Chapter IX .2

2193 Kata
Niya yang sejak tadi melakukan video konreferensi sambil menyalakan TV, berkomentar untuk menyita perhatian para Armour. "Hei lihat, Zen sedang bicara di TV," serunya. Ai dan yang lainnya pun memutuskan untuk menyalakan TV di ruangan mereka masing-masing dan mengalihkan perhatian untuk sementara tanpa menyudahi panggilan konferensi di alltech mereka. "Kami semua benar-benar dibuat kaget." Rama Taslim, lelaki paruh baya yang membawakan program pagi bertajuk 'Morning Coffee' di TV nasional itu terdengar mulai berbincang dengan Zen yang duduk di sisi kirinya. "Tiba-tiba Anda diangkat sebagai Kapten Divisi-7 menggantikan Kapten Faisal. Bagaimana mungkin? Bisakah Anda menjelaskan sedikit mengenai latar belakang Anda?" katanya lagi. Zen yang tampil necis dengan setelan kemeja biru gelapnya, tertawa ringan sebelum menjawab, "Saya juga sama kagetnya dengan Anda. Tiba-tiba Perdana Menteri Luen menghubungi saya dan meminta saya kembali ke tanah air untuk menunaikan tugas yang telah ditinggalkan oleh Kapten Faisal," tuturnya ramah. Kapten Armour yang baru itu tampak sedikit merapikan penampilannya untuk tampil di TV hari ini, rambutnya yang biasa menutupi mata dipotong menjadi lebih pendek, sementara sisi lain rambut bagian depannya disisir rapi ke belakang memamerkan sebelah keningnya. Sarung tangan kulit yang ia kenakan hanya di salah satu tangannya itu juga tampak serasi dengan setelan jas yang ia kenakan. "Memangnya Anda sebelumnya berada di mana? Dan apakah sampai saat ini masih belum ada kabar mengenai keberadaan Kapten Faisal?" "Sebelumnya saya bekerja di World Peace, hanya staff administrasi biasa, tapi saya menyukai pekerjaan saya. Meski begitu, ketika tanah kelahiran saya memanggil, tentu saja saya tidak bisa menolak." Ai muak mendengar Zen berulang kali menyebut Avalon sebagai tanah kelahirannya. Entah itu benar atau tidak, tapi dia terdengar sangat menyebalkan. "Tadi malam kami mendapat laporan dari Divisi-4," sambung Zen lagi, "katanya mereka sudah menemukan Kapten Faisal dan saat ini dia sedang dalam masa pemulihan." "Sebenarnya apa yang terjadi dengan Kapten Faisal?" "Kami belum bisa menyimpulkan apa-apa. Tapi yang pasti, saat ini dia tidak mampu menjalankan tugasnya sebagai Kapten Armour dan Vice Rector di kampus. Saya bisa menggantikan tugas-tugasnya di Armour, tapi sepertinya SSU harus mencari Vice Rector yang baru karena saya tidak bisa rangkap jabatan seperti Kapten Faisal. Saya tidak segenius itu." Tawa Zen di akhir kalimatnya terdengar seperti mengejek di telinga Ai. Lelaki itu jelas sedang mengarang-ngarang. "Lalu... mengenai Kapten Faisal..." "Maaf, saya tidak bisa memberi penjelasan apapun yang berhubungan dengan Kapten Faisal." Zen dengan cepat menyela Rama. "Saya akan membiarkan UKI ataupun Polisi menangani kasus yang terjadi pada Kapten Faisal, dan jika nanti sudah ada hasil dari penyelidikan mereka, tentu saja kami akan mengumumkannya kepada masyarakat Avalon." "Ah... baiklah. Sepertinya semua yang berhubungan dengan Divisi-7 memang akan tetap menjadi top secret dan penuh misteri, ya." "Tidak juga," tukas Zen masih dengan suara yang ramah dan santai, "sebagai Kapten Armour yang baru, saya memutuskan untuk sedikit menghilangkan kekakuan. Saya ingin lebih dekat dengan masyarakat Avalon, menjadi satu-satunya Divisi yang penuh rahasia itu bukan gaya saya. Untuk itu, hari ini saya memutuskan akan mengumumkan keenam anggota Armour yang lainnya. Agar kami bisa bekerja lebih leluasa dan lebih dekat dengan rakyat." Mungkin ini yang dikatakan orang bagaikan disambar petir di siang hari. Ai sontak berdiri dan nyaris menjatuhkan semua yang ada di atas meja samping tempat tidurnya. Zidan dan yang lainnya juga bereaksi sama kagetnya. Jadi ini sebabnya kenapa Ariel melihat mereka menjadi pusat perhatian di kampus hari ini. "Oh ya ampun, tidak adakah yang bisa menghentikan dia?" Niya panik dan nyaris histeris. "Kenapa? Kurasa idenya bagus juga, kita kan jadi tidak perlu sembunyi-sembunyi lagi," timpal Nda. "Tidak, Nda. Ini tidak bagus!" sergah Zidan. "Jika dia mengumumkan identitas kita, maka kamu harus mengucapkan selamat tinggal pada kehidupan normalmu!" "Apa dia juga akan mengumumkan kemampuan kita masing-masing?" Kevin menambah kepanikan. "Kevin, pergi kesana dan patahkan lehernya!" perintah Ariel. Tapi Niya dengan cepat mencegah, "Jangan! Ada banyak kamera di sana!" "...Keenam anggota Armour lainnya adalah orang-orang yang sangat berbakat..." Suara Zen nyaris tak terdengar di antara teriakan histeris para Armour dan Kevin yang mendesak Zidan untuk segera memberikan perintah. "...Mereka sangat cerdas dalam hal ilmu pengetahuan, teknologi dan strategi..." "Ssshhh! Teman-teman, tenang dulu!" Ai berusaha menyuruh para Armour itu diam karena tampaknya Zen tidak bermaksud untuk mempublikasikan kemampuan istimewa mereka. "Dia bilang apa?... KEVIN, DIAM!... Ai, kamu mendengar apa katanya?" Zidan berteriak di tengah kalimatnya. "Kalian semua bisa tenang dulu, tidak?!" bentak Zidan di hadapan VS-nya. "...Mereka adalah hasil seleksi ketat dari beberapa calon binaan yang sudah lama menjalani pelatihan sejak masih sangat muda. Pokoknya kemampuan mereka tidak perlu diragukan lagi..." Akhirnya suara Zen kembali terdengar jelas setelah satu per satu Armour mulai menenangkan diri dan mencurahkan perhatian mereka kembali ke layar TV untuk mendengarkan kelanjutan kalimat Zen. "... Aisyah Chandra dan Ariel Winata, dua mahasiswa SSU yang sangat cerdas, baik IQ maupun EQ-nya. Kemampuan analisis mereka sangat hebat, misalnya, mereka mampu memprediksi strategi politik dan keamanan negara lain yang dianggap bisa mengancam kedaulatan negara kita." Zen mengambil pendekatan yang lebih halus, dia memang orang yang sangat teliti dan berhati-hati. Diam-diam Ai merasa lega, namun ia juga belum bisa menurunkan tingkat kewaspadaannya. Ini lebih seperti ketenangan yang biasanya muncul sesaat sebelum datangnya badai. "Zidan Raikan, seorang pegawai sipil di kantor pemerintahan dan Kurniya Hayati seorang guru di Dien School. Meski dalam keseharian mereka terlihat bekerja dan beraktivitas seperti biasa, tapi mereka itu sangat istimewa dan berperan penting bagi Armour selama ini. Keduanya adalah ahli strategi yang menguasai teori-teori ilmu perang kuno seperti 'Art of War' milik Sun Tzu dan sejenisnya. Ada sangat banyak strategi-strategi perang dan pertahanan negara yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu, semuanya bisa diterapkan untuk Avalon pada saat yang dibutuhkan karena kedua orang itu menguasainya dengan sangat baik." Gila. Kemampuan mengarangnya lebih hebat dari Fais. Itulah yang ada di pikiran Ai setelah mendengarkan penjelasan Zen barusan, dan tentu saja Zen masih belum berhenti sampai di situ. "Terakhir adalah anak-anak muda yang masih duduk di bangku sekolah," sambung Zen lagi, "Kevin Taylor dan Yuanda Sari, pelajar dari Sion School." "Keduanya dari Sion School? Masih pelajar?" Rama terkesan ragu. "Iya... begitulah, entah kebetulan atau apa, tapi keduanya memang berasal dari Sion School," jawab Zen. "Meski masih sangat muda, mereka adalah ahli dalam bernegosiasi." "Tidak mungkin," sang pembawa acara pun tampak mulai kesulitan untuk percaya, "anak sekolah ahli dalam melakukan negosiasi? Bagaimana mungkin?" "Bukankah sudah saya jelaskan bahwa mereka sudah menjalani pelatihan sejak masih sangat muda? Apa Anda tidak tahu bahwa Kapten Armour juga sudah digembleng sejak masih kecil? Itu sebabnya dia menjadi produk sempurna yang selalu dikagumi orang selama ini. Mereka adalah anak-anak genius, sang prodigy yang telah mengembangkan keahlian tertentu melampaui usianya. Jika Anda tidak percaya, saya bisa mengirimkan salah satu dari mereka ke rumah Anda dan membuat Anda setuju untuk menyumbangkan seluruh harta benda Anda kepada Divisi 7-Armour. Mau coba?" Itu terdengar seperti ancaman. Memang seramah apapun senyum dan cara bicara Zen, dia tetap terlihat berbahaya di mata Ai. "Tidak, tidak, terima kasih," Rama buru-buru menolak sambil memaksakan diri untuk tertawa. "Jika memang pemerintah telah mempersiapkan pertahanan negara sampai level sehebat itu, apa hak saya untuk meragukan mereka? Saya yakin, Anda juga pasti sama istimewanya dengan keenam Armour yang lain. Itu sebabnya Anda terpilih secara langsung untuk menggantikan Kapten Faisal." "Saya sebenarnya adalah produk gagal," sahut Zen lagi dengan ringannya, "sebenarnya dulu saya adalah salah satu calon terkuat untuk maju memimpin Armour, tapi saya kalah telak dari Kapten Faisal. Dia lebih unggul dalam banyak hal. Itu sebabnya, setelah dia mundur, otomatis sayalah yang naik menggantikannya. Sebagai si nomor dua, atau cadangan bagi sang prodigy." "Sedikit-banyak, Anda pasti merasa kesal pada Kapten Faisal, iya kan?" pancing Rama lagi. "Sedikit... ya... tentu saja, saya juga manusia." Zen tertawa diikuti oleh Rama yang duduk di sebelahnya itu. "Tapi saya sadar, demi kebaikan negara, hanya yang terbaiklah yang berhak memimpin. Saya tetap mengagumi sosok seorang Faisal Fandika, walau bagaimanapun, dia adalah yang paling pantas. Seandainya dia kembali dan ingin memimpin Divisi ini lagi, saya juga akan rela menyerahkan kembali kursi kepemimpinan Armour kepadanya." "Anda memang orang yang sangat luar biasa," Rama bertepuk tangan pelan dengan sorot mata kagum menatap Zen, "bagi saya Anda juga pantas memimpin Armour, sama seperti Kapten Faisal, jika tidak lebih baik." "Ah... terima kasih, Anda tidak perlu memuji seperti itu, saya masih sangat jauh jika dibandingkan dengan Kapten Faisal." "Jangan terlalu merendah, kami semua pasti akan mendukung Anda memimpin Armour ke arah yang lebih baik." Rama berhasil menutup topik pembicaraan itu dengan manis sebelum masuk ke pertanyaan berikutnya yang cukup sensitif. "Saya dengar, Anda sengaja mengenakan sarung tangan sebelah itu karena tak ingin memperlihatkan bekas luka yang cukup parah. Kalau boleh tahu, bagaimana Anda mendapatkan luka itu?" "Hanya sedikit kecelakaan sewaktu latihan." "Latihan saat menjadi Armour?" "Ng...," Zen tampak menimbang-nimbang sebelum menjawab, "bisa dibilang begitu," ujarnya kemudian. "Wah... Saya tak bisa membayangkan latihan seperti apa yang harus kalian lalui. Apakah anak-anak sekolah dari Sion juga harus menjalani latihan yang sama?" "Tidak. Latihan fisik dan menggunakan senjata api belum diwajibkan untuk mereka yang dianggap masih di bawah umur. Meski begitu, sebagai bagian dari Divisi Pertahanan, tentu saja memiliki basic beladiri itu menjadi sebuah keharusan. Pada akhirnya, setelah usia mereka dianggap cukup mereka juga akan melalui latihan yang sama, dan mereka sudah tahu itu. Jika tidak setuju, mereka boleh mengundurkan diri. Tidak ada paksaan." Mendapati wajah Rama yang tampak takjub dan kehilangan kata-kata, membuat Zen kembali melanjutkan kalimatnya. "Apa yang Anda harapkan? Hal seperti itu sangat wajar, 'Armour' itu harus kuat. Kami bukan sekumpulan anak pejabat ataupun konglomerat yang dititipkan untuk duduk-duduk santai di pemerintahan dan mendapatkan gaji besar tiap bulannya. Kami benar-benar serius menjalankan peran kami sebagai bagian dari pertahanan negara dan kami siap mati untuk membela negara." Rama menggeleng pelan dengan ekspresi kagum kali ini, ia lalu bertepuk tangan menunjukkan rasa salutnya. "Avalon sangat beruntung memiliki generasi muda seperti Anda dan anggota Armour lainnya,"puji lelaki setengah baya itu sambil kemudian beranjak dan mengulurkan tangannya untuk berjabat dengan Zen. "Sebenarnya masih banyak yang ingin saya tanyakan kepada Anda, tapi sayang sekali waktu kita terbatas. Terima kasih atas waktunya hari ini. Selamat menjalankan tugas, Kapten Zen. Saya yakin Anda pasti bisa memberikan yang terbaik untuk negara ini." Zen membalas uluran tangan sang pembawa acara dan menjabatnya dengan erat sebelum menjawab, "Terima kasih," dengan senyum yang begitu bersahabat. Musik outro acara "Morning Coffee" terdengar bersamaan dengan post-credit di layar televisi itu. Tampak Zen dan Rama masih saling berbincang sebagai latar belakang rolling credit. Program itu diakhiri dengan meninggalkan kesan yang sangat mendalam bagi siapa saja yang melihatnya. Zen bukan hanya ingin mengambil hati para Armour, dia bahkan sudah mulai mengambil hati seluruh penduduk Avalon. "Jika terus begini, Fais benar-benar akan tergantikan," gumam Ai pelan. Tapi cukup untuk didengar oleh Zidan dan yang lainnya. Hal yang sama juga terlintas di pikiran mereka. Ini mengerikan. Sedikit demi sedikit, Zen berhasil menempatkan dirinya dengan baik di dalam kehidupan rakyat Avalon. Dia terkesan sangat alami, bijaksana, ramah, dan baik hati. Seolah ia ingin melakukan apa yang selama ini tidak dilakukan oleh Fais, mengaburkan keberadaan Fais dan menghilangkan tempat untuknya kembali. Zen berencana membuat semua orang percaya, bahwa jika sudah ada Zen, siapa yang butuh Faisal Fandika? *** Seekor capung merah masuk melewati jendela yang terbuka lebar di kamar itu. Selama beberapa saat serangga itu berputar-putar di dalam ruangan sebelum akhirnya kembali terbang keluar. Seorang lelaki dengan tatapan kosong masih terbaring di tempat tidur dan sama sekali tak berniat bangkit untuk menutup jendela, meski sinar mentari di luar sana sudah memperlihatkan warna senja. Lelaki berwajah pucat bernama Fais itu tak tahu saat ini sudah jam berapa, ia bahkan tak tahu ini hari apa. Rasanya seperti sudah sangat lama ia tak beranjak dari tempat tidur. Hembusan angin yang masuk dari jendela, kain gorden yang berkelebat di atas tubuhnya, suara serangga yang saling bersahutan, langit-langit kamar tanpa plafon dengan titik cahaya yang masuk dari lubang-lubang kecil pada atap seng di atasnya, semuanya sudah tak tampak asing lagi bagi Fais. Meski suasana di sekitarnya sangat berbeda dengan kamar bawah tanah itu, tapi kondisinya saat ini hampir sama dengan 12 tahun lalu. Kembali menjadi cangkang kosong yang hanya bisa terdiam dan tak mengharapkan datangnya esok hari, berulang kali menanyakan hal yang sama pada dirinya. "Kenapa aku masih hidup?" Luen adalah yang selama ini menerangi jalannya. Meski dengan sinar yang sangat redup, namun cahaya redup itu menjadi satu-satunya harapan di dunia Fais yang gelap. Sekarang lampu terakhir itu pun telah padam, semua yang ada di dalam diri Fais tercerabut hingga ke akar-akarnya, dan tak menyisakan apapun lagi. Terdengar suara ketukan di dinding triplek di samping mulut pintu, lalu tanpa menunggu jawaban, seorang wanita berwajah bulat – dengan kerudung cokelat yang masih betah bertengger di kepalanya – muncul di mulut pintu sambil membawa nampan makanan. Senyum di wajah gadis itu langsung menghilang saat ia melihat nampan lain di atas meja yang ia antarkan siang tadi masih tak tersentuh. Ia berjalan mendekati Fais dengan wajah kesal, bibirnya mengerut menahan amarah, tangannya pun bergerak-gerak cepat dan tegas seolah sedang mengomeli Fais. "Maaf, aku tidak mengerti." Fais berkilah. Ia lalu mengerahkan nyaris seluruh tenaga untuk duduk dan menurunkan kakinya dari tempat tidur. "Bukannya tidak menghargai perhatianmu, tapi kurasa... aku ingin keluar sebentar," katanya sambil lalu mencoba untuk menjejakkan kaki ke lantai. Tapi Zahra langsung mendorong kedua pundaknya sehingga ia tak bisa beranjak dari tepi tempat tidur itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN