Chapter VIII.8

1799 Kata
"Itu tidak perlu, Yesha. Pelaku yang sebenarnya ada di depan matamu. Aku yang memerintahkan Luen untuk melenyapkan Tama," ungkap Shura sambil lalu dan tanpa emosi. "Kamu pasti sudah tahu, Tama berperan sebagai agen ganda. Dia sudah banyak membocorkan rahasia kita kepada Sanctuary," terang Shura lagi. "Tapi aku tidak bisa menarik Sanctuary keluar dan menjadikannya musuh bersama di negeri ini. Menurutmu bagaimana aku harus mengatakan kepada rakyat Avalon, bahwa selama ini Sanctuary sudah membantuku dari balik layar. Menyeret Sanctuary ke permukaan sama saja dengan menyeret diriku sendiri." "Maafkan saya yang tidak menyadari rencana yang sudah Anda susun." "Oh... itu bukan salahmu. Aku memang tidak mengatakan kepada siapa-siapa mengenai rencanaku selain kepada Luen," sahut Shura lagi. "Tapi sekarang, kupikir sudah saatnya aku melibatkanmu. Apa kamu bersedia, Yesha?" Yesha langsung mengambil sikap siap dan membalas tegas tanpa ragu. "Saya bersumpah setia sebagai Kapten Divisi 1-Guardian, untuk selalu melindungi Ivory Palace dan Lord Zoire sebagai Pemimpin Tertinggi Avalon, sampai akhir hayat saya." Shura tersenyum sambil kemudian memberikan tepukan pelan di pundak Yesha. "Aku tahu aku selalu bisa mengandalkanmu," tuturnya halus. "Luen sudah tidak mampu lagi menjalankan perannya sebagai Perdana Menteri dan Panglima. Harusnya aku sadar, itu tanggung jawab yang terlalu berat untuk ia pikul sendiri. Bagimana jika kamu menggantikannya?" Bibir Yesha merenggang tak percaya mendengar apa yang baru saja dikatakan Shura. "Ta-tapi, My Lord, bagaimana dengan Mr. Luen? Bukankah beliau masih menjabat?" "Saat ini pikirannya sudah terlalu banyak bercabang, aku tak bisa mempercayakan masa depan Avalon kepadanya. Demi menyelamatkan Kapten Armour yang menjadi target Sanctuary, Luen rela menerima hukuman mati atas tuduhan kudeta dan p*mbunuhan Tama. Dia lebih peduli pada Kapten Armour dibandingkan aku. Bagiku, itu sama saja dengan pengkhianatan." "My Lord, apa Anda akan menjatuhkan hukuman mati kepada Mr. Luen?" "Kurasa itu belum perlu. Untuk saat ini aku akan menuruti keinginan Sanctuary. Sebagai langkah awal, kita harus membuat mereka sedikit lengah." Shura berdiri di satu titik tertentu di hadapan pintu besar itu, dan tak lama kemudian pintu menguak terbuka. Yesha tak pernah tahu pasti bagaimana cara kerja pintu itu, ia pernah mendengar bahwa pintu itu hanya akan membuka setelah melakukan pindai seluruh tubuh. Sedangkan jika Shura berada di dalam, ia bisa membukakan pintu untuk siapa saja yang ia terima sebagai tamu. Dan sejauh ini, tidak banyak yang pernah masuk ke dalam Istana Utama. "Apa boleh buat, tak ada cara lain selain membumihanguskan Eyja," kata Shura kemudian sebelum ia melewati mulut pintu itu. "Tangkap beberapa orang untuk kita perkenalkan kepada masyarakat sebagai organisasi WoLf yang telah lama bersembunyi. Bunuh sisanya yang ada di Eyja. Setelah itu, kita akan mengulang dari awal." "Tapi, My Lord, kenapa harus Eyja?" "Sanctuary merasa bahwa Eyja adalah ancaman yang cukup meresahkan. Sejak dulu mereka sudah tidak suka dengan Suyi dan Kiriyan yang bersembunyi di sana. Kali ini aku tidak akan menolak permintaan mereka untuk menyerang Eyja. Kita harus sedikit mengambil langkah mundur agar untuk selanjutnya bisa melesat dengan kekuatan penuh." "My Lord, Avalon adalah milik Anda. Tidakkah lebih baik kita memerangi Sanctuary secara langsung dan mengusir mereka selamanya?" "Kita tidak akan mampu, Yesha. Jika menyerang secara frontal tanpa rencana dan strategi yang matang, kita akan hancur," tukas Shura. "Kita hanya bisa bergerak pelan-pelan. Tapi, bagaimana pun juga aku tidak akan menyerahkan kursi kekuasaan ini. Aku masih ingin memimpin Avalon. Sudah kuputuskan, mulai sekarang aku akan memilih orang-orang yang bisa kupercaya untuk berada di sampingku, dan kamu adalah orang pertama. Aku tahu sejak dulu kamu adalah wanita yang tangguh, kamu sangat mirip denganku, kita memiliki cita-cita yang besar dan rela melakukan apa saja untuk mewujudkannya." "Merupakan suatu kehormatan bagi saya, My Lord." "Aku akan mulai menghapus mereka yang tidak memihakku. Hampir seluruh isi Dewan Rakyat[19] adalah orang Sanctuary, selama ini merekalah yang selalu menghalangiku. Lebih baik mereka dibubarkan. Keputusan ini akan menimbulkan kontroversi, tapi akan reda dengan sendirinya jika kita membuat pengalihan isu, dan perang Eyja adalah pengalihan isu yang paling sempurna. Seharusnya sudah lama aku melakukan ini." "Saya berterima kasih Anda melibatkan saya dalam pergerakan ini. My Lord, saya percaya visi dan misi Anda sangat cemerlang untuk masa depan Avalon." Tampak sebuah senyum samar muncul di wajah Shura, namun itu hanya beberapa saat. "Aku ingin mengadakan pertemuan darurat besok. Kumpulkan semua Menteri dan Kapten Divisi Pertahanan yang tersisa di aula Istana Utama. Kita akan mulai menyeleksi siapa yang berhak dipertahankan dan siapa yang harus dilenyapkan," ungkapnya jelas, "selamat malam." Shura melangkah melewati ambang pintu, lalu kedua daun pintu itu pun menutup di belakangnya dengan suara "beep", sensor yang menandakan bahwa pintu sudah terkunci kembali. *** Perpustakaan Gedung Barat SSU, Ai memutuskan untuk menghabiskan waktu di salah satu Schiff [20] perpustakaan kampus itu. Hari sudah semakin sore, tapi Ai belum berniat untuk kembali ke Quarter. Belakangan ini Zen sering bulak-balik ke Quarter, sekedar mengamati latihan rutin Armour atau berusaha mengakrabkan diri dengan yang lainnya. Ai kesal sekali melihatnya, dan sepertinya Zen tahu kalau Ai sangat tidak suka dengan keberadaannya. Tapi yang cukup mengherankan, Zidan yang awalnya bersikap sama dengan Ai sekarang tampak mulai membalas obrolan Zen meski hanya sesekali. Begitu juga Ariel, Kevin dan yang lainnya. Ai tak tahu apa yang terjadi dengan mereka, tapi semakin hari tampaknya Zen semakin bisa memasukkan diri. Meski sampai sekarang ia masih belum mendekati Ai, tapi Ai yakin gilirannya akan segera tiba. Ai menyesal membiarkan pikirannya berkali-kali menyebut nama Zen, rasanya seperti terkena kutukan, lelaki itu tiba-tiba muncul di mulut pintu perpustakaan. Ia mengedarkan pandangannya dan tepat saat matanya bertemu dengan Ai melewati dinding kaca, ia langsung tersenyum sambil dengan ringannya mengayunkan langkah menuju Schiff tempat Ai sedang berada. Ai buru-buru membereskan buku-bukunya dan beranjak, tapi saat pintu Schiff menggeser terbuka, lelaki itu sudah ada di hadapannya. "Halo. Kenapa buru-buru? Mau kemana?" tanyanya ramah. "Aku sudah selesai," balas Ai sambil lalu berusaha mencari celah untuk melewati Zen, "permisi." Tapi Zen dengan sengaja menghalangi jalannya. Ia bahkan menggeser tubuhnya ke kiri dan kanan untuk mencegah Ai melewatinya. "Padahal aku baru datang," keluhnya memelas. "Silakan, Schiff ini kosong." Ai merentangkan tangannya ke arah meja bundar yang dikeliling tempat duduk melingkar mengikuti dinding kaca ruangan itu. "Aku kesini karena mau ngobrol sama kamu." Zen masih setengah memelas. "Hari ini tidak ada latihan fisik, kan? Hanya latihan menembak. Kamu bisa melakukan porsi latihanmu setelah makan malam nanti. Sekarang, aku minta waktumu 5 menit saja, boleh?" Ai mendengus dongkol sambil melirik Zen dari ekor matanya. Tapi entah apa yang membuat lelaki ini sangat sulit ditolak. Ia pun akhirnya duduk kembali di tempatnya dan mengambil jarak sejauh mungkin dari Zen. Untungnya Zen paham, ia juga duduk tepat berseberangan dengan Ai. "Aku dengar pacarmu anggota Warriors, ya?" Zen dengan mudahnya mengeluarkan pertanyaan itu, padahal sebenarnya itu adalah topik yang cukup berat dan sensitif. "Dia bukan pacarku dan dia bukan anggota Warriors," balas Ai cepat. "Iya sih, kalau memang dia anggota Warriors, tidak mungkin aku tak mengenalnya." "Jadi? Kamu kesini cuma untuk menanyakan itu?" Zen mengetuk-ngetuk dagunya sambil menatap langit-langit Schiff seolah sedang mencoba mengingat sesuatu. "Aku memang mendengar seorang Trainee yang performanya cukup baik. Kalau tidak salah, dia anaknya Kapten Tama yang baru meninggal beberapa hari lalu. Apa dia orangnya? Namanya... Nada... Nagisa... atau Nafid..." "Nadif!" sambar Ai jengkel, "Nadif Hargiansyah. Iya dia orangnya. Kenapa? Kamu mau apa?!" "Ah... iya benar, Nadif." Zen menepuk telapak tangannya sendiri dengan semangat. "Dia pacarmu?" "Bukan. Cuma teman baik. Lalu sebenarnya apa maumu?!" "Aku bisa langsung memasukkannya ke salah satu Unit di Warriors. Kalau kemampuan bela dirinya cukup baik, Death Angel akan menjadi tempat yang cocok untuknya." Ai mencoba bersikap lebih tenang kali ini. Ia hanya membalas Zen dengan tatapan super tajam bak belati yang siap menancap di bola mata Zen. "Lebih baik dia tidak masuk ke Silver Bullet. Isinya cuma orang-orang sok keren yang hanya tahu memakai senjata api, mereka menyebalkan. Kalau Red Blade sepertinya..." "Hei, aku muak mendengar ocehanmu tentang teman-teman Warriors-mu itu. Aku tidak peduli. Itu semua tidak ada hubungannya denganku," ketus Ai akhirnya. "Ah... sayang sekali," pundak Zen jatuh mendengar pernyataan Ai, "tak kusangka kamu secepat itu melupakan teman baikmu." "Humph! Sudah selesai? Aku mau keluar." "Bagaimana dengan Kiriyan?" Deg. Jantung Ai langsung berdetak lebih cepat dari biasanya ketika nama itu keluar dari mulut Zen. "Kenapa dengan Kiriyan?" tanya Ai kemudian. "Aku bisa membersihkan namanya dan mengembalikannya kepada kalian. Hidup damai sebagai keluarga yang bahagia. Bagaimana? Kamu tertarik?" Ai tak tahu harus memberi tanggapan seperti apa. Sejak tadi ia berusaha membaca pikiran Zen dan apa yang ada di kepalanya sama persis seperti apa yang dia ucapkan. Ia tidak menyimpan maksud apapun. "Sebenarnya apa maumu?" Kali ini suara Ai terdengar lebih rendah dan was was. "Aku hanya ingin kedamaian," jawab Zen dengan senyum riangnya yang polos. "Aku ingin semuanya hidup damai dan bahagia. Apa kamu tidak mengerti kenapa kami dinamakan Sanctuary?" "Aku bisa saja membentuk tim pembunuh dan menamakan diri kami sebagai Kesatria Suci," balas Ai sinis. "Nama yang baik tidak bisa menutupi perbuatan kalian yang selalu mengintervensi negara lain dan mengambil alih sedikit demi sedikit. Itu sama saja dengan penjajah." Raut wajah Zen perlahan berubah menjadi suram. Senyum ceria telah hilang dari wajahnya dan isi pikirannya langsung terbuka lebar untuk Ai. "Kau tidak akan bisa menggantikan Fais." Itu adalah hal pertama yang ingin ditegaskan Ai setelah mendengar apa yang ada di dalam kepala Zen. "Kau kira dengan mengabulkan keinginan kami, lantas kami semua akan menerimamu sebagai pemimpin kami? Berhentilah bermimpi. Kau sendiri sadar bahwa apa yang dilakukan Sanctuary tidak sepenuhnya bisa dibenarkan. Tujuan yang baik saja tidak cukup, jika tidak dilakukan dengan cara yang baik." Ai beranjak tanpa melepas tatapannya dari Zen. "Permisi," katanya sambil lalu melangkah keluar meninggalkan Zen yang masih duduk dengan ekspresi kaku di dalam Schiff itu. Ai mempercepat langkah menjauhi perpustakaan sambil mengutak-atik Alltech di tangannya untuk mengirimkan pesan yang sama kepada masing-masing Armour: "Apa Zen mengatakan sesuatu kepadamu?" Tak sampai semenit setelahnya, Ariel membalas: "Dia nyebelin banget. Sok akrab. Senyum-senyum sok ramah. Najis. Dia kira dia siapa?" Ai berhenti menggunakan pesan teks dan memutuskan untuk langsung menelpon Ariel. "Dia bilang apa?" tanya Ai langsung saat Ariel mengangkat panggilan suara yang dibuatnya. "Bilang apa?" Ariel malah balik bertanya. "Apa dia menjanjikan sesuatu padamu?" Ai nyaris membentak saking kesalnya. "Oh...," Ariel seolah baru teringat akan sesuatu, "iya. Dia bilang dia bisa mengabulkan keinginanku. Dia akan membuka Blue Gate dan memberi kebebasan kepada orang-orang Eyja." Jawaban Ariel membuat napas Ai semakin cepat dan tak beraturan. "Lalu? Kamu menyetujuinya?" tanyanya agak hati-hati kali ini. . - End of Chapter VIII - _______________ [19] Dewan Rakyat adalah lembaga negara yang masih membuat Avalon bertahan sebagai negara penganut Demokrasi. Anggotanya terdiri dari 20 orang yang dipilih langsung oleh rakyat Avalon. Namun pada prakteknya, pemilu di Avalon hanyalah formalitas. Dewan Rakyat adalah "titipan" Sanctuary yang dibentuk untuk mengendalikan Zoire. [20] Ruangan khusus berbentuk tabung dan berdinding kaca dengan diameter kurang lebih 3 meter, yang disediakan perpustakaan bagi siapa saja yang ingin privasi, atau sekedar mengadakan diskusi kelompok tanpa mengganggu pengunjung yang lain.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN