giginya yang indah. Iklan yang menutup segala debaran, untuk sementara.                                                                                         ***    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN