Dalam kesadarannya yang tergantung, Ratsuya menangkap suara sayup-sayup. Kesadarannya belum pulih betul. Ingin sekali ia membuka matanya. Jari tangannya bergerak-gerak memberi isyarat agar seseorang mendekat.
“Ayah? Sudah bangun? Terima-kasih Tuhan!” Tasha, putri sulungnya tersenyum cerah. Tangannya menggenggam erat tangan ayahnya. Ayahku selamat!
“Bagaimana rasanya, yah?” Kirk, menantu Ratsuya, menyentuh halus tangan Ratsuya. Wajahnya tersenyum. Tapi hatinya menggerutu. Managemen PARI PESIAR sialan! Kenapa jantung itu berhasil berdenyut di sana. Teratur. Tanpa nada aneh. Operasi cangkok jantung ini akan menundanya untuk duduk di kursi teratas organisasinya. Kenapa dia tidak –lewat- saja…?
“Bagaimana rasanya, ayah?” Tanya Tasha mengulang pertanyaan suaminya, setengah cemas karena mata ayahnya belum membuka juga. Lalu ia melihat kelopak mata Ratsuya yang bergerak-gerak. Mencoba bangun.
Mata Ratsuya perlahan membuka lebih lebar. Mata itu langsung menangkap wajah oriental indah bergigi sempurna pada Iklan pasta gigi terbaru di smartTV yang terpasang tepat di hadapannya. Tayangan itu langsung menghipnotis kesadaranya yang baru saja pulih. Membuat semua yang hadir di kamarnya terheran dan mengikuti pandangannya pada tayangan itu.
“Siapa dia?” Tanya Ratsuya lemah tanpa mengalihkan pandangannya.
“Intan Koo.” Jawab Tasha masgul. Ayah baru saja tersadar dari operasi besarnya. Lalu hal pertama yang ia tanyakan –dan mungkin ayah butuhkan- adalah nama seorang model, peragawati top. Ya, Tuhan! Sekuat itukah jantung yang baru di tanam di sana? Tasha langsung merengut, menyadari kemungkinan itu.
“Giginya sangat bagus.” Ratsuya bergumam lemah, tapi Tasha masih dapat mendengarnya dengan jelas.
“Kirk…” tangannya yang lemah menggapai lengan Kirk, menantunya.
“Ya, ayah (mertua)?” tanya Kirk dengan lembut. Dia bergaya sebagai menantu yang berbakti.
“Gigi itu… Aku masih… sanggup… melakukan bedah kosmetik.” Suaranya lemah mengais-ngais kehidupan.
“Haaa…?” suara Tasha dan Kirk bersamaan. Putri dan menantunya itu terkejut.
Tasha : Ah, ayah! Aku kira aku akan mendapat ibu tiri baru.
Kirk : Ayah mertuaku memang gila! apa dia kerasukan roh pemilik jantung itu? Kenapa dia menjadi lebih ganas dari biasanya? Eh siapa tadi namanya ‘si gigi sempurna’ itu?
***
“Intan! Intan Koo!” seru Devilia berlari sempoyongan di sepanjang koridor mencoba menjajari langkah Intan yang terburu. Intan sialan! Intan sialan! kenapa harus selalu aku yang mengejarmu, kenapa hanya aku yang menjadi bayang-bayangmu? Devilia membuka sepatu berhak tinggi 10 centinya. Betisnya mulai terasa pegal.
“Kenapa, kau terburu-buru?” Tanya Devilia ngos-ngosan.
“Karena kita takut dikejar penggemar maniak… hi… hi… hi…” jawab Intan dengan gembira. Terkadang mereka lupa, bahwa sebagai pesohor, mereka harus menjaga sikap dan kelakuan. Mereka cekikikan seperti gadis remaja yang konyol.
Devilia tersenyum kecut, hanya kamu yang mereka kejar itu, Intan!
“Intan… Intan…!” terdengar suara memanggil.
Nah, betul kan? Devilia menghela nafas, dia menengok dan melihat seseorang mengejar mereka, keduanya menengok. O, Tidak Tuhan! itu salah satu dari mereka. Para Penggila.
“Blizth!” pendar cahaya kamera kuno yang sengaja dimainkan. Kamera kuno, adalah salah satu koleksi barang antik yang seksi bukan? Gerlap cahayanya seperti mengabarkan harga selangitnya. Si pemilik kamera itu sengaja pamer kameranya saat sinar blitzth berkilat mengambil gambar keduanya. Pengambilan gambar pada pose yang –sama sekali tidak gaya-. Keduanya baru pulang dari klubing, dan entah pesta kimia apa yang mereka singgahi sehingga mereka tampak begitu tampak kacau.
“Oh, Tidak ! kalian lupa dengan ‘gigi’nya, ayolah Intan… senyumnya…!” wajah penggemar itu memohon dengan memelas.
Intan lagi ! Intan lagi!
Devilia mencoba melapangkan dadanya yang tiba-tiba menyempit.
Demi menjaga reputasi dan publikasi, keduanya senyum menampakan sederet giginya yang menjadi ikon kepopuleran mereka. Senyum Zombie. Senyum tak bernyawa.
“Intan! Devilia! Kita sudah di tunggu di panggung ‘The Stone’!” Gigih tiba-tiba muncul di ujung koridor. Dia bersama pasukannya yang terdiri dari juru rias, tukang jahit, Angel, Roro, Fotografer, dan beberapa karyawan Pari Pesiar berjalan dari arah berseberangan.
“Sejak kapan mereka menjadi bergerombol begini?” Devilia berbalik arah mengikuti jalan mereka. Seorang Wangsa Sebelas dari manajemen Pari Pesiar memilihkan jalan khusus, agar lebih cepat dan aman dari penggemar.
“Rasanya seperti rombongan anak TK safari di kebun binatang. Rasanya gembira tak terkira.” Kata Devilia diikuti cekikian tawa Intan, tawanya terlalu ceria untuk humor yang garing. Itu pasti karena pengaruh kimia yang mulai mempengaruhi seratonin di otaknya, membuat kantuk dan hilangnya kemampuan berpikir wajar.
Sepanjang kariernya, rasanya memang baru kali –dia jalan bareng- beramai-ramai untuk peragaan. Biasanya dia akan datang sendiri, datang dimana semua orang telah menantinya. Ternyata di PARI PESIAR lain.
“Ada perubahan jadwal, Bos sebuah perusahaan pemasaran tingkat dunia ingin melihat kita saat ini. Sebelum PARI PESIAR ini merapat di Saigon.” Gigih menerangkan di tengah langkahnya yang terburu.
“Apa kata Jatnika?” Tanya Devilia.
“Menyerahkan semuanya pada kita.” Jawab Gigih
“Ini peragaan khusus. Hanya untuk calon pembeli dan para reporter fesyen, dan rumah mode sedunia. Para undangan telah dikirim katalognya melalui supertele. Para tamu dunia fesyen itu baru naik PARI PESIAR dijemput dari beberapa pelabuhan.” Gigih memberikan keterangan singkat.
“Mereka adalah calon pembeli berpotensi tinggi VIP. Kalian dengar! Para tamu itu sangat penting! Kita tak bisa mengecewakan mereka itu yang sudah menunggu naik di Pari Pesiar, lewat pemesanan selama sebulan ini.” Kata Gigih lagi.
“Oh Gigih… kau sudah kehilangan kata-kata.” Keluh Devilia.
“Heuh?”
“Setiap tamu peragaan kau artikan dengan orang penting.” Kata Devilia kesal.
“Bukankah memang begitu?” tanya Gigih.
“Apa termasuk waktu kita melakukan peragaan di depan anak-anak panti asuhan yang sedang berpesta dengan para orang utan dari pusat penangkaran?” tanya Devilia.
“Yah, termasuk itu.”
“Orang penting? Orang utan? Huahahaha….hihihik….” Intan tiba-tiba menimpahi percakapan itu dengan gaya setengah gilanya.
“Oh… Intan… orang utan … huahahahah…” Devilia ikut tertawa-tawa.
Kru yang lain mendengus kesal menangkap adanya residu kimia yang menjerat akal ke dua peragawati itu. Tidak! jangan saat ini.
“Jadi, kamu yang menyanggupi?” terdengar nada keberatan Intan. Sejenak tingkahnya kembali aman. Kepalanya mulai terasa cenut-cenut. Efek nikmat dari senyawa kimia itu mulai mendatangkan perasaan tak enak.
“Ini cuma peragaan biasa, kamu jalan sambil tidur juga bisa.” Kata Gigih kalem, penuh dengan keyakinan.
“Yeah, akan aku lakukan.” Kata Intan lemah.
***
Intan duduk bersandar di depan meja rias. Berulang kali penata rambutnya membangunkan dia untuk duduk tegak dengan mendorong punggungnya.
“Tolong, nona, saya mohon mudahkanlah tugas saya.” Kalimat Kinski pertama, disertai tubuh menunduk hormat.
“Ada apa dengan nona?” Kinski, walaupun dia masih menjaga kesopanan dalam kata-katanya, akhirnya kesal juga. Penata rambut 10 besar dunia itu kesal bukan main. Tak ada orang yang berkelakuan seperti itu dibawah kekuasaan tangannya. Semua mengantri –dengan bangga- untuk memasrahkan kepala mereka kepada tangannya itu.
Intan hanya menjawabnya dengan menguap. Seratonin yang meluap di otak itu mulai menjalankan pengaruhnya.
Kinski bersidekap, wajahnya terlihat kesal. Dia tahu, orang yang di depannya tak bisa diharapkan apa-apa. Dia memanggil asistennya.
“Aku sudah selesai dengan konsepnya. Kau tahu kan, untuk kostum pantai, tutup saja rambutnya dengan topi bertepi lebar! Beri sentuhan dengan beberapa lembar rambut, biar terkesan seksi di tengkuknya. Yah, dia memiliki leher yang indah (untuk digorok) Sssssstttt…. bzzzzhhh… bzzzhhh….” Kinski membisikan sesuatu membuat asistennya, seorang calon lady dari sekolah khusus yang sedang kerja praktek itu cekikikan, entah apa yang dibisikkan Kinski.
“Intan, giliranmu beberapa menit lagi…” Seorang penata busana, datang membawa busana yang akan dikenakan.
“Maaf, adik manis. ” Sopan santun ala Wangsa Sebelas terdengar. Si Penata busana menggantikan baju Intan dengan busana peragaan. Bajunya penuh dengan dengan alat jahit yang serba otomatis.
“Maaf kakak… kalau bisa kakak mengerjakan bagian paha ke bawah, biar leher ke atasnya selesai tepat pada waktunya.” Suara pelajar praktek itu penuh hormat.
“Yaah, silahkan adik manis!” kata si penata busana tak kalah lembut dan sopan. Tapi berikutnya dia tak dapat menahan gerutuannya, “Jadwal sialan, busana ini belum selesai di jahit.”
“Iya, kakak, sialan.” sahut siswi pekerja praktek itu.
“ Huh, Jatnika, begitu hebatkah dia, sehingga kita begitu menurut apa katanya… hhhrgggh …”
“Ya, kakak… HHaasshhhaah…“
“Haaaa..? yayaya. Oh adik manis… kenapa dengan tanganmu yang indah itu?”
“Tidak apa-apa kakak... jangan menghawatirkan diri saya. Saya tidak patut menerima kekhawatiran kakak.”
Kedua gadis itu sibuk berbasa-basi, bersopan santun sambil mengumpat indah khas Wangsa Sebelas . Haaassshhhaaahhh.
Dialog itu seolah cerita pengantar tidur yang ajaib bagi Intan. Intan betul-betul tidur karenanya. Kedua gadis Wangsa Sebelas itu membantu Intan diberdirikan. Mata Intan terpejam. Dia tidur. Dia berubah menjadi boneka yang pasrah didandani.
Penata busana menggunting bagian bawah busana, lalu menjahitnya dengan sangat cepat. Kancing-kancing yang belum terpasang itu, ia rekatkan begitu saja, dengan lem khusus. Bagian sambungan ia buat tebaran payet untuk kamuflase .
“Apakah Jatnika tidak akan keberatan, Kakak?” Tanya si Siswi ragu.
“Tak usah khawatir, sayang. Dia telah menyerahkan segalanya pada saya.”
“Cepat ya! Kalian naik habis yang nomor ini turun!” tiba-tiba Gigih memeriksa ke belakang panggung. Dia berjalan menyeruak para model Itali yang baru turun.
“Angela telah selesai. Devilia? … aku mohon … Devilia … walaupun ini bukan peragaan biasa, justru ini yang menentukan keberhasilan kita. Industri tekstil dan mode Jatnika. Co ada di tangan kalian… Intan…! ya Tuhan…” Gigih menepuk pipi Devilia dengan kencang. Sesudah itu dia melakukan hal yang sama dengan Intan.
“Kemana si Roro?” Tanya Devilia, dia baru menyadari ketiadaan Roro Ratih di sana.
“Dia bukan professional di atas cat walk.” Jawab Gigih pendek, sambil mendorong Devilia ke bibir panggung.
“Dia spesialis dalam air.” Kata Anggel menambahi.
“Betuuul kan dugaan kitaaa… bahwa dia…”Devilia bermain mata dengan Intan , tawa cekikikannya keluar lagi. Tawa yang tersangkut di batas alam mimpi dan nyata.
“ silumaaaan Putri duyung…” sambut Intan, juga dengan cekikikan yang tak normal. Mereka, Intan-Devilia, ada di dimensi yang sama, batas kesadaran hidup.
“Naaah giliran kalian sebentar lagi…” Gigih menggiring peragawati tepat kebelakang panggung. Hanya sebentar saja waktu menunggu, sebentar yang biasanya cukup tegang, tapi tidak ada kata ’sebentar’ yang dilalui Intan tanpa mata terpejam.
“Yes. Mulai!” Gigih mendorong Anggel, Devilia, dan Intan berurutan.
Tepuk tangan pun bergema, melengkapi musik yang mengiringi peragawati itu. Jatnika hanya mengawasi peragawatinya dari samping. Dia langsung mengomentari busana-busana yang diperagakan.
“Devilia dengan baju pantai. Materinya disesuaikan untuk menahan sinar matahari yang dapat memicu kerusakan sel epidermis tahap awal. Ini hasil dari serat sutera berkualitas. Dari ulat dan daun murbai yang telah dikembangkan potensinya secara rekayasa genetika.
“Ini bukan sutera sintetis atau serat sintetis yang menghasilkan limbah di comberan dan udara. Silahkan Devilia turun, agar hadirin dapat merasakan dingin dan halusnya tekstur sutera. Dari detilnya anda bisa lihat di katalog.”
“Naa Angel, dengan gaya simple…”
Angel berjalan lagi, sementara Devilia turun panggung –agak sempoyongan-.
“Intan, dengan konsep Khatulistiwa, kaya warna dan corak, disusun oleh serat alam hasil rekayasa genetic dari pengembangan serat pelepah pisang. Sangat tipis, dingin, sebagaimana kulit batang pisang.” Jatnika mengomentari busana yang dikenakan Intan.
****