BAB.5. SENYUMLAH! (bagian3)

1825 Kata
          Intan  berjalan sangat percaya diri, melenggang-lenggok, seperti biasa, dagunya terangkat, menampakan leher yang jenjang terbalut skraf yang mengikat topi lebarnya. Dia berjalan  dengan memejamkan mata,  dia tidur sambil melenggang. Raganya melenggang, musiknya hadir dan kacau dalam alam nirwananya. Dia melakukan apa yang telah ia katakan sebelumnya.         Dia berjalan dengan mata terpejam.         “Intan… Intan…” Suara Jatnika yang masuk telinganya seolah mendarah daging dengan arti panggilan itu. Panggilan yang selalu diterjemahkan dengan –senyum… senyum…! Maka tersenyumlah ia menampakkan giginya yang sempurna itu.         Jatnika memanggil patung yang telah berdiri diujung panggung itu, Intan berdiri tanpa bergerak, sebagaimana mestinya seorang peragawati bergerak. Jatnika diam, dari balik kaca-matanya, dia tahu, jiwa manusia diujung panggung sana sedang menjelajah entah dimana.         Mengucurlah keringat dingin Gigih, sang pengarah gaya itu mengintip dari balik panggung. Dia tahu apa yang dilakukan Intan Koo, tak lebih dari mencari sensasi. Sebuah protes karena peragaan yang di luar jadwal.         Para Hadirin tak menyadari apa yang terjadi. Mata yang terpejam itu, terlindung oleh kaca-mata pelindung keluaran baru bermerk ‚’Jatnika’. Mereka tak tahu yang mereka saksikan adalah sesosok raga tanpa jiwa. Lengkap dengan senyum yang melegenda itu.         Jatnika menarik nafas. Lalu dia membisikan beberapa kalimat perintah pada Gigih yang ada di balik panggung. Gigih keluar dari sana dan masuk ke arena, dengan wajah –setenang mungkin- karirnya sebagai penanggung jawab pentas diujung tanduk oleh kehadiran peragawati cantik tak berjiwa itu. Dia menuntun Intan untuk turun dan melingkarkan  tangan Intan ke lengannya. Lalu keduanya berjalan mengintari hadirin, agar semua yang ada di sana dapat menyentuh, dan merasakan kain dari pelepah pisang yang terasa dingin.         “Intan… Intan… Intan… Intan…” hadirin lain ingin menyentuhnya juga, bukan kainnya, tapi juga apa yang dibalik busana itu.         Seperti biasa. Kata-kata itu diterjemahkan oleh pusat bahasa di otaknya dengan, senyum! senyum !  senyum! perlihatkan gigimu yang indah itu! Itu adalah bagian dari kesepakatan kontrak kerjanya sebagai model pasta gigi. Bahwa dia harus sesering mungkin tersenyum. Sekalipun suasana hati tak mendukung. Sekalipun dia terpejam.                                                                                                         ***           “Oh Tuhan!” jerit Angel tak tertahan. Wajahnya langsung memucat melihat pemandangan di depannya. Baru saja dia membukakan topi lebar yang terpasang dikepala Intan. Jeritannya membuat mata Intan terbangun. Pandangannya yang pertama adalah wajah pucat Angel. Tangannya menunjuk ke arah cermin. Angel  tak mampu berucap apa-apa.         “Waaaaaa!” begitu juga Intan, mendapati bayangan dirinya di cermin, ia botak.         B-O-T-A-K.         BOTAK.         Tangannya dengan sigap mengambil topi lebar itu. Ia bergegas ke luar ruang ganti. Berlari kencang, tak peduli bahwa ia masih dalam busana peragaan. Tujuannya jelas, ke kamarnya, mengunci, dan merenung, mencerna kembali sejarahnya yang baru saja berlalu, atau apakah dia baru  memasuki babak baru !         Begitu Intan sampai di kamarnya, dia langsung mengunci pintu itu. Lalu bercermin. Memandang seorang gadis cantik bertopi lebar.         “Cermin… oh… Cermin…” suaranya bergetar, tangannya gemetar membuka topinya. Betul, pemandangan itu sama dengan pantulan bayangan di ruang rias tadi.         Dia-entah bagaimana-telah-BOTAK!         Intan terduduk lemas. Kepalanya ia elus. Ia tak ingin percaya dengan bayangan cerminnya. Ia memutar kursinya memunggungi cermin. Tarik nafas-lepas- tarik nafas-lepas. Konsentrasi! Ia mencoba tenang dengan yoga ringan. Matanya terpejam. Lama. Lalu membuka. Setengah kelegaan telah ia rasakan. Ia memandang sekelompok  ikan Kuwek yang sedang berenang. Sinar lampu dari kamarnya sedikit menjelaskan pemandangan kedalaman laut itu. Ikan-ikan itu kenapa berenang terus di sana? Di depannya.          Kenapa mereka, ikan-ikan itu,  tak beranjak juga? Bukankah mereka ikan transgenik iklan? Kenapa kelakuannya begitu alami?          Intan  bangkit, maju, dan meraba dinding kaca itu. Intan  dan ikan-ikan itu begitu dekat. Saling tatap. Lalu Intan  membuat interpretasi sendiri tentang tatapan itu. Ikan itu sedang menatap kebotakannya.         Mungkin mereka memikirkan aku, betapa buruk , aneh, sangat berbeda dengan mahluk sejenis yang lain di dalam Pari Pesiar  ini.         Terdengar pintu dibuka. Devilia berdiri lesu.         “Intan…” katanya Devilia lemah, sama lemahnya dengan tubuhnya. Haaa... hallo botak! kau sedang         merayap ke ujung tanduk..!         Senyap. tidak ada sahutan, dan tidak ada senyum dari Intan.         “Bagaimana mungkin?” tanya Devilia,  tidak ada yang tak mungkin untuk Wangsa Sebelas, huehehehehehe... Devilia memasang wajah prihatin. Energinya terserap penuh untuk menahan tawanya agar tak meledak, tak membuatnya senyum, tak membuat bibirnya datar, Devilia mengerutkan bibirnya, menelan ludah agar seperti seseorang yang -prihatin.         “Tidak ada yang tidak mungkin bagi Wangsa Sebelas.” Kata Intan sarat dengan sentimen ras. Dugaannya langsung menembak tepat sasaran. Tapi Intan tahu, seorang Wangsa Sebelas  tak akan mati hanya karena peluru dugaan.          Devilia diam. Lihat! Memang tidak ada yang tidak mungkin bagi Wangsa Sebelas.         “Para perias itu, maksud kamu?” tanyanya,         Intan  –harus- percaya, ini adalah bagian dari penyakit jahil mereka, para Wangsa Sebelas itu. Devilia setengah bersyukur, sekarang, kena kau!         Intan mengangguk. “Karirku hancur… hancur… waaaa…”         Devilia memeluk temannya. Pelukan pura-pura.         “Kenapa ada orang  setega ini? Apa salahmu?” tanya Devilia pura-pura tak mengerti, tak percaya.         “Karena aku mengesalkan, aku begitu ngantuk, sampai waktu ia menata rambutku berulang kali ia kepayahan. Aku tak bisa bekerja sama dengan dia. Kau tahu sendiri kan apa akibatnya bila tak pandai menghadapi Wangsa Sebelas?” Intan terus menangis ditengah ceritanya.         Devilia diam. Dia seorang Wangsa Sebelas. Dia tahu kata-kata Intan Koo tak tersanggahkan, karena dia sendiri sering mengalaminya.         “Karirmu belum hancur, Kamu masih bisa pakai wig. Jika gigimu yang raib, itu baru masalah.” Devilia mencoba menghiburnya.                  “…Putaran ke dua… Yang kalah, seorang kesatria adalah…!” tiba-tiba tanpa ada yang menyalakan, pantulan smarthphone  menyala otomatis, menerangi dinding kamar. Menayangkan acara arisan ‘gila’ lagi. Intan  dan Devilia terdiam. Intan  siap mematikan smarthphone itu, tapi Devilia menahannya, dia berdoa keras dalam hati. Tuhan! biarkan ia menyaksikan ini!         “…Yaah…  selamat bagi 128 peserta yang beruntung. Transfernya dapat anda lihat sekarang juga lewat smarthphone  anda. Tinggal pijit nomor peserta anda.  Maka  inilah orang kaya yang bertambah kaya pada putaran kedua…”         Lalu muncul jingle Pari Pesiar  disertai dancer berkostum kartu domino yang menari dengan lincah dan erotis.         “Mana ada judi yang kalah satu yang menang beramai-ramai?” Tanya Intan tak percaya.         “Coba saja untuk membuktikannya! Bukankah angka kemungkinan menangnya lebih besar? Hmmm…”  Devilia mengawang. O Tuhan, buatlah ia percaya...         “Kamu…?” Tanya Intan Ia tahu judi adalah candu. Tapi candu berupa senyawa kimia yang telah ia rasakan itu semakin hari semakin menjeratnya. Menguras rekeningnya, dan kepala botak ini bisa jadi akhir dari karirnya. Jadi, kenapa tidak dicoba saja?         “Hmm, kamu mau tahu point yang sudah aku kumpulkan?“ Devilia mengecek rekeningnya lewat smartphone.         “…Iniii diaaa… taraaaa!” Senyum Devilia mengembang. Monitor itu memajang tulisan sebuah angka peserta dan nilai uang yang di dapatnya. Hmmm, dia mulai tertarik. Batin Devilia melihat binar mata Intan Keok.         “…Haaa? Kalo begitu kamu  bisa pinjamin aku  buat pesta lusa? Ayolah!” kata Intan yang Kini dirundung kebangkrutan, dia mulai berhutang.         “Tidak bisa! Ikut saja arisan ini mulai saat ini!” Devilia masuk kamar mandi, dan mulai membasuh wajahnya dengan aneka pembersih, agar sisa riasan tadi tidak merusak kulitnya.         “Coba kamu  lihat informasinya. Tinggal klik dan cari tahu saja . Sangat mudah melakukannya.” sarannya terdengar dari dalam kamar mandi.         Intan  mulai memijit tombol-tombol remote smartphone. Menelusuri aneka menu. Lalu form transaksi yang membelalakan matanya, dan mual perutnya.         “Apa yang kau gunakan sebagai jaminan?” bisik Devilia menyertai debaran  aneh dari jantung.         “Rahasia.  makin hari pilihannya makin sedikit. Jangan sampai kau melakukan kesalahan. Akan fatal akibatnya. Kamu tahu putaran pertama kemarin adalah suatu kecelakaan?”         “Apa?”         “Ada peserta yang salah pijit.”         “Apa?”         “Yaaa, semua terserah kamu, kamu tahu kan harta mana yang bisa kamu jadikan investasi, bernilai thinggi dan sangat diinginkan orang?” tanya Devilia.         “Oh tidak, Tuhan tolonglah.” keraguan Intan sangat kental, dia masih menyebutkan kata ’Tuhan’ untuk melakukan transaksi haramnya.         “Yang kalah seorang, dan kita semua pesertanya adalah pemenangnya!” terdengar bisikan syetan berdengung.         “Bip,” smarthphone  Devilia berbunyi, terdengar dia menyambut kata-kata di seberang sana dengan ceria. “Iya, semua sesuai skenario!”         “Gigih?” tanya Intan menebak orang di seberang sana, tapi Devilia hanya mengangkat bahu, tanpa berucap apa-apa.         "Tet!” bunyi bel kamar. Pembicaraan terhenti. Saluran yang ditayangkan langsung diganti.         “‘Kau memesan sesuatu?”  Tanya Devilia. Mereka memang harus waspada, karena terkadang ada penggemar maniak yang mengganggu ketentraman mereka.             “Kami dari  klinik kecantikan, kami kirim ramuan rempah untuk berendam. Anda telah memesannya beberapa menit yang lalu.” Wajah Mario nampak di layar monitor kecil yang tertempel di pintu.         “Oh, Ya! Hampir saja, aku  lupa.” Intan membuka pintu itu. Cukup lebar. Cukup jelas untuk memperlihatkan bahwa dia telah b-o-t-a-k.         Tentu saja Mario, si pengantar itu, hanya melongo. Botol ramuan yang dari tadi digenggamnya ia serahkan. Matanya tak melihat tangan yang menerima botol itu. Matanya tak berkedip menatap sosok model yang selalu senyum. Mario tak percaya. Model pasta gigi itu kini…                                                                             ***           “Botak?”         Tora, Shachi,  Zia tak percaya dengan berita yang dibawa ke kamar itu.         “Barangkali Model baru.” Kata  Zia  mencoba berpikiran positif.           “Mungkin untuk tujuan kampanye berhemat air, untuk keramas?“           “Tanpa dia botak, semua orang miskin telah melakukannya Shachi.. “ Tora mengingatkan. Botak adalah hal yang sangat biasa –bagi mereka. Terutama masyarakat bawah. Hal ini berkaitan dengan efesiensi  penggunaan air.           “Oh? Kasihan dia.” gumam Shachi, wajah bayinya membuat teman-temannya gemas. Semua tahu banyak warga merawat kepalanya dengan cara membotaki. Untuk berhemat air, juga agar mudah mendeteksi kehadiran ketombe, jamur, kelainan kulit yang sering terjadi akibat kontak dengan air dan udara yang kotor.         “Dia baru saja melakukan pagelaran busana tadi malam. Aku melihatnya  semalam. Pagelaran yang hebat.  Yang gila lagi dia melakukannya sambil tidur dan tetap tersenyum senyum…” Mario  menimpali.         “Haaaa….?” Semuanya terheran-heran. Apa trend bergaya diatas cat walk sedang mengalami revolusi?         “Dia berjalan  sambil tidur dan tidak jatuh?” tanya Shachi aneh.         “Dia dituntun oleh temannya. Tak ada yang tahu, para penonton menyangka  mereka berdua bergaya , bergandengan tangan, seperti  bagian dari pertunjukan.” Mario menyuapkan serealnya.         “bagaimana kau tahu dia tidur?“         “Aku bisa melihat kelopak matanya yang menutup.“         “Kepala itu…?”  .         “Di tutup topi. Aku kira seseorang melakukannya dengan sengaja. Kalian tahu kan dunia gemerlap seperti itu dipenuhi iri  dan dendam.” Mario mengeluarkan hipotesanya.         “Ya, apalagi dia bergelut dengan dunia yang sangat kental dengan Wangsa Sebelas.”          “Yaah, aku sangat tahu bagaimana itu Wangsa Sebelas.” suara Zia melemah, sangat berbeda dengan semula.          Kekakuan tiba-tiba menyergap kamar . Semua juga tahu apa yang dimaksud Zia.          “Tapi bagaimana mereka melakukannya?”         “Aku tak tahu. Aku hanya bisa menebak. Seseorang mengolesi senyawa kimia atau apa saja yang memang sudah disiapkan. Efeknya, seperti apa yang kalian lihat sekarang.” Suara Zia terdengar datar, dingin, sedatar wajahnya.                                                                                             ***    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN