CHAPTER II.5

1527 Kata
Fais menghempas napas sambil berdiri tepat di hadapan Kiriyan dengan wajah yang tak seramah tadi. "Tolong ikut kami ke Blue Gate," ujarnya langsung. Suyi dan Kiriyan saling bertukar pandang. Saat melihat Kiriyan tersenyum sambil mengangguk halus, Suyi pun menghela napas pasrah. "Baiklah..." jawabnya. "Oh, Kenma!" di akhir kalimatnya Suyi memanggil seseorang yang kebetulan sedang melintas mengendarai sepeda di luar pagar bambu. Lelaki yang dipanggi Kenma itu menghentikan laju sepedanya. Ia menyandarkan sepeda di pagar bambu, lalu melompati pagar setinggi pinggang itu untuk menghampiri Suyi. "Kazai akan ke Blue Gate bersama mereka, tolong kamu juga ikut dengannya," Suyi tidak sedang meminta tolong. Ia sedang memberikan perintah, dan lelaki bernama Kenma itu mengangguk tanpa bertanya. "Apa maksudnya ini?" Fais tampak tak bisa menahan emosinya lagi. "Anda tahu Keilan Kiriyan tidak dibawa ke Blue Gate untuk jalan-jalan, kami tidak perlu orang tambahan," ketusnya. "Tolong jangan salah paham," Suyi tersenyum menanggapi emosi Fais yang mulai tak stabil. "Walaupun Eyja adalah pulau pengasingan, tapi di sini kami juga hidup dengan peraturan tak tertulis yang mungkin akan sulit dipahami oleh orang dari Avalon Daratan. Kazai adalah orang yang sangat penting bagi kami, jika sesuatu terjadi padanya, maka seluruh rakyat Eyja tidak akan tinggal diam. Kenma hanya bertugas untuk memastikan bahwa Kazai akan kembali ke Eyja tanpa kurang satu apapun, ia tidak akan mengganggu pekerjaanmu." Fais berpikir keras tentang apa yang akan ia lakukan selanjutnya, sudah jelas Suyi merencanakan sesuatu. "Kiriyan tidak akan kembali. Kami akan membawanya ke Avalon untuk diinterogasi dan diadili," tegas Fais akhirnya. "Suyi, laki-laki ini telah menipumu. Namanya bukan Kazai, dia adalah Keilan Kiriyan, dia sedang bersembunyi di sini untuk menghindari hukuman pemerintah." "Namanya Kazai Kiriyan. Dia ada di daftar penduduk Eyja," Suyi menimpali tak kalah tegas. "Kazai masuk ke sini secara legal. Jika kamu pikir saya berbohong, silakan tanya Sir Zack." Fais tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Kiriyan dan Kazai jelas orang yang sama. Bagaimana mungkin dia bisa berkeluarga dan tinggal lama di Avalon jika dia adalah penduduk Eyja? "Aneh. Pasti ada yang tidak beres di sini. Seolah ada satu potongan puzzle yang hilang," pikirnya. "Bagaimanapun juga, saya akan membawanya ke Avalon," kata Fais lagi. "Kenma akan ikut bersamanya," Suyi masih berkeras. "Tidak! Kamu diam saja! Aku yang memberi perintah!" bentak Fais pada Suyi. Ia baru saja menggunakan authority command pada wanita itu. Suyi terdiam selama beberapa saat, sebelum akhirnya ia menghela napas dan membuat Fais berpikir bahwa perdebatan telah selesai. "Itu tidak akan berhasil pada saya, Mr Faisal," tegas Suyi kemudian. Fais tampak shock melihat Suyi yang tak terpengaruh olehnya. "Apa-apaan wanita ini? Apa dia baru saja menghindari tatapanku? Atau dia agak t.u.l.i? Kenapa command-ku tidak berhasil?" "Sebaiknya kamu jangan buang-buang tenaga di sini," nasehat Suyi memantik api di dalam diri Fais. Dia sangat kesal. VIP WoLf sudah di depan mata dan dia tak bisa membawanya, ditambah lagi, ada orang yang kebal dengan command-nya. "Jangan bercanda!" gerutunya dalam hati. "Hanya ada dua pilihan," Fais mengeluarkan pistol di balik bajunya dan menodongkan mulut benda itu ke arah kepala Kiriyan, "turuti perintahku atau mati di sini." Suaranya terdengar dingin dan tanpa ampun. Suara angin berderu di telinga mereka yang hanya bisa membeku dalam situasi seperti ini. Fais serius dengan ucapannya, ia tak peduli beberapa orang Eyja yang melintas mulai datang dan berkerumun. Apapun yang terjadi, dia tidak mau masuk dalam permainan Suyi. Ia harus membawa Kiriyan keluar dari sarangnya, dan selanjutnya menghabisi WoLf akan menjadi perkara yang mudah. Karena Kiriyan pasti punya semua jawabannya. Kiriyan menghempas napas dan memecah keheningan. "Tidak apa-apa," ujarnya kemudian, "saya akan ikut ke Blue Gate dan kalian boleh menanyakan apa saja yang bisa membantu pekerjaan kalian." "Hanya sampai Blue Gate," tegas Suyi lagi, "kalian akan membawanya kembali ke sini setelah selesai menanyainya. Dan Kenma akan tetap ikut menemani Kazai."  Wanita yang sejak tadi tampak ramah itu kini menatap Fais dengan tatapan yang sangat tajam. Keadaan masih terus begitu selama beberapa saat sampai akhirnya Fais menurunkan pistolnya dan menyimpan kembali benda itu. "Baiklah," jawab Fais akhirnya. Untuk sementara, sebaiknya ia menghindari masalah. Asalkan ia bisa membawa Kiriyan, itu sudah cukup. Soal Kenma, dia bisa diatasi nanti. "Silakan ikut saya." Kali ini Fais bicara pada Kiriyan sambil lalu berbalik dan melangkah melewati beberapa orang Eyja yang sejak tadi berkasak-kusuk menyaksikan kejadian menegangkan itu. Fais melangkah cepat di depan, Kiriyan dan Kenma menyesuaikan langkah mereka di belakang Fais, lalu di paling belakang ada Ai dan Ariel yang mengikuti mereka. Rombongan itu menuju kembali ke rumah Suyi, karena jip mereka terparkir di sana. Beberapa saat berjalan, mereka melintas di sebuah rumah berdinding tepas di sebelah kanan, Ariel tanpa sadar memperlambat langkahnya. Seorang anak laki-laki berusia di bawah 10 tahun keluar dari rumah dan berlari ke arahnya. "Kak Ariel...!" serunya riang. Tapi anak itu tak berhasil melewati pagar, lelaki bertubuh tinggi- kurus mengejar dengan cepat kemudian langsung menangkap tangan si bocah. Padahal jarak mereka hanya tinggal beberapa meter lagi. "Ayah... Ayah... Kak Ariel pulang, itu Kak Ariel pulang." Bocah itu menunjuk-nunjuk ke arah Ariel yang sedang terpaku berdiri. Tetapi lelaki berpostur jangkung yang dipanggilnya ‘Ayah’ itu tak menunjukkan tanda-tanda ia akan membiarkan si anak berlari menghampiri Ariel. "Ariel!" panggil Fais dari depan. Suaranya mengisyaratkan agar Ariel fokus kepada tugasnya saat ini. Selama beberapa detik, Ariel masih sempat saling bertatapan dengan ayahnya sebelum akhirnya ia berbalik dan kembali melanjutkan langkah semakin menjauhi rumahnya. "Kak Ariel...! Kak... rumahnya yang ini!" teriak si bocah lagi. "Ayah... Cepat panggil dia, mungkin dia lupa rumahnya," rengeknya kemudian. Ai menoleh dan menemukan wajah bocah itu sudah dibasahi air mata, ia menangis sambil masih memanggil Ariel dan sesekali memohon ayahnya untuk mengajak Ariel pulang. Tapi lelaki itu bergeming, ia sama sekali tak melepaskan tatapannya dari Ariel yang tak menoleh lagi, seolah ingin mematri sosok anaknya itu di dalam benaknya, seolah ingin mencegah langkah Ariel yang semakin menjauhinya. Namun pada akhirnya ia tak melakukan apa-apa. Lelaki itu tampak mengelus rambut bocah kecil yang terus menangis di dekatnya, bibirnya bergerak mengatakan sesuatu sambil lalu mengajaknya masuk kembali ke rumah sederhana mereka. Ariel menengadahkan wajah menatap langit sambil mengedip-ngedipkan matanya. Tanpa perlu bertanya, Ai sudah tahu bahwa yang mereka lewati barusan itu pasti rumah keluarga Ariel. "Bukankah kamu selalu mengirim uang untuk keluargamu? Kenapa ayahmu bersikap begitu?" tanya Ai akhirnya. Ia sudah tak bisa menahan diri lagi untuk tak bertanya. "Aku nggak pernah mengirim langsung pada mereka, semuanya melalui Suyi," balas Ariel masih tanpa menatap Ai. "Mereka mungkin nggak tahu selama ini aku mengirim uang, kalau tahu, mereka pasti nggak mau menerimanya. Suyi menggunakan uangku untuk kepentingan desa, seperti perbaikan jembatan, membeli pupuk dan perawatan sekolah. Ia juga melengkapi kebutuhan sandang, pangan dan papan keluargaku dengan berdalih bahwa uang yang digunakan adalah bantuan pemerintah. Itu satu-satunya cara supaya uangku sampai pada mereka tanpa mereka ketahui." Ai terperangah mendengar penjelasan Ariel, selama ini ia berperan besar dalam keberlangsungan hidup keluarganya. Ia bahkan mengirimkan banyak uang demi pembangunan Eyja. Tapi bukan cuma penduduk desa, bahkan keluarganya pun tak tahu tentang semua pengorbanannya itu. Mereka malah merendahkannya dengan mengira bahwa Ariel bekerja sebagai gigolo di Avalon. "Kalau aku jadi dia, mungkin aku sudah tak bisa tersenyum atau tertawa lagi," batin Ai. . Robot-butler milik Divisi-4 di shelter itu baru saja meletakkan lima cangkir teh di atas meja. Saat ini, Fais dan Ai sedang duduk berhadapan dengan Kiriyan. Fais tak punya pilihan lagi selain menggunakan command kepada Kenma. "Diam di sini dan jangan pergi ke manapun sampai tengah malam nanti," adalah perintah Fais saat mereka tiba di gerbang Blue Gate tadi. Ariel dan Ai tahu, lelaki malang bernama Kenma itu tak akan meninggalkan gerbang Blue Gate bahkan saat hari sudah gelap. "Baiklah," Fais membuka suara setelah beberapa saat suasana hening di ruangan itu. "Sebaiknya anda bekerja sama dan tolong jawab pertanyaan kami dengan jujur," ujarnya kemudian. "Siapa kalian sebenarnya?" Kiriyan malah bertanya lebih dulu dan menyulut amarah dalam diri Fais yang sejak tadi sudah siap untuk meledak. Lelaki yang biasanya selalu tenang itu berdiri sambil menggebrak meja dan menumpahkan dua cangkir teh di atasnya. Robot-butler yang baru saja standby di sudut ruangan pun mulai bergerak untuk membersihkan meja dari tumpahan teh. "Aku yang seharusnya bertanya di sini." Fais terdengar mulai mengancam. Ai menelan ludah dan mulai berkeringat dingin, Fais tampak sangat marah, sebaiknya Ai juga tidak melakukan kesalahan. Ia bertekad untuk mengerahkan seluruh kemampuannya. "Sekarang jawab pertanyaan kami." Suara Ai membuat mata Kiriyan beralih menatap anak gadisnya itu. Ai menggeser duduknya ke tepian sofa agar ia bisa lebih dekat bertatapan dengan Kiriyan. "Apakah Anda anggota WoLf?" tanyanya berusaha bersikap profesional. Kiriyan membalas tatapan Ai tanpa ragu. Ia lalu tersenyum hangat, dan yang terdengar di kepala Ai selanjutnya adalah: "Apa kabar? Kamu tumbuh menjadi gadis yang pintar." Ai tersentak mendengarnya. Wajahnya langsung memerah karena emosi yang bercampur aduk. Tak ada gunanya, lelaki ini tahu kemampuan Ai dan cara kerjanya. Kiriyan bisa memfokuskan pikiran pada hal lain yang tak ada hubungannya, supaya Ai tak bisa mendengar rahasia yang ada di kepalanya. "Saya tanya, apakah kamu memang anggota WoLf?!" Akhirnya Ai menghardik untuk mengulang pertanyaannya. Tapi lagi-lagi Kiriyan tersenyum tipis sambil menarik napas panjang. "Ternyata kamu memang tak mau berbasa-basi sedikit setelah lama tak bertemu dengan ayahmu ini, ya?" balasnya tenang. "Jangan main-main!" bentak Fais keras. Suaranya bergema di ruangan itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN