Chapter VIII.2

1752 Kata
Kiriyan tersenyum tipis sambil mengenang masa lalunya, mata lelaki itu tampak mendung. "Padahal itu hanya serangga dan mereka ada sangat banyak. Mau berapa lama dia menghabiskan waktu menyelamatkan semuanya? Tapi dia bilang, bukankah semua yang bernapas itu hidup? Bukankah semua makhluk bernyawa memiliki hak yang sama untuk hidup?" katanya lagi sebelum kembali mengambil jeda untuk melepaskan tawa yang terdengar mengambang. "Dia selalu kembali ke tempat itu untuk melakukan hal yang sama. Sampai suatu hari, dia berhenti. Sore itu aku melihat ember itu ditutupi daun pisang. Katanya, lebih baik ia tak melihatnya, supaya ia tak perlu memikirkannya. Dia capek, setiap hari diselamatkan, serangga-serangga itu tetap saja terjebak di sana. Tidak ada habisnya. Makhluk yang menderita... tidak ada habisnya." Kiriyan bergumam di akhir kalimatnya. "Untuk apa kamu menceritakan ini padaku?" tanya Fais tanpa berusaha terdengar ramah. "Shura, Lord Zoire, adalah teman masa kecilku, selama kami menghabiskan waktu di pengasingan... di pulau ini, ada banyak sekali kenangan yang tertinggal. Dia bukanlah orang yang jahat. Meski saat ini ia sedang lelah dan putus asa, tapi sebenarnya ia hanya ingin melakukan hal yang baik. Sejak dulu, dia banyak membantuku, dan saat ini ia sedang terjebak. Kupikir, kali ini girilanku untuk menyelamatkannya dan juga menyelamatkan Avalon." "Itu tidak ada hubungannya denganku," pungkas Fais akhirnya, "kamu mungkin rela meninggalkan keluargamu agar bisa menjadi pahlawan. Tapi aku bukan orang yang sebaik itu. Aku tak peduli dengan putri Shura-mu dan juga masa depan Avalon." Mendengar jawaban itu, Kiriyan tersenyum sambil berusaha menyamarkan tawanya. "Kamu sangat ingin terlihat kuat, tapi sebenarnya..." "Selamat siang." Sebuah sapaan dari arah belakang menyela kalimat Kiriyan. Kedua orang itu menoleh bersamaan dan menemukan Luen sedang berdiri tak jauh di belakang mereka. "Ah... Mr Luen." Kiriyan langsung berdiri dan sedikit membungkukkan badannya sebagai tanda hormat. "Apa kabar? Apa yang membuat Anda berada di sini?" tanyanya ramah. "Kamu kelihatan sehat, Kazai." Luen dengan suara dan ekspresinya yang datar. "Kamu menikmati masa-masa pelarianmu?" Kiriyan tertawa pelan menanggapinya. "Senang sekali Anda masih mengingat nama saya," katanya sambil melangkah mendekati Luen, "tapi sebenarnya saya mulai bosan menunggu untuk ditangkap." "Tenang saja, itu tidak akan lama lagi. Mungkin kamu sudah bisa mulai membereskan barang-barangmu, karena sepertinya Putri Shura sudah memutuskan untuk berhenti melindungimu." "Rasanya saya sudah tidak sabar," sahut Kiriyan tanpa beban. "Jangan terlalu besar kepala, situasi di Ivory Palace sudah berubah, kamu akan menyesal jika menganggap Lord Zoire masih sama seperti Putri Shura yang kamu kenal," balas Luen kemudian. Selama beberapa saat, dua lelaki yang nyaris seumuran itu seolah bicara hanya dengan saling berbalas tatapan mata. Luen berusaha mencari emosi di balik wajah tenang Kiriyan. Tapi, jika Luen selalu menyembunyikan emosinya dengan ekspresi wajah yang datar, Kiriyan juga berhasil menyembunyikan emosinya di balik senyuman hangat. Hanya sekilas, Kiriyan menangkap mata Luen bergerak ke arah Fais yang masih duduk di bangku yang ada di belakangnya. Kiriyan segera paham bahwa saat ini bukan dia yang ingin diajak bicara oleh Luen. "Baiklah, sebaiknya saya kembali ke surau, sebentar lagi sholat Ashar," gumam Kiriyan pelan. "Fais, nanti kita ngobrol lagi. Sampai jumpa," pamitnya tanpa menunggu jawaban dari pemuda itu. Kiriyan lalu kembali menunduk hormat kepada Luen sebelum akhirnya berlalu pergi. Tanpa menunggu Kiriyan hilang dari pandangan, Luen berjalan mendekati Fais yang akhirnya memutuskan untuk berdiri dan menghadapinya. Mata mereka bertemu sambil menyimpan perasaannya masing-masing. Ada banyak faktor yang menyebabkan Fais tidak mengamuk dan langsung menerjang Luen saat ini. Beberapa di antaranya adalah karena tubuhnya yang masih sangat lemah, dan semilir angin yang begitu lembut terus-menerus menerpa wajahnya, seolah berbisik untuk menenangkan. Luen melangkah perlahan mendekati Fais. "Hati-hati, jurang di belakangmu cukup curam dan pagar itu tidak kuat," ujarnya mengingatkan. Ia lalu duduk di tempat yang baru saja ditinggalkan Kiriyan. "Duduklah. Aku hanya ingin mengobrol santai denganmu," katanya sambil menepuk pelan papan di sebelahnya, meminta Fais duduk kembali di tempatnya semula. Fais tak tahu kenapa ia menuruti permintaan lelaki itu. Tubuhnya bergerak dengan sendirinya seolah sudah terprogram demikian. Selama beberapa saat, mereka melewati waktu hanya dengan diam. Memikirkan bagaimana cara memulai obrolan santai yang selama ini tak pernah mereka lakukan. "Kamu tidak apa-apa?" Pertanyaan ini menjadi seperti pertanyaan wajib Luen setiap kali ia melihat Fais. Entah karena memang ia mengkhawatirkan keadaan pemuda itu, atau hanya sekedar ingin tahu kondisi "property" pemerintah yang sangat berguna itu, apakah sudah rusak atau belum. "Ya, saya baik-baik saja," jawab Fais kemudian. "Kamu sudah makan?" tanya Luen lagi. "Saya baru bangun," sahut Fais nyaris bergumam. "Mungkin sebentar lagi, saya belum lapar." Luen lalu mengerling tangan kiri Fais yang sejak tadi tak bergerak di pangkuannya. "Tanganmu..." "Sudah tak berguna lagi." "Bagaimana mata dan telingamu?" "Semua baik-baik saja," timpal Fais lagi, meski sebenarnya mata kirinya juga mulai tak berfungsi seperti biasa. Tapi ia merasa tak perlu mengatakan itu pada Luen. Luen pun akhirnya menghela napas sambil diam-diam mengamati anak muda yang duduk di sampingnya itu. Fais masih menatap lurus ke hamparan langit biru di hadapannya, ia menjawab pertanyaan Luen tanpa menatap lelaki itu. Dia memang selalu begitu. Setiap kali bicara, jarang sekali ia mau bertatapan langsung dengan Luen. Ia lebih sering memilih untuk menerawang ke arah udara kosong sebagai usaha untuk mencegah dirinya terlibat lebih jauh secara emosional dengan lelaki itu. Luen masih sangat ingat saat pertama kali ia membawa Fais ke Ivory Palace, ke sebuah kamar yang dibuat khusus untuknya. Separuh ruangan kamar berada di bawah tanah, hanya sekitar satu meter saja tinggi dinding yang ada di permukaan. Pada dinding yang satu meter itulah mereka membuat dua jendela kecil untuk masuk cahaya matahari di siang hari. Mungkin karena tinggal di tempat seperti itu, kondisinya semakin hari semakin memprihatinkan. Pada minggu-minggu pertama, Fais jadi sangat kurus dan pucat, ia berhenti merespon setiap pertanyaan dan menolak bicara, makanannya nyaris tak pernah disentuh dan tatapannya selalu kosong. Sosoknya begitu menyedihkan seolah ia sudah mati dalam tubuh yang masih hidup. .................. "Bagaimana keadaannya?" tanya Luen hari itu. Hampir sebulan setelah ia terpaksa menyekap Fais karena para petinggi negara yang mengetahui kemampuannya menjadi ketakutan hingga memutuskan untuk mengisolasinya. "Tidak banyak berubah," jawab seorang Guardian yang ditugaskan untuk mengamati Fais melalui monitor yang tersambung dengan kamera CCTV di kamar itu. "Dia masih sering muntah setelah makan, mimpi buruk setiap kali tertidur dan masih sering menangis sendirian." "Muntah? Apa ada yang salah dengan kesehatannya?" "Tidak. Saya rasa ini lebih ke masalah mentalnya. Mungkin dia stress," jawab sang Guardian sambil mengamati sosok kecil yang sedang duduk menyandar pada dinding di sudut kamar itu. "Apa kita tak bisa membiarkannya, minimal, pergi ke sekolah? Kita bisa selalu menugaskan dua atau tiga Guardian untuk mengawasinya." "Kamu kasihan padanya?" "Tidak. Maaf. Saya hanya..." "Kamu tidak boleh terbawa perasaan dalam tugas ini. Anak itu tidak boleh dikasihani. Dia berbahaya. Bukankah sejak awal kamu sudah diperingatkan?" Luen menatap sang Guardian yang mulai tampak gelisah. Lelaki itu kemudian berbalik dan melangkah menuju pintu kamar Fais. "Mulai besok kamu kembali ke tugasmu yang sebelumnya. Aku akan menugaskan Guardian lain untuk menggantikanmu mengawasi anak itu," katanya sambil lalu. Luen menguak pintu terbuka, hanya untuk menemukan tatapan mata kosong anak laki-laki yang sejak tadi bergeming di sudut kamar. Ia memang menoleh saat Luen melangkah masuk, tapi mata yang memandang Luen itu seolah tak melihat apa-apa, kosong, seperti tidak dihuni kehidupan. "Kamu ingin makan apa?" tanya Luen sambil duduk di bibir tempat tidur yang nyaris tak pernah digunakan Fais. Meski terlihat santai, tapi sebenarnya Luen dalam kondisi siaga, ia berusaha untuk tak menatap mata anak itu dan sudah memerintahkan seluruh Guardian di luar untuk berjaga-jaga. Ada kalimat tertentu yang harus dikatakannya sebagai kode saat nanti keluar dari ruangan, kode yang menandakan bahwa ia tidak berada di bawah pengaruh Fais. Karena meski tak bertatapan, Fais juga bisa memberikan command jika dalam keadaan terdesak. "Aku sedang bicara padamu," kata Luen lagi, "makanan apa yang tidak akan membuatmu muntah?" Tapi anak laki-laki itu masih tak menjawab, perlahan ia kembali berpaling dan menerawang ke dua petak kecil jendela yang berada di sisi seberang ruangan. Kepalanya tersandar di dinding dan tangannya tergeletak begitu saja di atas lantai. "Atau kamu ingin mainan? Aku akan memerintahkan orang untuk menyediakan game favoritmu." Kali ini suara dingin Luen terdengar agak membujuk. "Bagaimana kalau buku? Aku juga bisa memenuhi ruangan ini dengan buku-buku favoritmu. Katakan saja apa yang kamu inginkan." "Aku mau pulang..." Suara itu terdengar seperti bisikan. Luen bahkan harus meyakinkan dirinya sendiri bahwa yang baru saja bicara adalah Fais. "Pulang?" Nada bicara Luen kembali terdengar dingin seperti biasa. "Kamu mau pulang kemana?" "Ke rumah..." "Tidak akan ada siapa-siapa di sana. Untuk apa kamu kembali ke rumah itu?" "Papa...?" "Papamu sudah mati," sela Luen cepat, sebelum Fais sempat melanjutkan kalimatnya. "Ma..." "Mamamu juga sudah mati. Adikmu juga mati. Semua orang di rumah itu sudah mati! Kamu mengerti?! Tidak ada gunanya kamu kembali ke tempat itu!" Luen ingin secepatnya meyakinkan anak itu bahwa ia tak punya harapan lagi. Sehingga ia hanya akan bergantung pada pemerintah. Luen puas ketika tak mendengar Fais membalas ucapannya. Perlahan matanya bergerak melirik sosok di sudut ruangan itu, dan yang ia temukan selanjutnya hanya wajah pucat yang kini menatapnya dengan tatapan hampa. Air mata menganak sungai di pipinya yang tirus, hingga menetes satu persatu ke lantai. Dia tidak menangis meraung-raung, tak ada isakan atau suara tangisan sedu-sedan. Matanya hanya menatap kosong dengan air mata yang terus mengalir dalam hening. Anak itu sudah mati. Yang ada di hadapan Luen saat ini hanyalah cangkang kosong. "Apa aku juga boleh ikut mati?" Ia bertanya dengan suara yang sangat pelan, begitu pelan, seolah akan hilang terbawa angin sebelum sampai ke telinga Luen. Luen terhenyak, rasanya seperti seseorang baru saja menghantam dadanya dengan benda keras. "Tidak boleh!" sergahnya. "Kau akan terus hidup sampai aku mengizinkanmu mati!" Kemudian tanpa menunda lagi, Luen langsung beranjak dan meninggalkan ruangan itu. Ia membanting pintu tertutup sambil lalu berteriak keras pada orang di luar. "Tidak ada instruksi baru. Kunci kembali pintunya. Kalian dilarang melakukan interaksi langsung dengan anak itu!" tegasnya. Luen hanya ingin meninggalkan tempat itu secepat mungkin. Karena ia sendiri tak tahu, kenapa ia merasa sangat terganggu ketika melihat air mata yang berlinangan di wajah pucat itu. Jika ia tak segera pergi, mungkin akhir pembicaraan mereka akan berujung dengan sebuah pelukan erat oleh Luen kepada tubuh ringkih di sudut ruangan itu. Setelah hari itu, Luen beberapa kali menemuinya hanya untuk mengingatkan Fais bahwa ia tak boleh menyerah karena pembunuh keluarganya masih hidup bebas di luar sana. Luen berjanji untuk segera mengeluarkannya dari tempat itu dan membuatnya kembali menjalani hidup normal, asalkan Fais juga berjanji untuk selalu menuruti perintahnya. Ia memberikan iming-iming balas dendam kepada Fais dan membuat Fais berpikir bahwa tak ada gunanya melarikan diri karena pada akhirnya ia tak punya tempat untuk pulang selain kepada Luen.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN