"Kalau ada orang luar yang berani menyentuhnya, kawatnya akan mengalirkan tegangan tinggi. Aku kurang tahu berapa volt, tapi pastinya sangat tinggi dan bisa membunuh,” terang Ariel lagi.
"Tapi bagaimana kalau ada salah satu prajurit militer yang tidak sengaja meyentuh?" tanya Ai.
"Aku sudah bilang kan, pagar itu bisa mendeteksi penyusup. Aku nggak begitu tahu cara kerjanya, tapi yang jelas pagar itu dilengkapi teknologi canggih. Kalau anggota militer di area ini mendekatinya aman saja. tapi kalau orang Eyja..." Jeda yang diambil Ariel terdengar aneh. Wajahnya berubah murung seperti mengingat sesuatu yang tak menyenangkan. "Salah seorang temanku pernah tewas terpanggang di sini. Aku melihatnya langsung, tapi nggak bisa berbuat apa-apa."
"Ah... kecelakaan waktu itu, ya."
Sebuah suara serak tiba-tiba menyela pembicaraan Ai dan Ariel. Suara itu berasal dari Sir Zack, ternyata tanpa disadari mereka berdua, lelaki setengah baya itu sudah selesai bicara dengan Fais. Ia mendengar kalimat Ariel dan memutuskan untuk angkat bicara.
"Waktu itu, pagar ini belum dilengkapi mind-detector, jadi masih terlalu berbahaya bagi siapapun diluar zona militer yang mendekatinya. Tapi sekarang tidak perlu khawatir, bahkan kalau nona tak sengaja menyentuhnya, selama nona tidak berniat me-rusak, melewati atau memanjat, pagar ini akan menjadi pagar kawat biasa."
Lelaki itu bicara dengan senyum ramah pada Ai. Tapi saat ia menatap Ariel, ekspresinya berubah dingin walaupun ia masih menyisakan sedikit senyum di wajahnya.
"Selamat datang kembali. Kuharap kamu menjalankan tugasmu dengan baik. Aku tidak tahu sejenius apa kamu sampai Luen sendiri yang menginginkanmu keluar dari Eyja, tapi walaupun kamu diperintahkan untuk bunuh diri demi penelitian, itu akan menjadi kehormatan terbesar untukmu. Jangan lupa untuk selalu berterima kasih," ujarnya pada Ariel tepat ketika seorang prajurit muncul dan mendekatinya dari belakang kemudian membisikkan sesuatu padanya.
“Lagi?" Wajah Sir Zack terlihat jengkel. Ia lalu kembali bicara pada Fais dan merubah nada bicaranya. "Akhir-akhir ini sering tertangkap sinyal kecil dari dalam Eyja. Padahal tak ada teknologi apapun yang dizinkan masuk ke sana," katanya dengan senyum basa-basi pada Fais. "Ajudan saya akan mengantarkan kalian ke shelter sayap timur, itu adalah tempat terbaik yang bisa saya tawarkan sebagai tempat beristirahat sementara."
"Saya sangat menghargai bantuan anda, Sir. Terimakasih," Fais sedikit membungkukkan tubuhnya. Sir Zack memberi anggukan sekilas pada Fais sebelum akhirnya berlalu.
Fais kemudian menghempas napas sambil memberikan tatapan penuh makna pada Ariel. "Kamu tak perlu menanggapi perkataannya. Anggap saja angin lalu," katanya sambil memberi tepukan pelan di lengan Ariel. Ia lalu mengalihkan tatapannya pada Ai. "Ini misi pertamamu, tapi menjadi misi yang paling penting untuk Armour. Aku berharap banyak padamu, Seventh."
Ia mengedipkan sebelah matanya. Kalau bukan karena Ai sudah biasa menatap silaunya pesona Fais, ia pasti sudah meleleh menerima kedipan itu.
Ai mengangguk penuh rasa tanggung jawab. Mungkin Fais sudah paham betul bahwa setiap kali code seorang Armour disebut, Armour itu akan langsung siaga dan menyadari bahwa ini adalah misi negara. Keberadaan anggota Armour, selain Fais, memang hanya diketahui Zoire dan Luen. Pada misi-misi tertentu, penyebutan code Armour diharuskan untuk menghindari menyebarnya informasi mengenai identitas para Armour.
Shelter di sayap timur yang disebut Sir Zack adalah sebuah bangunan empat tingkat. Tepat di sebelahnya ada menara yang cukup tinggi. Sepertinya, walapun militer Avalon sudah sangat akrab dengan teknologi drone, tapi mereka masih butuh menara tinggi seperti ini untuk berjaga-jaga andai suatu saat terjadi sesuatu dengan pesawat drone yang berpatroli di sekitar pulau itu.
Selama menunggu di shelter, mereka melakukan briefing tentang apa saja yang harus dilakukan pada misi kali ini. Sepertinya kecurigaan Fais benar, ada tempat persembunyian WoLf di sana. Meski setiap jengkal tanah di Eyja sudah diperiksa, tapi sepertinya mereka tidak ada di permukaan. Salah satu buktinya adalah sinyal kecil yang sering tertangkap dari dalam Eyja.
Tepat setelah makan siang, Fais dan yang lainnya meninggalkan area militer dan memasuki Eyja. Mereka menggunakan mobil jip menuju ke rumah Suyi di desa utama, orang yang paling dihormati di Eyja. Dengan kata lain, pemimpin di pulau itu.
Sepanjang perjalanan, Ai menemukan pemandangan yang tak pernah ia lihat di Avalon. Di pulau itu, tak ada jalan yang beraspal, tak ada mobil yang berlalu lalang. Hanya sepeda yang tampak di jalanan untuk membawa barang-barang, baik beroda dua maupun yang beroda tiga. Sekelilingnya terdapat pepohonan rindang yang bergoyang tertiup angin, perkebunan jeruk yang rapi dengan buah-buahnya yang menguning siap untuk dipanen. Ai yakin, ia baru melihat sedikit dari semua yang ada di pulau ini. Pasti bukan hanya kebun jeruk, pasti masih banyak kebun buah-buahan lain di pulau ini.
Beberapa menit kemudian mereka memasuki sebuah pedesaan, rumah-rumah sederhana berpagar bambu dan dikelilingi tanaman menjadi pemandangan pertama yang menyambut Ai. Di halaman belakang rumah mereka terdapat hamparan sawah yang hijau. Anak-anak berlarian di pematang sawah sambil membawa layang-layang. Masyarakatnya saling menyapa setiap kali bertemu.
Ini... adalah Eyja.
"Selamat datang di tanah kelahiranku," bisik Ariel dari sebelahnya. Lelaki jangkung itu menatap pemandangan di hadapannya sambil tersenyum bangga. Ia lalu memejamkan mata dan menghirup napas dalam, menikmati hembusan angin sepoi-sepoi yang membelai wajahnya.
"Ariel... kamu kembali?" tanya salah seorang pemuda yang sepertinya berusia sama dengan Ariel. Ia mengayuh sepeda sekuat tenaga demi bisa mengikuti jip yang ditumpangi Ai dan yang lainnya.
"Teby... hei! Apa kabar?!" Menyadari keberadaan teman lamanya, Ariel melambaikan tangan penuh semangat seolah tak peduli jika engselnya akan terkilir.
"Aku baik-baik saja. Kalau sempat singgah ke rumahku ya..." Suara Teby terdengar mengecil karena ia mulai tertinggal di belakang. "Jangan lupa pulang... kami semua... ...mu..."
Hingga akhirnya tak terdengar, hanya ujung kalimatnya saja yang masih tersampaikan karena terbawa angin.
Tapi itu sudah cukup untuk membuat mata Ariel basah, menyadari tatapan Ai, Ariel langsung mengusap matanya dan tersenyum lebar kembali. "Aku nggak apa-apa, ini air mata bahagia," ujarnya ceria.
Ai tersenyum menanggapinya. "Syukurlah, kamu bisa kembali dan bertemu keluargamu walaupun hanya sebentar," ujar Ai bermaksud menghibur.
Tapi kalimat itu malah membuat wajah Ariel berubah murung. Pemuda itu tak perlu menjelaskan apapun pada Ai, hanya dengan menatapnya saja Ai sudah tahu apa yang membuatnya mendadak sedih. Ternyata keluarga Ariel, terutama ayahnya, sangat tidak setuju Ariel bergabung dengan pemerintah. Meski untuk penelitian atau apapun namanya, ia tidak suka anaknya menjadi b*udak pemerintah Avalon.
Namun Ariel yang menginginkan perubahan, menentang ayahnya dan tetap meninggalkan Eyja. Ai juga menyadari bahwa tak semua orang Eyja menyambut Ariel dengan hangat seperti Teby. Sepanjang jalan, tidak sedikit yang berbisik-bisik sambil menatap Ariel dengan ekspresi jijik. Mereka menganggap Ariel adalah pengkhianat yang lebih memilih untuk mengabdikan diri pada pemerintah daripada berdiri bersama rakyat Eyja memperjuangkan kemerdekaan.
"Selamat datang di Eyja."
Suara seorang perempuan menyambut Ai dan yang lainnya saat mereka baru saja turun dari jip dan memasuki pekarangan sebuah rumah. Sepertinya dia yang bernama Suyi, ia mengenakan baju terusan berlengan panjang dan berwarna biru cerah. Ariel tahu itu adalah pakaian terbaik yang selalu dikenakan Suyi setiap kali ia ingin menyambut tamu penting. Pakaian itu sangat berbeda dengan yang biasa ia kenakan sehari-hari – daster kusam dengan beberapa kancing depan yang sudah lepas dan digantikan dengan peniti.
"Silakan masuk," kata perempuan berusia lebih dari setengah abad itu lagi. Saat ia tersenyum, matanya nyaris tinggal segaris.
Fais membalas senyumnya dan melangkah masuk ke dalam rumah, sementara Ai dan Ariel mengikuti di belakangnya. Ariel tampak terbiasa dengan pemandangan di sekitarnya, tapi Ai tak bisa mencegah dirinya untuk tak memandang berkeliling. Rumah-rumah di pulau ini hanya beratapkan jerami ataupun seng, dindingnya sebagian dari papan dan sebagian lagi hanya tepas. Lantai rumah mereka berupa semen kasar berwarna kelabu dengan retakan di beberapa bagiannya.
"Saya sudah bilang pada Sir Zack, mungkin lebih baik jika kita bisa mengobrol di Blue Gate[8] daripada kalian yang repot-repot datang ke sini," kata Suyi saat mereka sudah duduk di kursi rotan yang ada di ruangan dekat pintu masuk, "tapi katanya kalian sendiri yang ingin masuk dan menemui saya." Wanita itu terkekeh di akhir kalimatnya.
"Kalian menjadi orang pertama di luar Eyja yang mau masuk karena keinginan sendiri," sambungnya sambil mengangkat tangan sebagai isyarat agar wanita muda yang akan menuangkan teh ke cangkirnya berhenti. "Tadi saya baru minum teh, Zahra," katanya kemudian.
Wanita berkerudung yang dipanggil Zahra itu membungkuk ke arahnya, lalu ke arah Fais dan yang lainnya, sebelum akhirnya berlalu menuju pintu dapur. Ai memutar pandangannya, ada tiga pintu menuju ruangan lain di situ. Satu adalah pintu yang saling berhadapan dengan pintu masuk, Ai menebak itu adalah pintu dapur. Dan dua pintu lagi berada di sisi kanan ruangan. Mungkin itu kamar tidur. Satu-satunya yang memiliki daun pintu hanya pintu tempat mereka masuk tadi, sisanya hanya memiliki tirai kain sebagai pengganti daun pintu.
"Ariel... apa kabar?" Kali ini Suyi menyapa Ariel yang duduk di sebelah Ai.
Ariel tersenyum sebelum menjawab. "Baik. Suyi?" tanyanya balik.
"Melihatmu berada di sini dan tampak sangat sehat, tak ada yang bisa membuat saya merasa lebih baik dari ini," sahut Suyi sambil tertawa ringan. "Bagaimana Avalon Daratan[9]?" tanyanya lagi.
"Nggak pernah berubah," balas Ariel dengan senyuman lebar penuh makna. "Apa Blue Gate masih memangkas uang yang kukirimkan?" Kali ini Ariel memulai pertanyaan yang lebih serius.
"Ya..., tapi tidak apa-apa. Mereka tidak mengambil banyak. Tampaknya perkerjaanmu di Avalon sangat besar penghasilannya, bahkan setelah semuanya, saya masih bisa menyimpan. Tabungannya sudah lumayan, itu saya persiapkan untukmu jika suatu saat nanti kamu kembali."
"Terimakasih Suyi, aku sangat menghargai semua bantuanmu," Ariel mengambil jeda sejenak sebelum kembali melanjutkan, "Suyi nggak mau nanya tentang pekerjaanku di Avalon Daratan?"
Wanita di hadapan mereka itu pun kemudian terkekeh ringan sebelum menjawab. "Saya percaya kamu tidak akan melakukan hal yang buruk, Ariel."
"Tapi aku tahu gosip yang beredar di sini," Ariel menggaruk-garuk tengkuknya salah tingkah. "Sudah bukan rahasia kalau ada orang yang keluar dari Eyja hanya akan berakhir melakukan pekerjaan hina di West City. Karena pekerjaan kasar seperti pelayan atau petugas kebersihan sekalipun, Avalon tidak butuh orang Eyja, semuanya sudah menggunakan robot. Jadi... nggak heran jika ada yang menganggap aku..."
"Sudah. Jangan dipikirkan, mereka hanya tidak tahu."
"Lalu, memangnya Suyi tahu?"
Suyi kembali tertawa pelan di awal kalimatnya. "Saya juga tidak tahu. Tapi saya hanya percaya dengan jalan yang kamu pilih. Kamu juga sudah terlalu banyak membantu keuangan Eyja, jadi sebaiknya kamu tidak mengirimkan terlalu banyak lagi, gunakan saja untuk dirimu sendiri. Disini kami sudah sangat cukup."
Suyi mengumbar senyum hangat khusus untuk Ariel. "Jadi...," ia jeda sejenak sambil melempar pandangan pada dua orang lain yang ada di hadapannya, "saya tahu kalian bukan dari SSU. Tapi tidak apa-apa. Apa yang bisa saya bantu?" lanjutnya lagi.
Fais yang sejak tadi menanti obrolan mereka selesai akhirnya menghempas napas lega karena Suyi mulai mengalihkan pembicaraan kepadanya. Maka ia tak mau membuang waktu lagi. "Di Avalon, ada rumor yang beredar..." Fais mencoba langsung pada persoalan utama kenapa mereka datang ke Eyja. Lelaki itu lalu mengerling Ai di tengah kalimatnya. Ai pun sadar bahwa Fais ingin ia mulai menggunakan kemampuannya pada Suyi.
"... Bahwa WoLf bersembunyi di Eyja," sambung Fais lagi.
Air muka Suyi tidak berubah, ia tersenyum dan menghela napas. "Sudah saya duga kalian datang untuk itu," gumamnya, "tapi di sini tak ada WoLf yang kalian cari." Ia tampak sama sekali tidak gentar.
"Kalau begitu," Ai menyela, "kami akan mencari tahu sendiri apakah Anda bicara jujur atau tidak. Kami harap, anda tidak menghalangi pekerjaan kami."
Wanita bermata sipit itu mengalihkan tatapannya pada Ai. Tapi saat pandangan mereka bertemu, tak ada suara yang terdengar kecuali gemerisik dedaudan dan suara tirai kain yang berkelebat tertiup angin. Suyi lalu tersenyum dengan ekspresi yang sangat tenang.
"Mata yang sangat jernih," gumamnya, "seolah memantulkan bayangan orang yang ada di hadapannya."
Tak hanya pikiran Suyi, bahkan perubahan ekspresi wanita itu pun tak mampu dibaca Ai.
Fais tak peduli dengan obrolan basa-basi Suyi, ia menekan tombol power pada alltech di pergelangan tangan kirinya dan sebuah layar hologram 10 inci muncul menampilkan gambar seorang pria.
"Anda pernah melihat laki-laki ini?" tanyanya kemudian pada Suyi.
"Ah... Kazai," dan Suyi mengenalinya.
Ai langsung menegakkan tubuhnya dari sandaran. Wanita berkharisma di hadapannya itu kini tersenyum sambil menatap Ai lalu VS alltech milik Fais.
"Pantas saja, rasanya wajahmu sangat tidak asing. Kamu pasti anaknya, Kazai pernah bercerita tentang dua anak gadisnya di Avalon," Suyi tertawa kecil di akhir kalimatnya.
"Namanya Keilan Kiriyan, apa anda tahu kalau dia masuk dalam daftar buronan pemerintah?"
"Saya tidak tahu soal itu," jawab Suyi jujur. "Kami tak punya wewenang menentukan siapa yang keluar dan masuk dari pulau ini, jika ada orang yang datang kami hanya bisa menerima tanpa tahu apa-apa. Eyja tak pernah mendapat kabar apapun dari dunia luar, kami tak punya televisi maupun transportasi dan alat komunikasi modern. Tak ada listrik dan teknologi apapun di sini. Dari mana kami bisa tahu informasi tentang buronan pemerintah?"
Fais menghempas napas tanpa bisa berkata-kata. Sebenarnya ia kesal karena Suyi sepertinya tahu latar belakang orang-orang yang ada di Eyja, namun memutuskan untuk pura-pura tidak tahu dan menyembunyikan WoLf di Eyja. Wanita ini sama sekali tak mau bekerja sama dengan pemerintah.
"Dimana dia...?" Akhirnya Ai tak bisa mencegah pertanyaan itu meluncur dari mulutnya. Ia menelan ludah dengan perasaan yang berkecamuk dan penuh antisipasi.
"Suyi, anda pasti tahu apa yang harus anda lakukan," kata Fais tegas memotong kalimat Ai.
Suyi menarik napas panjang dan memejamkan matanya dengan senyuman yang masih betah berada di wajah itu. "Silakan ikut saya," katanya sambil beranjak dan melangkah ke pintu keluar.
Fais bertukar tatapan pada Ai dan Ariel, kedua orang itu langsung paham bahwa Fais meminta mereka tetap waspada. Ai meraba pistol di balik bajunya, memastikan bahwa benda itu masih ada di sana sebelum akhirnya ia memantapkan hati dan mengepalkan tangan lalu melangkah mengikuti Suyi.
.
_______________
[8] Disebut Blue Gate karena dinding dan pagar yang mengelilingi area itu dicat berwarna biru
[9] Penduduk Eyja biasa menyebut pulau utama Avalon sebagai Avalon Daratan.