"Kembali ke Avalon. Kita harus mengadakan pertemuan darurat dengan petinggi negara," perintah Luen saat Fais menghubunginya dan menceritakan semua kejadian hari ini di kantor pribadi Sir Zack.
"Mr Luen, kalau kita mundur kali ini. Orang Eyja akan merasa semakin di atas angin. Jika kita menuruti mereka dan melepaskan seorang pemberontak yang sudah lama dicari pemerintah, mau ditaruh di mana muka kita? Ini penghinaan. Kita tak boleh mundur, saya yakin mereka hanya menggertak."
"Semut yang diinjak juga akan menggigit."
Suara berat seseorang membuat Fais langsung terdiam dan menunduk di depan monitor lebar di hadapannya. Wajah Luen yang tadinya ada di sana menghilang, gambar di monitor itu berubah menjadi gelap pekat seperti ditutupi sesuatu.
"Lord Zoire," Fais menyapa pelan dengan suara bergetar.
"Berada di Eyja membuatmu kehilangan akal sehat, First Armour," kata suara itu lagi, "aku tidak bisa mempercayakan tugas berat padamu jika begini saja kamu sudah kehilangan dirimu. First Armour yang kukenal adalah seorang jenius yang selalu bersikap tenang."
"Maafkan saya," Fais bahkan tak berani mengangkat wajahnya. Suasana mendadak hening selama beberapa saat. Monitor pun masih hitam tanpa gambar dan suara. Sampai akhirnya wajah Luen kembali muncul di sana dan mengambil alih pembicaraan singkat Zoire dengan Fais tadi.
"Biarkan Kiriyan kembali ke Eyja," katanya, "aku akan memerintahkan Sir Zack untuk mengamati pergerakannya. Dia mungkin akan membawa kita ke sarangnya. Tapi kalau dia berusaha lari dari Eyja, ia harus ditangkap dengan cara apapun. Jika dalam usaha itu ia terbunuh, tak ada yang akan menyalahkan Divisi-4," intruksi Luen tegas.
"Apa aku perlu mengirim Nda untuk 'menangani' Sir Zack?" tanya Luen kemudian.
"Saya juga khawatir dia curiga tentang identitas Ariel dan Ai sebagai anggota Armour. Tapi tidak apa-apa, akan saya 'tangani' sendiri," balas Fais kemudian.
"Tidak. Aku akan mengirimkan Nda. Kamu tidak boleh terlalu banyak menggunakan command," tukas Luen lagi. "Untuk saat ini, turuti permintaan Suyi dan biarkan Kiriyan kembali."
"Tapi dia..."
"Jangan membantah!"
Untuk beberapa saat wajah Fais terlihat masih ingin protes hingga akhirnya ia menurunkan pundaknya sambil lalu menghela napas panjang sebelum menjawab. "Baik, saya mengerti."
Luen menangkap raut kecewa bercampur frustasi di wajah Fais, ia kemudian memutuskan untuk sedikit menenangkan pemuda itu. "Kembali ke Quarter sekarang. Jangan khawatir, aku setuju denganmu. Kita tidak boleh menerima begitu saja ketika orang Eyja mulai berani mengangkat wajah di hadapan kita. Mereka akan menerima akibat dari perbuatan mereka hari ini," ujarnya tegas.
---
Sekitar pukul 8 malam, Ai dan yang lainnya tiba di Quarter. Lelah, bingung, sedih sekaligus lega bercampur menjadi satu. Tapi Fais langsung meminta Armour berkumpul di ruang rapat dalam waktu satu jam. Mereka tidak punya banyak waktu untuk istirahat. Bukan hanya mereka yang menjalankan misi di Eyja, tim Zidan juga sepertinya tidak menjalankan misi yang mudah. Makanya Ai tidak banyak protes, ia tak mau menjadi satu-satunya Armour yang bersikap manja.
Ai baru saja menyelesaikan makan malamnya sambil menjawab semua pertanyaan Niya tentang apa yang terjadi di Eyja. Selama ini, Armour tak pernah satu kali pun duduk dan makan bersama di satu meja. Biasanya setiap hari mereka membawa makanan dari luar dan makan di ruangan masing-masing, kadang juga sebagian memilih untuk makan di luar Quarter. Tapi tadi Niya sengaja membawa makanannya ke ruangan Ai supaya ia bisa memuntahkan pertanyaannya, tampaknya ia bosan sekali seharian disuruh standby di Quarter.
Sekitar lima belas menit sebelum rapat dimulai, Ai menerima video call dari Hagi. Ia memutuskan untuk mengubah panggilan menjadi voice call, karena ia tak bisa membiarkan Hagi melihat background Ai di video call dan menyadari bahwa Ai tidak sedang berada di asrama.
"Kenapa tidak terima video call?" tanya suara milik Hagi.
"Aku baru saja selesai mandi, masih pakai handuk," jawab Ai berbohong.
"Kamu dari mana? Kenapa tadi tidak ada di kampus? Aku dengar dari tante Wulan, kamu pergi bersama anggota klubmu. Kemana? Kenapa tidak bilang padaku?"
"Hagi, sejak kapan kamu jadi cerewet begini?"
"Sorry, aku hanya cemas. Kamu tiba-tiba menghilang, kupikir terjadi sesuatu."
"Aku cuma menghilang sehari," sahut Ai datar. Lalu tiba-tiba ia teringat dengan misi Zidan dan Kevin. "Apa hari ini terjadi sesuatu?" Ai memutar kalimat untuk menghindari pertanyaan langsung.
"Hari ini? Uhm...," Hagi mengambil jeda untuk mengingat-ingat, "tidak ada. Kenapa?"
Tanpa disadarinya, Ai menghela napas lega mendengar jawaban itu. "Syukurlah," katanya, "ayah dan ibumu apa kabar?" Kali ini Ai lebih mendekati masalah utama yang ingin ia ketahui.
"Baik... hei, kenapa jadi kamu yang menanyaiku?" Hagi tersadar bahwa ia sudah terbawa alur percakapan. "Aku mencarimu ke klub History, kata mereka kamu jarang aktif di klub. Aneh sekali, padahal kamu sampai pindah ke asrama dan libur sehari ini karena kegiatan klub, kan?"
Ai tak menduga Hagi akan secepat ini menyadari kebohongannya. Ternyata ia sudah menyelidiki sampai ke klub. "Yah... ng... aku... sebenarnya memang tidak aktif di klub...," jawabnya terbata-bata.
"Lalu?" desak Hagi. "Ai, apa yang terjadi? Kamu sedang menyembunyikan apa?" Suara Hagi terdengar lebih memelas. "Aku merasa belakangan ini kamu terlihat sangat akrab dengan Ariel... apa... apa dia sudah menjadi pacarmu?"
"Jangan bicara sembarangan. Kami tidak ada hubungan apa-apa," tukas Ai cepat.
"Kalau begitu ada apa? Ceritakan padaku. Aku yakin ada sesuatu yang sedang kamu sembunyikan."
"Tidak ada apa-apa, Hagi. Sudahlah, kamu jaga saja keluargamu baik-baik."
"Ha?! Rasanya ada yang aneh denganmu hari ini."
"Lupakan. Anggap saja barusan aku tidak mengatakan apa-apa."
"Ai... aku..."
Tuuut... tuuuutt...
Ada panggilan lain yang masuk. Ai melihat nama Fais tertera di sudut kanan layar alltech-nya.
"Sebentar, ada telepon masuk," kata Ai sambil menyentuh tulisan 'hold' pada layar dan menerima video call dari Fais. Ketika VS muncul, wajah Fais – yang kali ini tanpa senyum – langsung muncul di sana.
"Sekarang," katanya tanpa menunggu jawaban Ai dan langsung menyudahi panggilan.
Ai kembali menyambungkan panggilan Hagi. "Maaf, kita bicarakan lagi besok di kampus, ya. Hari ini aku capek sekali. Aku mau istirahat." Lagi-lagi ia membohongi Hagi.
"Oh... okay," sahut Hagi.
"Selamat malam."
"Selamat malam, Ai."
Ai menghela napas lega sambil menjatuhkan punggungnya ke sandaran kursi. Matanya menerawang ke arah langit-langit ruangan. Banyak sekali yang terjadi hari ini, demi Armour ia sudah membohongi dua orang yang ia anggap paling penting dalam hidupnya. Ibunya dan Hagi.
Tentu saja Ai tahu bahwa menjadi bagian dari Divisi 7 ini tidak bisa setengah-setengah. Namun, untuk kesekian kalinya, ia mempertanyakan eksistensinya di Armour, ia tak bisa sepenuhnya bekerja secara profesional karena masih merasa ragu apakah sudah berdiri di pihak yang benar. Apakah yang dia lakukan ini memang sudah benar?
Bukan rahasia lagi bahwa banyak kelemahan dalam pemerintahan Zoire. Jika diperhatikan sekilas, memang Avalon adalah negeri yang sangat aman dan makmur. Tapi dibalik itu semua, kesejahteraan pangan masyarakat adalah hasil per-b-u-d-a-k-an dan perlakuan yang sangat tidak adil terhadap orang Eyja. Pertumbuhan penduduk terkendali adalah hasil 4 in 1 yang menyebabkan anak-anak ketiga yang hidup terpisah dengan keluarganya. Kesenjangan antara Pulau Utama dan Pulau Eyja luar biasa tidak adil. Rezim Zoire juga telah banyak melencengkan nilai-nilai asli yang dulu dimiliki Avalon.
Tak pernah ada aksi protes apapun terhadap pemerintah karena media telah dikuasai sepenuhnya. Perlahan masyarakat mulai mengabaikan apa saja yang terjadi di balik tembok tinggi Ivory Palace. Selama kehidupan masih berjalan dengan baik, kesehatan dan keamanan terjamin, kebutuhan makanan dan pendidikan tercukupi, uang dan pekerjaan bisa didapatkan tanpa kendala. Maka tak ada yang peduli berapa uang yang dikorupsi oleh pemerintah, tak ada yang peduli dengan nasib orang Eyja dan anak-anak Third Child, bahkan tak ada lagi yang peduli dengan Tuhan ataupun agama, dan Avalon sudah berubah menjadi Negara sekuler.
.
Ai dan yang lainnya kaget ketika mereka tiba di ruang rapat dan menemukan Fais duduk menunggu di situ bersama dengan seorang lagi yang bukan anggota Armour. Lelaki beruban dengan mata sipit itu beberapa kali muncul di televisi, Ai mengenalinya, usia lelaki itu mungkin hanya beberapa tahun lebih tua dari ibunya. Tak salah lagi, dia adalah Luendy Herman, orang kepercayaan Zoire, Perdana Menteri Avalon yang juga merupakan panglima tertinggi pemimpin ketujuh divisi pertahanan Avalon.
Dengan canggung para Armour mengisi tempat duduk yang biasa mereka tempati. Bagi Ai, ini pertama kalinya ada orang selain Armour yang menginjakkan kaki di Quarter, dan yang pertama kali ini pun adalah Luen. Pasti ada hal serius yang ingin ia bicarakan malam ini.
Fais tampak bertukar pandang dengan Luen sebelum akhirnya suara Luen memecah keheningan. "Lanjutkan saja. Untuk sementara aku akan menyimak," katanya sambil duduk menyandar.
"Baiklah," Fais langsung memulai rapat tanpa basa-basi, "aku tahu kalian semua lelah, jadi kita akan langsung masuk ke inti rapat kali ini. Zidan, laporkan hasil operasi kalian," perintahnya kemudian.
"Sepertinya Tama Hargiansyah bersih," lapor Zidan, "aku melakukan psychometry pada beberapa barang yang kemungkinan paling sering ia gunakan."
"Beberapa barang?" sela Fais, menuntut laporan yang lebih spesifik.
"Tiga barang pribadinya. Jam tangan, kacamata, dan pulpennya."
"Hasilnya?"
"Tak ada tanda-tanda dia berhubungan dengan WoLf, memang ada beberapa pertemuan yang mencurigakan, tapi semua orang yang dia temui itu adalah pejabat negara. Meski begitu, anaknya..."
Kalimat Zidan yang terpotong membuat para Armour menarik diri dari sandaran kursi mereka.
"Nadif Hargiansyah tampak mencurigakan," sambung Zidan lagi, "aku meminta Kevin untuk mengambil satu atau dua barang pribadi milik Nadif, tapi Kevin sudah mencapai batasnya hari ini." Zidan mengakhiri laporannya sambil menatap Kevin yang langsung mengerutkan tubuh di kursinya.