“Dia bilang dia bisa mengabulkan keinginanku. Dia akan membuka Blue Gate dan memberi kebebasan kepada orang-orang Eyja."
Jawaban Ariel membuat Ai jadi semakin panik. "Lalu? Kamu menyetujuinya?" tanyanya kemudian.
"Aku bilang, ya... nggak bisa semudah itu. Biar aku pikir-pikir dulu."
"Apanya yang pikir-pikir dulu?! Harusnya kamu sadar kalau itu hanya bagian dari siasat jahatnya. Kamu harusnya langsung menolak!"
"Entahlah Ai... beberapa hari ini setelah sedikit bicara dengannya, sepertinya dia bukan orang jahat."
"BODOH!" Ai geram dan langsung memutuskan sambungan telepon. Ia berhenti sejenak dan merapat ke salah satu pilar di lobby Barat kampus itu agar tidak menghalangi jalan ketika ia membaca pesan-pesan yang baru masuk dari Armour lainnya.
Zidan membalas:
"Dia berjanji untuk menjaga dan melindungi para Armour selama berada di bawah naungan Exorcist. Dia juga berjanji untuk menjadi teman baikku menggantikan Fais."
Ai mengetik satu kata untuk membalas Zidan:
"Menjijikkan."
Selang beberapa detik Zidan langsung membalas lagi:
"Rasanya aku mau muntah mendengarnya."
Mendengar jawaban Zidan, akhirnya napas Ai berangsur normal. Setidaknya, Zidan masih aman. Ia kemudian melanjutkan membaca balasan dari ketiga Armour lainnya.
Niya membalas:
"Katanya kalau aku bekerja sama, dia akan menjamin keselamatan anak-anakku. Dia juga berjanji untuk melacak keberadaan selingkuhan suamiku. Aku tak tahu dari mana dia tahu masalah pribadiku."
Pesan balasan dari Kevin masuk bersamaan dengan pesan dari Nda.
"Aku merasa tak pernah cerita apapun padanya, tapi sepertinya dia tahu semua. Dia bilang, mudah baginya membantuku untuk bisa melanjutkan pendidikan keluar negeri. Dan dia juga bisa mencari pelaku tabrak lari yang dulu menewaskan kakak kandungku," tulis Kevin.
"Dia sering membelikanku cokelat dan es krim. Dia bilang aku yang paling hebat di Armour. Katanya aku masih sangat muda tapi sudah memiliki banyak prestasi. Dia juga bilang aku lebih manis dari kamu." Beberapa baris kalimat yang ditulis Nda untuk membalas pesan dari Ai.
Anak itu memang menjengkelkan. Ai menghela napas panjang menenangkan diri sebelum kembali mengirim pesan padanya.
"Bukan itu. Maksudku, apa dia menjanjikan sesuatu padamu?" Ai kembali mengirim pesan dan tak butuh waktu lama, ia langsung mendapat balasan dari Nda.
"Hm... dia janji akan melindungiku kalau aku ingin membunuh mereka yang suka mem-bully-ku di sekolah. Sebenarnya aku tidak terlalu peduli dengan para pem-bully itu, hanya saja memang pernah sesekali terlintas di pikiranku untuk melenyapkan mereka. Oh... satu lagi. Zen juga bilang kalau dia akan bicara pada ayahku yang suka mabuk dan selalu berbuat kasar pada kami semua. Katanya kalau ayahku tidak bisa diajak bicara, dia juga bersedia membunuhnya."
Bulu kuduk Ai berdiri membaca pesan balasan dari Nda. Anak itu sepertinya agak kacau.
"Nda, kamu tidak boleh sembarangan membunuh orang seperti itu," tulis Ai lagi.
"K." Nda membalas singkat.
Ai nyaris meninju alltech-nya sendiri saking kesalnya mendapat respon cuek dari Nda. Seenaknya saja dia bilang 'K', seolah perkataan Ai tidak penting. Bocah sialan itu memang sangat menyebalkan, rasanya Ai tak bisa berhenti mengutuknya jengkel.
Tapi Ai segera sadar bahwa saat ini tidak ada waktu untuk mengurusi dia.
Situasi sekarang sedang gawat. Zen sudah mulai melancarkan aksinya untuk mengambil alih posisi Fais dan merebut semuanya dari Fais. Ai tak begitu tahu latar belakang anggota Armour kecuali Ariel dan Niya yang sering curhat padanya. Tentu saja mereka semua memiliki keinginan dan ambisi masing-masing, dan Zen ingin memanfaatkan itu.
Sanctuary memang tak bisa dianggap enteng. Sepertinya mereka juga menggunakan cara yang sama untuk membuat separuh dari Ivory Palace mendukung mereka.
BRUK!
Ai menabrak seseorang saat ia tadi sempat melanjutkan langkah sambil masih mengutak-atik alltech-nya.
"Maaf."
Ai mengalihkan tatapannya dari alltech ke seseorang yang baru saja ia tabrak tadi. Saat itulah matanya langsung bertemu dengan sepasang mata hitam dan jernih milik lelaki yang selama ini selalu berada di sampingnya.
Hagi.
Selama beberapa saat pandangan mereka melekat satu sama lain, tapi tak ada perubahan ekspresi di wajah lelaki itu, ia juga tak mengeluarkan sepatah katapun. Tapi Ai mendengar semuanya.
Lelaki itu, Hagi, masih menyimpan banyak rasa terhadap Ai. Namun semuanya telah tersamarkan oleh kegusaran di dalam dirinya. Tentang Ai yang tak pernah menjadikan Hagi sebagai prioritas, tentang Ai yang ternyata masih baik-baik saja meski Hagi mengatakan bahwa ia akan berhenti mencintainya, tentang Ai yang sepertinya terlibat dengan p*mbunuhan ayahnya.
Hagi memalingkan wajahnya dari Ai dan langsung melanjutkan langkahnya menjauh.
Menatap sosok yang membelakanginya itu, Ai tak tahu kenapa ada air yang mulai merembes di matanya. Ia sudah terlalu biasa dicintai oleh Hagi. Selama ini setiap kali menatap mata itu, ia hanya mendengar kata-kata indah yang penuh kasih sayang dan selalu memuja-muji Ai. Tapi kini, ia sudah tak mendengarnya lagi.
"Hagi! Hagi, tunggu!"
Suara yang tak asing terdengar dari arah belakang Ai. Saat ia menoleh, ia menemukan Tiara sedang berlari kecil ke arahnya... bukan... bukan ke arahnya, melainkan ke arah Hagi yang baru saja meninggalkannya.
"Ai? Kamu masih di sini? Aku kira kamu sudah pulang," Tiara menyapa sambil lalu memperlambat langkahnya ketika ia berada di dekat Ai. Tapi alih-alih berhenti, Tiara hanya sedikit berjalan mundur sambil melanjutkan, "Aku janji memberi catatan kuliahku kepada Hagi dan sedikit menerangkan beberapa teori padanya di perpustakaan. Ayo, kamu mau ikut?"
Saat Ai baru saja membuka mulut untuk menjawabnya, Tiara sudah berbalik dan membelakangi Ai, berlari kecil menyusul Hagi.
Itu hanya pertanyaan basa-basi. Tiara tidak benar-benar ingin mengajak Ai.
Meski sebenarnya Ai juga tidak ingin mengikuti mereka. Tapi tetap saja ada rasa sakit yang tiba-tiba menyeruak dari balik d.a.d.a Ai.
Perih...
***
Jam 6 pagi lewat beberapa menit, Ai dibangunkan oleh suara dari alltech-nya. Ia mengira itu adalah suara alarm pagi yang sudah ia atur sebelumnya, tapi ternyata tidak, itu adalah video call dari Zen.
Dengan gerakan malas Ai mengaktifkan VS-nya dan wajah Zen langsung muncul di sana.
"Ayo aku traktir sarapan," ajaknya riang.
"Kau kira ini jam berapa? Aku tidak sarapan jam segini. Mengganggu saja," gerutu Ai.
Tapi baru saja ia mau menyudahi pembicaraan, frame-frame wajah Armour yang lainnya muncul di VS milik Ai, sepertinya Zen mengadakan conference. Tidak berbeda dengan Ai, mereka semua masih terlihat mengantuk, kecuali Zidan. Nda bahkan kembali melayang ke dunia mimpi di hadapan VS-nya.
"Ah... akhirnya kalian semua menjawab panggilanku," seru Zen lagi, "baiklah langsung saja. Aku ingin memberi kabar bahwa Faisal sudah ditemukan dan sedang dirawat di Eyja."
Zidan langsung meninggalkan semua yang ia kerjakan dan tergesa-gesa mendekati VS-nya hingga wajahnya terlihat sangat besar. "Bagaimana keadaannya?" tanyanya penuh harap.
"Hidup," jawab Zen singkat. "Dan satu lagi, aku akan mengumumkan hal penting di TV jam 7 nanti. Jangan lupa lihat channel TV nasional, ya. Sudah, itu saja...."
"Tunggu!"
"...Sampai jumpa." Zen tidak peduli dengan panggilan Niya, frame wajahnya langsung menghilang dari VS Ai dan yang lainnya. Otomatis, frame wajah Armour lainnya juga menghilang karena yang membuat conference itu adalah Zen.
Ai diam terpaku di hadapan VS alltech-nya yang masih menyala. Ia tampak sedang menimbang-nimbang sebelum akhirnya memutuskan untuk menghubungi Ariel.
"Kukira kamu marah sama aku," rajuk Ariel saat wajahnya muncul di VS Ai kali ini.
"Aku memang masih agak kesal denganmu," Ai setengah mengomel, "bagaimana mungkin kamu mempertimbangkan tawaran Zen? Dia itu..."
"Iya... iya... maaf, aku yang salah," sela Ariel cepat, "setelah kupikir lagi kayaknya memang Zen nggak bisa dipercaya."
Baru saja Ai ingin menimpali, perhatiannya teralihkan oleh nama Zidan yang muncul di sudut kanan VS-nya. Tanpa pikir panjang, ia langsung menerima panggilan video Zidan. Ketiga Armour itu akhirnya membuat konferensi mereka sendiri.
"Aku yakin kondisi Fais tidak sedang baik-baik saja."
Itu adalah kalimat pertama yang dikatakan Zidan saat ia tersambung dengan Ai dan Ariel. "Eyja tidak punya fasilitas yang memadai untuk merawatnya. Kurasa aku harus menyusulnya ke pulau itu."
"Zidan, tunggu dulu, kita harus memikirkan semua ini dengan kepala dingin," Ai berusaha menenangkan. "Bagaimana kalau kamu coba menghubungi Luen dan bertanya langsung padanya?"
"Dengar, aku nggak tahu kenapa, tapi aku punya firasat buruk," Ariel memotong. "Sepertinya Zen akan bikin kacau semuanya jam 7 nanti. Menurut kalian apa kita harus mencegahnya?"
"Apa maksudmu dengan 'bikin kacau?" tanya Ai dan Zidan nyaris bersamaan.
"Aku dan Ai mendadak jadi pusat perhatian saat kami ke kampus hari ini, orang-orang terus ngelihatin kami. Pasti ada hubungannya dengan apa yang akan disampaikan Zen nanti. Lalu, aku juga melihat Zoire muncul di TV."
"Apa?!" Ai dan Zidan kompak menyerukan kata itu dengan intonasi yang sama.
"Tidak mungkin, Zoire tidak pernah muncul di muka umum," Zidan berusaha mengingkari.
"Benar, jika tiba-tiba ia menampakkan diri, pasti ada yang tidak beres. Bagaimana dengan Luen? Apa kamu juga melihatnya?" tambah Ai.
"Nggak, aku sama sekali nggak dapat penglihatan apapun tentang Luen."
Tak ada lagi yang bicara setelah kalimat jawaban dari Ariel tadi. Ketiga Armour itu sibuk dengan pikiran masing-masing. Kening yang berkerut bingung, tenggorokan yang mendadak terasa kering, dan jantung yang terus berdegup gelisah. Sampai kemudian tatapan Zidan berpindah pada sudut kiri atas VS miliknya. "Sebentar, ada panggilan dari Niya," katanya kemudian.
Hanya beberapa detik kemudian, Niya mengirimkan permintaan join conference pada Ai. Saat Ai menekan "OK" pada layar alltechnya, wajah Zidan di VS pun mengecil dan wajah Niya muncul di sebelahnya. "Ah... kalian bicara bertiga saja? Ada apa ini?" protesnya kesal. "Aku sedang ngobrol dengan Nda. Katanya dia sama sekali tidak mendengar apa yang dikatakan Zen tadi karena ia ketiduran, aku juga tidak tahu mau memberi informasi apa kepada Nda. Konferensi dari Zen tadi terlalu abstrak. Lalu kami memutuskan untuk menghubungi Zidan. Ternyata kalian malah sedang ngobrol bertiga," sambungnya lagi.
"Ariel melihat sesuatu di mimpinya, tapi seperti biasa, precognition-nya tidak terlalu berguna," Zidan langsung bicara blak-blakan.
Ariel hanya menanggapi dengan senyum kecut sambil mengangkat bahu tanpa berniat protes.
Niya tertawa cekikikan sebelum menanggapi, "Memangnya dia lihat apa?" tanyanya kemudian, "eh... tunggu, Nda mau gabung, nih. Ai, kamu tidak keberatan?"
"Tentu saja," sahut Ai sambil mengirimkan undangan konferensi pada Nda. Tapi tak lama setelah Nda bergabung, Ai mendapatkan satu panggilan lagi dari Kevin.
"Ha? Kalian semua berkumpul di sini?" tanya Kevin kaget ketika menyadari bahwa mereka berenam sudah terhubung dalam suatu konferensi virtual. Di VS Ai, sudah ada lima frame wajah para Armour yang tersambung dengannya.
"Teganya... kalian sengaja tidak melibatkan aku ya?" Nda protes sambil cemberut.
"Aku juga," Kevin tidak mau ketinggalan, "kenapa tidak ada yang menghubungiku?"
Ai hanya bisa membalas dengan cengiran kaku. Sepertinya, kelima Armour lainnya juga merasakan tekanan yang sama, cemas memikirkan apa yang akan terjadi nanti. Mereka merasa tidak tenang, hingga dengan sendirinya muncul keinginan untuk menghubungi satu sama lain dan berdiskusi.
"Jadi? Kita sudah punya rencana?" tanya Nda yang tampak tidak sabar untuk mulai beraksi.
"Ya..." Ai agak ragu untuk memulai penjelasannya. "Aku tidak tahu ini berguna atau tidak, tapi kurasa lebih baik mencoba daripada tidak sama sekali," ia mengambil jeda sejenak, "aku sedang menyelidiki beberapa email yang pernah digunakan Kiriyan untuk menghubungi ibuku. Sebagian besar berasal dari Indland, hanya beberapa yang dikirimkan dari Eyja. Aku sudah mengirimkan broadcast, tinggal menunggu respon dari pemilik email."
"Bagaimana kamu tahu bahwa Kiriyan yang akan membalas emailmu? Bisa saja orang lain..."
"Aku tahu, ada nama panggilan yang biasa digunakan Kiriyan hanya padaku. Selain ibu dan kakakku, tak ada yang tahu," Ai menyela Nda.
"Tunggu, bagaimana bisa dia mengirimkan email dari Indland?" Ariel ikut bertanya-tanya.
"Kurasa, agar tidak terlacak oleh Blue Gate, ia terpaksa harus mengambil jalan memutar," jawab Ai.
"Jadi dia bisa menghubungi Indland dari Eyja?"
"Diam-diam Eyja sudah punya teknologi semacam itu, ya?"
"Bagaimana caranya mereka lolos dari pengawasan Blue Gate?"
"Aku ingat Sir Zack pernah mengeluh tentang sinyal yang terdeteksi dari dalam Eyja."
"Ternyata Kiriyan sudah membuat persiapan sejauh itu."
Satu per satu mereka mulai mengeluarkan pendapat dan pikiran masing-masing.
"Bagaimana jika Fais bergabung dengan Kiriyan untuk melawan Ivory Palace?" Zidan tak bisa mencegah pikirannya yang semakin liar menduga-duga.
"Lalu? Kita harus berpihak pada siapa?" Dan Nda yang masih belum paham.
"Nda, kamu sayang sama Fais?" tanya Zidan kemudian.
"Tentu saja."
"Kalau begitu, kita akan berada di pihak Fais."
"OK. Tapi kita akan melawan siapa?"
"Kita akan melawan Zen dan Sanctuary," balas Ai tegas.
"Berarti kita juga akan membantu Zoire?" Nda sepertinya butuh penjelasan yang lebih konkrit. Tapi percuma, Ai sendiri juga masih belum tahu apakah saat ini Zoire berada di pihak yang sama dengan Sanctuary. Entah itu Zoire, Kiriyan, Fais atau siapapun, selama mereka berada di sisi yang berlawanan dengan Sanctuary, maka Ai akan mendukung mereka.
"Hei lihat, Zen sedang bicara di TV," Niya yang sejak tadi menyalakan TV di ruangannya sengaja mengganti channel ke stasiun TV nasional karena jam sudah menunjukkan tepat pukul 7.