Setelah hari itu, Luen beberapa kali menemuinya hanya untuk mengingatkan Fais bahwa ia tak boleh menyerah karena pembunuh keluarganya masih hidup bebas di luar sana. Luen juga berhasil menanamkan di benak Fais bahwa tak ada gunanya melarikan diri karena pada akhirnya ia tak punya tempat untuk pulang selain kepada Luen.
Meski pada akhirnya Fais diizinkan untuk kembali ke sekolah dengan Luen sebagai jaminannya, tetap saja ia harus bersekolah dengan penjagaan berlapis-lapis. Hidup dalam pengawasan penuh pemerintah Avalon, Fais tak akan pernah terlihat berjalan-jalan di kota atau berkumpul bersama teman-temannya di akhir pekan. Karena dalam kesehariannya ia hanya bisa pergi ke sekolah, training, dan kamar berjendela kecil itu.
Seiring berjalannya waktu, Fais seolah berubah menjadi boneka yang dikendalikan. Tak peduli walau sesulit dan sesakit apapun, anak laki-laki itu tak pernah menangis lagi. Dan Luen tak tahu apa yang membuat dadanya sesak setiap kali melihat sosok Fais yang duduk seorang diri, di sekolah maupun di kamarnya, ia hampir tak penah bicara dengan siapapun. Mungkin ia dijauhi karena ada pengawal yang selalu mengikutinya kemanapun ia pergi. Jadi meskipun ia telah diizinkan bersekolah, namun tampaknya anak itu masih tidak bisa bahagia.
Meski begitu, ada saat-saat tertentu ketika ia menunjukkan emosinya, salah satunya adalah saat Luen mengunjungi kamarnya.
Entah sejak kapan, Fais mulai menanti-nanti pertemuannya dengan Luen. Karena hanya Luen yang diperbolehkan berinteraksi langsung dengannya, sehingga mungkin Fais merasa hanya Luen yang ia miliki.
Hari itu, Luen menemukannya sedang membaca buku di atas tempat tidur. Ketika menyadari kedatangan Luen, ia langsung menutup buku dan membentuk senyum tipis di wajahnya.
"Mr. Luen," sapanya sambil beranjak dan berdiri menyambut Luen. Buku yang sejak tadi dibacanya dibiarkan tergeletak begitu saja seolah tak penting lagi.
"Kamu sudah makan?" Entah itu basa-basi atau tidak, tapi Luen tak pernah lupa menanyakannya.
Fais mengangguk dan menunjuk ke arah piring kosong di atas meja belajarnya. "Ada apa? Apakah ada misi baru? Kali ini kita akan pergi kemana?" tanyanya seolah tak sabar ingin keluar dari tempat itu.
"Tidak. Tidak ada," sahut Luen sambil duduk di atas sofa. Belakangan kamar itu mulai dipenuhi perabotan untuk membuat Fais merasa lebih nyaman. Kondisinya sudah hampir mirip dengan sebuah unit apartemen mewah dengan kulkas empat pintu yang selalu penuh dengan berbagai macam makanan dan minuman.
"Oh..." Wajah Fais perlahan berubah kembali murung. "Lalu kenapa Anda datang? Apa saya sudah melakukan kesalahan?"
"Tidak Fais, kamu tidak melakukan kesalahan apa-apa. Hari ini aku hanya ingin mengatakan bahwa minggu depan kamu akan pindah."
"Kemana? Ke asrama sekolah?"
"Tentu saja tidak," tukas Luen cepat, "mana mungkin kamu diizinkan pindah ke asrama. Kamar ini terlalu kecil untukmu. Sirkulasi udaranya juga kurang bagus. Aku sudah menyediakan kamar yang lebih layak. Lokasinya masih di ring II, tapi kamar baru itu memiliki dua jendela yang lebar, juga ada berandanya. Kamu bisa keluar menikmati udara segar dan cahaya matahari. Dan yang paling penting, kamu bisa melihat langit lebih jelas," tambahnya sambil mengamati wajah Fais yang tampak kembali cerah penuh harap.
"Kamu suka melihat langit, kan?" sambung Luen lagi.
"Iya. Dari mana Anda tahu?"
"SaO memberitahuku. Katanya, jendela kecil itu menghalangi pandanganmu melihat langit yang kamu sukai. Makanya kuputuskan untuk memindahkanmu dari sini."
"Terima kasih." Bibir Fais melengkung membentuk senyuman, ia tak bisa menyembunyikan kegembiraannya, dia bahkan harus menahan diri agar tidak memeluk Luen hari itu. Meski lelaki itu tak menunjukkan ekspresi apapun – ia tidak tersenyum, tidak sama sekali, suaranya tetap dingin dengan ekspresi wajah yang datar – tapi hari itu, Fais bisa merasakan kehangatan dari diri seorang Luen.
Namun, yang tak diketahui Fais adalah dalam hati Luen mulai menyadari, betapa mudah membahagiakan seorang anak yang sudah terbiasa dengan penderitaan, hingga hal kecil seperti ini saja bisa membuatnya begitu senang.
"Ada lagi yang kamu inginkan?" Dan Luen pun menjadi terbawa suasana. Melihat wajah bahagia Fais, ia jadi merasa bahwa ia harus menawarkan hal lainnya.
Fais menggeleng, masih dengan senyumnya yang berangsur melebar. "Tidak ada."
"Kamu yakin? Ingat baik-baik. Ini pertama dan terakhir kali aku akan memberikanmu hadiah."
"Iya, tidak apa-apa. Terima kasih, Mr. Luen."
..................
Seekor capung merah melintas tepat di depan hidung Luen, menariknya kembali dari lamunan. Ia masih duduk di samping anak itu, anak yang kini tumbuh menjadi lelaki tampan dan diidolakan semua orang. Meski ia masih tak tahu caranya tersenyum tanpa berpura-pura. Tapi dia sudah sangat berbeda dengan anak kecil di sudut ruangan yang dulu terlihat seperti cangkang kosong, begitu hampa tanpa kehidupan, dan hanya terkulai lemah menatap jendela dalam ruangan yang menyesakkan. Butuh bertahun-tahun bagi Fais untuk membuat hidupnya berangsur normal dan mendapatkan kepercayaan pemerintah bahwa ia tak akan melarikan diri meski tanpa pengawasan ketat.
"Saya sudah lama ingin menanyakan ini."
Tiba-tiba Fais memecah keheningan. Ia memutuskan untuk meninggalkan obrolan basa-basi yang dimulai Luen di awal tadi. Walau bagaimanapun juga, ia tahu bahwa ini tidak akan mungkin menjadi obrolan santai. "Selain Armour, Anda adalah orang di dekat saya yang tahu soal kemampuan saya, apa Anda tidak takut saya akan menggunakan Command pada Anda?"
"Kamu tidak akan melakukannya," jawab Luen tanpa perlu berpikir panjang. "Kamu membutuhkanku untuk membuka jalan menuju WoLf, kalau aku tak lagi mempercayaimu, kamu akan kesulitan menemukan WoLf. Lagipula..."
"Lagipula...?"
"Tidak. Tidak ada." Luen mengurungkan niat untuk menambahkan sesuatu di akhir kalimatnya.
"Anda tahu, saya tak akan pernah menggunakannya kepada orang yang saya hormati."
"Kamu menghormatiku?"
"Saya rasa itu tak perlu ditanyakan lagi," sahut Fais cepat. "Setiap kali Anda mengenalkan saya kepada seseorang, Anda selalu mengakhiri dengan kalimat '...Aku sudah menganggapnya sebagai anakku sendiri'. Meski saya tahu itu hanya basa-basi. Tapi saya selalu menanti-nanti Anda mengatakannya."
Luen menghempas napas sebelum kembali menanggapi, "Kamu tahu aku bukan orang yang baik."
"Iya. Saya tahu."
"Kamu juga tahu aku cuma memanfaatkanmu, kan?"
"Saya tahu."
"Aku tak pernah menyayangimu. Apalagi menganggapmu sebagai anak."
"Saya tahu."
"Aku... yang telah membunuh keluargamu."
Aneh. Fais juga sudah tahu mengenai hal itu. Tapi tetap saja seperti ada sesuatu yang menusuk tepat di jantungnya, ia tak bisa bernapas, tenggorokannya menyempit dan matanya seolah tersengat sesuatu. Rasanya seperti sedang tercekik, begitu menyesakkan...
Bohong jika ia tak pernah mengharapkan kasih sayang dari lelaki itu. Dia adalah satu-satunya orang yang dihormatinya, yang bisa dipercayainya sejak ia kehilangan keluarga. Meski sejak dulu Luen selalu menatap Fais tanpa menurunkan dagunya, dan selalu bersikap dingin dengan nada bicara yang datar tanpa emosi. Namun, ada saat-saat ketika Fais tersenyum tulus atau berterima kasih padanya, Luen tampak gelisah dan salah tingkah. Dulu Fais tak mengerti kenapa dia seperti itu, tapi sekarang Fais mulai paham, lelaki itu mungkin merasa bersalah karena telah menipunya. Menipu remaja belasan tahun yang dengan polosnya berterima kasih padanya.
"Kenapa...," gumam Fais kemudian, "kenapa Anda melakukannya?"
"Karena aku orang jahat, itu sebabnya aku tak akan meminta maaf padamu. Karena aku memang orang yang seperti ini," jawab Luen tanpa keraguan di suaranya. "Kami menemukan bakat istimewamu, dan kami menginginkanmu. Tapi orang tuamu tak mau menyerahkanmu. Sejak awal orang tuamu memang sudah menunjukkan tanda-tanda untuk membangkang. Mereka selalu menentang gaya kepemimpinan Zoire. Puncaknya ketika kami ingin membawamu, mereka melawan. Mereka mati-matian mempertahankanmu. Tapi aku tetap memberi perintah untuk mengambilmu, lalu membunuh siapapun yang menghalangi."
Tanpa sadar tangan Fais bergerak mencengkram dadanya, seolah ingin meredakan rasa nyeri yang amat sangat dari baliknya. Ia ingin berteriak... ia ingin berteriak sekeras-kerasnya. Tapi suaranya tercekat, air mata pun mulai menggenang dan mengaburkan pandangannya.
"Selama ini aku sudah menipumu." Seolah masih belum cukup, Luen masih ingin menyiksanya. "Kamu memang anak yang cerdas, tapi kamu terlalu naif, terlalu mudah percaya, keputusan-keputusanmu sangat dipengaruhi oleh perasaan dan suasana hati. Sayang sekali, kamu sebenarnya tidak terlalu berbakat sebagai pemimpin. Kamu lebih cocok menjadi tikus laboratorium daripada menjadi seorang pejuang. Kamu anak yang lemah, Fais."
Luen masih tak mengalihkan pandangan dari sosok pemuda di sebelahnya, yang kini sudah nyaris meringkuk mendekap dadanya sendiri.
"Pukul aku, anak bodoh."
Sebaris kalimat itu berhasil membuat dunia Fais mendadak gelap. Ia lepas kendali. Rasa sakit di balik rongga dadanya kini berubah menjadi sesuatu yang menggelegak seperti lahar panas. Fais menerjang Luen sampai punggung lelaki itu terjatuh menyentuh tanah.
Tak ada kata apapun yang keluar dari mulut Fais, namun kepalan tangannya berkali-kali mendarat keras di wajah Luen. Ia terus memukul dengan satu-satunya tangan yang masih berfungsi, bergantian antara tinju dan siku, hingga akhirnya tenaganya melemah dan ia mengakhiri rangkaian serangannya dengan mencengkram kerah baju Luen.
Desiran angin adalah satu-satunya suara yang terdengar ketika saat ini tak ada di antara mereka yang bersuara. Luen tak melakukan apapun untuk membalas pukulan Fais. Ia hanya diam seribu bahasa, memandangi sepasang mata merah dan berair, yang kini berkilat bengis seperti predator, menatapnya penuh dengan rasa dendam dan kebencian. Namun di saat yang bersamaan mata itu juga tampak begitu menderita.
Wajah Luen lebam, darah juga mulai mengalir dari pelipis dan bibirnya, tapi kemudian dia mendengus tertawa. "Kau anak yang sangat menyedihkan..."
Ia kembali menyulut api di dalam diri Fais. Namun Fais sudah cukup kelelahan untuk melanjutkan serangannya, tangan kirinya terkulai lumpuh di samping tubuhnya yang mulai terasa lemas. Tenaganya seolah terkuras habis, namun tangannya yang lain masih dengan erat mencengkram baju Luen dan menahan tubuh lelaki itu tetap berada di atas tanah.
"Bunuh saja! Tunggu apa lagi?! Dia orang yang selama ini kamu cari! Suruh dia melompat ke jurang!" bisik suara di kepala Fais. "Tidak. Jangan. Jangan biarkan dia mati dengan mudah. Dia harus menderita terlebih dahulu! Suruh dia bunuh diri dengan cara yang paling menyakitkan! Bakar saja! Tenggelamkan di laut!"
Bibir Fais sudah merenggang untuk meluncurkan command, tapi entah apa yang menahannya. Pandangannya kembali dikaburkan oleh air yang terus menggenang di matanya, hingga akhirnya bendungan air mata itu runtuh, setetes air lolos dan bergulir menyentuh bibir Fais, terasa asin hingga membuatnya tersadar seketika. Pikiran-pikiran liar yang bergelut di kepalanya pun buyar, yang tersisa kini hanya rasa nyeri di lutut kirinya, dan rasa perih di balik dadanya.
"Kau menangis lagi," sindir Luen, "anak bodoh dan lemah sepertimu mau melawanku?"
Dengan sigap Luen mencengkram leher Fais dan berbalik menjatuhkannya. Ia memutar lengan Fais kebalik punggungnya dan menahan tubuh itu tertelungkup di atas tanah. Posisi mereka kini berbalik, Fais terkunci dan tak bisa bergerak dengan Luen berada tepat di atasnya.
"Kau tak akan bisa menang. Sanctuary akan berkuasa di negeri ini. Kau dan teman-teman Armour-mu yang tak berguna itu akan berkerja untuk mereka sampai keringat kalian kering, sampai kalian mati," kata Luen sambil mengeratkan tangan kanan Fais ke punggungnya, mengunci seluruh pergerakan Fais.
"Aku tidak mungkin kalah dengan orang lemah sepertimu. Jangan membuatku tertawa. Kau yang dengan sombongnya mengatakan akan menghabisi orang yang membantai keluargamu dulu. Sekarang aku ada di sini, apa yang kau tunggu?" tambahnya lagi.
Meski di permukaan Luen bersikap lalim, namun ada emosi yang sejak tadi ia sembunyikan dari Fais. Alisnya berkerut dan air mata pun mulai berkubang di mata tua itu, rasa yang sejak tadi ia tahan kini meluap saat Fais tertahan tak berdaya di hadapannya dan ia hanya bisa menatap punggung anak muda kebanggaannya itu.
Ia sendiri masih tak mengerti kenapa ini semua menjadi berat baginya. Sedikit demi sedikit Fais telah berhasil mengambil tempat penting di dalam hatinya. Ia melihatnya tumbuh, dan disaat yang bersamaan ia melihatnya hancur.
Mata Luen beralih ke tangan Fais yang berada dalam kunciannya, sangat mudah baginya untuk mencengkram tangan yang begitu kecil dan kurus, punggungnya tidak lebar dan sepasang pundak itu kini terlihat rapuh.
Dua belas tahun...
Selama itu ia sudah menyiksa anak muda ini. Mata indah yang dulu bercahaya itu perlahan meredup, senyumnya memudar seiring dengan berlalunya hari di mana ia harus menjadi alat untuk kepentingan negara. Merenggutnya dari keluarga yang bahagia, merubahnya menjadi seperti ini, c.a.c.a.t, lumpuh, setengah tubuhnya sudah rusak, dan ia sama sekali tidak bahagia.