CHAPTER II.4

1906 Kata
Semilir angin yang berhembus membuat pepohonan rindang di sebuah pekarangan sekolah bergoyang anggun disertai gemerisik dedaunan. Murid-murid di sekolah yang tak berdinding itu tidak belajar di dalam ruangan kelas, melainkan hanya di dalam pendopo-pendopo sederhana. Ada sekitar tiga pendopo di balik pagar bambu sekolah itu. Suyi melangkah ke bawah Akasia di sisi kanan halaman sekolah, di bawah Akasia itu ada potongan-potongan batang pohon yang disusun sedemikian rupa menjadi satu set tempat duduk tanpa sandaran. "Sekitar lima menit lagi pelajaran selesai, kita tunggu sambil duduk di sini saja," katanya. Dari kejauhan Ai mengamati sekelilingnya, tak butuh waktu lama bagi Ai untuk menemukan lelaki yang ia kenal itu berada di salah satu pendopo. Ayahnya sedang berdiri di depan sekumpulan anak-anak kecil yang duduk rapi mendengarkan setiap perkataannya. Tanpa perlu melihat wajahnya, bahkan Ai sudah mengenali Kiriyan hanya dari caranya berdiri dan proporsi badannya. Meski sudah tujuh tahun berlalu, sosok lelaki itu masih melekat sangat kuat di ingatan Ai. "Saya pikir tidak ada sekolah di Eyja," setelah mengatakan itu, perlahan Ai sadar bahwa ia telah mengatakan sesuatu yang tidak sopan. "Maaf, saya tak seharusnya mengatakan itu," ralatnya kemudian. Suyi tertawa ringan menanggapinya. "Kamu tidak salah. Memang tak ada sekolah di sini. Hanya ada 3 orang dari Blue Gate yang akan datang setiap Minggu untuk mengajar membaca dan berhitung pada anak-anak usia 7-8 tahun. Itulah sekolah resmi kami," terangnya kemudian. "Tapi sejak Kazai datang beberapa tahun yang lalu, ia mulai mengajari anak-anak kami banyak hal. Tak terbatas pada usia 7-8 tahun, tak terbatas pada pelajaran membaca dan berhitung saja. Kazai mengajari semua hal yang sebelumnya tak pernah kami dapatkan. Hingga akhirnya mulai bermunculan pemuda-pemudi Eyja yang juga bisa mengajar anak-anak lainnya," Suyi menoleh dan memberikan tatapan hangat pada Ai, "dia adalah penyelamat masa depan anak-anak kami." Sesuatu yang hangat berdesir di balik pembuluh darah Ai. Lelaki yang selama ini ia kira menghilang entah kemana, menelantarkan dirinya dan ibunya, ternyata menjadi guru di pulau ini. Ai tak tahu harus bersikap seperti apa menanggapi hal ini. Di satu sisi ia merasa kesal, tapi di sisi lain ada perasaan bangga dalam dirinya. Bahwa lelaki itu tidak meninggalkan keluarganya demi bersenang-senang. "Kalau kamu telusuri jalan setapak di belakang pendopo itu," Suyi masih ingin melanjutkan ceritanya. Ia menunjuk ke arah yang baru saja ia sebutkan. "Kamu akan menemukan sebuah rumah yang dibangun pemerintah, satu-satunya yang mereka bangun di sini. Itu adalah tempat penampungan Third Child yang izin tinggalnya di Avalon sudah melewati batas usia yang diperkenankan. Anak-anak yang tidak diadopsi dan tidak bisa ditebus oleh keluarganya, akan dikirim ke rumah itu, tanpa pendamping. Blue Gate akan mengirim makanan setiap hari. Tapi tak ada yang merawat mereka. Banyak yang sakit dan meninggal tanpa pengobatan di rumah itu." Suasana hening yang terasa setelah cerita Suyi adalah hening yang tak biasa. Ada perasaan bersalah yang menyeruak dari dalam diri Ai, karena selama ini telah menjadi orang yang tidak tahu dan tidak melakukan apa-apa untuk membantu mereka yang memerlukan. Bahwa ternyata selama ini ia telah mengabaikan ketidakadilan yang terjadi di negeri ini. Bahwa ternyata, mereka yang dengan nyaman tinggal di Pulau Utama tak akan pernah tahu cerita ini. "Tapi itu cerita lama, dulu sekali," tambah Suyi lagi. "Lama-kelamaan, warga Eyja merasa tak boleh membiarkan anak-anak itu mati begitu saja. Walau bagaimanapun mereka hanya anak kecil yang tak tahu apa-apa. Satu persatu anak-anak itu diadopsi oleh keluarga di Eyja. Saya juga menghabiskan masa muda untuk merawat mereka. Sampai akhirnya, selama dekade terakhir ini, tak ada lagi Third Child yang dikirim ke Eyja. Orang Avalon Daratan sudah terbiasa dengan sistem 4 in 1. Rumah itu pun akhirnya dibiarkan kosong." Suyi terdenyum hangat ke arah 3 pendopo yang berbaris rapi di depan sana. Tapi Ai melihat tangan wanita itu bergerak mengusap sesuatu di matanya. Suara tawa dan obrolan ceria melebur bersama desiran angin, anak-anak kecil itu perlahan berhamburan keluar dari dalam pendopo dan memecah keheningan sesaat tadi. Semua yang lewat di dekat Suyi selalu menyapa wanita itu. Lalu, seorang anak perempuan berkuncir dua bersama dengan dua bocah yang lebih kecil menghampiri Suyi sambil berlari-lari kecil. "Suyi, tumben datang ke sekolah? Ada sesuatu?" tanya si gadis kecil, usianya sekitar 12 tahun. Sekali bicara saja ia sudah tiga kali mencuri-curi untuk menatap Ai dan yang lainnya, terutama Fais yang duduk tepat di samping Suyi. "Ah... kebetulan sekali, Cindy, Suyi minta tolong panggilkan Mr. Kazai, bisa?" pinta Suyi kemudian. "Oh..." Lagi-lagi ia menatap Fais dan buru-buru berpaling setelah sadar bahwa usahanya untuk mencuri pandang itu ketahuan. "Baiklah, tunggu sebentar," serunya sambil berlari pergi. Seorang bocah perempuan yang tadi datang bersama Cindy, bertanya dengan polosnya. "Suyi, siapa mereka?" tanyanya sambil menatap Fais dan yang lainnya tanpa berkedip. "Mereka temannya Mr. Kazai, Jasmine," jawab Suyi ramah. "Apa mereka dari Avalon Daratan?" tanya anak bernama Jasmine itu lagi. Suyi diam sejenak sebelum menjawab. "Iya... mereka saudara kita dari Avalon Daratan." "Saudara?" Anak yang satunya lagi menyahut. "Mereka bukan saudara kita, mereka itu pembunuh." "Gilang, kamu tidak boleh bicara begitu," Suyi dengan ramah menasehati. "Mereka membenci orang Eyja, Suyi. Mereka bahkan nggak segan-segan membunuh anak kecil. Kenapa mereka dibolehkan masuk ke sini?" serunya sambil lalu mengelap hidung dengan lengan baju lusuh yang ia kenakan. Matanya yang besar berusaha menahan kubangan air yang siap mengalir di pipinya. "Kenapa kalian jahat sekali? Apa salah kami?!" "Gilang, kamu tidak boleh sembarang menuduh." Sebuah sapaan lembut menyela anak bernama Gilang itu. Kiriyan berdiri di hadapan mereka, mengenakan kemeja putih yang sudah kusam dan sandal jepit sederhananya. Ia lalu membiarkan si kecil Gilang memeluknya dan mulai menangis sambil membenamkan wajah di celana lusuh yang ia kenakan. "Maaf, dia selalu begini setiap kali melihat orang luar," ujar Kiriyan sambil mengusap-usap rambut Gilang. "Ayah dan ibunya tewas ditembak tentara Blue Gate karena salah paham. Sejak itu, dia menjadi sangat trauma." "Itu bukan salah paham." Kali ini anak bernama Cindy yang sejak tadi berlindung dari jangkauan pandangan Fais dan mengintip dari balik Kiriyan, muncul dengan kata-kata ketus. "Zoire dan penduduk Avalon Daratan memang senang melihat orang-orang Eyja mati. Mereka selalu mencari alasan untuk membunuh kita, kadang mereka malah memutar-balikkan fakta, seolah Eyja yang duluan menyerang dan mereka hanya membela diri. Padahal apa yang Eyja punya untuk menyerang mereka?" "Cindy..." Suyi memperingatkan dengan nada yang lebih tegas. Karena Cindy sudah lebih dewasa, Suyi merasa tak boleh membiarkan anak itu bicara lebih jauh lagi. Cindy pun akhirnya mendengus dan membuang muka, wajahnya merah menahan amarah. "Maafkan mereka, mereka hanya anak-anak..." Kiriyan berusaha mencairkan suasana setelah Gilang agak tenang meski masih sesekali terisak sambil terus memeluk Kiriyan. "Sekarang saya paham kenapa kamu memilih untuk menjadi guru di sini," akhirnya Fais membuka suara setelah keributan sesaat tadi, "kamu mengajarkan anak-anak ini untuk memberontak." Kiriyan tersenyum getir dengan tawa kecil yang tersamarkan oleh desiran angin. "Saya tahu percuma saja untuk membela diri. Apapun yang saya katakan, kamu tak akan pernah percaya. Tapi saya yakin Ai tahu kebenaran yang sesungguhnya. Tentang apa yang sedang saya usahakan di pulau ini." Lelaki bersahaja itu kemudian menatap lurus ke arah Ai, seolah membuka jendela lebar-lebar agar Ai bisa masuk dan membaca pikirannya. Ia lalu tersenyum sambil bertanya dengan suara lemah lembut. "Ai, apa kabar?" Ai tak langsung menjawab, ia membalas tatapan lelaki itu tanpa berkedip, mendengar semua yang dipikirkannya. "Aku hanya ingin memberikan masa depan yang cerah pada anak-anak Eyja, karena pemerintah sudah sangat tidak adil terhadap mereka. Saat ini, yang dibutuhkan Avalon adalah perubahan." "Perubahan untuk Avalon? Itu sama saja dengan menentang pemerintahan yang sekarang," kata Ai setelah mendengar pemikiran ayahnya itu. "Fais, kurasa kita harus membawanya ke Blue Gate dan menanyainya di sana," tegasnya kemudian. Suasana pun mendadak hening, lagi-lagi hanya terdengar suara gemerisik dedaunan yang tertiup angin. Hingga tiba-tiba Jasmine mengulurkan telunjuknya ke arah Fais. "Aku rasa dia bukan orang jahat," katanya polos, "mana ada pangeran negeri dongeng yang jahat." "Jangan sok tahu, kamu kan nggak pernah lihat pangeran dari negeri dongeng," protes Gilang sambil mengelap air matanya, dia pulih dengan cepat, seolah bukan dia yang baru saja menangis. "Tapi K2 bilang, pangeran negeri dongeng itu tampan, orang ini kan tampan, pasti dia orangnya." "Bodoh, negeri dongeng itu hanya cerita. Itu nggak beneran, iya kan K2?" Gilang mendongak menatap Kiriyan untuk meminta persetujuan. Tapi Suyi mendadak menyela pembicaraan mengenai negeri dongeng itu dengan topik baru. "K2? Darimana kalian dapat nama itu? Panggil 'Mr Kazai'. Harus sopan." Wanita itu berlagak marah. "Tapi namanya kan memang K2. Aku tidak ingat nama panjangnya, tapi memang double 'K'." "Sstt... kan sudah kubilang, kalau di depan Suyi harus panggil 'Mr Kazai'," bisik Kiriyan pada mereka. "Kamu terlalu memanjakan mereka, Kazai," Suyi menghela napas sambil tersenyum. "Cindy, terima kasih, ya. Sekarang bawa adik-adikmu pulang." Lega karena suasana kembali cair, Suyi segera meminta Cindy untuk meninggalkan mereka. Wajah gadis kecil itu tampak masih terlihat merah seperti tomat ketika ia keluar dari balik tubuh Kiriyan dan memegangi tangan adiknya untuk pergi dari situ. "K2... Apa sore ini kita akan main bola lagi?" Gilang dan Jasmine masih sempat bertanya sambil mulai melompat dan bergelantungan di pinggang dan tangan Kiriyan. "Hari ini tidak. Aku sedang ada urusan dengan Suyi," Kiriyan melepas tangan mereka satu per satu. Ariel tak mau lagi bersusah payah menahan tawanya, kepolosan anak-anak itu berhasil mencairkan suasana. Padahal beberapa saat yang lalu mereka marah dan menangis, sekarang mereka sudah bersikap seperti biasa. Tapi Cindy adalah satu-satunya anak yang masih berwajah kesal, dan Fais menyadari hal itu. Ia memutuskan untuk menghampiri gadis kecil itu dan berjongkok di hadapannya. "Saya memang bukan dari negeri dongeng, tapi saya bukan orang jahat. Apa kamu mau berteman dengan saya?" tanyanya sambil mengulurkan tangan dengan senyum kasual tanpa c.a.c.a.t yang begitu menghipnotis, suaranya pun terdengar sangat ramah. Perlahan, Cindy tampak luluh, samar terlihat ia mengelap tangannya sebelum kemudian menyambut uluran tangan Fais. "Cindy..." gumamnya pelan sambil langsung menarik kembali tangannya. Fais melepas suara tawa ringan yang terdengar tanpa beban, meski dalam hati ia sebenarnya ingin anak-anak ini cepat pergi, namun ia juga tak ingin meninggalkan kesan buruk di hadapan mereka. Ia lalu merogoh kantongnya, mencari-cari apapun yang bisa ia berikan pada anak itu – kalau ada permen akan lebih baik – tapi satu-satunya benda yang ia temukan hanya sebuah pulpen. Ia memutuskan untuk memberikan benda itu pada gadis kecil keras kepala bernama Cindy ini. "Sebagai tanda pertemanan, kamu boleh menyimpan ini," kata Fais sambil meraih tangan kecil Cindy dan meletakkan pulpen berwarna perak ke atas telapak tangannya. Ekspresi wajah Cindy tampak kebingungan, meski masih menyimpan curiga, tapi ia tak bisa menyembunyikan rasa gembira hingga wajahnya terlihat semakin merona merah. "Tidak apa-apa, ini pulpen biasa, tidak berbahaya, kamu bisa menggunakannya untuk menulis." Fais memasang senyum yang bahkan lebih menyilaukan dari sebelumnya. Mungkin ini keahlian Fais yang lain selain authority command, tak ada yang bisa menolak pesonanya. Wajah Cindy langsung terbakar seperti udang rebus, ia tampak salah tingkah dan tak berani lagi menatap Fais secara langsung. Karena sepertinya Cindy sudah terkendali, Fais semakin tak sabar untuk mengusir mereka dan bicara dengan Kiriyan. "Sekarang sebaiknya kamu pulang bersama adik-adikmu, kapan-kapan kita akan bertemu lagi," ujarnya sambil bermaksud mengusap kepala Cindy, tapi gadis kecil itu kembali menepis tangannya, "Terima kasih," katanya cepat sambil lalu menggandeng tangan kedua adiknya dan berlalu pergi. Kiriyan dan Suyi saling bertukar tatapan dengan senyum tipis di wajah mereka. Sementara Ariel, ia hanya bisa menggeleng sambil berdecak kagum. Dalam hati ia menganggap Fais begitu kejam menggunakan pheromone-nya terhadap gadis kecil itu. Sekarang anak itu tak akan bisa melupakan pertemuannya dengan Fais hari ini. Setelah anak-anak itu hilang dari pandangan, Fais menghempas napas sambil berdiri tepat di hadapan Kiriyan dengan wajah yang tak seramah tadi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN