"Jangan main-main!"
Suara Fais bergema di ruangan itu.
"Fais, tenangkan dirimu." Ariel angkat bicara. Ia melangkah mendekati meja tempat Ai, Fais dan Kiriyan sedang berkumpul. "Dalam sehari ini sudah berapa kali kamu menggunakan-nya? Kamu harus bisa kembali berpikir jernih, jika terus menggunakan command, kamu bisa membahayakan dirimu sendiri," katanya berusaha membujuk. Jelas ia tak ingin Fais begitu emosi dan menggunakan authority command di setiap ucapannya, ia harus memikirkan dampaknya nanti.
Ariel lalu mengalihkan pandangannya pada Kiriyan. "Mr Kiriyan, nggak ada gunanya bersikap keras kepala. Kita saling membantu saja, okay? Kami bermaksud bersikap sopan pada anda. Tapi kalau anda menginginkan interograsi yang lebih keras, kami juga nggak akan keberatan," ujarnya dengan suara tenang, berbeda sekali dengan Ai dan Fais.
Kiriyan meraih cangkir teh-nya dan meminumnya perlahan. "Saya juga sebenarnya ingin sekali mengobrol santai, jadi bisakah kita menyingkirkan semua ketegangan? Hari masih panjang, apa salahnya jika saya ingin menanyai kabar anak saya?" sahutnya sambil kembali menatap Ai. "Saya hanya ingin menanyakan empat atau lima pertanyaan, setelah itu kalian boleh menanyakan apa saja. Saya akan menjawab dengan jujur. Kalau saya berbohong, nyawa saya jaminannya."
Ariel menghempas napas lega sambil lalu menepuk-nepuk pundak Fais. "Ayolah Boss, biasanya kamu yang paling tenang di antara kita semua, kan?" candanya.
"Okay," Fais duduk menghempas di sofa dan melipat tangan di depan dadanya. "Ai, jawab pertanyaannya lebih dulu. Setelah itu, kita selesaikan semuanya."
"Apa kabar, Ai?" tanpa menunggu lama, Kiriyan langsung menanyakan pertanyaan yang sudah sejak awal ia utarakan tapi belum juga mendapat jawaban dari Ai.
"Baik," sahut Ai datar.
"Ibumu?"
"Baik."
"Titan, apa dia memperlakukan kalian dengan baik?"
"Paling tidak, lebih baik darimu."
Kiriyan tertawa ringan mendengar jawaban itu. "Bagaimana dengan Nova?"
"Kurasa dia juga baik."
"Bagaimana kuliahmu...?"
"Ini menjadi pertanyaan terakhirmu yang akan kujawab."
"Oh... kalau begitu maaf," Kiriyan menggaruk pipi dengan telunjuk tangannya. "Batalkan pertanyaan terakhir tadi. Sudah pasti kuliahmu baik-baik saja, sejak dulu kamu anak yang cerdas."
"Jadi, apa anda sudah selesai bertanya, Mr Kiriyan?"
Kiriyan menatap anak perempuan keras kepala yang ada di depannya itu. "Apa yang sedang kamu lakukan, Ai? Apa bundamu tahu dengan pekerjaanmu ini?" Kali ini suaranya terdengar agak prihatin.
"Aku bekerja untuk penelitian SSU. Bunda tahu," balas Ai masih dengan intonasi datar.
"Aku tahu kalian bukan tim peneliti SSU. Terutama setelah melihat pistol tadi," sahut Kiriyan lagi.
Fais merasa tergerak untuk ikut menjawab kali ini. "Kami tim khusus yang ditugaskan untuk menyelidiki dan menangkap anggota WoLf," jawabnya mengambil alih.
"Kenapa anak-anak muda seperti kalian?"
"Itu rahasia negara. Kami tak perlu membeberkannya padamu," timpal Fais tegas.
Kiriyan kembali mengalihkan tatapannya pada Ai. "Apa bundamu tahu?"
"Dengar Mr. Kiriyan, kami tak bermaksud untuk menjawab semua pertanyaanmu seharian," potong Fais akhirnya, "waktumu sudah habis. Sejak tadi aku sudah berusaha bersikap sabar, tapi sudah saatnya kamu menjawab pertanyaan kami. Bersedia atau tidak, aku akan memaksamu."
"Tidak perlu begitu," balas Kiriyan tenang, "akan kujawab semua pertanyaan kalian dengan jujur."
Fais dan Ai saling bertatapan, lalu Ai mengangguk. Barusan Fais mengatakan pada Ai untuk tidak melepaskan pandangannya dari mata Kiriyan.
"Mr Kiriyan," Ai akan memulai introgasinya. "Apa Anda anggota WoLf?" tanyanya kemudian.
"Aku tidak mengerti, WoLf yang mana yang kalian maksud."
"Jangan pura-pura bodoh. Tentu saja organisasi pemberontak yang melakukan teror bom di beberapa tempat umum Avalon, dan yang membunuh beberapa pejabat penting Avalon. Ulah teror mereka di dekade terakhir ini selalu banyak memakan korban."
"Aku turut menyesal jika ada organisasi seperti itu di Avalon. Tapi aku tidak tahu apa-apa soal itu."
"Lalu kenapa kamu melarikan diri?"
"Aku tak bermaksud begitu. Aku hanya tak mau membahayakanmu dan bundamu. Tapi aku tak pernah terlibat dengan semua teror yang kamu sebutkan tadi."
"Kalau bukan kalian yang melakukan teror di Avalon. Siapa lagi?"
"Itu mungkin WoLf palsu yang kalian cari."
"Apa maksudmu? Jangan mengarang cerita! Bukannya WoLf itu kalian?!"
"WoLf yang kukenal tak pernah melakukan semua perbuatan yang kalian sebutkan tadi."
Setelah jawaban itu, Ariel, Ai dan Fais hanya bisa saling bertukar pandang. Mereka mempertanyakan hal yang sama: "Apa maksudnya semua ini?"
"Kupikir tak ada salahnya jika kujelaskan semua ini pada kalian," Kiriyan bermaksud untuk menerangkan pokok permasalahannya. "Iya, aku memang tergabung dalam gerakan pemberontak. Kami menamakan kelompok kami dengan sebutan WoLf – Way Of Life. Aku akui, kami melakukan beberapa kegiatan yang merugikan pemerintahan Zoire. Tapi kami bukan teroris, kami hanya hacker. Kami meretas beberapa situs resmi pemerintahan, m*erusak data-data penting dan sebagainya. Tapi kami tak pernah melakukan teror terhadap penduduk Avalon. Kami juga tak pernah membunuh orang. Kami hanya melakukan tindakan yang membuka dan menyebarkan kebusukan pemerintah dengan tujuan untuk menyadarkan masyarakat Avalon agar memberontak." Mata Kiriyan menerawang seolah sedang mengingat-ingat kejadian lalu.
"Kenapa kalian melakukan itu?" tanya Ariel kemudian.
"Apa kalian tidak sadar? Avalon sudah banyak berubah. Zoire menghilangkan nilai-nilai pokok negara. Sejak dulu kita adalah sekutu terbaik Indland [10], kita selalu saling membantu. Tapi sejak Zoire berkuasa, ia malah mengabaikan Indland yang terjajah dan membiarkan Sanctuary [11] terang-terangan masuk ke Avalon. Avalon sudah berubah menjadi negara yang berada di bawah pengaruh Sanctuary. Pada masa kampanyenya dulu, ia berjanji untuk meninjau kembali sistem 4 in 1 dan juga status kependudukan orang Eyja, tapi lihat apa yang dilakukan Zoire sekarang," Kiriyan jeda sejenak lalu menatap Ariel.
"Biar kuberitahu padamu, orang Eyja pernah menaruh harapan besar pada Zoire. Tapi ia sudah melupakan janji-janjinya, seolah haus akan kekuasaan, bahkan sampai menjadikan dirinya kebal hukum. Semua hak orang Eyja sudah dirampas, hidup dalam keterbelakangan, tanpa fasilitas apapun, dan terpenjara di pulau ini. Bekerja siang dan malam untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat Avalon, lalu dibayar murah untuk semua hasil kerja keras mereka [12]. Anak-anak ketiga yang lahir tetap dianggap anak haram dan dipisahkan dari orang tuanya, padahal apa salah mereka? Kalian pasti sadar bahwa semua ini sangat salah."
"Lalu karena itu kalian merasa boleh membunuh masyarakat sipil Avalon?" hardik Fais.
"Aku sudah bilang, kami tak pernah melakukan semua tuduhan yang diarahkan kepada kami itu. Percaya atau tidak, sejak Zoire menyatakan perang dengan kami, kami mati-matian berusaha bersembunyi. Semua perlawanan yang kami lakukan hanya melalui dunia cyber. Kami tak pernah muncul dan melakukan perlawanan langsung. Itu sebabnya Zoire sangat kesulitan menangkap kami. Dan tak lama setelahnya, Avalon mulai mengalami teror di berbagai sudut kota. Pembunuhan beberapa orang pejabat. Ledakan bom di tempat umum dan sebagainya. Lalu kurang lebih setahun setelahnya, media memberitakan bahwa semua itu adalah ulah WoLf,"
Kiriyan mengambil jeda lagi. Ia sengaja membalas tatapan Ai tanpa berkedip. "Aku mengatakan yang sejujurnya. Ada kelompok lain yang melakukan semua aksi teror dengan menggunakan nama WoLf."
Ruangan mendadak hening setelah Kiriyan mengatakan itu. Matanya masih saling bertatapan dengan Ai. Suara lelaki itu bergema di kepala Ai, menyatakan bahwa ia sedang bicara yang sebenarnya lalu meminta Ai untuk mempercayainya. Ai sendiri tak bisa memastikan apakah Kiriyan sedang bicara jujur atau hanya mengarang cerita sambil mem-blok pikirannya agar tak terbaca oleh Ai.
"Ini semua sia-sia," kata Fais tiba-tiba. Ia beranjak, berdiri menjulang di hadapan Ai dan Kiriyan. "Kamu tahu cara kerja kemampuan Ai, bisa saja kamu mengarang cerita saat mata kalian bertemu. Aku tidak bisa bergantung pada hasil kerjamu kali ini, Seventh." Ia menatap Ai dari ekor matanya. "Kita berangkat sekarang juga, aku akan membawanya ke Avalon. Zidan dan Divisi 2-UKI (Unit Khusus Inteligen) akan membantu penyelidikan ini."
Tepat saat Fais selesai mengatakan itu, alltech Fais berbunyi. Ia langsung menekan salah satu tombol pada benda itu dan memunculkan VS yang menampilkan wajah Sir Zack.
"Penduduk Eyja berkumpul di depan pintu masuk Blue Gate. Suyi ingin bicara denganmu," kata Sir Zack. "Apa yang terjadi? Siapa orang Eyja yang kamu bawa, Fais?"
Urat di pelipis Fais menegang akibat menahan emosi yang kembali membuncah. "Biarkan Suyi masuk. Jika anda ingin tahu, sebaiknya anda juga datang ke ruangan ini," tegas Fais dan tanpa menunggu jawaban ia langsung menyentuh tulisan 'end call' pada VS-nya.
Ariel mendekatkan wajahnya ke sebelah Ai, lalu berbisik. "Itu alltech yang paling mahal dan canggih – Virtual Touch Screen dan hologramnya bisa 3D. Bentuknya juga keren banget, pas sekali dipakai di tangan. Aku penasaran berapa uang yang diterima Fais tiap bulan. Selain Chief Armour, dia juga VR1, kan? Hartanya pasti nggak bakal habis tujuh turunan."
"Sstt...," desis Ai. Ia heran kenapa Ariel masih bisa bersikap santai seperti itu bahkan setelah melihat wajah Fais yang merah padam menatap penuh amarah kepada Kiriyan.
Tak perlu menunggu lama, Suyi muncul di mulut pintu bersama Sir Zack yang mendampinginya.
"Saya tidak akan berbasa-basi kali ini," ujar wanita itu. Ia berdiri di hadapan Fais tanpa rasa gentar. "Kami minta Kazai kembali. Saya dan seluruh penduduk Avalon menolak."
"Dan kalau saya tetap memutuskan untuk membawa Kiriyan?" tantang Fais.
"Eyja akan memberontak."
Tiga kata dari Suyi berhasil membuat kaget semua orang di ruangan itu.
Sir Zack akhirnya ikut angkat bicara. "Suyi! Apa-apaan ini?!"
"Kalian sudah tak bisa lagi berbuat seenaknya. Kalau kalian membawa Kazai, pilihannya hanya ada dua, kebebasan atau kesetaraan untuk Eyja. Kami sudah lelah diperbudak di negara kami sendiri."
Fais tertawa keras mendengar pernyataan Suyi. "Anda pasti sudah kehilangan akal sehat. Eyja adalah pulau tempat orang-orang yang dihukum. Bagaimana mungkin kalian mengharapkan kebebasan atau kesetaraan dengan masyarakat Avalon? Aku tidak akan mendengar omong kosong ini lagi. Sir Zack, kami akan pulang dan membawa Kiriyan sekarang juga," Fais bicara pada Sir Zack di akhir kalimatnya.
"Kamu akan menyesal dengan tindakanmu, Mr Faisal," ujar Suyi saat Fais melewatinya menuju pintu keluar. "Kamu bisa membawa Kazai atau membunuh saya di sini. Tapi penduduk Eyja sudah bertekad mempertaruhkan nyawa untuk kebebasan tanah ini. Revolusi Eyja telah dimulai, kalau kalian ingin membunuh kami semua, silakan. Tapi kalian harus mencari orang Avalon Daratan yang mau menggantikan pekerjaan kami. Atau kalian mau menciptakan robot petani dan nelayan?"
Suyi tersenyum sinis lalu berbalik dan berdiri sambil mengangkat dagunya penuh rasa percaya diri. "Kalian membutuhkan orang Eyja. Penolakan terhadap tuntutan kami hanya akan merugikan diri kalian sendiri."
Tangan Fais tampak sangat gatal ingin segera mencabut pistolnya dan menanamkan dua butir peluru ke kepala Suyi dan Kiriyan. Tapi kemudian ia menarik napas dalam sambil lalu setengah berbisik pada Sir Zack. "Saya harus menghubungi Luen, ini penting," katanya pada lelaki setengah baya itu.
"Untuk sementara kalian temani mereka di ruangan ini," perintah Fais kemudian pada Ariel dan Ai yang sama sekali tak tahu harus berbuat apa, mereka hanya mengangguk canggung.
.
_______________
[10] Indland adalah sebuah negara yang berjarak 8400 mil dari Avalon. Luasnya sekitar 26.000 km2. Saat ini Indland telah berganti nama menjadi Irash dan dikuasai penuh oleh Sanctuary. Namun masih ada gerakan-gerakan perlawanan pejuang Indland yang tidak begitu massive di berbagai wilayah Irash.
[11] Sanctuary adalah suatu kelompok pergerakan yang terbentuk pada periode 1990an, diyakini sebagai otak pembentukan negara Irash. Pemimpin Irash membantah bahwa mereka tergabung dalam Sanctuary. Keberadaan kelompok ini diketahui saat salah seorang petingginya berkhianat dan meminta perlindungan pada WP (World Peace). Tapi orang tersebut ditemukan mati dua hari setelah membuat pengakuannya. Kesimpulan sementara adalah Sanctuary bertujuan untuk menguasai dunia dengan semboyan mereka yaitu "No God, No Pain". Kelompok ini bergerak sangat teliti dan rahasia. Sering menyusupkan mata-mata di berbagai lembaga dan institusi krusial suatu negara.
[12] Eyja adalah tanah yang subur, berbagai jenis tanaman, baik padi, sayuran dan buah-buahan tumbuh di pulau ini. Profesi yang ada di Eyja hanyalah petani, peternak, dan nelayan. Avalon Daratan atau Pulau Utama tidak memiliki sumber daya manusia yang bisa melakukan pekerjaan seperti penduduk Eyja, maka hampir semua kebutuhan pangan Avalon dipasok dari Eyja. Tapi bahan makanan yang didapat dari Eyja tak pernah dibayar mahal. Pemerintah pusat membantu pembangunan di Eyja sepanjang itu untuk kebutuhan pertanian, perkebunan, perikanan, dan peternakan. Khusus untuk nelayan, ada batas melaut tertentu yang telah dipagari sensor. Apabila ada kapal yang melewatinya, pusat komando militer di Eyja akan segera mengetahui dan menangkap kapal tersebut.
- End of Chapter II -