“Kenma…”
Sebuah panggilan pelan tanpa teriakan, tapi suara yang memanggilnya itu cukup untuk membuat Kenma mengalihkan perhatiannya dari Fais.
Ia berbalik dan menemukan Suyi sudah berdiri di mulut pintu.
“Aku mendapat perintah,” kata Kenma tanpa menarik tangannya dari leher Fais, “jika Suyi memutuskan untuk menghalangi tugasku, maka status Suyi akan berubah menjadi musuh.”
Suyi menanggapi ucapan Kenma dengan senyuman yang disertai helaan napas panjang. “Saya mau mandi, bisakah saya minta tolong padamu untuk menimbakan air seperti biasa?” tuturnya seolah barusan Kenma tidak mengatakan apa-apa.
Kening Kenma berkerut tak mengerti, kenapa di saat-saat seperti ini Suyi malah memintanya melakukan hal sepele seperti itu. Apa Suyi mengira Kenma akan meninggalkan tugas dari Sanctuary demi menjalankan tugas sepele yang ia berikan?
“Saya tahu kamu pasti prihatin karena kondisinya yang sangat menyedihkan.” Sepertinya Suyi bermaksud untuk berpura-pura tidak mengetahui apa yang ingin dilakukan Kenma. “Sebelah tangannya lumpuh dan matanya setengah buta. Dia hanyalah seorang pesakitan.”
Ketika Suyi mengambil jeda di antara kalimatnya, Kenma juga tak mengatakan apa-apa. Meski tangan Kenma masih melingkar di leher Fais, namun kedua orang yang sudah seperti ibu dan anak itu hanya saling menatap tanpa berkedip.
“Kamu sedang mengusir nyamuk dari lehernya, kan?” tanya Suyi memastikan.
Kenma tidak langsung menjawab. Ia masih membalas tatapan Suyi seolah ingin mencari tahu tentang apa yang sebenarnya dipikirkan wanita itu.
“Suyi,” ujar Kenma kemudian, “aku ingin membun-”
“Ah… mungkin sebaiknya saya menimba air mandi sendiri saja.” Suyi sengaja menyela kalimat Kenma yang tak ingin didengarnya. “Padahal sekarang saya sedang sangat membutuhkan bantuan. Apa boleh buat, Kenma tidak mau menolong.”
Suyi meninggalkan ambang pintu dan menyeret langkahnya menuju pintu belakang. “Hari sudah hampir gelap, Zahra juga sedang sibuk di dapur. Jika menimba air sendiri, apa mungkin saya akan terpeleset dan masuk ke sumur, ya?”
Wanita itu sengaja bergumam agak keras supaya Kenma bisa mendengarnya. Meski sedikit khawatir, Kenma tetap mengabaikannya dan bermaksud untuk melanjutkan tugasnya sebagai malaikat maut (Death Angel [18]).
Tapi yang tidak diketahui Kenma, ketika Suyi melintas di dapur, ia menyempatkan diri untuk meminta Zahra kembali ke kamar Fais dan menutup jendela karena sudah adzan maghrib.
Suyi melakukan itu agar Kenma mengurungkan niatnya untuk menghabisi Fais, dan di saat yang sama, Suyi sengaja tak mengatakan niatnya yang sebenarnya kepada Zahra karena ia tak ingin gadis itu membenci Kenma.
Kenma masih mempertahankan tangannya di leher Fais. Pemuda yang sedang ia cekik di hadapannya itu kini terbatuk dan sedikit meronta. Tapi dia masih belum membuka matanya. Dalam hati Kenma berpikir, apakah Fais mengira ini hanya mimpi?
“Aku akan segera mengakhiri penderitaanmu. Ini akan cepat. Kau tidak akan terlalu tersiksa sebelum kematianmu.” Suara Kenma terdengar sangat pelan, nyaris tidak terdengar. Namun urat di punggung tangannya mulai menyembul dan kali ini ia sudah menggunakan kedua tangannya. Ia berniat untuk langsung mematahkan tulang leher itu, dengan begitu, Fais hanya perlu merasakan sakit sebentar.
Kenma tersentak kaget saat tiba-tiba Zahra muncul dan tanpa basa-basi langsung berjalan memasuki kamar, melewati Kenma menuju ke jendela, lalu menutup kedua daun jendela kayu itu.
Refleks Kenma menarik tangannya menjauhi leher Fais. Apa yang harus ia katakan kepada gadis itu jika dia melihat Kenma membunuh orang yang selama ini ia rawat?
“Tunggu… kenapa aku harus peduli soal itu?” pikir Kenma dalam hati.
“Sedang apa kau di sini? Sudah kubilang kau harus memanaskan air.” Suara Kenma yang biasanya selalu datar kini terdengar agak kesal. Ia kesal karena tak bisa menjalankan tugasnya dengan tenang, kesal kenapa ia harus khawatir dengan pendapat Suyi dan Zahra tentang dirinya, kesal karena ia mulai terlalu peduli pada hal lain yang bukan tugasnya.
Zahra menggunakan bahasa isyarat untuk mengatakan bahwa ia hanya ingin menutup jendela. Kemudian nyaris di saat yang bersamaan, terdengar suara gaduh dari arah belakang, disusul dengan teriakan Suyi.
Tanpa pikir panjang, Kenma langsung meninggalkan kamar itu dan berlari menyusul Suyi. Zahra yang juga panik pun buru-buru berlari ke arah yang sama dengan Kenma.
Di belakang, dekat susunan kayu bakar, Suyi terduduk di tanah sambil memegangi punggungnya dan mengerang kesakitan. Ia terpeleset saat akan menuju ke kamar mandi yang letaknya beberapa meter di belakang rumah.
Kenma menggendong Suyi dan membawanya kembali masuk ke dalam rumah, sementara Zahra tak henti-hentinya mengomel dengan bahasa isyarat di samping Kenma.
“Kenapa kau tidak menemaninya ke sumur? Kenapa Suyi dibiarkan pergi sendiri? Harusnya kau menimbakan air, kan?”
Kira-kira begitulah isi omelannya.
***
Entah sudah berapa lama Fais berada di tengah lautan itu sambil masih memeluk tiga buah kelapa yang telah diikatnya menjadi satu dan berhasil mencegahnya tenggelam. Satu buah kelapa telah terlepas, hanyut entah kemana karena ia tak mengikatnya cukup kuat. Matahari terasa begitu menyengat memanggang punggungnya. Fais ingin menyerah, pandangannya mulai gelap dan ia tak bisa merasakan kedua kakinya lagi. Tapi kemudian sebuah perahu kecil mendekat, seseorang mengulurkan tangan dan membantunya naik ke perahu itu.
Ia masih setengah sadar saat perahu mereka menepi, lalu beberapa orang bersenjata menghalangi mereka. Fais tertarik kesana-kemari dan mereka terus saling berteriak satu sama lain, hingga akhirnya terdengar suara tembakan. Seseorang yang berada di sebelah Fais jatuh terjerembab. Kaki Fais tak mampu menahan tubuhnya tetap berdiri, ia pun terjatuh cukup keras di atas pasir pantai. Masih terdengar suara kegaduhan, lalu perlahan semuanya mulai menghilang...
Senyap...
"Fais..."
Lamat-lamat terdengar seorang wanita memanggilnya. Tapi Fais bahkan tidak tahu di mana ia sedang berada. Sekelilingnya hitam pekat, ia tak bisa melihat apapun.
"Fais... ayo bangun...," suara itu lagi, "kamu harus bersiap-siap pergi ke sekolah."
"Ma...?" Bibir Fais bergerak memanggil seorang wanita yang paling memungkinkan sebagai pemilik suara halus itu.
"Fais... bangun. Nanti kamu terlambat."
Samar, sosok sang pemilik suara mulai terlihat. Itu mamanya, ia sedang membuka gorden jendela dan membiarkan cahaya mentari masuk untuk membangunkan anak sulungnya itu.
"Sebentar lagi... aku lelah sekali...," gumam Fais pelan.
"Tidak boleh, kamu harus bangun sekarang," wanita itu mengusap pelan rambut Fais, "aku harus pergi, cepat bangun dan habiskan makananmu."
"Mama mau kemana?"
"Tentu saja ke tempat papa dan adikmu."
"Tunggu, aku ikut." Fais menyibak selimutnya dan bermaksud untuk melompat dari tempat tidur. Tapi wanita itu melarangnya.
"Tidak boleh, kamu harus makan dan pergi ke sekolah. Masih banyak yang harus kamu kerjakan."
"Tidak mau. Aku mau ikut kalian saja."
"Tidak, Fais... tidak boleh."
Bayangan wanita itu mulai memudar dan suaranya terdengar menjauh. "Kami semua menyayangimu, tapi kamu harus tetap di sini. Jangan takut. Kamu pasti akan baik-baik saja, kamu anak yang kuat...."
"Aku... tidak kuat... Jangan tinggalkan aku. Bawa aku juga...."
Rasanya seperti ada sesuatu yang menarik Fais menjauhi tempat itu, ia seolah terhisap ke dalam cerobong asap yang gelap.
"Mama...."
Panggilan lemah terlepas dari bibir Fais, tepat saat ia membuka mata dan menemukan tangannya menggapai udara kosong. Sepertinya yang barusan tadi hanya mimpi... atau mungkin juga ingatan tentang kejadian yang sudah berlalu.
Perlahan ia menurunkan tangannya kembali dan mendaratkannya di wajahnya sendiri. Ia menghela napas berat seolah menyesal telah membuka matanya. Cahaya matahari yang masuk dari jendela di sampingnya terasa hangat, namun tidak begitu garang.
Fais tak tahu apakah ia masih ingin bangkit. Sejak awal ia sudah jatuh dan berada di dasar lubang yang dalam, sekarang dasar itu pun kembali amblas dan bahkan ia sendiri tak tahu sejauh mana dia akan terus jatuh. Kosong... hampa.... Bahkan langit yang membentang di luar sana sudah tak terasa indah lagi. Namun tetap saja, rasa sakitnya begitu menyiksa. Tak ada lagi yang ia inginkan selain menemui akhir.
"Cepatlah... cepatlah selesai. Kapan ini semua akan berakhir? Aku lelah...."
Pikiran Fais buyar saat Suyi menyibak tirai kain sebagai pengganti pintu kamar itu dan langsung bertemu dengan mata Fais. "Ah... syukurlah kamu sudah bangun," sapanya hangat, "Zahra sudah menyiapkan makanan untukmu. Kamu harus makan sesuatu."
Suyi melangkah ke arah meja kayu di sudut ruangan, di mana Zahra sudah meletakkan semangkuk sup dan segelas air putih di atasnya. "Sepertinya masih cukup hangat. Dia memasak ini untuk sarapanmu, tapi ternyata kamu baru bangun saat matahari sudah setinggi ini. Hari ini aku akan memastikan ada makanan yang masuk ke perutmu," katanya lagi.
"Saya merasa mual," jawab Fais sambil memalingkan wajahnya dari Suyi. "Maaf, saya ingin istirahat sebentar lagi," tambahnya.
"Ya, istirahatlah. Kamu memang masih terlihat sangat lelah," sahut Suyi dengan suara lembutnya yang menenangkan.
Fais memejamkan matanya, mengira Suyi akan keluar dan meninggalkannya. Tapi kemudian terdengar suara derit pelan karena ternyata Suyi duduk di bibir tempat tidur itu.
Baru saja Fais membuka mulut untuk bicara tapi Suyi langsung menimpali, "Jika kamu ingin saya pergi, sayang sekali saya tidak akan meninggalkanmu sendirian hari ini."
Fais merasa, wanita ini pasti sangat membencinya hingga ia bahkan tak membiarkan Fais beristirahat dengan tenang. Ia pun memutuskan untuk bangkit dan turun dari tempat tidur. Tapi tentu saja Suyi mencegahnya.
"Kamu mau kemana? Makan dulu," katanya sambil memegangi lengan Fais.
"Terima kasih, tapi lebih baik saya pergi dari sini."
"Seorang penduduk Eyja mengorbankan nyawanya demi menyelamatkanmu. Jangan menyia-nyiakan hidupmu seperti ini."
Fais menyentak tangannya lepas dari Suyi. "Aku tidak pernah minta untuk diselamatkan!" sergah Fais. "Kenapa aku harus terus hidup sambil menanggung semua ini? Apa lagi yang kalian inginkan dariku?! Tidak bisakah kalian melepaskanku dan membiarkanku mati saja?!"
Tanpa sadar Fais mencengkram erat kain selimut di pangkuannya, kepalan tangannya tampak bergetar demi menekan emosi ke dasar hatinya. Tapi semakin ia menahannya semakin ia merasa tercekik.
"Saya ingin meminta maaf," ujar Suyi bersamaan dengan setetes air yang jatuh dari matanya. "Seandainya saya tidak pernah memberitahu Luen tentang keberadaanmu, semua ini tidak perlu terjadi. Sayalah yang telah menyebabkanmu terbelenggu selama ini. Maafkan saya..."
"Sudah tidak ada gunanya." Fais setengah mengumpat, namun suaranya goyah.
Mata Suyi sendu menatap pemuda yang masih berusaha membendung air matanya itu, yang masih menolak untuk terlihat lemah, yang hatinya telah mengeras terkekang oleh kebencian. Ia telah kehilangan tujuan hidupnya setelah menyadari bahwa ternyata yang sudah ia anggap sebagai orang tuanya sendiri adalah sumber dari segala penderitaannya selama ini.
"Saya tahu saya juga tidak berhak meminta maaf untuk Luen," sambung Suyi lagi, "tapi seandainya saya boleh sedikit memberi penjelasan, Luen itu hanyalah orang yang bodoh dan keras kepala. Dia tidak mengerti apapun yang berhubungan dengan kasih sayang, dia pikir satu-satunya cara untuk mempertahankanmu hanya dengan menanamkan dendam."
Suyi mengambil jeda sejenak untuk menunggu reaksi Fais. Tapi pemuda itu bergeming.
"Tapi kamu sudah terlanjur menyayanginya..."
"Aku tidak pernah menyayanginya," tukas Fais cepat.
"Kalau begitu, apa yang menghalangimu untuk tak menghabisinya? Padahal hanya butuh satu kata darimu, dia bisa dibunuh dengan mudah."
"Aku ingin dia mati dengan cara yang paling menyakitkan."
"Tapi kamu tidak melakukannya," tandas Suyi, "kamu ragu."
Tak ada tanggapan dari Fais, ia memalingkan wajahnya untuk menghindari tatapan Suyi, berusaha keluar dari jarak pandang wanita itu, dan memilih untuk menatap lurus ke halaman terbuka melalui bingkai jendela di sebelahnya. Suyi pun melempar pandangan ke arah yang sama sambil lalu menghela napas sebelum kembali melanjutkan.
"Saya sering bertanya kepada Luen...," paparnya kemudian, "...kenapa ia selalu ingin dibenci olehmu. Padahal selama ini dia selalu mengkhawatirkanmu. Apa kamu tahu, setiap kali ada kesempatan untuk mengobrol dengan saya, dia selalu bercerita tentangmu. Katanya kamu sangat menyukai langit, kamu bisa menghabiskan waktu lama hanya untuk memandangi langit, dan kamu tidak suka ruangan berjendela kecil. Kalau sedang senang, matamu berbinar seperti cahaya mentari yang terpantul di permukaan air. Kamu pikir dari mana dia tahu semua itu?" Suyi tersenyum meski tahu Fais tak akan menanggapi. "Karena dia selalu memperhatikanmu. Bukan karena ramalan SaO, saya tak punya kemampuan untuk melihat hal-hal seperti itu."
Jemari Fais bergerak diam-diam mengusap sesuatu di sudut matanya, tapi ia menolak untuk membiarkan Suyi menyadari hal itu.
.
_______________
[18] Death Angel dalam kamus urban diartikan sebagai seseorang yang membunuh orang lain karena rasa kasihan, bukan karena dendam atau alasan apapun, melainkan untuk mengakhiri penderitaan orang yang dibunuh.