“Rasanya senang sekali, mulai sekarang kita akan berburu serigala."
Senyuman di wajah Fais mulai berubah menjadi seringai yang menyeramkan, seolah memancarkan aura seorang pemburu yang haus darah.
Ini pertama kalinya Ai melihat ekspresi Fais sebahagia itu, sekaligus pertama kalinya Ai melihat matanya berkilat penuh gairah. Ya, Fais bukan hanya sedang merasa sangat senang, tapi juga sedang sangat "lapar". Ai memperingatkan dirinya sendiri, bahwa Fais adalah orang yang paling berbahaya.
Wajah para Armour lainnya juga tampak penuh antisipasi, bahkan Zidan terlihat sedikit lebih senang dari biasanya, ia merasa sudah lama tak melihat Fais sehidup itu. Sampai sekarang Ai masih belum mengetahui alasan kenapa Zidan bisa menjadi Armour yang paling loyal kepada Fais. Pasti di antara mereka pernah terjadi suatu hal yang membuat Zidan berhutang sesuatu pada si perfect prodigy yang sedang menyeringai itu.
"Apa rencana awal kita?" tanya Nda yang secara sempurna menyerap aura semangat Fais.
"Semangat yang sangat bagus," puji Fais sambil tersenyum lebar. "Aku sudah melakukan berbagai penyelidikan. Besok, Kevin dan Zidan akan menyusup ke rumah Kapten Divisi 6, Tama Hargiansyah."
Mendengar nama keluarga Hagi disebut, jantung Ai seolah dihantam benda keras. "Ada apa dengan keluarga Kapten Divisi 6?" tanyanya langsung pada Fais.
"Aku mendapat informasi bahwa Kapten Divisi 6-Polisi Avalon, terlibat dengan WoLf," terangnya sambil kemudian menatap Zidan. "Aku minta maaf, sepertinya kali ini kamu harus menggunakan kemampuanmu untuk mengumpulkan informasi. Cari barang yang paling memungkinkan untuk memberi informasi penting saat kamu melakukan psychometry. Setelah rapat ini, kamu dan Kevin ikut ke ruanganku, aku akan menjelaskan operasinya lebih rinci."
Ai menelan ludah penuh rasa gugup. Sejak Fais menyebut nama ayah Hagi, ia sudah merasa gelisah. Bagaimana mungkin? Padahal keluarga Hagi sangat baik, ia berharap ada kesalahan dalam penyelidikan Fais, semoga keluarga Hagi tidak benar-benar terlibat dengan WoLf.
"Ariel, besok ceritakan semua yang kamu lihat di mimpimu. Niya, standby saja di Quarter. Nda, kamu boleh pilih ikut tim Zidan atau ikut aku," kata Fais lagi.
"Memangnya Fais ke mana?" Nda balik bertanya dengan mulut yang masih mengunyah pizza.
Kali ini Fais mengalihkan perhatiannya pada Ai. "Aku dan Ai akan menjalankan misi penting. Dan kurasa aku juga akan membutuhkanmu, Ariel," ujarnya dengan senyum yang perlahan merekah di wajahnya. Kemudian apa yang ia katakan selanjutnya cukup untuk membuat wajah-wajah di ruangan itu terperangah dan diselimuti keheningan yang menegangkan.
"Kita akan ke Eyja."
***
"Cuma 1 hari ini, Bunda."
Ai memutuskan untuk menghubungi ibunya dan meminta izin sebelum berangkat ke Eyja. Makanya pagi ini ia langsung mengarang cerita agar wanita itu tidak kaget jika entah bagaimana mengetahui bahwa Ai tak berada di South City hari ini.
"Iya, kegiatan klub... tidak... tidak, Hagi tidak ikut. Kegiatan kali ini ke North City, berhubungan dengan tugas akhir Ai. Iya... ada lokasi bersejarah yang perlu didatangi langsung... Okay, iya. Baik. Jaga kesehatan, ya. Bye." Ai mengakhiri penjelasannya dan menutup VS. Dilepasnya chip kecil yang berfungsi sebagai headset di telinganya, lalu memasukkan benda tipis itu ke celah kecil di bagian kiri alltech-nya.
Gadis itu lalu menghela napas panjang sambil menyandarkan tubuhnya di kursi meja kerja, menatap langit-langit ruangan tanpa jendela tempat ia tinggal sekarang. Tak pernah terlintas dibenaknya, ia akan berada di suatu tim yang penuh dengan orang-orang berkemampuan hebat, tinggal di basement kampus, melaksanakan misi rahasia demi pemerintah, dan membohongi ibunya sendiri.
Tapi bagi Ai yang selama ini hidup dengan hanya mengikuti arus, tak ada salahnya menjadi Armour. Selain karena gajinya yang cukup menggiurkan, ia juga bisa mencari ayahnya dan menyudahi penantian ibunya. Sebenarnya sudah lama Ai merasa ingin melakukan sesuatu untuk membantu ibunya, tapi ia tak pernah bisa berbuat apa-apa. Hingga akhirnya ia diberi kesempatan ini.
Alunan nada yang terdengar lebih seperti alarm tiba-tiba berbunyi dari alltech di pegelangan tangan Ai. Ada video call dari Fais. Saat Ai menerima panggilan itu, wajah Fais langsung muncul di VS.
"Ke ruanganku sekarang, ada yang ingin kutanyakan," katanya singkat.
Ai beranjak setelah Fais menutup panggilan singkatnya. Sebelum keluar dari ruangan, ia menyentuh beberapa icon pada VS alltech-nya untuk mematikan AC dan meredupkan lampu.
Pintu ruangan Fais menggeser terbuka dan Ai langsung menemukan Ariel yang ternyata sudah menunggu bersama Fais sambil duduk di sofa putih ruangan itu. Ai mulai merasa ada yang tidak beres, wajah mereka berdua terlihat tegang tak seperti biasanya.
Tak ada yang bicara sampai Ai duduk di samping Ariel, di sofa panjang yang berhadapan dengan Fais. Lelaki sempurna yang mulai disadari Ai berbahaya itu kemudian menekan salah satu tombol yang ada di layar alltech-nya, meletakkan proyektor bulat pipih miliknya di atas meja, lalu gambar hologram 3D pun terproyeksi dari benda itu. Sosok virtual seorang lelaki yang tidak asing bagi Ai muncul di atas meja.
"Keilan Kiriyan. Buronan pemerintah. Kamu kenal dia?" tanya Fais datar. Ekspresi wajahnya terlihat dingin. "Ariel 'melihatmu' bicara dengan lelaki ini di Eyja."
Lelaki bermata teduh yang terakhir kali dilihat Ai tujuh tahun lalu itu tersenyum menatap ke udara kosong di depan Ai. Sosok virtualnya berkedap-kedip seperti kekurangan daya, Ai hampir saja lupa dengan wajah itu. Rasanya sudah lama sekali. "Ayahku," jawab Ai singkat.
"Kenapa dia bisa berada di Eyja?" Fais masih bertanya dengan intonasi yang sama.
"Aku juga tidak tahu."
"Anggota WoLf?"
"Itu juga yang ingin kuketahui."
Ruangan menjadi hening kembali setelah jawaban terakhir dari Ai. Sambil masih duduk menyilangkan kaki dengan tangan yang terlipat di depan dadanya, Fais menatap Ai penuh selidik.
Beberapa saat kemudian, Fais menghempas napas sebelum bicara. "Bagaimanapun juga, kita akan segera tahu setelah tiba di Eyja nanti. Nda memilih ikut tim Zidan, tidak masalah, kita tak terlalu membutuhkannya di Eyja. Lagipula, misi kita hanya menangkap seseorang yang terlibat dengan WoLf, lalu menginterogasinya di sini."
Ia menutup aplikasi proyektor lalu menekan satu-satunya tombol pada proyektor di atas meja, dalam sekejap benda bulat pipih itu saling melipat satu sama lain hingga menjadi ukuran kecil. Fais lalu menyelipkan proyektor itu ke celah kecil di bagian bawah layar Alltech miliknya.
"Pesawatnya sudah siap di landasan militer pantai Selatan," katanya sambil beranjak, "kita kesana dengan mobil yang sudah menunggu di gerbang SSU. Sekarang jam 8 pagi, jika semuanya berjalan lancar, kita akan tiba di gerbang utama Eyja sebelum jam 10."
Fais melangkah lebih dulu menuju pintu, Ariel menyusul di belakangnya. Lelaki jangkung itu sengaja memperlambat langkah untuk berbisik di telinga Ai; "Fais yang akan mengatur semuanya." Ia lalu tertawa kecil dan kemudian mempercepat langkah untuk menyusul Fais keluar dari ruangan itu.
Di koridor, mereka berdua berbincang dengan sangat santainya, seolah ini adalah perjalanan untuk berlibur, bukan untuk menjalankan misi.
"Fais, kenapa kita nggak menyamar di misi kali ini?" tanya Ariel kemudian.
"Tidak perlu. Alasan yang akan kugunakan di Blue Gate adalah peneliti dari SSU. Setelah masuk ke Eyja, tak akan ada masalah meski kita menunjukkan identitas asli, malah itu lebih baik. Kamu dekat dengan Suyi, kamu bisa bicara baik-baik dengannya. Kalau perlu, kita pakai alasan bahwa Ai ingin menemui ayahnya. Dengan begitu, kemungkinan untuk bertemu Kiriyan menjadi lebih besar."
"Seperti biasa ya, kamu sudah memikirkan semuanya," seru Ariel takjub. "Ngomong-ngomong, alltech-mu canggih banget. Aku kemaren install aplikasi proyektor, tapi ukurannya gede, jadi kuhapus lagi. Kupikir, aku juga nggak terlalu butuh aplikasi itu," Ariel berceloteh mengenai topik yang lebih ringan.
"Kamu bisa membeli yang seperti ini, gaji Armour kan lumayan," sahut Fais.
"Aku mengirimkan hampir semua gajiku ke keluarga di Eyja."
"Oh iya, aku lupa kamu punya tiga adik di Eyja. Kalian memang suka sekali punya banyak anak."
"Punya banyak saudara itu menyenangkan, kalian orang Avalon mana ngerti."
Fais lagi-lagi hanya membalas dengan tawa ringan. Obrolan mereka masih terus berlanjut, tapi Ai merasa tak bisa masuk dalam keseruan itu. Bisa dibilang dia masih sangat baru di tempat ini, banyak hal yang masih belum ia mengerti tentang para Armour. Ditambah lagi, pembicaraan mengenai ayahnya barusan sepertinya masih sangat mengganggu Fais. Sejak tadi dia tak mau menatap mata Ai.
“Ai...”
Suara Ariel yang memanggil namanya perlahan masuk ke ruang dengar Ai. Ia mendongak dan menemukan Ariel berdiri di depannya, tanpa Fais.
"Fais baru saja keluar, sekitar lima menit lagi kita akan menyusul. Karena akan aneh kalau ada yang melihat kita berjalan berdampingan dengan VR1 menuju mobilnya," terang Ariel kemudian.
"Oh... iya, oke," jawab Ai kikuk. Ia tahu saat ini Ariel sedang mengamatinya, tapi Ai berusaha untuk pura-pura tidak menyadarinya.
"Jadi ayahmu anggota WoLf?" Ariel tidak sedang bertanya, dia sedang memperjelas prasangkanya.
"Aku juga masih belum tahu pasti soal itu," jawab Ai tanpa menatapnya.
"Aku sebenarnya nggak ada masalah dengan WoLf, tapi aku cuma mau ngingatin kamu saja," nada bicara Ariel terdengar sangat serius, "Fais sangat membenci WoLf. Kami pernah beberapa kali berhadapan langsung dengan mereka. Waktu dua tahun lalu ada ledakan di Departemen Transportasi di North City, kamu tahu beritanya, kan? Sekitar 30 orang mati. Lalu teror bom di rumah sakit, pembajakan kereta api, dan teror-teror yang dilakukan WoLf lainnya. Armour terlibat dalam semua penyelidikan peristiwa itu."
Mata Ariel menerawang seolah sedang mengenang kejadian yang sangat membekas. "Kalau sudah berurusan dengan WoLf, Fais nggak peduli berapa kali Zidan harus melakukan psychometry. Dia nggak peduli kalau Kevin harus terluka akibat menyusup kesana-kemari, nggak peduli Niya harus mengorbankan berapa hewan demi menyembuhkan luka para Armour, dia juga bahkan nggak peduli ketika Nda baru bergabung satu minggu di Armour. Waktu itu, atas perintah Fais Nda membunuh dua orang anggota WoLf. Aku kira Nda bakal shock karena dia kan anggota baru dan usianya masih muda banget. Tapi si Nda malah santai walaupun mukanya kena cipratan darah. Parah. "
Terlepas dari cerita Ariel tentang Nda yang terkesan seperti psikopat – anak itu memang punya aura aneh yang masih agak sulit dimengerti oleh Ai – Ai paham kenapa Ariel mengatakan semua itu sekarang. Ia ingin Ai mempersiapkan diri, kalau saja nanti Ai melihat ayahnya mati di tangan Armour. Ini sudah yang kesekian kalinya Ai menyadari adanya sisi gelap yang sangat pekat di diri Fais, jadi dia sudah tak merasa ngeri seperti saat pertama kali melihat aura pembunuh terpancar sangat kuat dari lelaki itu.
"Sudah waktunya. Ayo," Ariel menempelkan tangannya di panel yang ada di samping pintu. Saat pintu bergeser terbuka, mereka melangkah mantap ke dalam lift. Perjalanan menuju pantai Selatan akan menghabiskan waktu sekitar 20 menit. Tempat di mana pesawat yang akan membawa mereka terbang ke Eyja sudah menanti, ke tempat ayah Ai berada saat ini. Lokasi WoLf bersembunyi. Pulau yang juga merupakan tanah kelahiran Ariel.
Eyja.
---
Ai menginjakkan kakinya di tanah Eyja, untuk pertama kali dalam hidupnya. Pesawat kecil yang mereka tumpangi mendarat di landasan kapal induk yang merapat di pelabuhan militer Eyja. Saat turun dari kapal induk itu, Ai dan yang lainnya disambut oleh kapten Divisi 4-Angkatan Laut, Sir Zack.
Ternyata memang satu-satunya akses keluar masuk Eyja cuma melalui kawasan militer yang terbagi menjadi dua. Gerbang utama (Blue Gate) dan Gerbang kedua (Fisher Gate). Pada dasarnya, akses keluar masuk Eyja hanya melalui Blue Gate, karena Fisher Gate lebih umum digunakan para nelayan. Sedangkan untuk saat ini, Fais dan yang lainnya berada di Blue Gate. Areanya sangat luas, dikelilingi pagar kawat yang tingginya hanya sekitar lima meter.
"Pagarnya jangan disentuh, kamu bisa kesetrum sampai mati," bisik Ariel mengingatkan dari sebelahnya.
Saat ini mereka sedang berdiri beberapa meter di belakang Fais, lelaki tiada tanding dan tiada banding itu sedang bicara sesuatu dengan Sir Zack. Mungkin karena melihat ekspresi penasaran di wajah Ai, Ariel merasa perlu untuk menjelaskan tentang apa yang ada di area itu.
"Kelihatannya sepele, tapi pagar itu bisa mendeteksi penyusup. Kalau ada orang luar yang berani menyentuhnya, kawatnya akan mengalirkan tegangan tinggi. Bahkan tegangannya akan meningkat kalau ada yang nekat memanjat. Aku kurang tahu berapa volt, tapi pastinya sangat tinggi dan bisa membunuh."