Kenma mengamati Fais yang baru saja masuk kembali ke dalam rumah Suyi. Tapi Kenma tidak mengikutinya. Ia berputar balik dan berbelok ke arah jalan setapak menuju ke sepetak lahan kosong yang biasa digunakan sebagai pasar Jumat oleh penduduk Eyja.
Seminggu sekali, orang-orang Eyja akan berkumpul di lahan yang cukup luas itu, menjajakan apapun yang mereka punya. Dimulai dari hasil panen, hasil tangkapan ikan, hewan ternak, hingga ke pakaian ataupun barang-barang bekas yang ingin mereka jual. Proses jual-beli bisa menggunakan uang atau barter, tergantung kesepakatan antara penjual dan pembeli.
Di malam hari, kadang ada beberapa pemuda yang suka duduk-duduk di pinggir lahan kosong yang biasa mereka sebut sebagai lapangan itu, sekedar untuk saling bertukar cerita, bercanda dan sebagainya.
Ketika Kenma tiba, hanya ada sekitar 4-5 orang pemuda yang sedang asyik duduk di teras rumah, tak jauh dari lapangan. Tapi Kenma memilih untuk berdiri di bawah pohon sambil mulai menyalakan rokoknya. Sebenarnya ia sangat jarang merokok, selain karena Suyi yang cerewet soal kesehatan, juga karena rokok termasuk barang yang sulit didapatkan.
Namun di saat-saat seperti ini, ia tak akan bisa bersikap tenang jika tidak merokok. Itu karena seseorang yang telah menunggunya di balik pohon akan menyampaikan pesan penting dari Sanctuary.
“Kenapa dia belum mati?” tanya suara dari balik pohon. Mereka bicara tanpa saling berhadapan, tapi sepertinya itu adalah hal yang lazim bagi para Warriors yang ingin menyampaikan pesan rahasia pada rekannya yang sedang menjalankan misi.
“Suyi menyadari rencanaku,” jawab Kenma sambil menghembuskan asap rokok dari mulutnya, “dan kondisinya juga sudah semakin membaik. Itu membuatku jadi tidak bisa sembarangan bertindak.”
“Kau terlalu banyak mengulur-ulur waktu. Jika kau langsung membunuhnya saat kondisinya masih sangat lemah, tugasmu pasti sudah selesai sekarang.”
“Jangan salah paham,” tukas Kenma tanpa terburu-buru, “tugasku adalah menjaga Suyi. Membunuh orang itu hanyalah misi tambahan yang sebenarnya masih harus dipertanyakan.”
“Apa maksudmu dipertanyakan? Kau ingin membangkang?”
“Kau adalah seorang Exorcist. Seharusnya kau tidak mencampuri urusan Death Angel.” Kali ini Kenma langsung pada intinya. “Jujur saja, aku masih ragu apakah tugas yang kau berikan ini benar berasal dari petinggi Sanctuary.”
“Jangan main-main, Hades!”
Lawan bicara Kenma akhirnya menunjukkan wajahnya. Ia adalah Ben, si Pengendali Hewan. “Kau tidak punya alasan untuk mencurigaiku. Hanya karena kebetulan kita menjalankan misi di lokasi yang sama, makanya aku sampai harus repot-repot menyampaikan pesan padamu.”
“Aku memang tidak perlu alasan untuk mencurigaimu. Sejak dulu, Exorcist selalu memandang rendah 3 unit Warriors lainnya. Kalian selalu merasa superior dan selalu mencari-cari kesempatan untuk menertawai kesalahan kami. Aku curiga, jangan-jangan misi tambahan ini diberikan padaku, hanya karena kalian, para Exorcist, ingin membebankan tanggung jawab kalian padaku. Walau bagaimanapun, dia bisa lolos dan diselamatkan oleh orang Eyja itu kan karena kelalaian kalian.”
“Kau benar-benar ingin menguji kesabaranku, ya?!” Ben mulai menghardik marah. “Apa aku harus menyeret Shimon atau Benjamin ke sini agar kau percaya bahwa misi ini asli?! Mereka ingin kau yang menghabisinya karena saat ini kau yang berada paling dekat dengannya.”
“Terserah mau bilang apa, pokoknya aku tak bisa mempercayaimu sepenuhnya. Misi tambahan ini hanya akan kulakukan jika keadaannya memungkinkan, tapi jika tidak, mohon maaf sepertinya kau sendiri yang harus turun tangan. Permisi.”
Kenma baru saja balik kanan untuk meninggalkan Ben tapi Ben tak membiarkannya pergi begitu saja.
“Kau akan menyesali keputusanmu ini!” ancam Ben sambil mulai melangkah mendekati Kenma. “Aku tahu kau sudah tidak fokus lagi dengan misimu. Kau terlalu dekat dengan Suyi." Ben mengecilkan volume suaranya, nyaris berbisik. "Tapi biar kuberi tahu. Dalam waktu dekat, tempat ini akan rata dengan tanah. Percuma saja kau melindungi Suyi, keputusannya sudah ditetapkan. Tak ada lagi yang bisa digunakan di Eyja. Pulau ini tidak cukup berharga untuk dipertahankan. Jadi semuanya akan dibunuh, termasuk Suyi.”
“Oh… itu bagus.” Kenma menghisap habis rokoknya sambil lalu menjatuhkan puntung rokok itu ke tanah dan menginjaknya. “Itu berarti tugasku akan selesai dan aku bisa segera pulang. Ada lagi yang ingin kau sampaikan?”
Untuk beberapa saat mereka hanya saling menusuk dengan tatapan tajam mereka masing-masing. Ben tampak kesulitan mengendalikan keinginannya untuk meninju wajah Death Angel yang ada di hadapannya itu.
“Sepertinya kau senang ya main-main di Eyja. Berpura-pura hidup normal sebagai penduduk kampung,” cemooh Ben kemudian. “Kau seperti amatir yang terbawa suasana saat menjalankan tugas. Apa aku harus mengingatkanmu lagi? Suyi itu bukan keluargamu. Jadi berhentilah bermimpi.”
Kenma mendengus sinis sambil menahan tawanya. “Harus kuakui, apa yang kau katakan itu benar sekali. Jujur saja, misi kali ini sangat menyenangkan. Aku suka sandiwara kekeluargaan ini. Aku sangat menikmatinya,” balasnya santai. “Jika kau sudah paham, aku minta maaf ya, aku harus segera kembali karena ada yang menungguku di rumah. Sampai jumpa.” Kali ini Kenma benar-benar berlalu pergi tanpa menoleh lagi.
“Lihat saja nanti, aku akan membuatmu menyesal!” Teriakan Ben hanya dibalas dengan punggung tangan Kenma yang melambai singkat sambil lalu.
***
"Kita tidak bisa terus berada di Quarter," kata Zidan pada rapat dadakan pagi ini, sebelum semua Armour menjalankan aktivitas masing-masing ia meminta mereka semua berkumpul di ruang rapat.
"Kita tidak seharusnya terlalu bebas keluar masuk Quarter lagi. Orang-orang sudah mengenali kita, Ai dan Ariel adalah mahasiswa SSU – jadi mungkin tidak masalah, tapi akan sangat mencurigakan bagiku dan yang lainnya jika setiap hari kita terlihat berada di SSU. Lagipula, besar risikonya kita akan diikuti saat menuju ke Quarter. Kita tidak mungkin membiarkan hal itu terjadi," sambungnya lagi.
"Kalian lakukan saja kegiatan seperti biasa. Tapi, jika tidak terlalu penting, lebih baik kita tidak ke Quarter. Untuk sementara, kembali saja ke rumah masing-masing, kita akan berkomunikasi melalui alltech. Jaga diri kalian baik-baik," tutup Zidan kemudian.
Ai dan yang lainnya tidak berniat untuk protes sama sekali. Mereka sangat setuju dengan Zidan. Setelah kemarin Zen membuat pengumuman bak serangan pagi itu, dampaknya langsung dapat dirasakan oleh para Armour. Niya dan Zidan ditanyai mengenai teori, strategi dan seni perang hampir setiap kali mereka bertemu dengan rekan kerjanya. Untungnya Zidan tahu sedikit mengenai hal itu dari hobinya membaca. Sedangkan Niya, ia lebih banyak menghindar dengan mengatakan bahwa ia tak bisa cerita terlalu banyak dan akhirnya memohon agar mereka tidak terlalu mengungkit permasalahan Armour saat ia sedang bertugas sebagai guru.
Kevin menjadi lebih populer dari sebelumnya, anak-anak perempuan di sekolahnya bahkan membentuk fans club untuknya. Ia tak bisa pergi kemanapun tanpa diikuti oleh salah seorang dari mereka. Sedangkan Nda, ia mengaku tidak banyak yang berubah. Kelompok yang sering mem-bully-nya masih juga melakukan hal yang sama, dan yang lainnya tidak bereaksi terlalu berlebihan melainkan hanya sedikit bertanya-tanya tentang Kevin dan Fais.
Ai dan Ariel juga tidak berbeda. Orang-orang berbisik saat melihat mereka, sebagian lagi nekat melancarkan catcalling memanggil-manggil nama Ai sambil sesekali bersiul, bahkan tak jarang mereka memberi celetukan seperti: "Kerja yang benar, ya. Jangan malas-malasan."
Bagi Ai, itu tidak terlalu mengganggu. Meski respon orang-orang beragam, tapi sebagian besar cukup positif. Tiara adalah satu di antara sedikit dari mereka yang memberi respon negatif.
"Bagaimana pemerintah memilih anggota Armour?" Gadis itu masih belum berhenti mengomel di hadapan Ai sejak 15 menit yang lalu, tepatnya sejak mereka menemukan meja kosong di kantin. Meski merasa kurang puas dengan kenyataan bahwa Ai lebih istimewa dari dia, tapi Tiara masih betah berada di dekat Ai karena memang dia tidak punya teman lain.
"Apa tidak diadakan seleksi terbuka? Kenapa tidak ada yang tahu tiba-tiba sudah ada tujuh orang Armour, padahal masih banyak orang lain yang bisa saja jauh lebih berbakat dari para anggota Armour itu."
"Seperti kamu, misalnya?" sambar Ai yang mulai tidak sabar.
"Ya, bukan aku juga sih, pokoknya bisa saja kan ada orang lain yang sebenarnya..."
"Entahlah, Tiara, aku juga tidak pernah memaksakan diriku untuk dipilih. Semuanya terjadi begitu saja."
"Tapi katanya kamu dan yang lainnya sudah menjalani pelatihan selama bertahun-tahun."
"Iya, terus?"
"Kapan? Rasanya aku tidak pernah tahu."
"Kamu kan tidak bersamaku selama 24/7."
"Jadi selama ini kamu merahasiakan itu dariku? Diam-diam?"
"Memangnya kamu tidak merahasiakan apapun dariku?"
Lagi-lagi kalimat pamungkas Ai berhasil membuat Tiara terdiam. Dalam hati, gadis itu mulai berpikir bahwa selama ini Ai selalu pintar membuatnya kehilangan kata-kata. Ai memang tidak secerdas Tiara dalam hal akademis, namun ada sesuatu di diri Ai yang membuatnya terlihat begitu sulit didekati. Seolah Ai mampu membungkam siapa saja, bahkan sebelum orang itu melancarkan serangan pertama.
"Lagipula, memangnya apa saja yang sudah kalian lakukan untuk negara? Aku yakin biaya yang dikeluarkan untuk Divisi-7 tidak sedikit," Tiara tampaknya tidak mau bersusah payah menyembunyikan kecemburuannya kali ini.
"Apa keenam Divisi lainnya membuat laporan kepadamu tentang apa saja yang sudah mereka lakukan untuk negara?" Ai jadi semakin ketus menanggapi Tiara.
Gadis itu kemudian tergagap dan mulai tampak pucat. "Te-tentu saja tidak," balasnya.
"Kalau begitu kenapa hanya kami yang dituntut untuk membuktikan diri dengan membeberkan apa saja yang sudah kami lakukan untuk negara?"
"Bukan begitu, aku hanya..."
"Jika kamu meragukan kegunaan Divisi-7, kenapa tidak langsung protes pada pemerintah? Aku tidak punya tanggung jawab apapun untuk meladeni semua keluh kesahmu." Ai berdiri sambil menyandang tasnya bermaksud untuk meninggalkan Tiara dan mencari meja lain. Dia tidak tahu kenapa hari ini emosinya lebih mudah tersulut. Biasanya ia tidak memperlakukan Tiara sekasar ini.
"Kamu mau kemana? Sorry, kalau aku menyinggungmu." Tiara memelas sambil menangkupkan tangannya.
Tapi Ai sudah terlanjur jengkel. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling kantin untuk mencari meja kosong yang jauh dari Tiara, dan kebetulan menemukan Ariel sedang duduk bersama beberapa temannya di meja dekat jendela. Namun di saat yang bersamaan, matanya menangkap sosok Hagi yang baru muncul di mulut pintu kantin. Jantung Ai berdegup semakin kencang dan sesuatu seolah mendidih di balik pembuluh darahnya.
"Ah, itu Hagi," seru Tiara sambil melambaikan tangannya tinggi-tinggi agar Hagi melihatnya. "Ai, di sini saja. Sudah lama kita tidak makan siang sama-sama, kan?"
Hagi menemukan Tiara di antara keramaian kantin siang itu, matanya kembali bertemu dengan Ai dan ia langsung membatalkan senyum yang baru saja akan merekah di wajahnya.
Ai tahu, Hagi tidak ingin melihatnya di situ.
Kursi Ai bergesekan dengan lantai dan menimbulkan suara yang cukup keras saat ia buru-buru meninggalkan meja. "Aku ada urusan dengan Ariel, kamu habiskan saja waktumu dengan Hagi," katanya sambil lalu.
Ai mempercepat langkahnya mendekati meja Ariel, rasanya ia ingin berteriak memaki dirinya sendiri. Kekanakan sekali.
Dilihat bagaimanapun, sebaris kalimat penutup Ai tadi secara tidak langsung ingin menunjukkan kepada Tiara bahwa Ai tidak suka melihat Tiara lebih dekat dengan Hagi. Ai juga menyebut nama Ariel seolah ingin menunjukkan bahwa sebagai seorang Armour, Ai memiliki hal lain yang lebih penting dibandingkan menghabiskan waktu dengan mereka, bahwa Ai punya kesibukan sendiri dan dia tidak apa-apa meskipun Tiara dan Hagi bersenang-senang tanpanya. Bukankah itu persis seperti tingkah bocah yang sedang ngambek?
"Ariel, bisa bicara sebentar?" sapa Ai saat ia sudah sampai di meja Ariel.
Dua orang cewek dan seorang cowok yang sejak tadi mengobrol dengan Ariel tampak kaget melihat kedatangan Ai.
"Ah... kalau begitu kami permisi dulu." Mereka memberi anggukan kecil pada Ai sambil mulai beranjak dan meninggalkan meja.
"Jangan lupa nanti sore, ya." Ariel setengah berteriak mengingatkan sebelum mereka semakin menjauh. Ia lalu menghela napas dan akhirnya memindahkan perhatiannya pada Ai.
"Kamu baru saja menggerutu karena aku sudah m*rusak acaramu, kan?" kata Ai sambil mengambil tempat duduk tepat di hadapan Ariel.
"Syukurlah kamu sudah sadar tanpa perlu kukatakan," balas Ariel agak kesal. "Dengar ya Ai, kalau setiap ada masalah dengan Hagi kamu selalu menjadikanku tameng, lama-lama dia akan semakin membenciku dan aku akan semakin susah dapat pacar."
"Kelihatannya kamu menikmati ketenaranmu." Mata Ai memicing seperti sedang melakukan X-ray pada lawan bicaranya. "Kamu senang kan Zen mengumumkan identitas kita?"
"Yah... sedikit banyak, aku merasa diuntungkan. Kapan lagi, coba?"
"Dia sengaja melakukan itu untuk membatasi gerakan kita."
"Tapi aku malah merasa lebih leluasa setelah semua orang tahu."
"Leluasa bergerak di bawah kendalinya, di luar itu, kita sama sekali tidak bisa apa-apa." Ai nyaris menggebrak meja saking kesalnya.