Chapter IX.3

2010 Kata
Fais beranjak dari tempat tidur dan baru saja ia menjejakkan kaki ke lantai, Zahra langsung mendorong kedua pundaknya sehingga ia kembali terduduk di tepi tempat tidur itu. Gadis itu menghempas napas kesal sambil lalu duduk di sebelah Fais. Ia menyerahkan nampan di tangannya ke pangkuan Fais, kemudian membuat gerakan dengan tangannya agar lelaki itu mulai makan. Saat Fais masih terlihat bingung, Zahra mengambil buku kecilnya dan menuliskan sesuatu. "Aku sudah mencoba memasak makanan yang belum pernah kumasak!" Ia menunjukkan tulisan itu ke depan wajah Fais. Kemudian tanpa menunggu komentar, ia kembali menuliskan sesuatu dengan cepat seolah ia tak sabar ingin mengungkapkan semuanya. Ketika sudah selesai, lagi-lagi ia menunjukkan tulisan itu tepat di depan hidung Fais. "Kupikir kamu tidak cocok dengan makanan Eyja, makanya aku bertanya kesana-kemari untuk mencari tahu makanan seperti apa yang biasa dimakan orang Avalon Daratan. Tadi siang aku berhasil memasaknya, dan Suyi bilang itu enak. Kenapa kamu tak mau memakannya?" Fais menatap wajah di balik buku kecil itu, Zahra terlihat sangat kesal dan matanya berkaca-kaca. Daripada disebut kesal, sepertinya lebih cocok dikatakan bahwa dia sedih dan kecewa. "Maaf, aku tak tahu kamu sampai bersusah payah seperti itu," kata Fais akhirnya. Ia pun mulai menyendok makanan di pangkuannya. Pikirnya, ia hanya perlu makan beberapa suap untuk menyenangkan hati wanita itu. Tapi Zahra tak mudah menyerah. Saat Fais sedang berjuang keras menelan nasi berkuah yang dibuat untuknya itu, Zahra tak berhenti menulis kalimat-kalimat untuknya. "Dihabiskan, ya. Kamu sudah berhari-hari tidak makan." "Wanginya enak, kan? Aku sengaja memakai rempah-rempah yang bisa menambah selera makan." "Makanan ini bagus untuk kesehatan. Supaya kamu cepat pulih." "Jangan langsung ditelan. Dikunyah dulu." "Habiskan." "Aku menyerah," ujar Fais akhirnya. Ia meletakkan sendok di atas piring dan mengangkat tangan sambil tersenyum memelas. "Aku benar-benar tak bisa menghabiskannya." "Kenapa? Tidak enak ya?" tulis Zahra lagi. Ia lalu menutup buku kecilnya sambil menunduk sedih. Fais menghela napas panjang, "Baiklah. Akan kuhabiskan," gumamnya tanpa semangat. Zahra bersorak girang tanpa suara. Ia bertepuk tangan lalu mendekap kedua tangannya di atas pangkuan, seolah sedang duduk manis menunggu Fais membuktikan kata-katanya. Matanya bersemangat mengikuti setiap gerakan tangan Fais yang memegang sendok. "Jangan memandangiku begitu, aku jadi tidak bisa makan dengan tenang," keluh Fais. Zahra kembali menuliskan sesuatu dan menunjukkannya pada Fais, "Aku mau tahu pendapatmu tentang masakanku. Enak atau tidak, ekspresi wajah seseorang tidak akan berbohong." Fais tersenyum kecut sambil membatin, "Kamu tak akan menemukan ekspresi apapun karena semua makanan selalu terasa hambar di lidahku." Beberapa menit kemudian, Fais berhasil memaksa masuk semua makanan di piring itu. Ia langsung meneguk habis segelas air minum untuk mencegah makanannya keluar lagi. "Ternyata memang tidak enak, ya?" Zahra menunjukkan tulisan itu dengan wajah yang tampak menahan rasa bersalah. "Tidak. Bukan begitu," tukas Fais cepat. "Tapi kamu tidak kelihatan menikmati makanan yang kumasak." "Bukan salahmu." "Maksudmu?" "Sudahlah, nanti kamu tanya Suyi saja. Dia akan menjelaskan semuanya." Zahra beranjak dengan pundak yang jatuh, ia mengambil nampan dari pangkuan Fais dan menyatukan piring kotor itu dengan makan siang Fais yang tak tersentuh di atas meja. "Terima kasih," kata Fais sebelum Zahra berbalik meninggalkan ruangan. Gadis itu menggeleng menanggapi ucapan Fais barusan, ia lalu menunduk lebih dalam, seolah sedang mengatakan bahwa dialah yang seharusnya berterima kasih. Kemudian, sebelum pergi, ia mengisyaratkan agar Fais menutup jendela karena hari sudah mulai gelap. Fais hanya mengangguk mengiyakan. Setelah Zahra menghilang dibalik dinding triplek, ia pun beranjak dan melangkah keluar kamar. Tubuhnya jadi terasa agak bertenaga, setidaknya, ia tak merasa sangat lemas seperti beberapa saat yang lalu. "Mau kemana, Fais?" suara Suyi mengagetkan Fais. Ia menemukan wanita itu sedang tersenyum dan berdiri di depan pintu kamar yang tepat berada di samping kamarnya. "Tidak ada. Saya cuma mau jalan-jalan sebentar," jawab Fais pelan. "Kamu tidak mau mandi dulu?" tanya Suyi lagi. "Penciumanmu juga tak berfungsi, kan? Jadi kamu mungkin tak tahu bahwa saat ini bau badanmu sangat tidak enak." Wajah Fais langsung berubah warna seperti udang rebus yang berasap. Ia baru sadar, perkataan Suyi benar sekali, dia sudah tak mandi berhari-hari lamanya. Dan... tadi dia bahkan duduk bersebelahan dengan Zahra. Gadis itu pasti sebenarnya merasa sangat tidak nyaman. Suyi tertawa melihat reaksi Fais, sampai-sampai ia kesulitan meredakan tawanya sendiri. "Ah... ya ampun. Maafkan saya," katanya di sela gelak tawa. "Saya hanya bergurau. Saat kamu tidak sadarkan diri, saya meminta Kenma untuk mengganti pakaian dan mengelap badanmu... tentu saja dia tidak membasuh bagian yang private. Kamu tidak perlu berwajah seperti itu." Lagi-lagi Suyi terkekeh ketika melihat ekspresi Fais yang kembali panik. "Ka-kalau begitu saya pinjam kamar mandinya..." Fais tergagap sambil menghindari tatapan Suyi. Saat ini rasanya ia ingin mencari lubang dan bersembunyi di sana selama-lamanya. "Kamu yakin? Di sini tidak ada kamar mandi di dalam rumah, kamu harus berjalan agak jauh ke sumur di belakang kebun. Hari juga sudah gelap, kami hanya memiliki obor sebagai penerangan. Dan kamu juga harus menimba airnya, saya tidak yakin kamu bisa melakukannya dengan sebelah tangan saja." "Tapi..." Fais benar-benar malu, ini pertama kalinya ia merasa disulitkan karena telah kehilangan fungsi penciumannya. "Tenang saja, kamu tidak berbau apa-apa. Tadi saya cuma bercanda." Suyi menenangkannya. "Kenapa? Kamu khawatir dengan kesanmu di mata Zahra?" Napas Fais tertahan karena pertanyaan yang sangat mengena itu. "Wanita ini benar-benar..." gerutunya dalam hati, tapi ia bahkan tak mampu menyambung kalimatnya sendiri. "Permisi," tegasnya sambil langsung berbalik dan melangkah meninggalkan Suyi. "Pergi ke arah kanan, ya. Jangan terlalu jauh, hari sudah gelap, nanti kamu tersesat," terdengar suara Suyi memperingatkan dari belakangnya. Tapi Fais hanya membalasnya dengan lambaian tangan singkat tanpa menoleh. Orkestra malam yang didominasi oleh suara jangkrik langsung menyambutnya ketika ia berada di luar rumah. Dibalik pagar kayu, ada jalanan berbatu yang menjadi jalan utama di desa ini. Fais melanjutkan langkahnya keluar pagar dan menyusuri jalan di sebelah kanannya. Ia tak tahu kenapa Suyi menyarankan untuk mengambil jalan ini, tapi mungkin arah ini yang lebih aman saat malam hari. Bulan separuh di langit Eyja cukup untuk menerangi malam, mereka tak punya lampu, bahkan di rumah Suyi tadi hanya ada beberapa obor bambu sebagai penerangan. Pulau kecil ini sangat tenang, Fais bahkan bisa mendengar langkah kakinya di atas jalan tanpa aspal itu. Tak ada suara klakson mobil atau musik keras. Sebagai gantinya adalah suara nyanyian serangga malam dan tawa orang-orang yang berkumpul di teras rumah kerabat dan temannya. "Suyi memintamu mengikutiku?" tanya Fais tanpa menoleh. Sejak tadi ia sudah menyadari bahwa ada seseorang yang berjalan tanpa suara di belakangnya. Kenma. Lelaki itu seperti ninja, ia sigap bersembunyi saat menyadari kemungkinan ia masuk dalam jarak pandang Fais. "Kamu tak perlu repot-repot, aku tidak akan lompat dari tebing," sambung Fais lagi sambil berbalik dan berhadapan dengan Kenma yang telah menampakkan diri tak jauh di belakangnya. Fais mengumbar senyum pada lelaki tinggi besar yang berdiri tanpa ekspresi di kegelapan itu. Tiba-tiba perhatian mereka teralihkan ke ujung jalan yang ada di belakang Kenma. Dari sana terdengar langkah-langkah kaki di atas jalan berbatu tanpa penerangan. Samar mulai tampak sekelompok anak laki-laki berkain sarong dan berpeci sedang menuju ke arah yang sama dengan yang akan Fais lalui. Mereka berjalan bergerombol dengan salah seorang wanita yang membawa lampu petromax[21] dan memimpin jalan. "Kenma, ikut ngaji?" tanya beberapa orang anak ketika mereka melintasi Kenma. "Tidak. Jadwalku hari Rabu," jawab Kenma. Saat bicara, ia hanya menggerakkan bibir dan bola matanya. Lelaki itu terlihat sangat kaku bak seorang prajurit militer. "Eeh...? Serius? Hari Rabu yang mengajar ngaji Pak Wijaya, kan? Dia itu galak banget." "Tapi Kenma kan juga galak." "Betul! Kalau mereka berantem siapa yang menang, ya?" "Pasti pak Wijaya." "Hei, sudah cepat. Nanti terlambat." wanita yang memegang lampu menyela obrolan anak-anak itu. "Lagipula, kenapa kalian malah ingin melihat Kenma dan Pak Wijaya berkelahi? Itu nggak baik." Rombongan anak-anak itu pun mengucapkan berbagai kalimat alasan dan pembelaan, tapi sambil masih mengoceh, mereka tetap melanjutkan langkah melewati Fais. Rata-rata tinggi mereka hanya sepinggang Fais, ketika melintas di sampingnya, mereka hanya menatapnya sekilas tanpa memperlambat langkah. Tapi setelah berada tak jauh dari Fais, mereka mulai saling berbisik. "Itu orangnya, kan?" "Iya, yang diselamatkan ayahnya Levi." Hanya beberapa kalimat yang berhasil didengar Fais, tapi ia tak begitu menghiraukannya sampai saat ia menyadari bahwa ada satu anak yang tertinggal. Ia lebih pendek dibandingkan anak yang lainnya, berdiri di samping Fais dan mendongak menatapnya penasaran. Fais menurunkan dagunya dan membalas tatapan anak itu. Ia sadar bahwa kesannya di mata orang Eyja tak begitu baik, maka ia siap menghadapi apapun yang akan dikatakan anak ini kepadanya. "Levi, ayo cepat," panggil wanita berselendang putih yang memimpin rombongan itu. Namun ketika melihat bahwa anak yang dipanggil tak berpaling sedikitpun dari Fais, wanita itu sadar bahwa si anak tak akan mendengarkannya. "Reno, tolong bawakan lampunya. Kalian pergi duluan saja ya," katanya pada salah seorang bocah yang tubuhnya paling tinggi. Setelah menyerahkan lampu dan meminta mereka berhati-hati, wanita itu menghampiri anak bernama Levi yang sedang berhadapan dengan Fais. Ia berdiri di belakang Levi sambil memegangi kedua pundaknya. Wanita itu kemudian tersenyum, ia baru saja ingin mengatakan sesuatu sebelum anak bernama Levi itu menyela. "Terima kasih," kalimat Levi membuat mata Fais melebar tak percaya. "Karena menolongmu, ayahku jadi bisa ke surga," sambung anak itu lagi. Bibir Fais merenggang dan ia hanya bisa tergagap berusaha menemukan kata-kata untuk merespon. "Kata Pak Guru, surga itu adalah tempat yang paling diidamkan semua orang. Tapi untuk bisa kesana nggak gampang, banyak yang tersesat. Iya kan, Bunda?" Levi menatap wanita yang ia panggil bunda itu untuk meminta persetujuan. Ketika sang bunda tersenyum dan mengangguk, Levi kembali melanjutkan, "Tapi ada orang-orang tertentu yang bisa ke surga dengan cepat dan mudah. Tuhan menyediakan kendaraan khusus supaya cepat sampai. Katanya, kalau menyelamatkan nyawa orang, kita bisa naik kendaraan itu." Fais masih mematung tanpa bisa berkata-kata, dan sekujur tubuhnya seolah mendadak kaku saat senyum lebar muncul di wajah polos bocah itu. "Makanya, terima kasih. Karena kamu, ayahku jadi dapat tiket ekspres menuju surga," serunya riang, begitu cemerlang, begitu tulus dan tanpa dendam. Seolah sesuatu telah mengambil alih seluruh ruangan di rongga d.a.d.a Fais, tangannya mengepal dan mulutnya terasa kering. "Sa-sama-sama," kata Fais akhirnya. Ia berusaha keras menyembunyikan getaran di suaranya. Senyum di wajah bocah bernama Levi itu semakin merekah, ia lalu merentangkan tangannya bak pesawat terbang dan berlari ke arah teman-temannya yang sudah lebih dulu pergi. "Levi, jangan lari-larian. Hati-hati!" Bundanya setengah berteriak memperingatkan. Meski Levi menyahut dan meng-iya-kan, tapi ia sama sekali tak memperlambat larinya. "Saya...," gumam Fais saat Levi sudah menghilang dari pandangan mereka, "saya minta maaf," sambungnya lagi sambil menunduk di hadapan wanita itu. Fais yang telah diselamatkan, Fais yang telah menyebabkan wanita ini menjadi janda dan anak itu menjadi yatim, tapi Fais juga yang kemarin mengatakan bahwa ia tidak pernah minta diselamatkan. Bagaimana mungkin sekarang malah dia mendapatkan ucapan terima kasih dari mereka? "Anda sudah dengar perkataan Levi, kan? Anda tidak perlu meminta maaf, saya yakin suami saya telah mendapatkan tempat yang paling indah di sisi-Nya," jawab wanita itu tegar. "Kehidupan yang sebenarnya adalah setelah kematian, dan suami saya sudah menyelesaikan apa yang harus ia lakukan di dunia ini. Ketika Tuhan mengambil nyawanya dan memberikan Anda kesempatan hidup yang kedua, itu berarti masih ada yang harus Anda lakukan," sambungnya sambil tersenyum meski Fais saat ini sama sekali tak menatapnya. Pemuda itu hanya menekuk wajah dalam-dalam, seolah merasa tak pantas bertatap muka dengan sosok di hadapannya. Wanita bersahaja itu lalu mengusap pipinya yang sudah basah, masih dengan senyum yang tulus melekat di wajahnya. Ia menyaksikan sendiri, ada setetes air yang jatuh ke atas tanah dari wajah lelaki yang masih tertunduk itu. Ia pun segera paham bahwa Fais saat ini tak akan mampu mengatakan apa-apa untuk menanggapinya. "Saya percaya, nyawa yang diselamatkan suami saya tidak akan sia-sia. Tolong, mulai sekarang jaga diri Anda baik-baik," ujar wanita itu kemudian. Fais tak bisa membalas satu patah katapun, ia bahkan tak bisa mengangkat wajahnya saat wanita itu mulai melangkah pergi menuju ke arah rombongan anak-anak tadi menghilang. Ia hanya terpaku di tempatnya berdiri, memandangi permukaan tanah di hadapannya sambil memikirkan semua yang baru saja ia dengar. Berpikir bahwa mungkin... ia baru saja diberikan alasan oleh ibu dan anak itu untuk kembali melanjutkan hidupnya. . _______________ [21] Petromax adalah nama sebuah merk dagang (brand) dari lampu berbahan bakar minyak bertekanan. Bahan bakar bisa berupa parafin, kerosin, atau spirtus.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN