Chapter VIII.7

1790 Kata
Shura akhirnya berdiri dan berbalik menatap Luen. "Kamu melakukan ini untuk melindunginya?" tanya Shura kemudian. "Saya melakukan ini demi Anda, Yang Mulia. First adalah senjata terkuat yang kita miliki. Dia masih sangat berguna untuk Anda. Sedangkan saya...." Wanita itu mendengus sinis. "Demi aku kamu bilang? Hentikan omong kosong itu. Kamu ingin dihukum mati karena rasa bersalahmu pada anak itu. Kamu mengkhianatiku, Luen. Kamu tidak melakukan ini untukku," katanya kemudian. Suaranya terdengar tenang namun dingin seperti embusan angin malam. "Kamu yang telah bersumpah untuk melayaniku seumur hidupmu. Tapi lihat dirimu sekarang, beraninya kamu menduakanku dengan anak itu." "Mungkin saya memang mengkhianati Lord Zoire, tapi saya tak akan pernah mengkhianati Yang Mulia. Putri Shura... satu-satunya orang yang menggenggam jiwa dan raga saya." Shura tertawa lebih keras kali ini. "Aku adalah Lord Zoire," tegas Shura, "jangan panggil aku Shura di dalam Ivory Palace." "Tapi bagi saya, Yang Mulia selamanya adalah Putri Shura. Seorang Putri yang baik hati dan periang, seorang Putri yang memiliki mimpi mulia. Anda adalah Putri Shura kesayangan semua orang." "Ah... Luen..." Shura menggeleng pelan setengah menggumam. "Jika memang kamu masih menganggapku sebagai Putrimu, kamu tak akan menusukku dari belakang." "Yang Mulia, saya tak mungkin berani melakukan itu. Semua yang saya lakukan seumur hidup saya, hanya demi kebaikan Anda. Tapi Fais, First Armour, tidak tahu apa-apa tentang p*mbunuhan Tama. Saya mohon biar saya saja yang bertanggung jawab. Biarkan saya menanggung hukumannya." "Keinginanmu untuk melindunginya ternyata lebih besar dibandingkan keinginanmu untuk tetap berada di sampingku. Hatimu sudah bukan milikku lagi," tandas Shura. Seketika Luen menjatuhkan lututnya ke atas rumput taman itu dan ia masih tak berani mengangkat wajahnya. Keningnya nyaris menyentuh bumi saat ia kembali berucap memohon ampun. "Maafkan saya, Yang Mulia. Saya adalah pelayanmu yang paling tidak berguna." Shura hanya menatap lelaki setengah baya itu melalui ekor matanya. Ia lalu berbalik dan kembali duduk di posisinya semula, membelakangi Luen sambil menatap lurus ke udara kosong. "Kazai benar..." lanjut Putri Kerajaan Avalon yang sudah membuang nama pemberian orang tuanya itu. "Pada akhirnya kita semua akan berjalan sendiri-sendiri, saling membelakangi. Aku sendiri tak menyangka akan berjalan sampai sejauh ini. Saat tersadar, ternyata sekelilingku sudah gelap. Meski ingin kembali, tapi aku sudah terlanjur terikat dengan Sanctuary. Mereka menggiringku ke manapun mereka mau. Aku sudah sangat jauh berseberangan denganmu dan Kazai." Suara Shura terdengar bergetar kali ini, entah karena angin dingin yang menyentuh kulitnya atau karena emosi yang tertahan di dalam dirinya. "Yang Mulia, ini semua masih belum terlambat. Kazai pasti..." "Kazai tak akan pernah mau melihatku lagi." Sebulir air mata tampak bergulir di pipi Shura. "Dia sudah membenciku," gumamnya sambil lalu menengadahkan wajahnya ke langit, membiarkan rambut di depan wajahnya mengayun lembut mengikuti angin yang berembus. "Ternyata memang tidak mungkin menyelamatkan semuanya," tambahnya. "Manusia ini seperti serangga, tak peduli berapa banyak serangga yang kuselamatkan, satu per satu... setiap hari... tetap saja semuanya mati di depan mataku. Jika aku tak bisa menyelamatkan semuanya, aku hanya perlu membelakangi mereka, dan menolong apa yang ada di hadapanku saja." "Tapi, Yang Mulia, dengan tidak melihat mereka, bukan berarti mereka itu tidak ada." Luen bicara nyaris kepada dirinya sendiri, seolah ia berusaha keras agar Shura tak mendengarnya. "Oh... kamu tak perlu mengajariku itu, Luen. Aku lebih tahu." Pundak wanita di hadapannya itu bergerak ketika ia mengeluarkan suara tawa yang dipaksakan. "Sejak awal, aku bukanlah orang suci. Aku menolong orang untuk kepuasanku sendiri, karena aku merasa sakit ketika melihat makhluk yang menderita. Tapi, jika aku tak melihat penderitaan mereka, bukankah aku tak perlu merasakan rasa sakit itu? Aku hanya perlu menutup mata, dengan begitu, aku tak perlu menyelamatkan mereka." Luen sadar, wanita di hadapannya ini sudah terlalu banyak berubah. Dia bukan lagi Putri Shura yang dicintai oleh rakyatnya, bukan lagi Putri Shura yang menginginkan kebahagian untuk semua orang. Sejak awal dia hanyalah seorang wanita yang memiliki impian, yang telah berjuang hingga lelah dan menderita karena ia terlalu baik hati. Namun kini ia hanya ingin melindungi dirinya sendiri dari rasa tanggung jawab untuk menyelamatkan orang lain. Ia memutuskan untuk berpura-pura tak melihat bahwa ada yang sedang menderita. "Rakyat Avalon hidup lebih dari berkecukupan. Kita termasuk lima besar negara termakmur di seluruh dunia." Shura tersenyum di tengah kalimatnya. Tapi ia masih tak menoleh pada Luen. "Rakyat Eyja juga hidup bebas di tanahnya. Mereka baik-baik saja. Aku sudah menyelamatkan apa yang terlihat di depan mataku. Aku tak perlu memikirkan yang lainnya." Luen berhenti berusaha menyanggah penyataan Shura. Dalam hati ia percaya bahwa saat ini Shura hanya sedang menipu dirinya sendiri, meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia sudah melakukan hal yang benar, bahwa tidak ada yang menderita di Eyja dan semua baik-baik saja. "Kita hidup di dunia ini memiliki peran sendiri-sendiri," lanjut Shura lagi. "Seperti cacing yang dimakan ayam, atau tikus yang dimakan ular, atau setiap serangga yang berperan sebagai makanan hewan lainnya. Semua makhluk yang hidup di bumi ini menjalankan perannya masing-masing. Dan untuk itu Eyja harus menjalankan perannya, demi Avalon. Eyja ada untuk kemakmuran Avalon." Jantung Luen bedegup kencang menanti kelanjutan kalimat Shura, perasaannya mengatakan keputusan Shura kali ini akan sangat bertentangan dengannya. "Yang Mulia, rakyat Eyja bukan stock hidup yang bisa kita korbankan kapan saja." Luen kembali memberanikan diri untuk berucap dengan tubuh yang semakin tertekuk, meski saat ini Shura masih duduk membelakanginya dan bahkan tidak menoleh saat bicara padanya. "Jika setiap hari kamu bisa membunuh hewan untuk bahan makananmu, kenapa kita tidak boleh mengorbankan rakyat Eyja demi keberlangsungan negeri ini?" "Tapi rakyat Eyja adalah manusia yang..." "...Bernyawa?" sela Shura cepat. "Setiap hari ada banyak orang yang mati, dan kita bahkan tidak menyadarinya," gumam wanita itu lagi. "Jika semua nyawa itu berharga, seharusnya setiap hari kita berduka. Namun kenyataannya tidak. Di saat kita makan dan tertawa di sini, seseorang sedang mati di tempat yang lain. Kamu mengerti, Luen? Tidak semua nyawa itu berharga. Ada jiwa yang memang harus dikorbankan. Semua makanan yang masuk ke perutmu juga awalnya makhluk yang bernyawa. Apakah kau pernah memikirkan hak-hak mereka?" "Tapi tentu saja itu berbeda, Yang Mulia..." "Kenapa berbeda?" Shura menyela dengan cepat bak peluru yang diluncurkan tepat mengenai jantung Luen, hingga lidah lelaki itu mendadak kelu. “Yang mulia…,” Luen terbata, “jika manusia mati, maka akan ada yang menangis. Itu artinya, meski bagi kita seseorang itu bukan siapa-siapa, tapi mungkin ada orang lain yang menganggap seseorang itu sangat berharga.” “Tapi tetap saja bagiku dia bukan siapa-siapa,” pungkas Shura. “Aku hanya akan melindungi orang-orang yang kuanggap hidupnya berharga. Sisanya aku tidak peduli.” Tampaknya Shura ingin menyudahi pembicaraan, ia lalu beranjak sambil membenahi kerah bajunya sebelum akhirnya berbalik dan tersenyum pada Luen. "Angkat wajahmu," perintahnya. Perlahan Luen mendongak dengan tetap mempertahankan lututnya di atas tanah agar ia tak berdiri lebih tinggi dari Shura. "Jangan salah paham, Luen,” ujarnya lembut, “bagiku kamu juga berharga. Tapi untuk bisa menggenggam sesuatu yang lebih besar, aku harus membuang sebagian.” Wanita itu kemudian memberi sentuhan lembut di pundak Luen. “Terima kasih sudah menemaniku. Bukan hanya hari ini, tapi seumur hidupmu, kamu sudah menemaniku. Aku berterima kasih untuk itu." Luen kembali menunduk karena merasa tak pantas. Tapi Shura masih mengamati lelaki di hadapannya itu dengan tatapan yang baik. Tangannya lalu bergerak menyentuh rahang Luen dan menengadahkan wajahnya, diusapnya pipi Luen yang basah. "Jangan menangis," gumamnya lembut, "aku sudah memaafkanmu." "Terima kasih... Yang Mulia." Kelopak mata Luen menutup bersamaan dengan air mata yang bergulir dari kedua sudut matanya. Sentuhan wanita itu mendarat kembali di pundak Luen, ia lalu memberikan sebuah tepukan pelan sebelum akhirnya melangkah pergi meninggalkan Luen yang masih berlutut di posisinya, dengan bahu yang bergetar menahan tangisan, layaknya peliharaan yang telah dibuang oleh majikannya. . Langkah Shura menuju ke kediaman pribadinya tampak begitu tenang dan elegan di koridor terbuka Ring I itu. Ia tidak berjalan terlalu pelan tapi juga tidak terburu-buru. Sementara Yesha, Kapten Divisi 1-Guardian, mengikuti di belakangnya, menunggu apapun yang ingin dikatakan Shura padanya. "Yesha," panggil Shura pelan. Tapi Yesha mendengarnya dengan jelas, wanita itu pun segera mempercepat langkah mendekati Shura sambil menjaga agar tetap berada di belakangnya. "Saya di sini, My Lord," jawabnya penuh hormat. Bisa dikatakan, Yesha adalah orang kedua di Ivory Palace yang cukup dekat dengan Shura. Dia merupakan satu dari beberapa pelayan setia yang dibawa Shura dari Eyja. Ketika Shura menikahi Kapten Divisi 4 Avalon yang dulu memimpin Blue Gate, ia diizinkan untuk membawa beberapa pelayan bersamanya ke Pulau Utama. Sejak awal, hingga Shura terpilih sebagai presiden Avalon, sampai kemudian Shura menjadi janda tanpa melahirkan seorang anak pun, Yesha selalu setia mengabdi padanya. Bersama dengan Luen dan beberapa pelayan lainnya yang diberi kepercayaan khusus oleh Shura untuk melayaninya di dalam Istana Utama. Di antara Ketujuh Divisi Pertahanan Avalon, hanya Divisi 1-Guardian yang Kaptennya dipilih langsung oleh Lord Zoire. "Menurutmu, bisakah kita mewujudkan keadilan bagi semua orang?" tanya Shura kemudian. "Tentu saja, My Lord," jawab Yesha cepat. "Aku selalu merasa ada banyak ketidakadilan di dunia ini," sambung Shura lagi. "Dari beberapa kasus yang pernah terjadi, seorang pembunuh masih mendapat pengampunan, dipenjara beberapa tahun lalu bebas. Padahal, dengan begitu apa yang didapatkan oleh keluarga korban? Kenyataannya, nyawa korban tidak akan bisa dikembalikan. Apa menurutmu itu adil?" Yesha membisu di sisi kanan belakang Shura, tak ada satu kata pun yang muncul di kepalanya untuk menanggapi kalimat Shura barusan. "Apa menurutmu mengambil nyawa seseorang itu bisa dimaafkan?" Shura kembali melontarkan pertanyaan yang sebenarnya terdengar cukup absurd dan tiba-tiba bagi Yesha. "Saya merasa kita tidak bisa memandangnya secara keseluruhan seperti itu, My Lord," jawab Yesha akhirnya. "Terkadang seseorang tidak punya pilihan selain membunuh, meski ia tidak ingin melakukannya." Bibir Shura melengkung membentuk senyuman tipis. "Kamu benar," balasnya, "aku juga berpikir demikian. Keadilan itu bukan berarti membagi sama rata. Keadilan itu adalah ketika semua orang mendapatkan apa yang sesuai dengan situasi dan kondisinya masing-masing. Tapi walau bagaimanapun aku menggambarkan keadilan yang ideal, itu semua tak akan bisa diwujudkan jika aku tidak mempunyai power. Keadilan tanpa kekuasaan tidak akan ada gunanya." Shura menghentikan kalimatnya tepat saat ia tiba di depan dua daun pintu besar dengan relief huruf-huruf kuno di sekeliling pintu itu. Meski terlihat konservatif, namun pintu itu memiliki tingkat keamanan yang bahkan lebih tinggi dari pintu Quarter Armour. Itu adalah Istana Utama, kediaman pribadi Lord Zoire yang berada tepat di pusat Ivory Palace. "Sanctuary sangat marah dengan kematian Tama. Mereka ingin ada yang bertanggung jawab," Shura tampak belum ingin mengakhiri pembicaraan, "rakyat juga sudah bosan dengan musuh fiktif yang kita buat. Mereka mulai bertanya-tanya apakah teroris WoLf itu benar-benar ada. Kita tak bisa terus-menerus menggunakan cara yang sama. Paling tidak, kali ini kita harus menangkap seseorang dan menghukumnya." "My Lord, saya yakin UKI dan Armour mampu mencari pelaku pengeboman yang sebenarnya." "Itu tidak perlu, Yesha. Pelaku yang sebenarnya ada di depan matamu. Aku memerintahkan Luen untuk menghapus para pengkhianat, seperti biasa." Jawaban itu begitu ringannya meluncur dari bibir Shura hingga Yesha tak sempat bereaksi dan hanya bisa terperangah mendengarnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN