Jemari Fais bergerak diam-diam mengusap bulir air di sudut matanya, tapi ia menolak untuk membiarkan Suyi menyadari hal itu.
"Menurutmu kenapa dia berkali-kali meluangkan waktu untuk menjemputmu dari sekolah dengan alasan penyerahan misi?" sambung wanita itu lagi. "Kalau mau, bisa saja ia menyuruh orang untuk membawamu menemuinya. Tapi tidak, dia ingin melihat bagaimana kamu bergaul dengan teman-temanmu, apakah kamu gembira, apakah kamu tertawa. Dia tak pernah berhenti mencemaskanmu. Ia selalu menanyakan hal yang sama meski kamu juga selalu menjawab dengan kebohongan yang sama. 'Apakah kamu baik-baik saja?' Bukankah itu hal pertama yang akan ia tanyakan setiap kali bertemu denganmu?"
Perlahan Fais mulai menopang keningnya sebagai upaya melindungi wajahnya dari tatapan Suyi, seolah ia ingin menghilang dari hadapan Suyi dan lenyap ditelan bumi.
"Tolong tinggalkan aku sendiri...," gumamnya.
Meski Suyi tahu ia tak boleh memaksa Fais, tapi ia ingin melihat Fais melepaskan semua yang bergelayut di pundaknya dan meluapkan segala hal yang menyesakkan itu.
Keadaannya sudah terlanjur seperti ini, terlalu egois jika Suyi memaksanya memaafkan Luen. Tapi setidaknya, Fais harus tahu, hidup ini tidak seburuk yang ia bayangkan.
"Luen tak ingin kamu membunuhnya di sini karena ia ingin melindungimu." Setetes air mata kembali bergulir dari mata yang penuh kerutan itu, bibir Suyi bergetar saat ia kembali melanjutkan kalimatnya. "Luen adalah orang yang paling menyesal atas semua hal yang menimpamu, tapi tak ada lagi yang bisa ia lakukan untuk memperbaiki kesalahannya."
Hening... hanya terdengar suara hembusan angin dari luar jendela yang membuat gorden putih bergerak mengombak di antara Fais dan Suyi. Selama ini Fais mengira telah berhasil mengendalikan seluruh emosi di dalam dirinya untuk tak sekalipun muncul ke permukaan, namun semua emosi itu kini telah menolak bersembunyi.
Mendadak rasa lelah yang amat sangat merasuki Fais. Samar terdengar suara sengau tarikan napas, udara yang ia hirup tak berhasil melewati tenggorokannya dan membuat sesuatu di balik rongga dadanya terasa remuk. Fais berpegangan pada kusen jendela seolah ingin mempertahankan dirinya yang nyaris roboh.
Apa lagi yang harus dilakukannya? Ia sudah menemukan orang yang selama ini ia cari, namun semangatnya menguap entah kemana, meninggalkan tubuhnya yang luluh lantak, runtuh bersama seluruh keinginannya untuk tetap bertahan hidup.
"Tidak apa-apa jika kamu tidak begitu kuat," tangan Suyi bergerak perlahan menyentuh pundak Fais, "sudah cukup... kamu tak perlu menahannya lagi. Kamu sudah boleh menangis..."
Sayup terdengar suara isakan yang mulai lolos dari bibir Fais. Seketika tangisnya pecah membelah keheningan siang. Tumpah sudah sesak di dadanya, satu per satu kristal bening mulai menetes dari dagu hingga jatuh ke selimut putih itu, yang terdengar berikutnya hanya rintihan tangis yang begitu memilukan, begitu pilu dan menyayat hati.
Fais sudah tak peduli lagi... rasanya sudah tak ada gunanya lagi ia bertahan.
Suyi memberikan usapan pelan di bahu yang bergetar itu, sebelum akhirnya mengusap air mata di pipinya sendiri. Dalam hati ia berharap agar Fais bisa melepaskan semua yang selama ini membebaninya, meluapkan semua rasa yang ia coba abaikan, agar setelahnya ia bisa kembali berdiri tegar sebagaimana Luen selalu membanggakannya.
Ia kemudian beranjak dan melangkah perlahan keluar kamar. Membiarkan Fais menangis hingga tersedak, hingga kepalan tangan yang berusaha menutupi wajahnya berkilat basah oleh air mata yang tak pernah ia biarkan menampakkan wujud sejak bertahun-tahun lamanya. Anak muda itu berhak untuk memperlihatkan sisi lemahnya. Ia sudah terlalu lama menahan diri, dan itu terlalu menyedihkan.
Luen sudah membuat segalanya semakin sulit bagi Fais. Ia tak pernah berhasil membuat Fais membencinya, itulah kegagalan terbesar dalam rencana Luen selama 12 tahun ini. Alih-alih membenci, Fais malah menganggap Luen sebagai sosok yang sangat penting. Kini, membalas dendam atau tidak, pilihan manapun yang diambil Fais tetap tak akan bisa membuatnya merasa lebih baik.
Andai saja ada sesuatu yang bisa Suyi lakukan untuk menyelamatkan jiwa malang itu.
Mata Suyi bertemu dengan tatapan Kenma yang tampak kosong, lelaki itu kemudian memandang lurus ke hamparan langit biru sambil masih berdiri tegak dan bergeming di teras rumah sederhana itu. Lalu Zahra yang sejak tadi memeluk tepian pintu dapur sambil mendengarkan pembicaraan Suyi dan Fais, tak mau bersusah payah menyembunyikan air matanya dan hanya bisa memejam mata erat-erat saat suara tangis Fais mulai terdengar redam di antara teriakan anak-anak yang bermain dari kejauhan...di antara gemerisik dedaunan... dan desiran angin yang berhembus kering...
***
Awan mendung sedang bergelayut di langit sore yang menaungi Ivory Palace. Di taman belakang Ring I, angin bahkan tidak bertiup untuk memecah kebisuan antara Luen dan Zoire, atau Putri Shura, Luen biasa memanggilnya. Wanita itu sedang duduk di sebuah kursi taman yang menghadap langsung ke arah matahari terbenam dan Luen masih setia berdiri di belakangnya, menatap ke arah yang sama, meski sejak tadi mereka sama-sama membisu.
Shura mengisi penuh paru-parunya lalu menghempas napas perlahan. Luen bahkan tak ingat sudah berapa kali ia melihat pemadangan ini, punggung yang tampak tegar itu tak sekokoh yang terlihat. Setiap saat, selalu saja, sosok yang memunggunginya itu terlihat lelah dan kesepian.
"Kamu menemukannya?" tanya Shura tanpa menatap lawan bicaranya.
"Iya, Yang Mulia. Saya menemukan First Armour, Suyi merawatnya di Eyja."
"Kenapa tidak langsung dibawa kemari? Dia tidak boleh dibiarkan bebas tanpa pengawalan."
"Maaf, Yang Mulia. Tapi kondisinya tidak memungkinkan untuk dibawa perjalanan jauh."
"Apa bedanya? Jika dia mati dalam perjalanan juga tak masalah, kan? Alat yang sudah tidak bisa digunakan lagi, lebih baik dibuang saja."
Luen menghela napas dan tak berani membantah. Beberapa saat mereka kembali membisu, hingga langit di ufuk barat semakin meredup.
"Apa Suyi sehat?" tanya Shura lagi.
"Suyi dalam keadaan sehat, Yang Mulia," jawab Luen sambil kembali menundukkan pandangannya.
"Apa kamu bertemu Kazai di sana?"
"Iya, Yang Mulia. Dia juga dalam keadaan sehat."
"Syukurlah, aku senang mendengarnya."
Shura mengusap sesuatu di matanya sambil lalu membiarkan pikirannya melayang ke puluhan tahun yang lalu, ke tanah Eyja, beberapa hari setelah ia memutuskan untuk menikahi Kapten Divisi 4 waktu itu.
...............
"Kamu tidak akan mencegahku?" tanyanya pada Kiriyan hari itu. Di pematang sawah tempat mereka sering menghabiskan waktu ketika senggang.
"Bukankah kamu sudah memutuskannya? Bagaimana mungkin aku bisa mencegahmu?"
"Kalau kamu bilang 'jangan', maka aku akan membatalkannya."
Kiriyan menoleh menatap wajah cantik gadis yang sedang membalas tatapannya tanpa ragu itu. Bukannya tak tahu, ia sudah lama menyadari bahwa Shura begitu menyukainya, meski Kiriyan tak pernah memperlakukannya seperti seorang keluarga bangsawan, tapi Shura tak keberatan. Ia selalu mengikuti Kiriyan di berbagai kesempatan, mau tak mau Luen juga harus berada bersama mereka, lalu Suyi yang sangat dekat dengan saudaranya itu dengan sendirinya menjadi bagian dari mereka. Secara tak langsung itulah yang membuat mereka berempat menjadi akrab dan selalu terlihat bersama-sama.
"Aku tak punya wewenang untuk memerintah seorang Putri Avalon," Kiriyan tertawa ringan menanggapi Shura, "kamu berhak melakukan apapun yang kamu mau," sambungnya lagi. "Sejak awal kamu tak seharusnya berada di sini, jika bisa keluar dari sini, tentu saja kamu tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan baik itu."
"Kamu tidak keberatan meski harus berpisah denganku?" tanya Shura kali ini dengan suara yang mulai terdengar bergetar tak stabil. "Aku akan menikahi Kapten Blue Gate itu, apa kamu benar-benar tidak akan mencegahku?"
Kiriyan merebahkan punggungnya di atas rumput sambil menarik turun topi jerami menutupi setengah wajahnya. "Shura, kamu adalah gadis yang hebat," ujarnya pelan. "Kamu memiliki banyak mimpi yang bisa kamu wujudkan. Sayang sekali jika seumur hidup kamu harus menghabiskan waktu di pulau pengasingan ini. Aku tak ingin menjadi penghalang bagi masa depanmu yang cerah."
Air mata Shura menetes tanpa suara, lelaki di hadapannya itu tidak mau melakukan segalanya demi mempertahankan Shura di sisinya. Lelaki itu tidak memiliki keinginan yang sama dengan Shura, keinginan untuk tetap bersama tak peduli di manapun mereka berada, tak peduli sesulit apapun keadaan mereka.
Shura beranjak dan menangisi kenyataan yang baru saja ia temukan, tentang perasaan Kiriyan yang ternyata tidak sebesar perasaan yang dimilikinya.
...............
"Yang Mulia..." Luen memutuskan untuk mengakhiri keheningan di tempat itu, tepat saat setetes air mata lolos dari sudut mata Shura. Tapi Luen tidak menyadarinya karena ia terlalu sibuk menundukkan pandangan. "...Mengenai tuduhan yang dilimpahkan kepada First Armour..."
"Aku tidak akan membunuhnya. Dia itu aset yang cukup berharga," sela Shura. "Dalam waktu dekat, aku akan mengadakan pertemuan dengan pimpinan Sanctuary. Sebenarnya aku ingin menggunakan First dalam pertemuan itu. Tapi sepertinya Sanctuary menyadari rencanaku. Mereka ingin First disingkirkan. Itu sebabnya aku menyuruhmu menemukannya dan menjadikannya tahanan Divisi-1, agar Sanctuary tidak bisa menyentuhnya. Di sini dia akan aman, ada Guardian yang akan menjaganya 1x24 jam."
Luen sangat paham, yang dimaksud oleh Shura adalah mengembalikan Fais ke "kandang"-nya, ke tempat Fais selama ini harusnya berada. Seperti saat pertama kali Luen membawanya ke Ivory Palace.
"Tapi... dia sudah hampir mencapai batasnya. Dia tidak akan bertahan jika harus kembali..."
"Atau kamu ingin aku langsung menjatuhkan hukuman mati padanya?" Shura tak membiarkan Luen mengatakan apapun yang tidak ingin ia dengar. Pertanyaannya itu bukan untuk dijawab oleh Luen. Ia hanya ingin bicara dan tidak ingin disanggah "Apa kamu tidak mengerti, Luen? Sanctuary ingin menggunakan kematian Tama sebagai alasan untuk melenyapkan anak kesayanganmu itu. Saat ini aku sedang bersusah payah menyelamatkannya dari tiang gantungan. Tapi kamu malah meninggalkannya di sana, kamu pikir dia lebih aman berada di pulau itu dibandingkan di Ivory Palace?"
"Maafkan saya, Yang Mulia, tapi Ivory Palace juga cukup berbahaya baginya." Luen sudah setengah membungkuk karena ia sendiri merasa bahwa sikapnya sudah mulai lancang. "Lagipula... Yang Mulia, apakah Anda tidak curiga jika pimpinan Sanctuary tiba-tiba setuju untuk bertatap muka langsung dengan Anda?"
"Apa kamu mulai menganggap dirimu lebih pintar dariku?"
"Maafkan jika saya lancang, tapi..."
"Aku sudah mempertimbangkannya. Asalkan First berada di sampingku, aku tak perlu takut kalah dari siapapun. Tapi sepertinya saat ini aku tidak bisa mengandalkan anak itu, dia sudah tidak berguna lagi. Kurasa sekarang aku harus menggunakan Sixth."
"Saya rasa Sixth adalah pilihan yang bagus, Yang Mulia. Tapi dia masih sangat muda dan kemampuannya tidak stabil. Tidak jarang dia gagal menyelesaikan tugasnya."
"Setidaknya dia masih lebih baik dibandingkan First yang sekarang."
"Tapi, Yang Mulia, mohon pertimbangkan kembali hukuman yang dijatuhkan kepada First. Jika memang harus ada yang bertanggung jawab, biar saya saja. Saya akan mengaku bahwa saya telah merencanakan kudeta dan membunuh Kapten Tama," saran Luen kemudian.
Lembayung senja perlahan menghilang, digantikan langit yang menghitam tanpa bintang. Angin mulai bertiup membawa dingin yang mulai menusuk ke balik kulit dua orang itu, namun mereka bergeming. Hingga kemudian Shura tertawa pelan, terdengar begitu anggun.
Ia akhirnya berdiri dan berbalik menatap Luen. Namun Luen tak berani membalas tatapan wanita yang dimuliakannya itu. "Kamu melakukan ini untuk melindunginya?" tanya Shura kemudian.