Chapter IX.5

1985 Kata
"Leluasa bergerak di bawah kendalinya, di luar itu, kita sama sekali tidak bisa apa-apa." Ai nyaris menggebrak meja saking kesalnya. "Coba pikir, karena mendadak menjadi pusat perhatian sekarang kita tidak bisa lagi bebas keluar-masuk Quarter, orang-orang yang mengikuti kita secara tidak langsung sudah menjadi kamera CCTV untuk mengamati pergerakan kita. Kita juga tidak bisa leluasa menemui Syafira karena sedikit saja kita membuat pergerakan bisa menjadi berita yang disiarkan di berbagai media. Belum lagi sekarang Zidan mendadak sibuk dengan berbagai permintaan menjadi pemateri kuliah, seminar dan sejenisnya. Kita hampir tidak ada waktu untuk menyusun rencana. Apa sekarang kamu sudah mengerti bagaimana cara Zen mengunci kita?" Ariel mematung selama beberapa saat sebelum akhirnya ia menggaruk-garuk tengkuknya. "Iya sih... aku tahu Zen nggak mungkin berbuat sesuatu cuma untuk menyenangkan hati kita. Tapi kupikir nggak ada salahnya sedikit menikmati keadaan. Hehe..." Ia nyengir di akhir kalimatnya untuk menutupi rasa bersalah. "Sorry..." tambahnya lagi. Ketegangan di pundak Ai mulai luntur mendapat reaksi polos dari Ariel. Ia pun menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. "Aku mengerti kalau kamu ingin sedikit bersantai, situasinya memang terasa sangat menenangkan. Tapi aku ingin kamu tidak kehilangan fokus, kondisi tenang seperti ini justru bisa menghanyutkan dan membuat kita lengah. Kamu lihat berita tadi malam?" "Ah... Zidan dan Niya juga sudah memberitahuku, soal anggota Dewan Rakyat dipecat," Ariel langsung paham dan menyambung pembicaraan dengan baik. "Beritanya dikeluarkan di malam hari," lanjut Ai, "dan hanya sedikit media yang meliput. Bahkan pagi ini tidak banyak yang membahas tentang pengumuman penting tadi malam. Padahal keputusan yang diumumkan itu sangat kontroversial. Zoire harusnya tidak boleh mengintervensi Dewan Rakyat, tapi tiba-tiba saja muncul keputusan Zoire yang disetujui Hakim Agung, Perdana Menteri dan Panglima negara untuk memecat dua anggota Dewan Rakyat sekaligus. Secara tidak langsung dia sudah m*rusak demokrasi. Sekarang Zoire seolah bisa melakukan apa saja sebagai pemegang kekuasaan tertinggi tanpa ada yang berani mengintervensi." "Zoire sudah bergerak," simpul Ariel, "sedikit demi sedikit dia ingin menyingkirkan Sanctuary." "Jika memang Zoire ingin menyingkirkan benalu di Ivory Palace dan kembali memimpin Avalon tanpa campur tangan Sanctuary, kurasa kita harus memberikan dukungan untuknya," tambah Ai. Tepat setelah Ai mengakhiri kalimatnya, terdengar kasak-kusuk dari sekitar mereka, perhatian orang-orang teralihkan ke layar TV di dua sudut kantin yang saling berseberangan. Wajah yang tak asing bagi Ai muncul di layar TV, wanita berambut pirang yang terikat rapi di bagian atas kepalanya. Ada mahkota kecil tersemat di ikatan rambutnya itu. Ini pertama kalinya ia muncul di depan publik setelah bertahun-tahun lamanya. Dialah sang pemimpin Avalon, darah terakhir kerajaan Avalon. Putri Shura, atau rakyat Avalon biasa menyebutnya Lord Zoire. "Selamat siang, Rakyat Avalon." Suara yang begitu tenang dan menghanyutkan. Wanita itu mampu membuat seisi kantin mendadak hening hanya dengan sebaris kalimat pembuka saja. Seolah terhipnotis dengan auranya, semua orang menghentikan apapun yang sedang mereka lakukan dan memusatkan perhatian mereka ke layar TV. Saat ini, bukan hanya di kantin SSU, tapi wajah Zoire sudah muncul di setiap screen yang tersambung ke satelit milik Avalon, ditayangkan di seluruh stasiun TV dan videotron berbagai ukuran yang tersebar di setiap penjuru Avalon. Zoire tampak begitu agung duduk di singgasananya dengan seorang wanita berseragam berdiri di belakangnya, Kapten Divisi-1, Yesha. "Mungkin kalian tidak mengenalku, oleh sebab itu aku akan memperkenalkan diri." Zoire melanjutkan kalimatnya. Orang-orang yang melintas di jalan mulai memperlambat langkah atau bahkan berhenti tepat di depan videotron di gedung-gedung kota, penasaran tentang siapa wanita yang sedang bicara kepada seluruh Avalon itu. "Aku, Hizkia Ashura van Zaire Diart, atau mungkin kalian lebih mengenalku sebagai Zoire." Akhir kalimat Zoire membuat orang-orang menarik napas dan kembali berkasak-kusuk tak percaya bahwa yang ada di hadapan mereka saat ini adalah orang terakhir di dunia yang di pembuluhnya mengalir darah keturunan kerajaan Avalon, satu-satunya pewaris takhta yang tersisa. "Hari ini...," Zoire meninggikan intonasinya, mengubah suasana kembali menjadi hening, "kuputuskan untuk muncul di hadapan kalian setelah sekian lama membiarkan Luen di permukaan." Zoire mengambil jeda sejenak sebelum melanjutkan, "Karena saat ini Ivory Palace, Avalon, negeri yang kita cintai ini sedang terancam. Aku mulai kehilangan orang-orang yang bisa dipercaya. Termasuk Kapten Divisi-6 dan Divisi-7, serta Perdana Menteri sekaligus Panglima Avalon, Luendy Herman." Ai tak tahu kemana arah pembicaraan Zoire, tapi yang pasti, perasaannya sangat tidak enak. "Kali ini aku ingin membuat pengakuan," lanjut Zoire lagi. "Bahwa sejak dulu, ada tangan-tangan yang ingin merampas bumi Avalon. Mereka ada di antara kita, menyusup, menyelinap, menyusun rencana-rencana kotor untuk mengambil alih negara yang kita cintai ini. Mereka sudah menancapkan kuku di negeri ini dan menunggu saat yang tepat untuk merenggut semuanya dari tangan kita." Wanita itu bicara tegas tanpa getaran sedikitpun di suaranya. "Dewan Rakyat telah disusupi, untuk itu, mulai hari ini aku akan menyeleksi setiap anggotanya satu per satu. Luendy Herman, bekerja sama dengan saudari kandungnya yang sudah lama memimpin Eyja dan dibantu oleh Keilan Kiriyan yang sudah lama menjadi buron, ingin memperlemah Avalon dengan menyingkirkan ketujuh Kapten Divisi Pertahanan Avalon dimulai dari Kapten Divisi-6." Jantung Ai berdegup dua kali lebih cepat dari biasa, dadanya seolah akan meledak. Ia tidak mengerti, kenapa tiba-tiba Luen dituduh berkomplot dengan Suyi dan ayahnya. Pernyataan Zoire hari ini akan membuat ayahnya, Suyi dan Luen menjadi musuh negara. Ariel meraih tangan Ai dan menggenggamnya erat, seolah mereka sedang menghadapi goncangan yang sangat keras saat ini. Tatapan cemasnya bertemu dengan mata Ai, mereka sama-sama tak tahu harus melakukan apa selain mendengarkan Zoire sampai akhir. "Sebelumnya, Kapten Divisi-7 yang baru telah menyampaikan bahwa Faisal Fandika telah ditemukan dan sedang dalam masa pemulihan. Tapi aku tidak akan menyembunyikan apapun lagi dari rakyatku. Kalian semua berhak untuk mengetahui apa yang sudah terjadi di negara ini, Faisal Fandika telah gugur dalam tugas. Ia tewas ketiga bertugas untuk menyelediki pemberontakan di Eyja." Terdengar suara-suara napas yang tertahan di berbagai sudut kantin. Bahkan ada yang sudah mulai menangis termasuk Tiara. Tapi Ariel dan Ai tahu, itu semua bohong. Fais masih hidup di tanah Eyja. "Setelah kehilangan satu lagi Kapten kebanggaan kita, tentu saja kita tidak boleh tinggal diam," lagi-lagi Zoire meninggikan nada suaranya. "Kita akan menggempur Eyja dengan kekuatan penuh!" Genggaman tangan Ariel mengerat. Mata pemuda itu masih terpaku ke layar TV, namun sekujur tubuhnya gemetar menahan emosi. "Untuk itu, hari ini aku ingin mengumumkan…,” suara Zoire masih terdengar menggema ke seluruh penjuru negeri, “Yesha Gayatri akan menggantikan kedudukan Luendy Herman sebagai Panglima Avalon dan merangkap jabatan sebagai Kapten Divisi-1. Damian Gilbert, untuk sementara akan merangkap jabatan sebagai Perdana Menteri dan Menteri Keuangan. Wakil Kapten Divisi-6, Jose Lee, resmi diangkat menjadi Kapten Divisi-6. Posisi lainnya yang masih kosong akan ditetapkan selanjutnya. Fokus utama saat ini adalah persiapan untuk melucuti para pemberontak di Eyja. Sebisa mungkin kita tidak menginginkan jatuhnya korban, karena meski bagaimanapun Eyja adalah bagian dari kita." Yesha sedikit membungkuk untuk membisikkan sesuatu di dekat telinga Zoire dan dibalas oleh anggukan kecil Zoire. "Mulai hari ini aku akan lebih sering 'bertemu' dengan rakyatku. Aku ingin lebih dekat dengan kalian semua karena bagiku kalian lah orang-orang yang bisa kupercayai. Aku dan ketujuh Divisi Pertahanan Negara berjanji, sehelai rambut pun... kami tidak akan membiarkan para pemberontak menyentuh rakyat Avalon. Tidak perlu takut! Bersama-sama kita bisa melewati masa krisis ini. Mari kita tunjukkan bahwa kita adalah satu kesatuan dan siap mengusir siapapun yang ingin mengancam keamanan negara. Mari kita pastikan, gugurnya kedua Kapten terdahulu tidak sia-sia. Para pemberontak Eyja akan membayar kehilangan yang kita rasakan hari ini. VIVA AVALON!" Layar TV mendadak hitam setelah kalimat penutup Zoire. Selama beberapa detik Avalon masih diliputi suasana hening, hingga akhirnya, perlahan suara-suara mulai kembali terdengar. Orang-orang mulai saling menenangkan dan saling berpelukan disertai dengan tangisan dan suara-suara marah beberapa orang lainnya. Media sosial ramai, dibanjiri kata-kata penyemangat dengan tagar #AvalonTidakTakut #RakyatSiapBerjuang #AyoLawan dan #RIPKaptenFaisal. Zoire telah berhasil mendapat dukungan penuh dari rakyat Avalon dan menjadikan Eyja sebagai lahan perang. Meski alasannya adalah menghabisi pemberontak, tapi sesungguhnya ia hanya ingin menghabisi Suyi dan yang lainnya, termasuk Fais yang masih berada di pulau itu. Ai mengalihkan pandangannya kembali kepada Ariel yang masih menggenggam tangannya di atas meja itu. Matanya sudah basah, menatap Ai dengan kecemasan yang luar biasa. "Apa yang harus kita lakukan?" pertanyaan yang meluncur dari bibir Ariel juga merupakan pertanyaan yang sejak tadi berputar-putar di kepala Ai. Apa yang harus mereka lakukan? --- Zoire beranjak dari singgasananya dan melangkah meninggalkan lensa-lensa kamera yang masih mengarah kepadanya meski sudah off air. Yesha membantunya melepaskan beberapa atribut kebesaran yang sengaja ia kenakan untuk menunjukkan statusnya sebagai keturunan kerajaan Avalon yang terakhir. Mahkota yang seharusnya sudah lama ia kenakan sebagai Putri Mahkota kerajaan, jubah kebesaran milik ayahnya dulu, serta beberapa perhiasan millik ibunya yang masih tersimpan rapi dalam brankas yang berada di ruang penyimpanan rahasia milik mereka. Zoire mematung beberapa saat menatap ke arah kursi singgasana milik ayahnya yang saat ini ia tempatkan di kantor pribadinya itu. Segera, sebentar lagi, ia akan memindahkan singgasana itu ke aula Istana Utama dan duduk di atasnya. Memimpin Avalon tanpa ada kekuatan apapun yang bisa menghentikannya. "My Lord, baru saja ada telepon dari salah satu petinggi Sanctuary," Yesha melaporkan masih sambil melepaskan satu persatu gelang, anting dan cincin yang dikenakan Zoire. "Siapa? Shimon si penjilat itu?" tanya Zoire sambil mendengus sinis. "Bukan, My Lord. Namanya Benjamin, sepertinya ia adalah pimpinan tertinggi mereka yang ditempatkan di Avalon." Yesha mengambil jeda sejenak saat ia menyuruh para robot-maid dan robot-butler untuk menyusun kembali perhiasan-perhiasan ke dalam brankas. "Awalnya ia menelepon karena ingin protes terkait dengan keputusan Anda memecat beberapa anggota Dewan Rakyat. Tapi setelah mendengarkan siaran langsung barusan, sepertinya dia sangat senang. Dia memuji keberanian Anda untuk memerangi Eyja secara langsung dan menumpas habis para pemberontak. Dia ingin membuat janji agar bisa segera menemui Anda, My Lord." Zoire mendengus tertawa sambil mulai melangkah meninggalkan ruangan itu dan Yesha masih mengikuti di belakangnya. "Dia pasti ingin segera memastikan apakah kita benar-benar berada di bawah kaki Sanctuary atau pengumuman yang kita buat barusan hanya merupakan tipu muslihat untuk melawan mereka," tuturnya anggun. "Ulur saja waktunya sampai kita berhasil membubarkan Dewan Rakyat yang sekarang. Dalam tiga hari ke depan, pecat lagi 5 orang anggota, umumkan di malam hari, biarkan satu atau dua media menulis artikel tentang itu, tapi batasi untuk satu hari saja. Hari berikutnya jangan biarkan ada orang yang mengungkit soal pemecatan itu lagi." "Baik, My Lord." "Langkah selanjutnya kita akan mengumumkan hukuman mati Luen, lalu di saat yang bersamaan pecat beberapa orang lagi anggota Dewan Rakyat yang tersisa." "My Lord... Apakah hukuman mati untuk Mr. Luen perlu dilaksanakan?" "Tentu saja. Kita harus menunjukkan keseriusan dalam memerangi pemberontak. Itu akan memberikan rasa aman kepada rakyat dan membuat Sanctuary senang," sahut Zoire tanpa ada keraguan di suaranya. "Luen ingin menanggung hukuman itu, aku hanya mengabulkan keinginannya saja." "Tapi... Mr. Luen sudah mengabdi selama..." "Yesha..." Zoire menggantung kalimatnya dan hanya memberikan tatapan tajam sebagai peringatan. Hanya dengan gesture itu ia berhasil menghentikan apapun yang ingin dikatakan Yesha saat itu. "Maafkan saya." Yesha segera menunduk menyadari kesalahannya. "Dalam waktu dekat, siapkan militer AU dan AD di seberang Eyja sebagai ancaman." Zoire kembali melanjutkan instruksinya. "Beritahu Sir Zack untuk memperketat pengawasan di sekeliling Eyja agar tidak ada yang lolos. Di saat yang bersamaan, seluruh anggota Dewan Rakyat titipan Sanctuary sudah harus dipecat dan kita akan mengadakan pemilu sebagai formalitas. Pada akhirnya 20 orang yang menempati kursi di Dewan Rakyat harus berada di pihak kita. Dan semua itu harus bisa dilakukan dalam waktu satu bulan ini. Kamu mengerti?" "Saya mengerti." "Bagaimana menurutmu?" "Rencana yang sudah Anda susun sempurna, My Lord." "Hm..." Zoire menghentikan langkahnya sejenak untuk mengamati sosok wanita yang sedang berdiri sambil menundukkan pandangan di belakangnya itu. "Aku tidak butuh penjilat. Jika kau merasa ada yang kurang, katakan padaku." "Jujur, saya merasa tidak ada c-a-c-a-t dalam rencana Anda... My Lord. Tapi saya akan mencoba mengevaluasi ulang dan segera memberi tahu Anda jika menemukan kejanggalan." Zoire mengangkat dagunya dan berbalik untuk kembali melanjutkan langkah di koridor Istana Utama itu. "Lusa, panggil ketujuh anggota Armour untuk menemuiku. Atur saja waktunya." "Baik, My Lord." "Istirahatlah, Yesha. Kau terlihat lelah." Tanpa menoleh, Zoire mengibaskan jemari tangannya sambil lalu melangkah pergi, sebagai isyarat bahwa Yesha tak perlu mengikutinya lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN