Chapter VIII.4

1737 Kata
Dua belas tahun lamanya sejak pertama kali Luen bertemu dengan Fais. Selama itu juga ia sudah menyiksa anak muda ini. Menjadikannya alat negara, merenggut keluarganya, senyumnya, bahkan cahaya di matanya. Mengubahnya menjadi sosok yang c.a.c.a.t, lumpuh, setengah tubuhnya sudah rusak dan ia sama sekali tidak bahagia. "Akhiri saja," geram Fais nyaris tak tertangkap indra pendengar Luen. "Bunuh aku dan selesaikan semua ini." Suaranya bergetar hebat menahan amarah. Ia marah, sangat marah. Tapi di saat yang bersamaan hatinya begitu sakit seperti ada luka menganga yang terasa semakin perih setiap kali ia marah. "Aku sudah lama mati," sambung Fais lagi, "di malam p*mbantaian itu... kau juga sudah membunuhku... sejak hari itu aku tak pernah hidup." "Luen!" Sebuah suara dari pintu dapur sontak membuat Luen merenggangkan cengkramannya dari tangan Fais, hingga pemuda itu bisa langsung menarik tangannya lepas dan memutar tubuhnya kembali menghadap Luen. Ia memanfaatkan sepersekian detik kelengahan Luen untuk menendang lelaki itu menjauh darinya. Tak peduli dengan Suyi yang berjalan tergopoh menghampiri sambil berteriak untuk menghentikan perkelahian mereka, Fais mengumpulkan sisa tenaganya untuk kembali melayangkan tinju ke wajah Luen, wajah yang kini terlihat sangat menjijikkan baginya. Seolah masih belum puas dengan pukulan brutalnya tadi, Fais rela menghabiskan seluruh energinya demi pukulan terakhirnya ini. Tapi yang terjadi berikutnya adalah tinju Luen yang lebih dulu mendarat keras di perut Fais. Luen melayangkan pukulannya dengan tenang dan senyap, namun dampaknya cukup untuk membuat mata Fais berkunang-kunang. Kepalanya sakit dan mendadak udara tidak sampai ke paru-parunya. Ia pun seketika kehilangan kesadarannya. Kepalan tangan yang tadi terbenam keras di perut Fais berubah menjadi jemari yang terbuka lebar untuk menopang tubuh lunglai itu. Tangan Luen tampak gemetar ketika ia mulai merangkul Fais dan membawa anak muda itu ke dalam pelukannya. Perlahan, dekapan Luen mengerat... semakin erat... seolah ia baru saja menemukan anaknya yang telah lama hilang. Mungkin ini adalah pelukan pertama sekaligus yang terakhir kalinya. Ya... Luen tak pernah memberikan kehangatan apapun kepada Fais, yang ia berikan selama ini hanya kebencian dan dendam yang tak berujung. "Katakan padanya ini belum selesai. Jika aku masih hidup, ia tidak boleh mati," ujar Luen pada Suyi yang kini sudah berlinangan air mata di sampingnya. "Kenapa kau menangis?" tanya Luen lagi. Suyi tak langsung menjawab, perlahan ia mengulurkan tangan untuk menyentuh pipi Luen, dan mengusap air mata yang telah mengalir dari sepasang mata lelah itu. "Karena kau menangis..." jawab Suyi kemudian. "Semuanya tidak harus berakhir seperti ini, Luen..." Luen tak mengatakan sepatah katapun untuk membalas, ia masih sempat mengusap pelan rambut Fais sebelum matanya menangkap sosok wanita berseragam Divisi 4-AL di luar pagar taman samping itu. "Kondisinya masih sangat lemah, biarkan ia istirahat beberapa hari lagi di sini," tegasnya. "Saya tidak akan membawanya ke Pulau Utama, asalkan Anda mau menceritakan kepada saya apa yang sebenarnya terjadi," sahut wanita bersuara berat itu. Ia adalah Yuri, Second in Command di Divisi 4. Dialah yang disebut-sebut akan menggantikan Sir Zack setelah ia pensiun nanti. "Kenapa Kapten Armour bisa ditemukan terapung di lautan dekat perbatasan? Kenapa ada sekelompok orang yang bebas keluar-masuk Eyja melalui Fisher Gate?" Yuri tak berniat menunda pertanyaannya. "Dia melarikan diri dari Warriors, mereka bermarkas di pulau kecil tak bernama yang berada di paling luar perbatasan laut kita," jawab Luen langsung, "dan sekelompok orang yang bebas keluar-masuk Fisher Gate itu adalah Warriors. Sepertinya penjaga Fisher Gate cukup mudah dibayar." "Itu tidak mungkin," sanggah Yuri. "Kurasa sebaiknya kau menginterogasi orangmu, tidak ada gunanya kita berdebat di sini." "Kenapa Warriors melakukan itu? Dan kenapa Pemerintah seolah membiarkan?" "Kau harusnya tahu apa yang sedang terjadi di Ivory Palace saat ini." "Saya dengar beberapa isu yang beredar, tapi Sir Zack meminta Divisi kami tetap netral dan tidak ikut campur dalam kemelut di Ivory Palace." Luen tertawa sambil mengeratkan tangannya ke tubuh Fais. "Kalian menyebut diri kalian sebagai salah satu divisi pertahanan negara, tapi memutuskan untuk menutup mata ketika negeri ini sedang terang-terangan dijajah?" "Kami tidak melihat keberadaan Sanctuary membahayakan untuk Avalon. Sejauh ini semua baik-baik saja. Justru sebaliknya, Lord Zoire terlihat semakin sewenang-wenang." "Apa yang menembak nelayan di Fisher Gate kemarin adalah orang suruhan Lord Zoire? Apa Sanctuary masih belum cukup membahayakan setelah Warriors menculik salah satu Kapten Divisi Pertahanan Avalon? Harus melihat kehancuran yang bagaimana lagi untuk membuatmu sadar bahwa saat ini bersikap netral bukanlah tindakan yang terpuji?" Yuri terdiam di tempatnya berdiri. Ia tampak masih menimbang-nimbang. Tak lama kemudian Kenma muncul dari pintu samping rumah Suyi bersama dengan Zahra yang tampak cemas. "Tolong bawa Fais kembali ke kamarnya," pinta Suyi kemudian. Luen melirik Kenma dari ekor matanya, lelaki itu masih saja membisu tanpa ekspresi. Sebenarnya sulit bagi Luen untuk menyerahkan Fais ke tangan Kenma, tapi Suyi tampak sangat percaya pada pemuda Warriors itu. Perlahan Luen melepaskan pelukannya dan membiarkan Kenma meraih tubuh Fais. Kenma memposisikan sebelah tangannya di bawah lutut pemuda itu dengan tangan yang lain menopang punggungnya, lalu tanpa kesulitan membawanya kembali masuk ke rumah Suyi diikuti Zahra. "Bagaimanapun juga, saya diperintahkan untuk membawa Kapten Armour langsung ke Ivory Palace, ia akan menjadi tahanan Divisi 1." Yuri menemukan tekadnya kembali. "Dan apa kau tidak bertanya-tanya kenapa tiba-tiba Fais menjadi tahanan Guardian?" "Dia dicurigai terlibat dalam pengeboman yang terjadi di Markas Pusat Divisi-6." "Tetap saja itu tidak menjadi alasan bagi Guardian untuk langsung mengambil alih. Ia seharusnya masih menjadi tahanan Polisi atau UKI." Lagi-lagi Yuri dipaksa diam dan berpikir. Memang ini mulai terdengar aneh baginya. "Saya... tidak punya wewenang untuk membantah perintah atasan," ungkapnya kemudian. "Tapi kamu punya otak yang masih bisa digunakan untuk berpikir, bahwa saat ini Avalon sedang tidak baik-baik saja." "Tapi Mr. Luen, perintahnya adalah..." "Aku adalah Panglima tertinggi di negeri ini, aku juga seorang Perdana Menteri." Luen dengan tegas menyela kali ini. "Aku pemimpin ketujuh Divisi Pertahanan Avalon, kau mau membantahku?" Yuri refleks menyentak tubuhnya menjadi sikap siap dengan dagu yang terangkat kaku. "Maaf, Mr. Luen. Saya tidak mungkin berani. Tapi..." "Tapi aku yang akan bicara pada Lord Zoire," sela Luen lagi. "Aku tak perlu berhadapan denganmu ataupun Sir Zack. Kamu tunggu saja perintah selanjutnya. Sekarang kamu boleh kembali ke Blue Gate, aku akan menyusul." Untuk beberapa saat, Yuri masih tampak ragu. Hingga akhirnya ia memberi sikap hormat pada Luen sebelum berlalu meninggalkan tempat itu. Setelah melihat punggung Yuri hilang di balik rimbun pepohonan di sisi jalan depan rumah Suyi, Luen mengalihkan pandangannya pada saudara perempuannya itu. "Aku titipkan dia padamu," gumamnya kemudian. Seolah tangan Suyi bergerak sendiri tanpa perintah dari otaknya, ia dengan cepat menarik lengan baju Luen. "Kamu tak perlu melakukan ini," rintihnya pelan. "Hanya ini satu-satunya jalan," sahut Luen lagi. "Aku akan coba bicara pada Putri Shura." "Dia tak akan mengampunimu, Luen, jangan lakukan ini." "Maaf, aku sudah tak bisa melindungimu lagi." Perlahan Luen mulai melepaskan tangan Suyi darinya. "Kita masih belum bisa mengalahkan Sanctuary. Jika mereka ingin ada yang dihukum, maka harus ada yang dihukum. Dan aku tidak akan membiarkanmu ataupun Fais..." "Biar saya... biar saya saja yang menanggung tuduhan itu. Saya tidak keberatan jika memang harus dilenyapkan." "Tidak. Anggap saja ini sebagai keegoisan terbesarku. Aku tak bisa melanggar sumpah keluarga kita untuk mengabdi pada keluarga kerajaan. Aku tak akan pernah mengkhianati Putri Shura, tapi aku juga memiliki sesuatu yang ingin kupertahankan," Luen jeda sejenak sebelum melanjutkan, "dulu aku hanya punya kamu yang ingin kulindungi dengan segenap jiwa ragaku. Tapi sekarang aku juga ingin melindungi anak itu. Aku tak tahu sejak kapan aku mulai menganggap dia sama berharganya denganmu." Suyi mulai terisak tak terkendali. Seolah ini adalah terakhir kalinya ia akan melihat wajah Luen. "Pasti ada cara lain... Kita bisa memikirkannya bersama." Ia tersedak di akhir kalimatnya. "Suyi... inilah cara terbaik untukku, untukmu dan Fais, juga untuk Putri Shura," tukas Luen lagi. "Ini hukuman untukku. Aku bersalah padamu, dan pada Fais. Ini kesempatanku untuk menebus semuanya. Tak ada yang perlu disesali. Kamu juga sudah melihatnya, kan? Kamu tak bisa melawannya. Memang itulah yang akan terjadi. Meskipun sebenarnya aku berharap bisa mati di tangan anak itu, agar ia bisa melepaskan diri dari dendam yang selama ini membelenggunya." Luen mengusap rambut Suyi, mengecup keningnya, sebelum akhirnya berbalik sambil memberikan senyum yang rasanya sudah begitu lama tak pernah ia perlihatkan kepada siapapun. "Selamat tinggal," bisiknya kemudian. --- Kenma membuka laci lemari kayu yang sudah reot di kamarnya, sebuah ruangan kecil berdinding kayu tepat di belakang dapur rumah Suyi. Ada sepucuk pistol kecil berwarna perak di bagian paling dalam laci itu. Pistol berjenis revolver yang hanya menyisakan 3 peluru pada silindernya, ia berniat untuk menggunakan benda itu hanya jika perintah dari petinggi Sanctuary sudah turun. Tapi hari ini ia kembali mendapat pesan rahasia dari Sanctuary, seseorang menyelipkan secarik kertas di setang sepedanya. Pesan yang ada di kertas itu tak akan bisa dibaca siapapun selain para Warrior dan petinggi Sanctuary. Simbol-simbol di dalamnya membentuk kalimat: “Jika kau tidak membunuh Kapten Armour, kau akan dianggap gagal.” Itu bukan hanya perintah, tapi juga ancaman. Ini sudah yang ketiga kalinya mereka mengirimkan pesan berisi perintah untuk membunuh Fais, sejak hari pertama Fais dirawat di rumah Suyi. Tapi Kenma tak pernah mendapat kesempatan untuk mengeksekusi instruksi itu karena Zahra dan Suyi selalu menemani Fais bergantian. Entah kenapa, Kenma merasa Suyi sudah tahu bahwa Kenma sudah mendapat perintah untuk membunuh Fais, meski wanita itu selalu bersikap tenang seolah tidak ada apa-apa. Kali ini, Kenma akan melaksanakan tugasnya. Selagi kondisi Fais masih lemah, ia akan memanfaatkan itu. Namun Kenma menutup kembali laci kayu itu tanpa mengeluarkan pistol dari dalamnya. Ia berpikir bahwa benda itu tidak dibutuhkan untuk membunuh orang yang sudah setengah mati. “Zahra, Suyi memintamu untuk memanaskan air,” ujar Kenma datar tanpa emosi apapun di suaranya. Gadis berkerudung yang sejak tadi duduk di samping tempat tidur Fais itu menoleh. Setelah pingsan tadi, Fais masih belum sadarkan diri, itu sebabnya Zahra memanfaatkan kesempatan ini untuk memotong kuku tangan lelaki itu. Zahra kemudian menggerak-gerakkan tangannya mengatakan sesuatu dengan bahasa isyarat. “Jika dia bangun, sebaiknya dia minum air hangat. Itu sebabnya kau diminta untuk memanaskan air lagi,” terang Kenma lagi. “Ah…!” Zahra menjatuhkan kepalan tangannya di atas telapak tangan yang lain sebagai ekspresi yang mengatakan bahwa ia akhirnya mengerti. Ia kemudian manggut-manggut sambil beranjak dan berlalu menuju dapur. Setelah Zahra berlalu, Kenma tak membuang-buang waktu. Ia melangkah mendekati tempat tidur Fais tanpa mengalihkan matanya dari wajah lelaki itu. Lalu tangannya pun bergerak ke arah leher Fais, ia hanya perlu menggunakan satu tangan dan leher kurus itu sudah berada dalam cengkramannya. Ia hanya perlu mengeratkan cengkraman tangannya. “Kenma…” Sebuah panggilan dari suara yang sangat tidak asing membuat Kenma berbalik dan menemukan Suyi sudah berdiri di mulut pintu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN